Antara Milarepa, Marpa dan Temans Ashram


Tuntutan hukum terhadap FPI  akibat peristiwa 1 Juni 2008 di Monas, harus terus diupayakan. Kejahatan akan merajalela kalau orang baik diam. Vibrasi, semangat menegakkan kebenaran, dan gelora meneguhkan NKRI harus terus dikumandangkan. Mereka yang bilang Aku Cinta Indonesia dan telah melihat dengan jelas pihak yang mengkotak-kotakkan Indonesia harus terus dibangkitkan untuk bersuara. Silent Majority telah membiarkan virus perusak Tubuh NKRI berpestapora. Disarankan mengkonsumsi minuman kesehatan yang membangkitkan virus penyehat tubuh NKRI. Mereka yang sengaja tidak mau keluar dari Comfort Zone harus diingatkan. Mereka yang memberi tanggapan secara politis dan membelakangkan kebenaran agar segera sadar. Tetapi izinkan kami menyentuh hati Arjunas, Srikandis, temans yang telah berkorban secara pribadi.

    Dengan perjalanan yang melelahkan Yang Mulia Milarepa menemui Yang Mulia Marpa. YM Marpa bersuara, Apa? kau ingin mendapatkan ilmu, berguru denganku? Dapatkah kau mengembalikan areal tanaman yang tertutup tanah longsor akibat ulahmu dahulu? Dapatkah kau mengembalikan nyawa orang yang sengsara akibat tindakan darimu dahulu? Sang Milarepa semakin  menyesal, tetapi tetap ingin berguru. Baik! Sang Marpa menyuruh Milarepa membuat menara bulat di timur puncak gunung yang dikerjakannya dengan penuh semangat. Berhari-hari dan baru setengah selesai Sang Marpa datang, Runtuhkan dan kembalikan batu, pasir dan tanah seperti sebelumnya, siapa yang menyuruhmu begitu.

    Kemudian, buatlah serupa di barat puncak gunung. Belum lagi perintah sang Marpa diselesaikan, kembali dia disuruh meruntuhkan dan mengembalikan seperti semula. Sang Marpa berucap, Aku tidak menyuruh yang demikian! Buatlah Menara Yogi Tantra segitiga di utara puncak gunung. Dalam pelaksanaan ada tiga orang tamu meletakkan batu yang lain di sudat dan Milarepa meneruskan pekerjaan berminggu-minggu lagi. Tetapi kembali disuruh meruntuhkan dan mengembalikan seperti semula gara-gara batu yang tidak sesuai yang dipasang tamu. Memang akhirnya ditunjukkan sebuah tempat dan Milarepa diminta membuat Menara putih persegi setinggi sembilan tingkat.

Sang Milarepa diajari bahwa mengembalikan kejadian itu sangat sulit bahkan mustahil. Sebuah sebab pernah dibuat dan harus dipertanggungjawabkan setelah akibatnya terjadi. Dapatkah rombongan FPI mengembalikan kondisi pisik dan psikis teman-teman seperti sebelum ada kejadian. Setiap anggota tubuh harus mempertanggungjawabkan. Akibat akan datang pada hari pembalasan dan selama itu belum tiba, nurani tidak akan tenang. Tetapi biarlah, Gusti Ora Sare. Tuhan tidak tidur.

Konon seorang Master dapat meningkatkan kesadaran Sang Murid dengan quantum leap. Tetapi hukum sebab akibat harus diselesaikannya lebih dahulu. Lewat alam lain penyelesaian bisa  lebih cepat, misalnya penyelesaian lewat mimpi. Konon pula, hanya sang Milarepa yang dapat menyelesaikan seluruh sebab-akibat yang pernah dibuat hanya dalam satu masa kehidupan. Dan quantum leap terjadi. Transmutasi energi terjadi. Temans semoga bilur-bilur gebukan FPI mempercepat peningkatan kesadaran.  Ibu Pertiwi mencatat pengorbananmu. Semoga teman-teman semua tetap berada didekat Sang Master. NIM, Koperasi, Kesehatan Holistik hanya alat Sang Master untuk meningkatkan kesadaran kita. Beliau hanya hidup demi temans dan telah kita dengar dengan telinga kita sendiri. Semoga quantum leap terjadi. Semoga mempercepat kejayaan Indonesia. Dari sahabatmu Triwidodo.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: