Perjalanan Ruhani ke Kashmir dan Leh India (Kedelapan)


 

Vihara Thicksey dan Hemis

 

Catatan Kecil Pribadi

 

Happy Wedding Anniversary to Triwidodo & Rosita.

May your relation sthrengthen into a lasting bond of frienship.

Leh, Ladakh 19th May 2008

From Spiritual Journey Members 11th – 22nd May 2008.

Ditandangani Guruji dan 17 teman seperjalanan, di lembar pertama buku hadiah Guruji dan teman-teman seperjalanan, The Fifth Gospel, karya Fida Hassnain dan Dahan Levi, Dastgir Publications 1988.

 

Wanita yang diberkahi

Pernah kami tulis dalam tulisan yang dimuat dalam buku Neo Man Neo Vision, yang menceritakan tentang almarhumah Eyang Srini yang ditulis Guruji dalam Soul Quest sebagai Ibu Sri, seorang ibu atau bunda untuk semua, khususnya para pengikut, teman-teman dan mereka yang bersimpati padanya. Ia berasal dari keluarga Kraton, namun ia memilih tinggal di luar Kraton sebagai rakyat biasa. Ia seorang wanita yang diberkahi – sesuatu yang mistik. Ia jarang bicara, tetapi kalau bicara ucapannya penuh wibawa, seolah kekuatan yang lebih besar sedang berbicara lewat dirinya. Sebelum ibunda Guruji mengandung beliau, Ayah Guruji mendapat kesempatan bertemu dengan Eyang Srini. …. Ya, ya.. saya restui. Anda menginginkan seorang anak, seorang putra. Tuhan akan memberikannya kepada anda. Tak usah kuatir. Tunggu sebentar dan ia masuk ke ruang pribadinya. Tidak lama kemudian seorang pengikut Eyang Srini keluar dan memberikan sebuah apel untuk ibunda Guruji dan Sang Ayah diminta memberi makan ikan di Bengawan Solo dengan nasi kuning…..

Ibu kami juga sering minta tolong kepada Eyang Srini terutama saat kami ujian atau menempuh pendidikan di luar kota. Kadang-kadang kami diminta makan selat, masakan khas Solo. Kami ingat adiknya ibu kami yang akan mendapat PHK di Jakarta disuwunkan, dimohonkan berkah dan lolos dari PHK. Ternyata Istri kami masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan Eyang Srini. Ibu istri kami juga sering memohon berkah. Dan yang penting, ketika kami akan menikah yang memberikan tanggal yang baik bagi perkawinan adalah Eyang Srini sendiri. Yang mendampingi kami dalam Upacara Temu Penganten adalah adik Eyang Srini sendiri. Tanggal yang dipilihkan Wanita Suci pembawa berkah ini adalah 19 Mei 1984. Kami terkadang masih datang ke makamnya yang dibuat dengan bangunan indah di luar Kota Solo dan dimana terdapat foto beliau yang dipajang di atas makamnya. Bangunan ini dibuat sebagai penghargaan terhadap Eyang Srini yang pernah menjadi sebagai Tentara Pelajar.

Dua puluh empat tahun kemudian, pada tanggal 19 Mei 2008, kami berdua diajak Keberadaan mengikuti Guruji ke Vihara Hemis. Vihara yang berkaitan dengan Padmasambhava, pembawa Buddha dari India ke Tibet. Vihara yang berkaitan dengan Gusti Yesus yang pernah berada di Himalaya. Vihara yang berkaitan dengan sembuhnya Guruji yang sembuh dari penyakit Leukemia dan mendapatkan pencerahan. Gusti, luar biasa, tanggal yang dipilih seorang wanita suci pembawa berkah terbukti setelah duapuluh empat tahun kemudian. Tidak ada sesuatu yang bersifat kebetulan. Angka keluarga kami adalah warisan dari keluarga mertua kami yaitu 248. Setiap kami melakukan kebenaran, selalu saja ada mobil lewat di depan kami bernomor 248. Angka perkawinan telah menginjak ke 24 pada tahun 2008 dihitung dari tahun 84. Mobil yang dinaiki istri dalam perjalanan ini bernomor JK10. 4820. JK10 adalah nomor Jammu Kashmir untuk daerah Ladakh. Tanggal lahir istri 17-11-1957 bila dijumlah adalah 8-2-4. Sebelum mendapatkan nama Jalan Dworowati bernomor 33, jalan tersebut dinamakan Sidokare dan diberi almarhum ayah mertua nomor 248. menurut beliau Pujangga Ronggowarsito senang mempunyai nama orong-orong yang genap 248. Kebetulan kakek kami adalah seorang pensiunan Mantri Sekolah penggemar berat Ronggowarsito dan kami sebagai cucu tersayangnya sudah diajari memahami tulisan Sang Pujangga sejak kecil. Terima kasih Gusti. Terima kasih Guruji, terima kasih teman-teman semua.

Pagi itu kami sarapan pukul 05.00, berangkat pagi-pagi sekali menuju Vihara Thicksey. Vihara Thicksey terletak di ketinggian 3.600 m di atas permukaan laut dan berjarak sekitar 20 km dari Leh. Merupakan tempat Thicksey Rinpoche, pemimpin Sekolah Gelug di Ladakh. Pada abad ke 15 Tsongkhapa penemu Sekolah Gelug mengirim 6 muridnya ke Tibet mengajarkan ajaran baru Gelugpa.

Di salah satu ruang seorang Bhiksu membaca mantra dan memukul semacam gong yang diikuti oleh dua orang bhiksu memakai topi khas Tibet dengan jambul seperti topi Romawi kuno yang terbuat dari kulit domba, meniup terompet diatas Vihara. Suaranya terdengar sampai perkampungan di bawah bukit. Kemudian rombongan mengikuti atau lebih pantas menyaksikan acara ritual berdoa dan sarapan bersama para bhiksu. Ritual makan di tempat meditasi dilakukan dengan tertib.

Perjalanan dilanjutkan ke Vihara paling terkenal di Ladakh, Vihara Hemis. Vihara Hemis adalah Vihara buddhist Tibet dari garis Drukpa yang terletak sekitar 45 km dari Leh. Vihara dibangun pada tahun 1.672 oleh Raja Ladakh Senge Namgyal. Sebagai penghormatan kepada Padmashambhava yang pernah memberikan ajaran di Hemis, setiap awal Juni di Vihara tersebut diadakan perayaan khusus.

Pada tahun 1894, buku perjalanan Jurnalis Nicolas Notovitch mengklaim bahwa Hemis adalah awal dari ajaran Saint Issa. Jesus dikatakan melakukan perjalanan ke India, selama waktu-waktunya yang hilang tak terjelaskan, antara 12 tahun sampai 29 tahunan. Menurut Notovtich, penjelasan telah tersedia di Perpustakaan Hemis, dan ditunjukkan kepadanya ketika dia menyembuhkan luka kecelakaan di sana.

Guruji nampak menyimpan tenaganya untuk bisa naik ke Vihara. Mahima langsung bersujud di tanah dan berangkulan dengan Ma Upasana dan menangis berdua setiba di Hemis. Inilah Vihara di mana Guruji Anand Krishna bertemu Lama yang menyembuhkan penyakitnya dan menyuruh pulang ke Indonesia untuk menyelesaikan Karma Bhuminya. Ketenangan dan energi luar biasa terpancar di Vihara yang terletak di ketinggian pegunungan Himalaya. Jumlah oksigen yang tipis, membuat orang lebih meditatif dan kurang bicara. Dapat diterima logika bahwa bagi mereka yang menginap beberapa hari di Vihara, dan bermeditasi di sana akan mudah mendapatkan ketenangan. Sebagaimana kita ketahui, energi otak diperoleh dari sari makanan dan oksigen. Setelah berpuasa sekitar empat jam, ditambah oksigen yang tipis di ketinggian gunung yang dingin, pikiran tidak begitu liar lagi. Pada saat demikian lebih mudah bagi seseorang untuk mendapatkan getaran pikiran yang sinkron dengan alam semesta, dan terbukalah dirinya. Puji Tuhan, Guruji telah mendapatkan penerangan dan kesembuhan di sana. Vihara yang tadinya terletak di tepi Sungai Sindhu ini didirikan dengan tujuan agar para bhiksu mandiri dengan mengolah lahan pertanian yang cukup luas yang berada di tengah perkampungan penduduk.

Teringat buku tulisan Guruji di Soul Quest. Seorang Lama bertanya kepada Guruji yang sedang menderita karena penyakit leukemia dan Hb yang sangat rendah, Mengapa kamu menolak kematian? Terimalah kematian seperti menerima hal-hal lain dalam kehidupan. Tapi mengapa aku harus memberitahumu tentang ini. Kamu sudah punya banyak pengetahuan. Lama itu memegangbtangan Guruji ke pohon Bodhi yang sangat besar. Orang mengira Buddha mendapatkan pencerahannya di bawah pohon Bodhi. Tentu saja tidak demikian. Baik pohon ini atau pohon-pohon yang lainnya tak ada hubungannya dengan pencerahan. Pencerahan tidak didapatkan begitu saja karena duduk di bawah pohon. Sebenarnya hari itu ia capek dan bosan dengan semua yang telah dilakukannya. Semua latihan, disiplin dan meditasi tak membawanya kemana pun. Dan ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya. Tapi mengapa aku memberi tahumu tentang ini? Kau tentu saja sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Cerita selanjutnya Guruji menemui Lama tersebut di Hemis. Kau telah memilih tempat yang baik untuk mati. Lihatlah Himalaya dengan salju abadinya, dan ada sungai Sindhu dengan alirannya yang tenang. Kau sudah melakukan hal yang benar dengan datang ke sini , tempat yang tepat untuk mati………… Jangan lari, jangan melarikan diri. Hadapilah rintangan-rintangan hidup ini dengan senyuman di bibir. Kita cenderung lupa bahwa kita bertanggung jawab seratus persen atas apa yang terjadi pada diri kita. Kita menciptakan masalah, jadi kita juga yang harus menghadapinya… memecahkan masalah……. Ini adalah tanah yang suci. Getaran di sini sangat kuat – spiritual, getaran-getaran Ilahi. Atisha pernah berada di sini. Ia menghabiskan beberapa waktu di Biara ini, seperti halnya dengan sang Juru Selamat. Mereka berdua mencintai tempat ini. Gedung-gedung di biara ini telah berubah, tetapi biara ini tak berubah. Faktanya, ruangan yang sekarang kau tempati ini adalah ruangan yang dulu ditempati oleh sang Juru Selamat…….

Rombongan menyaksikan acara ritual di Vihara dan setelah selesai dilanjutkan dengan acara Guruji bersama rombongan. Setelah berdoa dan membaca mantra, keluar suara Guruji yang sangat mengharukan, bahwa masyarakat Indonesia itu egonya sangat besar, rasa jealousnya juga tinggi dan seluruh rombongan menangis.

Selesai dari Vihara Hemis perjalanan dilanjutkan ke Mahabodhi International Meditation Centre. Guruji pernah memutuskan menjadi Bhiksu di organisasi ini dan diinisiasi oleh Ven. Bikkhu Sanghasena dengan nama Anomadassi sebelum ketemu Lama Pemandu Beliau di Biara Hemis. Meditation Centre yang luas ini mempunyai beberapa program yang dalam 17 tahun terakhir berkembang sangat pesat. Ada program Meditasi, Program Pendidikan, Program Kesehatan dengan Rumah Sakit dan Klinik Berjalan, Pendidikan Bhiksuni, Program Lansia, Program Remaja, Program Lingkungan dan lain-lain. Desember 2005, ketika ikut rombongan Guruji ke Varanassi sempat melakukan peninjauan ke Mahabodhi Temple dan melihat sekelompok anak muda menari dalam lingkaran menyanyikan lagu-lagu cinta tanah air seperti kegiatan Pesta Rakyat. Pada waktu itu juga sempat melakukan doa di Birla Temple di New Delhi yang juga merupakan kegiatan Mahabodhi International Meditation Centre dengan nuansa ritual spiritual. Di Sore hari melihat Shanti Stupa di puncak bukit di Leh yang didirikan oleh pemerintah Jepang. Selanjutnya ke Vihara Shankar.

Pagi harinya perjalanan dilanjutkan ke Khardongla Pass yang merupakan Pass tertinggi di dunia dengan ketinggian 6.127 m yang telah dicatat dalam Guinees Book of World Records. Persiapan matang perlu dilakukan karena di ketinggian tersebut oksigen sangat tipis dan membuat kepala pusing. Khardongla Pass ini merupakan jalan yang harus dilewati ke Nubra yang bisa diteruskan ke China.

Kita mengenal perjalanan ke Barat oleh Bhiksu Tong Sam Cong. Jalan yang dilalui melalui Khardongla Pass, Fotula Pass dan Zojila Pass menuju Kashmir. Hal itu bermula ketika Kaisar Li Sin Min mengutus Bhiksu Tong Sam Cong untuk mengambil Kitab Suci Tripitaka dari India melalui “Jalan Sutra Utara”. Jalan tersebut demikian melegenda, hingga melahirkan kisah klasik See Yu, yang melalui tayangan televisi demikian terkenal sebagai serial film “Kera Sakti”. Bhiksu Tong Sam Cong melakukan perjalanan dari Chang’An, Anxi, Tashkent, Samarkand, Leh, Tibet, Bodhgaya, terus ke India Selatan sampai ke Kancipuram. Kemudian kembali ke Utara ke Kashmir, Kashgar, dan Anxi untuk kembali ke Chang’An. Perjalanan bhiksu Thong Sam Cong yang digambarkan menaiki kuda putih ini dilakukan selama 16 tahun dari tahun 627 sampai dengan tahun 643.

Alexander Yang Agung pada tahun 330 BC juga pernah melakukan perjalanan sejauh 20.000 miles dari Macedonia ke Punjab. Setelah lewat Bactria, dan berhenti sebentar di Kabul, meneruskan perjalanan sampai sungai Jhelum di hulu Kashmir dan tentaranya menolak meneruskan perjalanan ke India.

Gusti Yesus juga dipercaya melakukan perjalanan ke Kashmir lewat Jalan Sutra bahkan dipercaya makamnya berada di Kashmir. Jalan Sutra di mulai dari Chang’An di China, ada cabang dari Kashgar kemudian turun ke arah Selatan ke Leh dan Srinagar. Dari Kashgar ke Barat, Samarkand, Bokhara, Merv, Persia, Mesopotamia bertemu dengan Laut Tengah di Antioch dan Tyre. Rute ini digunakan untuk kepentingan perdagangan dan perpindahan penduduk oleh Bangsa Mesir, Irael, Arya dan lainnya.

Keesokan harinya melakukan penerbangan dari Leh menuju New Delhi. Di Delhi ziarah ke makam Hazrat Inayat Khan, Bahai Temple, Birla Temple dan sight seeing di New Delhi.

Keesokan harinya pulang menuju Jakarta. Selesai.

 

Triwidodo

Juni 2008.

Iklan

3 Tanggapan

  1. Ladakh, Tibet, Nepal, nama-nama yang begitu indah. Sekian banyak kehidupan berpisah moga-moga ada kesempatan mengunjunginya tapi yang penting mereka selalu di dalam hati 🙂

  2. Ladakh, Tibet, Nepal, nama-nama yang begitu indah. Sekian banyak kehidupan berpisah moga-moga ada kesempatan mengunjunginya tapi yang penting mereka selalu di dalam hati 🙂

  3. Benar sekali Pak Carlos, yang penting mereka selalu di dalam hati. Dia Maha Besar, tetapi Dia berkenan bersemayam dalam hati hamba-Nya yang beriman. Terima KASIH.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: