Perjalanan Ruhani ke Kashmir dan Leh India (Ketujuh)


 

Bhinneka Tunggal Ika

 

Catatan Kecil Ketujuh

Di Kota Kargil yang kecil yang terletak diantara Srinagar dan Leh, di batas kotanya terdapat tulisan diatas pasangan batu dengan huruf yang besar Unity in Diversity is our Faith, yang mengingatkan kita dengan semboyan negara kita Bhinneka Tunggal Ika. Bedanya nampak jelas bahwa masyarakat di Jammu dan Kashmir memang tidak mempermasalahkan keyakinan setiap orang. Di Indonesia sebagian masyarakat hanya berbasa-basi. Keangkuhan tentang kebenaran yang dipilihnya, seakan-akan dia seperti Dia Yang Selalu Benar. Toleransi itu dapat berarti saya yang benar, tetapi kamu begitu tidak apa-apa lah. Bagi suatu kelembagaan agar bertahan memang harus mempertahankan kebenaran pendapat kelembagaannya. Padahal tidak ada sesuatu yang abadi, semuanya berubah, hanya Dia yang abadi. Kelembagaan dan kemudian kekuasaan politis membuat friksi-friksi di masyarakat. Tidak dapatkah kata toleransi diganti apresiasi? Jelas tidak boleh bagi lembaga yang mapan.

 

Vihara Buddhis di tengah Perkampungan Muslim

Di depan hotel, dibalik perkampungan penduduk terdapat sungai Indus dan hanya berjarak dua ratus meter terdapat bangunan pengambilan air untuk keperluan irigasi pertanian. Irigasi tersebut untuk mengairi tanaman apple dan apricot dan semacam tanaman untuk penghijauan.

Selepas Kota Kargil mas Yuda berbicara di tengah kesunyian. Tiba-tiba datang pikiran kepada beliau, “Kita ini sering lupa kerjasama”….. Ego kita terlalu besar. Banyak konflik di kita yang terjadi karena kita ingin memiliki Guruji. Saling berlomba-lomba menarik perhatian Guruji. Rasa iri hati, menyepelekan yang lain, sebetulnya berasal dari ego. Guruji adalah untuk kita semua. Kami mendengarkan dengan seksama, kami yakin tidak ada sesuatu yang kebetulan. Kami diminta melihat kesetiaan mas Wito, yang care sekali terhadap Guruji. Kepatuhan mas Yuda, sehingga tidak tenang melihat kala melihat kendaraan Guruji tidak berhenti, mengapa ada kendaraan rombongan yang berhenti, dan keluar mobil. Mereka memang luar biasa. Kami membenarkan pendapat Mas Yuda, kami yakin Guruji telah mengetahui segalanya. Dan tindakan, ucapan dari Guruji adalah semata-mata demi peningkatan kesadaran kita. Bumi, matahari, alam semesta juga tidak membeda-bedakan, kasihnya tulus terhadap semua manusia. Seorang yang selaras dengan alam semesta akan penuh kasih terhadap sesama.

Kecintaan terhadap alam oleh Pak Hari, memang luar biasa. Beliau tidak mau tidur di perjalanan. Sudah lama menjadi pendaki gunung dan pecinta alam, memahami untuk mendaki Himalaya diperlukan persyaratan-persyaratan yang cukup berat. Kini beliau langsung melewati pegunungan Himalaya, tustelnya tidak berhenti memotret. Mungkin puluhan ribu gambar telah direkamnya.

Ada satu teman sekamar kami yang kadang juga semobil dengan kami menggantikan mas Wito yang bertukar tempat. Namanya Sugandi, bujangan ini polos dan sering dipanggil teman-teman Gandhiji, Bapu. Kami juga banyak belajar dari teman satu kamar ini. Ketika kecil, Mas Gandi sering sakit, sehingga mempunyai perhatian yang besar terhadap meditasi dan kesehatan. Sebelum ikut Guruji ke China beberapa tahun sebelum perjalanan ke Leh ini, mas Gandi sedang sakit, tetapi mimpi Guruji meminta dia harus ikut. Di atas pesawat suhunya mencapai 38 derajat Celsius. Ketika teman-teman lain turun di Bandara Beijing dan melanjutkan perjalanan, dia ditahan petugas kesehatan China karena suspect flu burung. Mas Gandi yang tidak mengerti Bahasa China dan belum menguasai Bahasa Inggris pada saat itu hanya ikut petugas saja. Dari bandara dia dibawa mobil ke luar kota lebih dari satu jam. Dia bercerita bahwa dia ingat banyak desas desus tentang orang-orang yang diambil organnya di China. Memang belum tentu benar, tetapi khawatir tetap menghantuinya. Tetapi mau apalagi….., lari? Malah semakin kacau. Kalau membayangkan Mas Gandi saat itu memang agak lucu, sudah bingung tetapi tetap polos. Semua orang menyenanginya karena kepolosannya. Akhirnya sampailah dia ke bangunan seperti rumah sakit. Diajak masuk kamar disuntik, diberitahu sesuatu, tetapi dia hanya diam saja, tidak ngerti bahasanya. Akan tetapi ada seorang yang kelihatannya menguruskan segala sesuatunya, bahkan akhirnya memberinya surat dan mengantarkannya ke airport, walau sang penolong tidak dapat menunggunya. Dari bahasa Tarzan, mas Gandi tahu sang penolong ada urusan dan dia hanya diantarkan ke tempat penerbangan. Akhirnya mas Gandi naik pesawat yang juga tidak tahu ke mana, tetapi turun dari pesawat sudah ada yang menjemput dan diantarkan ke rombongan. Mungkin perjalanan ke China untuk menyelesaikan utang-piutang, sebab-akibat yang pernah dilakukannya. Sampai sekarang pun dia tidak tahu nama orang yang menolongnya. Tidak ada suatu yang kebetulan, kita pernah menolong tanpa berkenalan dengan orang yang kita tolong dan kita pun akan ditolong orang yang tidak mengenal kita. Mas Gandi sangat care pada kami yang tua, dan dapat memaklumi tidur dengan orang tua yang suka mendengkur dan bau minyak gosok di kamarnya. Terima kasih teman-teman semua, terima kasih Guruji.

Keyakinan masyarakat Kargil tentang kebhinnekaan, dibuktikan dengan adanya Vihara Buddhis di tengah perkampungan Muslim di daerah Mulbek. Suasananya tenang-tenteram saja. Rombongan kemudian berhenti di Vihara Chamba dengan pahatan Buddha Maitreya di bukit batu setinggi 15 meteran. Maitreya dipercaya sebagai Buddha yang akan muncul di masa yang akan datang. Diperkirakan pahatan Maitreya ini dibuat pada abad pertama setelah masehi. Di dalam vihara tersebut terdapat foto adik Dalai Lama. Selepas kargil kita sering melihat bendera warna-warni dipasang dengan tali di atas rumah atau vihara ataupun di Pass. Menurut pengemudi kami, masyarakat percaya bahwa tubuh kita itu terdiri dari 5 elemen alami dengan simbol warna yang berbeda-beda. Unsur bumi atau tanah dengan simbol warna kuning. Unsur air dengan simbol warna hijau, unsur api dengan simbol warna merah. Unsur angin dengan simbol warna biru dan unsur langit atau awan atau ruang dengan simbol warna putih. Mereka percaya bahwa tubuh yang sakit disebabkan keberadaan suatu unsur yang tidak seimbang, maka mereka memasang bendera berwarna-warni yang berkibar-kibar ditiup angin untuk mengembalikan kesehatannya. Bendera selain dipergunakan untuk kesehatan juga dimaksudkan untuk menyeimbangkan elemen di dalam diri agar kesadaran dapat meningkat. Di depan vihara, ataupun di tengah lapangan luas selalu terdapat stupa. Stupa yang berbentuk setengah bola tertelungkup, di atasnya terdapat tiang berwarna merah atau kuning dan diujungnya terdapat simbol bulan sabit menghadap ke atas dan matahari bulat diatasnya. Di perjalanan kami juga bertemu dengan kelompok banyak jurang yang berwarna-warni. Ada biru, merah, hijau coklat, kuning, karena batuan yang terlihat berbeda struktur dan asalnya. Mengapa mereka berkumpul di suatu tempat, kami tidak dapat menjawabnya.

Dalam perjalanan kita melewati Fotula Pass 4.583 m yang dipenuhi salju. Sebelumnya perjalanan melalui Namikala Pass 3.719 m. Dinamakan Namikala, pillar to the sky, pilar ke langit. Rombongan sempat berfoto sebentar di kedua pass dan para pengemudi meneriakkan mantra-mantra di puncak terbuka. Memang di daerah pass selalu dipenuhi salju. Suasana yang dingin, pitih bersih, oksigen yang tipis, membuat pikiran tenang, tidak suka bicara dan ingat kebesaran alam. Akhirnya rombongan berhenti di Vihara Lamayuru. Vihara dalam bahasa Ladakh adalah gompa. Lamayuru adalah vihara buddhist Tibet di Kargil, Ladakh Barat di ketinggian 3.510 m. Vihara yang ditemukan oleh Lama Ringzhen Zangpo yang mempunyai silsilah dari Guru Tilopa dan muridnya Naropa. Mahasiddhacarya Naropa selama beberapa tahun melakukan meditasi di sana. Lamayuru adalah vihara terbesar dan tertua di Ladakh yang dihuni sekitar 150 bhiksu.

Rombongan makan di luar vihara dengan meja panjang di ruang terbuka. Jelas makanannya nikmat dan British menu. Di perjalanan kami kembali termenung, kami mengkaji Buku Tulisan Guruji, Isa Sang Masiha dan kami dibawa ke Rozabal, kami menyalin quotation buku Tantra Yoga dan kami dibawa ke tempat meditasi Naropa. Terima kasih Guruji. Teringat salah satu quotation di buku tersebut….. Rileks – sebuah kata yang indah. Seorang Mursyid tidak akan pernah memaksa para murid untuk berlatih. Bolak-balik dia akan mengajak untuk bersantai – rileks. Latihan-latihan yang dia berikan hanya untuk mencapai keadaan rileks itu. Dan apabila para murid sudah mencapainya, maka latihan pun harus dihentikan. Lepaskan segalanya, kamu sudah cukup berlatih. Latihan-latihan itu untuk mengantar kamu kepada sang Guru. Sekarang engkau sudah berhadapan dengan dia. Mau berlatih sampai kapan? Rileks…. kalau sudah duduk bersama pacar jangan membaca kamasutra. Do something! Rileks dan mapankan dirimu dalam kemurnian, kejernihan yang tak pernah tercemar. Mapankan keyakinanmu bahwa engkau tak akan tercemar lagi. Bahwa sesungguhnya engkau tak pernah tercemar. Selama ini, engkau pikir engkau tercemar……….

Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan ke Uletokpo. Uletokpo merupakan tempat camping yang indah untuk memperhatikan bintang-bintang di langit. Penginapan terdiri dari tenda-tenda permanent dengan dua tempat tidur, tanpa lampu di dalam tenda, penerangan dengan lilin. Untuk mandi dan ke toilet harus berjalan ke luar tenda dan disediakan banyak kamar mandi berjajar. Karena udaranya dingin maka disediakan selimut yang sangat tebal. Di samping tempat camping mengalir sungai Indus. Suara gemericik air tidak pernah berhenti, mengalir di saluran kecil di pinggir lokasi camping.

Pagi hari kami bangun dan ke luar tenda. Bernapas cleanching sebentar dan mengatur napas, tiba-tiba suatu pikiran menyelinap. Semua makhluk di atas bumi ini dipelihara kehidupannya oleh Bumi. Makan-minum, keperluan hidup bahkan napas kehidupan disediakan bumi. Kami ingat tulisan Deepak Chopra. Tubuh kita terdiri dari sekitar 60 trilyun sel dan mereka semua lahir, hidup, mati, makan sari makanan dan bernapas dari oksigen yang disediakan tubuh kita. Jangan-jangan demikian pula analognya tubuh kita dengan bumi. Bunda bumi kau menghidupi kami, kau disebut Dewi Gaia di Yunani, Devi Prthvi di India dan Ibu Pertiwi di Nusantara. Engkau makhluk hidup, Engkau punya usia dan engkupun dihidupi Sang Surya dan bintang lain. Dan sang Sang Surya dan planet lain pun dihidupi oleh Bunda Alam Semesta. Mungkin ada pula yang menghidupi Bunda Alam Semesta. Biarlah, yang penting kami sadar Bunda Bumi hidup. Suhu badan kita 37 derajat Celcius. Apabila diluar badan temperaturnya tinggi, badan akan mengeluarkan keringat agar suhu badan tetap stabil. Apabila di luar dingin seperti di Pegunungan Himalaya ini, kulit tubuh akan mengerut dan mengeluarkan panas agar suhu badan tetap stabil juga. Menurut Denise Linn, suhu bumi berkisar 13 derajat Celcius. Apabila di luar panas, es di kutub akan mencair dan menjaga suhu bumi agar stabil, kemudian apabila di luar dingin, air laut akan membeku dan mengeluarkan panas untuk menjaga suhu tetap stabil pula. Kadar oksigen di atas permukaan bumi sekitar 21%, kalau oksigen terlalu besar, mudah terjadi kebakaran hutan dan kehidupan punah. Juga kalau oksigen kurang dari 21%, oksigen akan cepat habis untuk bernapas semua makhluk dan makhluk pun akan punah. Kandungan garam di laut pun selama ribuan tahun berkisar 3.4%. Manusia yang mengakibatkan Global warming, ibarat sel kanker dalam tubuh kita yang tidak sinkron dengan tubuh dan mempependek usia tubuh. Manusia yang bertindak penuh kekerasan pun ibarat kanker bagi Ibu Pertiwi. Luar biasa, apabila kita memandang Bunda Bumi ini hidup, cara hidup kita akan berubah. Terima kasih Guruji.

Keesokan paginya perjalanan diteruskan ke Vihara Alchi. Alchi adalah desa di Ladakh yang terletak di tepi sungai Indus. Alchi adalah vihara tertua di Ladakh yang terkenal karena lukisan-lukisan dari abad 11. Vihara didirikan oleh Penterjemah Besar Lotsawa Rinchen Zangpo. Lukisan dinding di Vihara Alchi adalah beberapa lukisan yang bertahan di ladakh dan merefleksikan artistik dan spiritual dari raja Buddha dan Hindu di Kashmir pada waktu itu. Rinchen Zangpo mengajak para seniman dari Kashmir melukis di vihara di Ladakh ini. Di semua vihara memotret dengan blitz dilarang, karena dapat merusakkan lukisan. Banyak lukisan mandala di vihara-vihara di daerah Ladakh. Lukisan lingkaran pada mandala menggambarkan kesempurnaan Sang Pencipta. Titik pusat lingkaran memberi makna tujuan. Segi empat melambangkan kekuatan, kesatuan dan bumi. Simbol kestabilan dan melambangkan empat arah, empat unsur dan empat musim. Segitiga adalah Trinitas Suci, mind/body and soul, ibu/ayah dan anak, waktu lampau/saat ini dan yang akan datang. Simbol keutuhan dan perlindungan. Plato menyatakan bahwa dunia diatur oleh makhluk Ilahi yang mewujudkan dirinya menurut hukum simetri dan geometri.

Perjalanan dilanjutkan ke Vihara Likir. Rumah-rumah di desa Likir dibuat sekitar 200 tahun yang lalu. Kata Likir berasal dari Klu-kkhyil. Klu-kkhyil Gompa digunakan oleh Bhiksu sekte bertopi kuning. Nama Klu-kkhyl berarti belitan ular seperti bentuk bukit sekeliling vihara. Ditemukan oleh Lama Lhawang Chosje pada tahun 1028. Beliau mengajarkan aliran Kadampa yang merupakan ajaran yang diberikan oleh Yang Mulia Atisha. Sebelum Yang Mulia Atisha menyebarkan ajaran di Tibet, beliau belajar pada Yang Mulia Dharmakirti Svarnadvipi di Pulau Sumatera pada zaman Sriwijaya. Pada tahun 1470 ajaran Kadampa dikonversikan menjadi ajaran Gelukpa oleh Tsong Khapa sebagai lanjutan dari aliran Kadampa. Vihara ini mempunyai koleksi seni Buddhist dan patung raksasa di depan Vihara setinggi 25 m. Perjalanan dilanjutkan ke Leh. Rombongan menginap di Spic and Span Hotel.

 

Triwidodo

Juni 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: