Pemugaran Candi Arjuna dan Simbol Kebangkitan Dharma di Indonesia

 

Penghormatan kepada budaya leluhur

Menurut pemahaman pribadi kami di alam ini tidak ada kejadian yang bersifat kebetulan. Pada hari Senin tanggal 28 Juli 2008 kami bersama istri kami menghadiri undangan peresmian Peresmian Museum Kailasa dan Pemugaran Candi Arjuna oleh Bapak Menteri Pariwisata dan Kebudayaan di Dieng. Beliau, Ir Jero Wacik orang Bali, lahir di Desa Batur Bali sambil ketawa menyampaikan kebetulan meresmikan Museum dan pemugaran candi Arjuna di Kecamatan Batur Dieng. Menurut beliau itu kebetulan bagi kita, tetapi bagi Dia Yang Maha Kuasa tidak ada sesuatu yang bersifat kebetulan.

Sepanjang perjalanan dari Kota Wonosobo menuju Dataran Tinggi Dieng kami menikmati Himalaya mini, jalan berkelak-kelokdi tepi jurang yang dalam, tanjakan yang curam, pemandangan indah, tanah subur menghijau, walau sebagian besar telah gundul. Di zaman dulu ketika alam masih utuh dengan selimut hutannya, dapat dibayangkan dataran tinggi ini merupakan suatu tanah suci yang menggetarkan nurani. Dieng, Dhyang, tempat bersemayam para Dewa, Kahyangan, Tempat Suci di Jawa.

Bupati menyampaikan bahwa malam sebelumnya temperatur mencapai 5 derajat Celsius, dan pada beberapa malam dalam bulan September bisa mencapai minus 8 derajat Celcius. Memang lahan seluas 90.000 ha dengan ketinggian 2.000 sampai 2.500 m di atas permukaan air laut di Dieng ini sangat dingin di waktu malam. Rumah penduduk memakai atap seng agar dapat menyimpan kehangatan matahari. Di dalam Candi yang tertutup batu, batunya terasa nyessss dingin sekali. Pak Menteri berkomentar, temperatur yang dingin, malam hari jam 18.00 yang sepi, dan pemandangan yang indah, cocok bagi turis yang berhoneymoon. Baik honeymoon pertama selagi uang di kantong belum tebal, atau honeymoon kedua, meningkatkan kebersamaan, kebertemanan dengan pasangan, ketika kantong di saku sudah lebih tebal. Bagi kami suasana spiritual masih terasa. Terima kasih Guru, terima kasih Bhagavad Gita, percakapan Yang Mulia Arjuna dengan Penasehat Agung Sri Krishna telah membawa kami menginjak Himalaya Kecil Tanah Jawa. Semoga Himalaya tetap abadi, tidak seperti Himalaya Kecil yang mulai rusak lingkungannya. Kenapa tidak dimulai dari kita memperbaikinya? Pak Bupati berkomitmen memperbaiki lingkungan, tahun ini menanam 10.000 pohon Cemara dan Puspa. Bersama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memugar Candi Arjuna dan Candi-Candi lainnya, membangun Museum Kailasa dan sedikit menggali Taman Balekambang dan Telaga Merdada. Kami dengar dari kolega kami, pengerukan cukup sulit karena masyarakat yang menanami lembah sekitar Telaga. Seorang Bapak di sebelah kami berkomentar bahwa pada tahun tujuhpuluhan, 40 tahun yang lalu, Telaga Balekambang masih luas sekali mengelilingi kompleks Candi Arjuna, dan pada saat sekarang sebagian sudah menjadi tempat parkir dan lahan tanaman kentang.

Pak Menteri bersyukur ada 2 Bupati yang hadir. Biasanya Bupati begitu terikat dengan partainya dan tidak mau hadir ketika Menteri beda partai menginjakkan kaki di wilayahnya. Bunda Pertiwi, begitu sempitnyakah jiwa putra-putramu saat ini? Pak Menteri hari sebelumnya meresmikan pemugaran Candi Prambanan yang rusak akibat gempa di Jogya dan Klaten. Kemudian malamnya beliau menemani Pak Presiden SBY menghadiri acara di Borobudur. Dan pagi tadi mengajak ke 4 Direktur Jenderal-nya ke Dieng.

Beliau mengkritik pers, berita kebudayaan hanya dimuat di halaman 5 pojok dan kecil sedangkan berita bakar ban , menggoyang gerbang dimuat di halaman utama dan bisa bersambung. Bunda Pertiwi, demikiankah keadaanmu saat ini? Berita Adharma merajalela memenuhi lontar modern yang dicetak setiap hari, sedangkan pesan Dharma terdesak di pojok. Masyarakat menyukai berita Adharma daripada Pesan Dharma. Aura materi telah melingkupi bumi pertiwi. Semoga dapat mengetuk nurani mereka yang mulai sadar. Bunda Pertiwi berkahilah mereka yang berada di jalan-Mu!

Selesai acara, kami bersama istri menyempatkan masuk ke komplek Candi Gatotkaca di sebelah tempat acara. Masih ada lingga batu di pojok luar dan kami berdua ke dalam dan mengheningkan diri sesaat. Kemudian kami masuk ke museum dengan beberapa arca terpajang yang terkumpul dan kami sempat berfoto di sebelah patung Mahakala. Di belakang museum terdapat Movie Teather yang memutar film tentang Pemugaran Candi. Di atas sebelah Teather berdiri megah Restaurant Bertingkat. Bunda Pertiwi, putera-puteramu meninggikan Restaurant daripada museum. Semoga saja persepsi kami salah.

Dari tempat upacara kami berjalan di atas jalan beton setapak menuju komplek Candi Arjuna yang telah menjadi indah, jauh lebih indah dibanding delapan tahun yang lalu, ketika kami ke sana. Kami sempat masuk Candi dan berdoa sejenak, tidak lama karena di luar ramai pengunjung. Pemandangan di luar sangat indah, kami bayangkan di zaman dulu ketika tanah pertanian sekitar masih berwujud Telaga Balekambang yang luas akan nampak seperti Kashmir Kecil dengan Danau Dal nya. Selanjutnya, kami meninggalkan komplek naik kendaraan sekitar 2 km masuk perkampungan beraspal beton dan naik tangga sepanjang 200m yang cukup menanjak dan kami masuk ke komplek Candi Dwarawati, yang sepi tanpa pengunjung satu pun. Kalau setiap Sabtu kami afirmasi dan latihan meditasi di Jalan Dworowati Solo tempat latihan Anand Krishna Center Surakarta, kini kami afirmasi dan berdoa di Candi Dworowati Dieng. Rasanya kami pernah mengenal tempat tersebut sebelumnya.

Kemudian kami naik kendaraan sekitar 2 km dan berhenti di pertigaan “Gangsiran Aswatama” , demikian masyarakat menyebutnya, untuk menanyakan lokasi candi Bhima. Seorang Desa bernama Pak Din akan pulang ke rumah Simenang dekat Kawah Sikidang menawarkan ikut mobil kami mengantar. Kami sempat berdoa di dalam candi Bhima, yang terletak sekitar 1 km dari Telaga Warna. Menurut Pak Din Telaga warna dihubungkan terowongan alam dengan Telaga Menjer. Selanjutnya kami mengantar pak Din ke desanya dimana terdapat instalasi pipa gas alam yang diperoleh dari Kawah Sikidang (Kijang dalam bahasa Jawa). Dari jalan di atas kelihatan kawah Sikidang yang mengeluarkan uap. Kami tertawa, telah mengantar pak Din (Agama) ke rumah, dari pertigaan Gangsiran Aswatama (Terowongan buatan Aswatama ketika mau membunuh Putra-putra Pandawa setelah perang Bharatyuda), ingat buku Guru Christ of Kahmiris. Ada Sikidang yang mengingatkan latihan katarsis dengan napas kijang. Dan kami harus pulang, karena esok hari kami ada tugas ke Pati. Dieng yang berjarak sekitar 150 km dari Semarang dapat ditempuh selama 3.5 jam perjalanan darat, jalannya bagus, pemandangannya indah. Seandainya agama tidak menjadi persoalan, candi-candi dihidupkan energi spiritualnya, Dieng mempunyai potensi seperti di Bali.

 

Tempat-tempat Wisata (spiritual) di Dieng

Dieng Plateau, Dataran Tinggi Dieng merupakan tujuan wisata setelah Candi Borobudur dan Prambanan. Dieng dari kata Dhyang yang berarti Kahyangan. Pada zaman Rake Warak Dyah Wanara tahun 809 M digunakan sebagai tempat suci untuk bermeditasi.

Kompleks Candi Arjuna, terdiri dari 5 candi. Deret sebelah timur adalah Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Putadewa dan Candi Sembadra. Berhadapan dengan Candi Arjuna adalah Candi Semar yang terletak sendiri di sebelah barat. Pada candi-candi tersebut digambarkan dewa-dewa pendamping Dewa Siwa. Hanya di candi Srikandi terdapat gambar Dewa Brahma, Siwa dan Wisnu.

Candi Gatotkaca, terletak di kaki bukit Pangonan (Bukit tempat penggembalaan) terdapat Makara yang khas berupa wajah raksasa yang menyeringai tanpa rahang bawah.

Candi Bhima mempunyai penampilan yang khas, pada bagian atapnya mirip dengan bentuk Shikara seperti mangkuk yang ditelungkupkan.

Candi Dworowati terletak di utara dan didirikan di Bukit Perahu dengan ukuran 5m x 4 m dan tinggi 6 m.

Pemandangan yang indah di bumi kahyangan ini dilengkapi dengan Kawah Sikidang, Kawah Sileri, Kawah Candradimuka, Telaga Merdada, Telaga Dringo, Telaga Balekambang, Sumur Jalatunda, Goa Jimat, Air panas Bitingan dan Curug Sirawe.

Sumur Jalatunda merupakan kepundan gunung berapi yang meletus dan menjadi sumur dengan kedalaman 100 m. Konon Sumur Jalatunda merupakan salah satu pintu gaib menuju penguasa Laut Selatan.

Kawah Candradimuka merupakan pemunculan Solfatana berupa gumpalan asap putih dari rekahan tanah. Tempat ini dipakai untuk Upacara Ritual Ruwatan 1 Suro.

Kawah Sileri merupakan kawah terluas yang masih aktif. Air kawahnya bergolak, mendidih persis seperti bekas cucian beras yang dalam bahasa Jawa disebut Leri, sehingga dinamakan Sileri.

Di Dieng juga ada wisata arung jeram, Serayu River Rafting. Memang Sungai Serayu berawal dari Dataran Tinggi Dieng. Ada legenda Bhima datang ke Jawa dan berlomba dengan Kurawa memperebutkan Putri Arimbi yang merupakan putri dari Raja Raksasa Harimba. Bhima berhasil menyodet sungai memenangkan perlombaan dan mendapatkan Sang Putri Arimbi. Sungainya dinamakan Cinta dengan Putri Ayu, Sir Ayu, Serayu. Buah cinta mereka adalah Sang Putra, Pahlawan Gatotkaca yang layaknya pilot pesawat tempur supersonik yang handal terbang dan membantu dalam peperangan Baratayudha. Akhirnya sang Pahlawan gugur terkena peluru kendali Sang Basukarna yang bernama Kuntawijayadanu yang dapat mengejar mangsanya setelah terkunci seperi layaknya Senjata Anti Pesawat Modern.

 

Kebangkitan Dharma di Indonesia

Kami tulis pesan Guru dalam buku Be The Change. Dunia ini ibarat medan perang Kurusetra. Di medan ini kita akan menemukan Kurawa yang berpihak pada adharma, dan pandawa yang berpihak pada dharma. Di medan ini pula kita dapat berharap bertatap muka dengan sang Sais Agung, Sri Krishna. Bila ragu, bila bimbang, tanyalah kepada Krishna yang bersemayam dalam diri. Dialah Sang Mahaguru Sejati.

Hidup adalah sebuah perjuangan. Berjuanglah terus-menerus demi penegakan dharma, demi hancurnya adharma. Kita tidak di sini untuk saling jarah-menjarah, atau saling rampas-merampas. Kita tidak mewarisi budaya kekerasan dan barbar seperti itu. Jangan berjuang untuk tujuan-tujuan kecil yang tidak berguna. Jangan berjuang untuk memperoleh kursi yang dalam beberapa tahun saja menjadi kadaluarsa. Jangan berjuang untuk memperoleh suara yang tidak cerdas.

Berjuanglah untuk tujuan besar untuk sesuatu yang mulia. Berjuanglah untuk memperoleh tempat di hati manusia, ya manusia, bukan di hati raksasa. Berjuanglah untuk mencerdaskan sesama anak manusia, supaya mereka memahami arti suara mereka, supaya mereka dapat menggunakan hak suara mereka sesuai dengan tuntutan dharma. Perjuangan kita adalah perjuangan sepanjang hidup. Perjuangan kita adalah perjuangan abadi untuk melayani manusia, bumi ini dengan seluruh isinya, bahkan alam semesta. Janganlah mengharapkan pujian dari siapa pun jua. Janganlah menjadikan pujian sebagai pemicu untuk berkarya lebih lanjut. Berkaryalah terus menerus walau dicaci, dimaki, ditolak…….. Berkaryalah karena keyakinan pada apa yang mesti kita kerjakan.

Berjuanglah Para Arjuna, Para Srikandi, Para Subadra, Para Puntadewa, Para Gatotkaca. Tegakkan Dharma di Bumi Pertiwi. Simbol di Dieng bukan suatu kebetulan.

 

Triwidodo

Juli 2008.

BG Bab I teks 28-36

 

Text 28-30

Arjuna said : O Krsna seeing all my friends and relatives assembled for battle makes my limbs quiver and my mouth dry up . My whole body is quivering , my hairs are standing on end, my bow, Gandiva is slipping from my hand and my skin burns. I am unable to maintain my composure and my minds is reeling. O Krsna I can see only misfortune ahead.

Teks 28-30

Arjuna berkata: Wahai Krishna, melihat semua teman-teman dan keluarga saya berkumpul untuk bertempur membuat anggota tubuh saya merinding dan mulut saya mengering. Seluruh tubuh saya gemetar, rambut saya berdiri tegak, senjata saya, Gandiva melorot dari tangan dan kulit saya terbakar. Saya tidak dapat mengendalikan keadaan dan pikiran saya nyebut, wahai Krishna saya hanya melihat ketidakberuntungan didepan.

 

Text 31

O Krsna I don’t see how any goods can come from killing my kith and kin in battle and I have no desire for victory, a kingdom, or happiness in these things.

Teks 31

Wahai Krishna, saya tidak melihat suatu kebaikan dari membunuh kawan dan sanak saya di pertempuran dan dalam hal ini saya tidak inginkan kemenangan, kerajaan, atau pun kebahagiaan.

 

Text 32-35

O Govinda, of what use is kingdom and happiness when those with whom we may enjoy these are now arrayed in battle? When teachers, fathers, sons, grandfathers, matternal uncles, fathers-in-law, grandsons, brothers-in-law, and other brethren are standing here ready to fight, risking their lives I have no desire to kill even those bent on killing me. O Krsna I am not ready to fight with the sons of Dhrtarastra even in exchange of the three worlds, much less an earthly kingdom.

Teks 32-35

Wahai Govinda, untuk apa kerajaan dan kebahagiaan, bila dengan mereka yang seharusnya sama-sama menikmati dengan kita, sekarang berhadapan dalam pertempuran? Ketika guru, ayah, anak, kakek, paman pihak ibu, mertua, cucu lelaki, saudara ipar, dan saudara lainnya berada disini siap bertempur, mengambil resiko dengan nyawa, saya tidak ingin membunuh bahkan kepada mereka yang bertekad akan membunuh saya. Wahai Krishna, saya tidak siap bertempur dengan putra-putra Destarastra, untuk ditukar dengan tiga dunia, kerajaan dunia terlalu kecil.

 

Text 36

O Madhava, we will only incur sin by killing these aggressors. It is not right for us to kill the sons of Dhrtarastra and our friends. How can one be happy after destroying one’s own family?

Teks 36

Wahai Madhava, kami hanya akan membuat dosa dengan membunuh para penyerang ini. Tidak benar bagi kami membunuh putra-putra Dhrtarastra dan teman-teman kami. Bagaimana mungkin seseorang berbahagia setelah menghancurkan keluarganya sendiri?

BG Bab I teks 19-27

 

Text 19

The uproarious sky and earth filled the hearts of Dhrstrasta’s sons with fear.

Teks 19

Langit dan bumi yang membahana menyiutkan nyali para Komandan putra-putra Destarastra.

 

Text 20

O King, at that time Arjuna who carries the banner of Hanuman looking over the army of Dhrtarastra’s son is in the battle arrangement, raised his bow in preparation as weapons were readied and spoke the following word to Krsna.

Teks 20

Wahai Raja, pada waktu itu Arjuna yang membawa bendera Hanuman mengamati pasukan Putra Destarastra dalam formasi tempur, mempersiapkan senjatanya dan mengucapkan kata berikut kepada Krishna.

 

Text 21-23

Arjuna said : O infallible one, draw my chariot between the two armies so that I may see those who have assembled here to fight and with whom I must compete in this battle. Let me see those who have come here to fight, to please the evil-minded son of Dhrtarastra.

Teks 21-23

Arjuna berkata: Wahai Pemilik Kesempurnaan, jalankan kendaraan saya di antara kedua pasukan, sehingga saya bisa melihat siapa yang telah telah berkumpul disini untuk berperang dan dengan siapa saya harus unggul-mengungguli di pertempuran ini. Biarkan saya melihat siapa yang telah telah datang bertempur untuk menyenangkan putra Dhrtarastra yang jahat.

 

Text 24

Sanjaya said : having thus been requested by Arjuna, Lord of Krsna pulled the chariot in the mids of both armies.

Teks 24

Sanjaya berkata: Setelah diminta oleh Arjuna, Yang Mulia Krishna menempatkan kendaraan itu di tengah kedua pasukan.

 

Text 25

Looking at the presence of Bhisma, Drona and all other rulers of the world. Lord Krsna said , look Partha, all Kurus are assembled here.

Teks 25

Memperhatikan kehadiran Bhisma, Drona dan semua penguasa dunia lainnya. Yang Mulia Krishna berkata, lihat Partha, semua Kurawa telah dihimpun disini.

 

Text 26

There Arjuna saw among both armies, fathers, grandfathers, teachers, maternal uncles, brothers, sons, grandsons, friends, in laws and companions.

Teks 26

Di sana Arjuna melihat di kedua pasukan terdapat, para ayah, para kakek, para guru, para paman pihak ibu, para saudara laki-laki, para putra, para cucu lelaki, para teman, dan para kerabat.

 

Text 27

When the son of Kunti, Arjuna, saw all his kinsmens, he was overcome with compassion and spoke thus.

Teks 27

Saat putra Kunti, Arjuna, melihat semua sanak prianya, dia dikuasai rasa belas kasihan dan berbicara demikian.

BG Bab 1 teks 10-18

Text 10

Our strength is immense and is guarded by Bhisma , whereas their force , guarded by Bhima is limited.

Teks 10

Kekuatan pasukan kita tak terukur dan dilindungi oleh Panglima Bhisma, dimana kekuatan pasukan mereka, yang dilindungi oleh Panglima Bhima terbatas.

 

Text 11

All of you must give your utmost support to Bhisma throughout battle.

Teks 11

Semua pasukan harus memberi dukungan sepenuhnya kepada Panglima Bhisma sepanjang pertempuran.

 

Text 12

Bhisma, the grandsire of Kuru dynasty blew his conch triumphantly, sounding like the roar of the lion , bringing joy to Duryodhana.

Teks 12

Bhisma, yang masih terhitung kakek dari dinasti Kuru membunyikan terompet tanda kebesarannya, yang bersuara seperti raungan singa, membawa kegembiraan kepada Putra Mahkota Duryodhana.

 

Text 13

After that, the Kuru army’s conches drums ,cymbals and bugles all sounded together in a tumultuous uproar.

Teks 13

Kemudian, Pasukan Kurawa membunyikan bersama terompet tanda kebesaran, genderang, dan musik perang yang riuh-rendah.

 

Text 14

On the other side Lord Krishna and Arjuna standing on a great , swift chariot drawn by white horses, blew their divine conch shells.

Teks 14

Di bagian lain Yang Mulia Krishna dan Arjuna berada pada kendaraan tempur cepat berwarna putih, membunyikan terompet tanda kebesaran mereka.

 

Text 15

Lord Krishna blew his conch Pancajanya ; Arjuna , blew his, the Devadatta and Bhima,  the voracious eater and achiever og great tasks sounded forth his great conch Paundra.

Teks 15

Yang Mulia Krishna membunyikan terompet Pancajanya; Arjuna, membunyikan miliknya, Devadatta dan Bhima, Panglima bersemangat dan penyelesai tugas besar membunyikan terompet tanda kebesarannya, Paundra.

 

Text 16

Yudhistira son of Kunti blew the Ananta-wijaya ; Nakula and Sahadeva blew the Sughosa and Manipuspaka respectively.

Teks 16

Yudhistira putra Kunti membunyikan Ananta-wijaya; Nakula dan Sadewa membunyikan Sughosa dan Manipuspaka mereka.

 

Text 17

The supreme archer the king of Kasi, the great warrior Sikhandi, Dhrstadyumna.

Teks 17

Penembak wahid  raja Kasi, Komandan Besar Srikandi, Destajumena. 

 

Text 18

Virata, the unbeatable Satyaki , Drupada , and the sons of Draupadi together with the mighty armed son of Subhadra, all blew their conch shells.

Teks 18

Wirata, Yang Tak Terkalahkan Satyaki, Drupada,  dan para Komandan putra-putra Drupadi, bersama dengan  putra Subhadra yang berperalatan tempur hebat, semuanya membunyikan terompet tanda kebesaran mereka.

Museum Kailasa dan Pemugaran Candi Arjuna di Dieng

Waktu berjalan dan dapat merubah pandangan hidup seseorang. Lebih kurang delapan tahun lalu, kami bersama keluarga piknik ke Dieng dan wajar saja kami melihat pemandangan indah dan peninggalan candi-candi dan telaga-telaga yang cukup berkesan, namun terlupakan juga dengan datangnya tumpukan gambar memori baru. Selanjutnya, lebih kurang empat tahun yang lalu kami bertemu Guru dan hidup terasa berubah. Waktu terasa begitu cepat berlalu, pengalaman hidup terasa begitu banyak. Dulu kami juga inginkan kedamaian, dan damai menurut persepsi saat itu santai, tidak banyak bekerja dan banyak menikmati. Kini terasa sibuk, waktu luang selalu untuk berkarya, pekerjaan kantor, pekerjaan rumah tangga dan di sela-selanya membaca dan menulis. Dan hidup terasa lebih bermakna. Bahagia tetap terasa, perasaan santai juga ada tetapi sibuk berkarya. Terima kasih Guru.

             Dua bulan yang lalu kami mengikuti Guru dengan rombongan ke Kashmir dan Himalaya. Telah kami tulis dalam perjalanan ruhani ke Kashmir dan Leh Himalaya dalam 8 artikel bersambung sebelumnya. Empat hari yang lalu, kami mulai tergerak menerjemahkan pribadi buku Bhagavad Gita. Buku mini 3cm x 5 cm tebal 1.5 cm berbahasa Inggris yang terdiri dari 842 halaman. Anak-anak kami Pipik dan Doni turut membantu menulis pada awalnya, kami edit, teruskan menulis dan menerjemahkannya kalimat demi kalimat. Buku mini ini pemberian Guru dalam perjalanan pulang dari Himalaya, dan istri kami yang bahasa Inggrisnya one-two-three mendesak kami menerjemahkannya. Dan luar biasa, sudah banyak buku terjemahan dan makna Bhagavad Gita dalam bahasa Indonesia dan tentu saja pegangan kami Bhagavad Gita karya Guru. Kami menerjemahkan teks pembicaraan Arjuna dan Sri Krishna satu kalimat per satu kalimat, tanpa penjelasan. Dengan cara demikian pula kami mengaji buku Guru kalimat per kalimat agar tidak ada pemikiran Guru terlewatkan. Hanya satu teks per satu teks dan mudah-mudahan tak ada yang terlewatkan dan sudah terasa mulai meresap ke hati, walau pada saat menulis artikel ini baru Bab 2 yang mendekati penyelesaian.

            Pemahaman kami mengatakan bahwa di alam ini tidak ada kejadian yang kebetulan. Tadi pagi, 28 Juli 2008 kami mengajak istri kami menghadiri undangan peresmian Peresmian Museum Kailasa dan Pemugaran Candi Arjuna oleh Bapak Menteri Pariwisata dan Kebudayaan di Dieng. Beliau, Ir Jero Wacik orang Bali, lahir di Desa Batur Bali sambil ketawa menyampaikan kebetulan meresmikan Museum dan pemugaran candi Arjuna di Kecamatan Batur Dieng. Menurut beliau itu kebetulan bagi kita tetapi bagi Dia Yang Maha Kuasa tidak ada sesuatu yang kebetulan.

            Komentar istri dalam perjalanan, ini Himalaya mini, jalan berkelok pemandangan indah, tanah subur menghijau, sebagian besar telah gundul memang, tetapi di zaman dulu ketika alam masih utuh dengan tanamannya jelas merupakan tanah suci yang menggetarkan nurani. Dieng, Dhyang, tempat bersemayam para Dewa, Tempat Suci di Jawa. Bupati menyampaikan bahwa malam sebelumnya temperatur mencapai 5 derajat Celsius, dan pada beberapa malam dalam bulan September bisa mencapai minus 8 derajat Celcius. Memang lahan seluas 90.000 ha dengan ketinggian 2.000 sampai 2.500 m di atas permukaan air laut di Dieng ini sangat dingin di waktu malam. Rumah penduduk memakai atap seng agar dapat menyimpan kehangatan matahari. Di dalam Candi yang tertutup batu, batunya terasa nyessss dingin sekali. Pak Menteri berkomentar, temperatur yang dingin, malam hari jam 18.00 yang sepi dan pemandangan yang indah cocok bagi turis yang berhoneymoon. Baik honeymoon pertama selagi uang di kantong belum tebal, atau honeymoon kedua, meningkatkan kebersamaan, kebertemanan dengan pasangan ketika kantong di saku sudah lebih tebal. Bagi kami suasana spiritual masih terasa. Terima kasih Guru, terima kasih Bhagavad Gita, percakapan Yang Mulia Arjuna dengan Penasehat Agung Sri Krishna telah membawa kami menginjak Himalaya Kecil Tanah Jawa. Semoga Himalaya tetap abadi, tidak seperti Himalaya Kecil yang mulai rusak lingkungannya. Kenapa tidak dimulai dari kita memperbaikinya? Pak Bupati berkomitmen memeperbaiki lingkungan, tahun ini menanam 10.000 pohon Cemara dan Puspa. Bersama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memugar Candi Arjuna, membangun Museum Kailasa dan sedikit menggali Taman Balekambang dan Telaga Merdada. Kami dengar dari kolega kami, pengerukan cukup sulit karena masyarakat yang menanami lembah sekitar Telaga. Seorang Bapak di sebelah kami berkomentar bahwa pada tahun tujuhpuluhan, 40 tahun yang lalu, Telaga Balekambang luas sekali mengelilingi kompleks Candi Arjuna, pada saat sekarang menjadi tempat parkir dan tanaman kentang yang memenuhinya.

            Pak Menteri bersyukur ada 2 Bupati yang hadir. Biasanya Bupati begitu terikat dengan partainya dan tidak mau hadir ketika Menteri beda partai menginjakkan kaki di wilayahnya. Bunda Pertiwi, begitu sempitnyakah jiwa putra-putramu saat ini? Pak Menteri hari sebelumnya meresmikan pemugaran Candi Prambanan yang rusak akibat gempa di Jogya dan Klaten. Kemudian malamnya beliau menemani Pak Presiden SBY menghadiri acara di Borobudur. Dan pagi tadi mengajak ke 4 Dirjen-nya ke Dieng.

            Beliau mengkritik pers, berita kebudayaan hanya dimuat di halaman 5 pojok dan kecil sedangkan berita bakar ban , menggoyang gerbang dimuat di halaman utama dan bisa bersambung. Bunda Pertiwi, demikiankah keadaanmu saat ini? Berita Adharma merajalela memenuhi lontar modern yang dicetak setiap hari, sedangkan pesan Dharma terdesak di pojok. Masyarakat menyukai berita Adharma daripada Pesan Dharma. Aura materi telah melingkupi bumimu. Semoga dapat mengetuk nurani mereka yang mulai sadar. Berkahi mereka bunda mereka yang berada di jalan-Mu!

            Selesai acara, kami bersama istri menyempatkan masuk ke komplek Candi Gatotkaca di sebelah tempat acara. Masih ada lingga batu di pojok luar dan kami berdua ke dalam dan mengheningkan diri sesaat. Kemudian kami masuk ke museum dengan beberapa arca terpajang yang terkumpul dan kami sempat berfoto di sebelah patung Mahakala. Di belakang museum terdapat Movie Teather yang memutar film tentang Pemugaran Candi. Di atas sebelah Teather berdiri megah Restaurant Bertingkat. Bunda Pertiwi, putera-puteramu meninggikan Restaurant daripada museum. Semoga saja persepsi kami salah.

            Dari tempat upacara kami berjalan di atas jalan beton setapak menuju komplek Candi arjuna yang telah menjadi indah, jauh lebih indah dibanding delapan tahun yang lalu. Kami sempat masuk Candi dan berdoa sejenak, tidak lama karena di luar ramai pengunjung. Pemandangan di luar sangat indah, kami bayangkan di zaman dulu ketika tanah pertanian sekitar masih berujud Telaga Balekambang yang luas akan nampak seperti Kashmir Kecil dengan Danau Dal nya. Selanjutnya, kami meninggalkan komplek naik kendaraan sekitar 2 km masuk perkampungan beraspal beton dan naik tangga sepanjang 200m yang cukup menanjak dan kami masuk ke komplek Candi Dwarawati, yang sepi tanpa pengunjung satu pun. Kalau setiap Saptu kami afirmasi dan latihan Meditasi di Jalan Dworowati Solo tempat latihan Anand Krishna Center Surakarta, kini kami afirmasi dan berdoa di Candi Dworowati Dieng. Rasanya kami pernah mengenal tempat tersebut sebelumnya.    Kemudian kami naik kendaraan sekitar 2 km dan berhenti di pertigaan “Gangsiran Aswatama” , demikian masyarakat menyebutnya, untuk menanyakan lokasi candi Bhima. Seorang Desa bernama Pak Din akan pulang ke rumah Simenang dekat Kawah Sikidang menawarkan ikut mobil kami mengantar. Kami sempat berdoa di dalam candi Bhima, yang terletak sekitar 1 km dari Telaga Warna. Menurut Pak Din Telaga warna dihubungkan terowongan alam dengan Telaga Menjer. Selanjutnya kami mengantar pak Din ke desanya dimana terdapat instalasi pipa gas alam yang diperoleh dari Kawah Sikidang (Kijang dalam bahasa Jawa). Dari jalan di atas kelihatan kawah Sikidang yang mengeluarkan uap. Kami ketawa dengan istri, mengantar pak Din (Agama) ke rumah, dari pertigaan Gangsiran Aswatama (Terowongan buatan Aswatama ketika mau membunuh Putra-putra Pandawa setelah perang Bharatyuda), ingat buku Guru Christ of Kahmiris. Ada Sikidang yang mengingatkan latihan katarsis dengan napas kijang. Dan kami harus pulang, karena esok hari kami ada tugas ke Pati. Dieng yang berjarak sekitar 150 km dari Semarang dapat ditempuh selama 3.5 jam perjalanan darat, jalannya bagus, pemandangannya indah. Seandainya agama tidak menjadi persoalan, candi-candi dihidupkan spiritualnya, Dieng mempunyai potensi seperti di Bali.

Tempat-tempat Wisata (spiritual) di Dieng.

            Dieng Plateau, Dataran Tinggi Dieng merupakan tujuan wisata setelah Candi Borobudur dan Prambanan. Dieng dari kata Dhyang yang berarti Kahyangan. Pada zaman Rake Warak Dyah Wanara tahun 809 M digunakan sebagai tempat suci untuk bermeditasi.

            Kompleks Candi Arjuna, terdiri dari 5 candi. Deret sebelah timur adalah Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Putadewa dan Candi Sembadra. Berhadapan dengan Candi Arjuna adalah Candi Semar yang terletak sendiri di sebelah barat. Pada candi-candi tersebut digambarkan dewa-dewa pendamping Dewa Siwa. Hanya di candi Srikandi terdapat gambar Dewa Brahma, Siwa dan Wisnu.

            Candi Gatotkaca, terletak di kaki bukit Pangonan (Bukit tempat penggembalaan) terdapat Makara yang khas berupa wajah raksasa yang menyeringai tanpa rahang bawah.

            Candi Bhima mempunyai penampilan yang khas, pada bagian atapnya mirip dengan bentuk Shikara seperti mangkuk yang ditelungkupkan.

            Candi Dworowati terletak di utara dan didirikan di Bukit Perahu dengan ukuran 5m x 4 m dan tinggi 6 m.

            Pemandangan yang indah di bumi kahyangan ini dilengkapi dengan Kawah Sikidang, Kawah Sileri, Kawah Candradimuka, Telaga Merdada, Telaga Dringo, Telaga Balekambang, Sumur Jalatunda, Goa Jimat, Air panas Bitingan dan Curug Sirawe.

            Sumur Jalatunda merupakan kepundan gunung berapi yang meletus dan menjadi sumur dengan kedalaman 100 m. Konon Sumur Jalatunda merupakan salah satu pintu gaib menuju penguasa Laut Selatan.

            Kawah Candradimuka merupakan pemunculan Solfatana berupa gumpalan asap putih dari rekahan tanah. Tempat ini dipakai untuk Upacara Ritual Ruwatan 1 Suro.

            Kawah Sileri merupakan kawah terluas yang masih aktif. Air kawahnya bergolak, mendidih persis seperti bekas cucian beras yang dalam bahasa Jawa disebut Leri, sehingga dinamakan Sileri.

            Di Dieng juga ada wisata arung jeram, Serayu River Rafting. Memang Sungai Serayu berawal dari Dataran Tinggi Dieng. Ada legenda Bhima datang ke Jawa dan berlomba dengan Kurawa memperebutkan Putri Arimbi yang merupakan putri dari Raja Raksasa Harimba. Bhima berhasil menyodet sungai memenangkan perlombaan dan mendapatkan Sang Putri Arimbi. Sungainya dinamakan Cinta dengan Putri Ayu, Sir Ayu, Serayu. Buah cinta mereka adalah  Sang Putra, Pahlawan Gatotkaca yang layaknya pilot pesawat tempur supersonik yang handal terbang dan membantu dalam peperangan Baratayudha. Akhirnya sang Pahlawan gugur terkena peluru kendali Sang Basukarna yang bernama Kuntawijayadanu yang dapat mengejar mangsanya setelah terkunci seperi layaknya Senjata Anti Pesawat Modern.

 

Triwidodo

Juli 2008.

Menghadirkan Bhagavad Gita dalam terjemahan Bahasa Indonesia

Chapter 1 Arjuna’s Dilemma
Bab 1 Dilema Arjuna

Text 1
Dhrtarastra said:
What did my sons and the sons of Pandu do as they assembled at sacred Kurusetra , ready to fight ?
Teks 1
Destarastra berkata:
Apa yang telah dilakukan pasukan tempur putra-putra saya dan pasukan tempur putra-putra Pandu ketika mereka bertemu di medan perang Kurusetra, mereka telah siap berperang?

Text 2
Sanjaya said :
After seeing the battle formation of Pandava’s army , prince Duryudhana approached his Guru and spoke the following words :
Teks 2
Sanjaya berkata:
Setelah melihat formasi tempur pasukan Pandawa, Pangeran Duryudhana mendekati Penasehat Agungnya dan mengucapkan kata-kata berikut:

Text 3
O master look at strength of the Pandava’s military formation , which has been astutely arranged by your disciple , Drupada’s son.
Teks 3
Wahai Penasehat Agung, lihat kekuatan formasi militer Pandawa, yang dengan cerdik diatur oleh anak muridmu, putra Drupada.

Text 4
The Pandava’s army has heroes like Bima and Arjuna and warriors like Yuyudhana , Virata , and Drupada.
Teks 4
Pasukan Pandawa mempunyai Panglima seperti Bima dan Arjuna dan para Komandan seperti Yuyudhana, Wirata, dan Drupada.

Text 5
There are also heroic fighters like Dhrstaketu , Cekitana , Kasiraja , Purujit , Kuntibhoja , and Saibya.
Teks 5
Ada juga Komandan yang heroik seperti Destaketu, Cekitana, Kasiraja, Purujit, Kuntibhoja, dan Saibya.

Text 6
The mighty Yudhamanyu , the courrageous Uttamauja , the son of Subhadra , and the sons of Draupadi are all great warriors.
Teks 6
Panglima hebat Abimanyu, Komandan pemberani Uttamauja, anak Subhadra, dan putra-putra Drupadi yang semuanya Komandan hebat.

Text 7
Now, let me tell you about the distinguished members and leaders of my army
Teks 7
Sekarang, biarkan saya menceritakan kepadamu tentang para Komandan terkemuka dan pimpinan pasukan yang berpihak pada saya.

Text 8
It has personalities like Bhisma, Karna, Krpa, Asvatthama, Vikarna, and Bhurisrava, the son of Somadatta, who are always victorious in battle.
Teks 8
Kita mempunyai Panglima-Panglima seperti Bhisma, Karna, Kripa, Asvatthama, Wikarna, dan Bhurisrawa, Putra Somadatta, yang selalu menang dalam pertempuran.

Text 9
The army has other heroes who will lay down their lives for my sake , all equipped with various weapons and well versed in military science.
Teks 9
Pasukan juga mempunyai Komandan-Komandan yang siap menyerahkan nyawa mereka demi saya, semuanya dilengkapi dengan bermacam-macam senjata-senjata mutakhir dan mereka benar-benar berpengalaman dalam ilmu kemiliteran.

Lamun Keruh Ti Girang Komo Ka Hilirna, Kalau Keruh di atas bagaimana di bawah?

 

Tiga bulan Pakdhe Jarkoni tidak kelihatan batang hidungnya di rumah, membuat tamu-tamu yang datang ke rumahnya kecele karena rumahnya kosong dan kuncinya dititipkan kepada tetangganya. Begitu pakdhe Jarkoni pulang, beritanya cepat tersebar dan Mang Dadang menyempatkan sowan ke rumahnya.

 

Mang Dadang: Lama pakdhe tidak ada kabarnya, bertapa kali ya pakdhe?

 

Pakdhe Jarkoni: Iya pakdhe diundang adik di Gunung Salak Bogor, berlibur menikmati pemandangan alam. Pakdhe sengaja mematikan HP, puasa hape. Pakdhe juga bersama-sama adik pakdhe melakukan puasa bicara selama seminggu penuh. Ternyata puasa bicara itu berat sekali, tetapi karena adik pakdhe puasa bicara juga, akhirnya berhasil juga pakdhe puasa bicara seminggu.

 

Mang Dadang: Wah pakdhe nglakoni ya? Pertama apa yang dapat kami dengar dari retret pakdhe tersebut?

 

Pakdhe Jarkoni: Mang Dadang, pakdhe te acan basa Sunda, tetapi ada yang diingat pakdhe waktu di sana. Lamun keruh ti girang komo ka hilirna, kumaha Mang Dadang?

 

Mang Dadang: Luarbiasa, pakdhe paham peribahasa Sunda, kalau keruh di atas bagaimana hilirnya? Masalah ini perlu diskusi dengan pakdhe, kalau pimpinan kita di atas keruh, banyak berurusan dengan KPK terus bagaiman yang di bawah? Bagaimana memperbaiki Negeri ini pakdhe?

 

Pakdhe Jarkoni: Ingat Mang Dadang, dulu ada zaman Orde Lama, kemudian Orde Baru sekarang Orde Reformasi, bukankah masalah tetap ada dan tetap semrawut saja?. Kita ini percaya bahwa sistem dapat memperbaiki, tetapi yang lebih penting adalah pribadi-pribadi yang berubah, bukan sistemnya yang berubah.

 

Mang Dadang: Kan sulit juga memilih pemimpin yang baik? Dulu dipilih Dewan atau Majelis, kini dipilih rakyat langsung, apakah hasilnya lebih baik? Kalau diatas baik pun di tengah keruh bukan main, bagaimana dengan di bawah?

 

Pakdhe Jarkoni: Menurut pakdhe yang belajar dari Pak Guru, semua Pesuruh Tuhan berkepentingan dengan pribadi. Semuanya dimulai dari pribadi kita. Kita harus sadar dulu, kemudian baru keluarga kita. Kalau sudah banyak keluarga yang sadar, masyarakat yang sadar hanya tinggal menunggu waktu. Dalam pribadi pun semuanya dimulai dari pikiran. Pikiran menimbulkan keinginan. Keinginan menimbulkan tindakan. Tindakan yang berulang-ulang menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi karakter. Jadi untuk memperbaiki karakter orang, harus dimulai dengan pemahaman dulu. Pemahaman diawali dengan kesadaran.

 

Mang Dadang: Jadi lamun keruh ti girang komo ka hilirna, diartikan pakdhe perlu dimulai dari awal yaitu pikiran yang jernih yang tidak keruh sehingga menghasilkan tindakan yang jernih, akhirnya masyarakat yang jernih. Dan semua dimulai dengan kesadaran. Demikian pakdhe?

 

Pakdhe Jarkoni: Para Guru, para Wali berkepentingan dengan kesadaran manusia. Setelah sadar manusia baru menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat. Kanjeng Nabi memulai dengan La Illaha Illallah, tauhid. Setelah pengikutnya sadar bahwa tidak ada sesuatu selain Allah, barulah mereka diajak memperbaiki pemerintahan.

 

Mang Dadang: Terima kasih pakdhe, kami ingin ketemu lho dengan Gurunya pakdhe, salam buat Beliau, kami berharap padanya tentang masa depan Indonesia yang Jaya.

 

Triwidodo

Juli 2008.