Menikmati Karunia atau Menikmati Kasih dari Pemberi Karunia


Antara Pikiran dan Hati

            Ketika seseorang menikmati secara fisik segala sesuatu, maka yang menikmati adalah indera-inderanya. Kesenangannya disebabkan oleh pikiran yang senang mengulangi kenikmatan indera. Dilain pihak, rasa kasih dan dikasihi muncul dari hati. Memberi sesuatu kepada orang lain atau memaafkan orang lain adalah tindakan hati yang tidak dapat dinalar dengan pikiran.

 

Otak kita yang luar biasa

            Kita menjalani kehidupan dalam otak kita. Orang yang kita lihat, rasa basahnya air, harumnya bunga, semuanya terbentuk dalam otak kita. Padahal satu-satunya yang ada dalam otak kita adalah sinyal listrik. Ini adalah fakta yang menakjubkan bahwa otak yang berupa daging basah dapat memilah sinyal listrik mana yang mesti diinterpretasikan sebagai penglihatan, sinyal listrik mana sebagai pendengaran dan mengkonversikan material yang sama dengan berbagai penginderaan dan perasaan.

 

Tidak ada yang diluar

            Meskipun orang menganggap material ada di luar kita, cahaya, bunyi dan warna di luar otak kita itu tidak ada, yang ada adalah energi. Benda di luar hanya ada dalam paket energi. Paket energi tersebut dilihat oleh retina. Retina mengirim sinyal listrik ke otak. Otaklah yang menginterpretasikan itu adalah suatu benda. Bunyi juga terbentuk ketika gelombang-gelombang energi menyentuh telinga kita, kemudian diteruskan ke otak dan diintepretasikan sebagai bunyi tertentu oleh otak kita. Ketika kita tidur nyenyak, deep sleep maka segalanya tidak ada, kosong, hampa.

            Fisika quantum memperlihatkan bahwa klaim adanya eksistensi materi tidak mempunyai landasan yang kuat. Materi adalah 99,99999 % hampa. Yang ada diluar otak hanyalah paket-paket energi, otaklah yang menginterpretasikan itu adalah benda. Alam semesta seperti yang kita lihatpun hanya ada karena adanya otak kita. Yang luar biasa adalah mengapa penginterpretasian dari banyak otak di banyak manusia sama semua. Berarti ada kesatuan penginterpretasian dari semua makhluk.

 

Menikmati kesenangan dan melalaikan Sang Pemberi Kesenangan

            Dalam Surat Al An’aam 44 (Q 6 : 44) disebutkan, Fa lammaa nasuu maa dzukkiru bihii fatahnaa ‘alaihim abwaaaba kulli syai-in hatta idzaa farihuu bi maa uutuu akhadznaahum baghtatan fa idzaahum mublisuun.………….. Kami bukakan bagi mereka pintu-pintu segala sesuatu (kesenangan), sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong…………..

 

Senang karena Karunia atau Kasih dari Allah swt

            Tersebut dalam Surat Yunus 58 (Q 10 : 58), Qul bi fadhillaahi wa bi rahmatihii fa bi dzaalika fal yafrahuu huwa khairum mim maa yajma’uun. Katakanlah, “Dengan karunia Allah dan dengan rahmat-Nya maka dengan itu hendaklah kamu bergembira; karunia ini lebih baik dari apa yang mereka lakukan.

 

La Illaha Illallah

            Hanya Allah. Setiap Karunia dari Allah, pada hakikatnya semuanya dari Allah. Pikiran pun juga dari Allah. Mengagungkan pikiran berarti melupakan Sang Pemberi Pikiran, Sang Pemberi Hidup. Tanpa kehidupan, pikiran tidak bermakna. Pikiran perlu dimaksimalkan, tetapi biarlah hati yang menuntun dan memimpinnya.  Untuk kembali kepada Allah diperlukan hati. Dia yang Maha Besar berkenan bersemayam dalam hati hamba-Nya yang beriman.

 

Triwidodo.

Juli 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: