Mutiara Quotation FEAR MANAGEMENT


 

Judul : FEAR MANAGEMENT

Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri

Pengarang : Anand Krishna

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : 2007

Tebal : 158 halaman

 

Mutiara Quotation FEAR MANAGEMENT

 

Abstrak

Selama ini rasa takut kita terima sebagai sesuatu yang mutlak, tak terhindarkan. Psikologi modern bahkan menegaskan rasa takut sebagai sumber energi untuk ‘fight or flight’, melawan atau melarikan diri. Ketika kita menghadapi bahaya, rasa takut secara spontan mendorong kita untuk melawan atau melarikan diri.

Rasa takut atau FEAR sebenarnya adalah False Emotion Appearing Real – Emosi Palsu yang Terkesan Nyata. Sebagai makhluk yang lebih mulia daripada binatang, kita dapat mengelola rasa takut kita untuk mencapai puncak evolusi diri kita.

 

Perlukah Anda Membaca Buku ini?

Barat sudah mulai menoleh ke dalam diri untuk menemukan jawaban yang tidak ditemukannya dari luar.

Melarikan diri atau melawan adalah reaksi yang biasa. Menghadapi adalah respons yang tidak biasa. Menghadapi rasa takut – dalam hal ini ‘takut mati’ – berarti menerima kematian sebagai kematian. Penerimaan seperti itu menuntut kesadaran. Penerimaan seperti itu tidak datang begitu saja.

Saya setuju 100 persen dengan apa yang dikatakan Raja Salomo atau Nabi Sulaiman:”Di bawah kolong langit ini tidak ada sesuatu yang baru ……” Yang baru adalah cara saya menyajikannya.

 

Bagian Pertama. Mengenal Rasa Takut.

Sesungguhnya gelombang itu hanyalah sebuah sebutan. Gelombang tidak terpisah dari laut. Sesungguhnya gelombang itu tidak ada. Yang ada hanyalah laut. Kendati demikian, kita memperoleh kesan seolah gelombang ada.

Inilah basis kehidupan rasa takut yang sesungguhnya, tidak ada memberi kesan seolah ada. Tidak ada yang perlu ditakuti, karena apa yang mesti terjadi sudah pasti terjadi. Kendati demikian manusia tetap takut.

Ada yang takut mati; ada yang takut hidup. Yang takut mati berusaha untuk menghindarinya, tapi sia-sia saja. Yang takut hidup berusaha untuk mengakhiri hidupnya, padahal kehidupan adalah energi; dan energi tidak dapat diakhiri. Energi tidak mengenal kematian. Energi bersifat abadi.

 

Management: Seni Mengolah

FEAR- False Emotion Appearing Real.

Ketakutan adalah emosi palsu, tapi tampak asli… memberi kesan seolah asli.dalam kesan sesaat itu, ada suka, ada duka. Ada panas, ada dingin.

Semuanya itu mimpi. Tetapi, mimpi itu begitu riil. Dalam mimpi kadang jantung kita berhenti berdebar, kadang mengeluarkan keringat. Pengalaman-pengalaman seperti itu, walau terjadi dalam mimpi, sangat tidak menyenangkan.

Karena ketakutan adalah emosi palsu yang tampak riil, langkah pertama yang mesti diambil untuk mengatasinya adalah ‘bangun dari mimpi’. Akhirilah mimpimu itu, kemudian, dampak dari mimpi itu kau rubah.

Fear Management sesungguhnya, adalah Seni Mengolah Dampak dari Rasa Takut.

Man berarti manusia. Age berarti usia, dan ment mengindikasikan adanya proses. Management berarti Proses Peng-”usia”-an atau Pendewasaan Manusia. Jika age diartikan sebagai “zaman”, management dapat diartikan sebagai Proses Penyelarasan Manusia dengan Zaman.

Diri yang dewasa mampu melihat kepalsuan sebagai kepalsuan. Ia tak terjebak dalam kepalsuan itu. Diri yang sudah dewasa dan selaras dengan zaman, dengan alam, tidak takut menghadapi perubahan. Ia mendengar “Sabda Alam”. Ia memahami artinya. Dia bertindak sesuai dengan tuntunannya.

Luapan emosi pun terjadi karena kita membiarkannya untuk meluap. Di luar boleh terjadi kekacauan, kita tidak mesti terbawa oleh kekacauan itu. Kita tidak perlu diterjang oleh Gelombang Kekacauan Tsunami di luar.

Menjaga kewarasan di tengah ketakwarasan dunia, memelihara ketenangan diri di tengah kebisingan dunia, inilah tujuan Management Diri. Dan, supaya tidak ditakut-takuti oleh keramaian di luar, kita membutuhkan Fear Management.

 

Manusia Baru

Mereka yang malas mengharapkan zaman berubah. Mereka yang rajin mengubah diri dan menyebabkan terjadinya perubahan pada zaman. Celakanya kelompok pertama selalu mayoritas. Dominasi mereka tak pernah surut.

Harapan pada zaman baru adalah harapan pada perubahan yang terjadi di luar diri. Harapan ini tergantung pada sesuatu yang terjadi di luar kendali kita, maka harapan ini menciptakan rasa takut baru – ketakutan bahwa harapan itu tak terpenuhi.

Perubahan bukanlah sesuatu yang pernah terjadi secara masal. Tidak pernah. Perubahan terjadi pada perorangan, secara pribadi. Kemudian, pribadi yang berubah itu membawa perubahan.

Untuk membebaskan diri dari rasa takut pun, adalah salah jika kita berusaha untuk membereskan keadaan di luar. Keadaan di luar tidak pernah beres. Dulu ada penjahat, sekarang pun masih ada.

Manusia “Neo”, Manusia Baru – bukan New-Ager atau mereka yang mengharapkan Zaman Baru – berusaha untuk memahami “rasa Takut”. Apa yang menyebabkannya? Ia juga berusaha untuk memberdayakan dirinya, supaya tidak dihantui oleh rasa takut yang sesungguhnya sekadar emosi. Sudikah Anda menemani dia dalam pencahariannya?

 

Bagian Kedua. Jenis-Jenis Rasa Takut.

Setidaknya ada lima lapisan kesadaran utama dalam diri manusia dan di sana ada ketakutan yang berbeda-beda:

  • Lapisan Fisik

  • Lapisan Energi

  • Lapisan Mental

  • Lapisan Intelegensia

  • Lapisan Spiritual

 

Rasa takut muncul dalam setiap lapisan secara serempak. Intensitasnya berbeda. Karena itu, penyelesaian pada seluruh lapisan mesti diupayakan secara bersama, secara menyeluruh, secara holistik.

 

Rasa Takut pada Lapisan Kesadaran Fisik

Lapisan Fisik, yaitu jasmani kita dalam bahasa kuno disebut Annamayakosha – Lapisan yang terbuat dari Makanan. Inilah raga manusia.

Sperma dan sel telur adalah hasil makanan. Kualitas makanan menentukan kualitas sperma dan sel telur. Seluruh data dalam DNA seorang anak berasal dari sperma ayah, dan energi untuk menggerakkan tubuh berasal dari telur ibunya. Data tersebut tidak dapat dibaca secara jelas jika wahana atau sperma yang mengantarnya berkualitas rendah. Begitu pula motorik seorang anak sepenuhnya tergantung pada kualitas telur ibunya.

Rendah-tingginya kualitas sperma dan sel telur menentukan “jenis rasa takut” yang diwarisi oleh seorang anak.

Kualitas yang rendah menciptakan berbagai macam kendala sehingga seorang anak tidak mampu mengekspresikan dirinya secara sempurna. Ia mengalami depresi, nervousness. Ia menderita inferiority complex atau menganggap dirinya rendah. Para pelaku kejahatan, dari kelas teri hingga kelas kakap, dari maling biasa hingga pembunuh berdarah dingin, semuanya menderita rasa takut yang disebabkan oleh kualitas sperma dan sel telur yang rendah.

Awalnya, seluruh sistem pendidikan dirancang untuk mengatasi rasa takut jenis pertama ini.

Vyaayaam atau olah raga ringan dari tradisi yoga, Tai-Chi dan sebagainya dirancang untuk itu.

 

Kualitas sperma dan sel telur yang terlampau tinggi membuat seorang anak terlalu percaya diri. Ia menjadi sombong, keras, kaku, alot. Ia menderita penyakit superiority complex – merasa diri superior. Untuk melembutkan kepribadiannya, ia diajar untuk menyanyi, menari, menggambar, dan lain sebagainya.

Kualitas sperma yang berkualitas tidak rendah atau tidak tinggi juga memiliki rasa takut yang muncul dari reaksinya terhadap rasa lapar. Selama dalam kndungan ibunya, seorang anak tidak perlu mencari makanan. Ia mendapat suplai makanan dari peredaran darah ibunya. Begitu lahir ia tersadarkan bahwa suplai makanannya sudah terhenti, muncullah rasa takut yang sangat mencekam. Barangkali belum lapar betul. Tetapi ia sudah tahu bahwa sekarang makanan tak dapat diperolehnya dengan cara biasa.

Rasa takut yang muncul karena lapar, sesungguhnya menciptakan “semangat” dalam diri seorang anak untuk mencari, semangat untuk berjuang, dan semangat untuk menemukan.

Anak-anak yang saat lahir diberi susu siap saji menjadi generasi “mi instan”. Ia tidak mau bersusah payah untuk “memasak” sesuatu. Lebih gampang membeli bungkusan atau mangkuk mi, bubur, sup, atau apa saja yang siap saji – ditambah air panas, didiamkan sesaat, diaduk – dan langsung dimakan. Generasi kita telah terlanjur menjadi korban budaya siap saji, tradisi instan.

Takut kelaparan adalah rasa takut yang paling mudah terdeteksi pada Lapisan Kesadaran Fisik.

Penyakit membuat kita takut. Yang menderita saya, atau orang lain, tidak menjadi soal. Penyakit itu memunculkan rasa takut dalam diri saya.

Kita takut menjadi tua. Kita takut pada proses menua, padahal proses itu sudah berjalan sejak kita lahir.

Takut mati. Kita sudah sangat sering melihat kematian; sering pula melayat. Saat itu, muncul rasa takut akan kematian, tetapi kemudian rasa takut itu mengendap kembali di bawah sadar kita.

 

Sesungguhnya, pencerahan tidak perlu diupayakan. Pencerahan “terjadi” dengan adanya pemahaman tentang sifat kebendaan, termasuk pemahaman tentang fisik, raga, badan manusia. “pemahaman” inilah yang mesti diupayakan.

Solusinya: pertama adalah afirmasi. Ulangi terus menerus, “Aku bukanlah Badan. Aku adalah Jiwa Abadi”. Atau jika Anda percaya betul berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya: “Aku berasal dari Tuhan, dan akan kembali kepada-Nya”.

Dalam keadaan tidur, mata kita tertutup; badan kita tergeletak di atas ranjang. Fisik beristirahat, namun kita masih bermimpi. Mimpi itu tetap aku lihat. Aku yang melihat ini jelas bukan badan.

Dalam bahasa lain, afirmasi yang diulang-ulangi itu disebut japa atau zikr. Tujuannya sama: membebaskan manusia dari kesadaran jasmani.

 

Rasa Takut pada Lapisan Kesadaran Energi

Lapisan Energi, yang dalam bahasa kuno disebut Praanamayakosha. Yang dimaksud adalah life force, kekuatan yang menggerakkan tubuh kita, yang memberi kita kemampuan untuk berpikir dan berperasaan.

Pada lapisan ini terjadi pertemuan antara raga dan rasa manusia; antara badan dan pikiran. Ketika lapisan ini sudah tidak bekerja, pertemuan pun berakhir. Tubuh menjadi jazad. Kadang lapisan ini mengalami rusak berat, tubuh sudah tidaki dapat digerakkan, otak tidak bisa berpikir jernih, perasaan terganggu. Pada kerusakan yang paling berat dalam dunia medis disebut koma.

Lapisan energi di dalam tubuh memperoleh suplai energi dari alam sekitar kita. Energi diperoleh lewat lubang hidung, mulut, pori-pori kulit terluar, lewat mata, telinga, lewat setiap lubang, setiap pembukaan yang ada pada tubuh kita.

70 % energi terboroskan lewat mata, maka perolehan energi lewat mata pun bisa menjadi sumber utama.

Terjadinya short of supply of energy menciptakan rasa takut dalam diri kita, lalu kita berusaha menarik energi secara paksa.

Seorang lelaki bermata jelalatan, seorang perempuan centil yang sedang menarik perhatian sesungguhnya sedang menarik energi.

Ketika dengan cara itu belum cukup, kita menciptakan konflik, friksi, perang. Perlombaan adalah cara untuk menarik energi.

Dua orang yang saling mencintai tidak perlu saling memanipulasi. Interaksi energi antara keduanya berjalan sendiri tanpa tarik menarik. Keduanya merasa lebih segar karena keduanya memperoleh sesuatu.

Dalam satu kelompok di mana 10 atau 20 orang saling mencintai, interaksi energi yang terjadi sedemikian dahsyatnya sehingga dalam radius 6 hingga 60 km, setiap makhluk dapat merasakan getaran-getaran cinta. Apalagi jika jumlah orang yang saling mencintai dan mengasihi itu mencapai 100; getaran energi berlipat ganda dan menyebar hingga radius ribuan kilometer.

Rasa takut pada lapisan energi dapat dideteksi dengan mudah. Biasanya orang yang mengalami defisiensi energi takut gelap, takut tempat-tempat sempit.

Solusi: Praanayaama atau latihan-latihan pernapasan tradisi yoga secara teratur, setiap hari walau untuk 10 menit saja.

Salah satu latihan yang paling mudah adalah Pernapasan Perut. Kalau akan tidur, latihan cukup 5 menit. Kalau lebih dari 5 menit latihan bisa menyegarkan dan Anda akan sulit tidur.

 

Rasa Takut pada Lapisan Kesadaran Mental

Lapisan Mental/Emosional atau Manomayakosha. Rasa takut pada lapisan ini muncul karena sense of loss – takut kehilangan.

  1. Takut kehilangan sesuatu yang kita peroleh lewat kerja keras.

  2. Takut kehilangan seorang relasi.

  3. Takut ditolak.

  4. Takut kesepian.

Pada usia tua, kegiatan fisik berkurang dan terjadi ekses of energi. Energi berlebihan. Energi akan turun ke pusat energi pertama yang terkait makanan dan pusat energi kedua yang terkait dengan seks. Ketika kemampuan seks juga berkurang, maka seks akan bersarang dalam pikiran.

Rasa takut yang sesungguhnya sekadar emosi seolah menjelma menjadi sesuatu yang nyata.

Solusi: lapisan mental/emosional paling sering menjadi korban rasa takut, karena rasa takut itu sendiri terbuat dari materi yang sama, yaitu emosi.

Kepribadian kita terbentuk oleh gugusan pikiran, perasaan, angan-angan, impian, ingatan dan materi-materi lain sebagainya. Selama hidup berdamai di dlam tubuh kita, kita sehat. Ketika konflik terjadi di antara mereka, tubuh jatuh sakit.

Cara yang paling tepat adalah dengan cara memahami hukum-hukum alam. Dengan begitu muncul kesadaran bahwa apa pun yang terjadi sudah sesuai dengan hukum alam.

  • Apa pun yang saat ini Anda miliki, pernah dimiliki oleh orang lain.kepemilikan tidak langgeng.

  • Suami, istri, anak, saudara orang tua, kawan semuanya adalah hubungan yang terjadi dalam hidup ini dan dunia ini. Aku lahir dan mati seorang diri.

  • Hidupku antara dua titik kelahiran dan kematian. Penolakan dan penerimaan seseorang tak mampu mempengaruhi kualitas hidupku.

  • Kita perlu memahami Hukum Alam yang paling penting. Hukum Sebab-Akibat.

 

Rasa Takut pada Lapisan Intelegensia

lapisan Intelegensia atau Vigyaanmayakosha. Rasa takut pada lapisan ini disebabkan oleh kekhawatiran akan gagal atau tidak berhasil dalam suatu pekerjaan atau hidup.

Sesungguhnya, ada paradoks. Rasa takut yang satu ini sesunnguhnya juga membuktikan bahwa intelegensia kita sudah mulai berkembang.

Intelegensia membuat kita sadar akan kebutuhan jiwa. Dan, jiwa tidak hanya membutuhkan pengalaman-pengalaman yang manis. Pengalaman pahit sama pentingnya dengan pengalaman manis.

Lebih lanjut, intelegensia menyadarkan kita bahwa sesungguhnya tidak ada siang tanpa sore. Tidak ada pahit tanpa manis. Keberhasilan menjadi bermakna, karena adanya duka dan kegagalan.

Ketika seseorang menganggap dirinya cukup intelegen, ia mencukupi dirinya. Ia mengakhiri perkembangan intelegensianya. Ini berarti kemunduran, intelegensia yang sudah berkembang itu menjadi layu dan akhirnya mati.

Seorang yogi, seorang bhogi dan seorang rogi tidak bisa tidur sepanjang malam.

Seorang yogi bermeditasi. Keheningan malam sangat menunjang latihan spiritual.

Seorang bhogi sedang menikmati indera sepanjang malam.

Seorang rogi atau orang sakit tidak dapat tidur sepanjang malam.

Rasa takut kedua yang muncul pada lapisan ini adalah takut ide atau opini atau gagasan kita tidak diterima.

Solusi:

Ketakterikatan membebaskan manusia dari rasa takut.

Keterikatan adalah ketergantungan dan kepercayaan kita pada pujian, imbalan, penghargaan dan pengakuan. Selama kita masih mengejar semuanya itu, kita masih terikat. Dan, selama kita masih terikat, kita masih takut.

Lapisan intelegensia kita memperoleh energi dari dua sumber utama: Pertama, sumber dalam diri, dari rasa percaya diri yang tidak tergantung pada pujian dan makian orang. Yang kedua, sumber di luar diri dari pujian dan pengakuan.

Menulis semata untuk menghasilkan uang akan menyeret saya ke lapisan kesadaran pertama.

Solusi pertama ini juga terkait dengan solusi kedua: Berkarya tanpa pamrih.

Ada yang bertanya: Bagaimana memastikan bahwa suara yang didengar itu betul suara hati? Bukan suara pikiran bukan pula godaan setan?

Pikiran itulah setan yang menggoda. Sebaliknya, jika kita mendengar suara hati, bisikan nurani, tidak ada keraguan lagi.

 

Rasa Takut pada Lapisan Kesadaran Spiritual

Untuk menguasai rasa takut pada empat lapisan sebelumnya, kita telah mempraktikkan empat jenis Yoga:

  1. Puasa dan afirmasi adalah bagian dari Ashtaang Yoga

  2. Praanaayaama atau olah napas adalah bagian dari Raja Yoga.

  3. Transformasi diri dengan mengubah cara pandang dan melakoni hidup sesuai dengan kesadaran baru – itulah Karma Yoga.

  4. Mengasah intelejensia adalah bagian dari Gyaana Yoga.

Yoga adalah sistem pelatihan, sistem olah diri guna mencapai keseimbangan antara lapisan-lapisan kesadaran di dalam diri manusia, dan keselarasan dengan alam semesta.

 

Rasa takut utama yang muncul pada lapisan ini adalah fear of the unknown, takut menghadapi sesuatu yang tidak atau kurang jelas. Sesuatu yang penting tapi belum jelas bagi kita. Unknown di sini adalah ketidaktahuan kita tentang sesuatu yang berada di luar dunia, sesuatu yang melampaui ilmu-ilmu sedunia.

Takut mati bukanlah bagian dari Fear of Unknown.

Takut menghadapi apa yang terjadi setelah kematian itu baru Fear of Unknown.

Mereka yang tidak siap menghadapi The Ultimate Unknown Fear ini lebih baik menerima konsep-konsep tentang surga neraka yang sudah ada. Konsep-konsep itu cukup jitu untuk menghilangkan sementara rasa takut untuk sesaat.

Solusi:

Terimalah rasa takut sebagai rasa takut. Rasakanlah hingga ke sumsum Anda.

Penerimaan seperti ini memunculkan rasa Bhakti dalam diri kita. Manusia menyadari ketakberdayaannya di hadapan Hyang Maha Daya. Dia berhamba bukan karena takut, tetapi karena sadar, karena cinta… cinta yang lahir dari kesadaran manusia akan ketakberdayaan dirinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: