Legenda Lokal dengan Pemahaman Ilmiah dan Spiritual


 

Legenda Rawa Pening

Seekor ular raksasa berhasrat menjadi anak manusia untuk berbhakti kepada seorang raja. Dia bertapa mengelilingi pinggang sebuah gunung di Ungaran agar ekornya dapat mencapai mulutnya. Hanya ketika mulutnya dapat menggigit ekornya, dia akan berubah menjadi anak manusia. Sang Ular hanya makan apa yang ada dan lewat di depan mulutnya. Setelah puluhan tahun saraf di tubuhnya sudah hampir mati, dia sudah mati rasa, tidak dapat merasakan keadaan tubuhnya, tetapi setiap tahun tubuhnya memanjang seperempat depa dan dalam beberapa tahun lagi mulutnya akan dapat mencapai ekornya.

Sekumpulan pemburu dari desa yang tidak mendapatkan hewan buruan seekor pun, dalam keadaan capek duduk diatas “kayu” panjang yang melingkar gunung. Ketika parangnya tertancap di “kayu” ternyata ada darah yang mengalir. Mereka bergembira dan mengiris “kayu” sebesar kerbau untuk dibawa pulang ke desanya.

Ketika orang sedesa sedang mengadakan pesta dengan lauk dari “kayu” tersebut dan merasakan sangat nikmatnya lauk tersebut, datanglah seorang anak pengemis miskin kelaparan meminta nasi barang sepiring. Sang anak pengemis diusir dan dia mendatangi seorang janda tua yang tidak ikut berpesta. Sang anak dijamu makan seadanya, dan setelah kenyang sang anak datang ke pesta dan menancapkan lidi di tanah. Dia menantang semua orang desa untuk mencabutnya yang ternyata tidak ada seorangpun yang sanggup mencabutnya. Sang anak kemudian mencabut lidi dan dari tempat bekas lidi tertancap tersebut keluar air yang tidak ada habisnya, semakin lama semakin besar dan menenggelamkan seluruh desa dengan penduduknya, hanya nenek baik hati yang selamat. Lembah yang tergenang air tersebut dinamai Rawa Pening.

 

Apa yang dimakan akan mempengaruhi tubuh dan perbuatan yang mengikutinya

Di dalam tubuh manusia terdapat potensi kehewanan seperti diantaranya kebutuhan dasar manusia untuk makan, minum, tidur, seks dan istirahat yang hampir sama dengan kebutuhan dasar hewan. Memakan hewan dapat membangkitkan potensi kehewanan dalam diri, seluruh penduduk desa telah makan tubuh ular dan digambarkan pengaruhnya yang di luar logika sehingga mereka menjadi keras dan tidak peduli terhadap anak kecil yang minta bantuan. Sang nenek janda tua, kelihatan bodoh di desa dan tidak mau ikut “pesta dunia”, makan seadanya dan mempunyai nurani untuk menolong si anak. Bodoh bagi dunia tetapi cerdas secara spiritual dan penuh kasih terhadap sesama.

Bila penduduk desa memusatkan perhatiannya terhadap “cakra” bawah yang merupakan kebutuhan dasar manusia, sang nenek bodoh telah mencapai “cakra” hati yang penuh kasih. Kalau mayoritas orang desa memakai logika, untuk apa memberi orang lain makanan yang sangat nikmat? Maka sang nenek, sudah melampaui logika, memakai rasa, hati nurani yang penuh kasih terhadap sesama. Intuisi sang nenek telah bangkit dan dia membantu orang lain dengan intuisinya.

Sang pembuat legenda juga memahami bahwa ular atau hewan yang lain hanya makan ketika lapar, dan ketika ular telah memasukkan makanannya ke dalam tubuhnya dia akan bertapa berbulan-bulan sampai makanannya habis dicerna. Tidak demikian dengan manusia, keserakahannya melampaui hewan. Dia menumpuk hartanya yang tidak akan habis sampai dia meninggalkan dunia. Ada ketakutan dalam diri manusia kalau dia tidak mendapat lagi rizkinya dan dia menumpuk terus melebihi kepentingannya. Manusia dengan pikirannya, merasa benar dengan pemahamannya dan menjauh dari Dia Yang Maha Pemberi. Dalam memenuhi keserakahannya, manusia melupakan etika dan menutup sifat kasih terhadap sesama manusia dan lingkungan alam semesta.

Ketakutan manusia terhadap kelaparan sebetulnya dimulai ketika dia keluar dari kandungan ibunya. Selama dalam kandungan sebagai janin, makanannya dipenuhi ibunya. Ketika keluar dari rahim dan mulai diserang ketakutan akan kelaparan, dia dicukupi ibunya dengan air susunya. Masa kecil yang kurang perhatian membuat potensi ketakutan akan kelaparan membesar dan menjilma menjadi potensi untuk serakah.

Air yang dipakai sebagai penyelesai legenda menunjukkan si pembuat legenda memahami unsur alami air. Air keadilan yang muncul keluar tidak dapat dibendung. Air bersifat adil, tidak pandang bulu, gubug reyot atau rumah mewah dimasukinya dan dia selalu rata. Air keadilan tidak dapat ditekan, yang dapat mengalahkan air hanya api kecerdasan Sang Surya yang dapat membuatnya hilang menguap atau sebuah lembah kerendahan hati yang dia akan mengisinya.

 

Legenda penuh pemahaman spiritual dan ilmiah

Di samping legenda tersebut, di daerah Rawa Pening terdapat pesan leluhur yang diwariskan secara turun temurun. Pesan itu adalah : “Suk yen Watu Gong wis dadi kraton, Watu Kodok mencolot menyang Demak, Rawa Pening kanggo kekipu gemak, bakal teko bebaya kang ngedap-edapi”. “Besok kalau daerah Watu Gong sudah menjadi tempat pemukiman, Gunung yang berbentuk katak sudah digali dan diangkut jauh ke daerah Demak, danau Rawa Pening sudah tinggi sedimentasinya sehingga airnya dangkal dan menjadi tempat bermain burung puyuh, akan datang bahaya banjir karena lingkungan telah rusak. Para leluhur yang “waskitha” telah melihat visi jauh ke depan kerusakan ekologis yang dapat menyebabkan terjadinya banjir.

Sudah lama kita melupakan jatidiri bangsa, sudah saatnya kita kembali menggali khazanah budaya Nusantara, masih banyak mutiara-mutiara terkandung di dalamnya dan selama ini kita hanya sibuk mencari batu mainan dari luar. Sudah saatnya pula kita menggunakan pikiran sebagai alat dan tidak menjadikan dia sebagai pemimpin diri, biarlah hati nurani yang memimpinnya.

 

Triwidodo.

Juli 2008.

Iklan

4 Tanggapan

  1. pesen leluhur,”medeni banget….”

  2. wow , hebat sekali .detail ceritanya ..
    tapi saya pengen tau dong referensinya ?
    dan “si pembuat legenda” itu siapa yah ?
    ini cerita asli turun temurun atau hanya sekedar cerita belaka yg untuk mengingatkan orang orang ?

    saya perlu banget jawabannya . untuk tugas kuliah ..
    tolong kirim email balasannya yah..
    terima kasih banyak .
    mohon bantuannya ..
    ^^ …

    • Legenda Baru Klinthing dituturkan secara lisan turun temurun di daerah Rawapening, tidak diketahui si pembuat legendanya. Referensi cerita Baruklinthing, asal-usul nama Rawapening dll. Terima kasih.

      • owh gtu yah ..
        “Referensi cerita Baruklinthing, asal-usul nama Rawapening”
        itu jdul bukunya ?
        klo bole tau penulis dan pnerbitnya spa yah ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: