Lamun Keruh Ti Girang Komo Ka Hilirna, Kalau Keruh di atas bagaimana di bawah?


 

Tiga bulan Pakdhe Jarkoni tidak kelihatan batang hidungnya di rumah, membuat tamu-tamu yang datang ke rumahnya kecele karena rumahnya kosong dan kuncinya dititipkan kepada tetangganya. Begitu pakdhe Jarkoni pulang, beritanya cepat tersebar dan Mang Dadang menyempatkan sowan ke rumahnya.

 

Mang Dadang: Lama pakdhe tidak ada kabarnya, bertapa kali ya pakdhe?

 

Pakdhe Jarkoni: Iya pakdhe diundang adik di Gunung Salak Bogor, berlibur menikmati pemandangan alam. Pakdhe sengaja mematikan HP, puasa hape. Pakdhe juga bersama-sama adik pakdhe melakukan puasa bicara selama seminggu penuh. Ternyata puasa bicara itu berat sekali, tetapi karena adik pakdhe puasa bicara juga, akhirnya berhasil juga pakdhe puasa bicara seminggu.

 

Mang Dadang: Wah pakdhe nglakoni ya? Pertama apa yang dapat kami dengar dari retret pakdhe tersebut?

 

Pakdhe Jarkoni: Mang Dadang, pakdhe te acan basa Sunda, tetapi ada yang diingat pakdhe waktu di sana. Lamun keruh ti girang komo ka hilirna, kumaha Mang Dadang?

 

Mang Dadang: Luarbiasa, pakdhe paham peribahasa Sunda, kalau keruh di atas bagaimana hilirnya? Masalah ini perlu diskusi dengan pakdhe, kalau pimpinan kita di atas keruh, banyak berurusan dengan KPK terus bagaiman yang di bawah? Bagaimana memperbaiki Negeri ini pakdhe?

 

Pakdhe Jarkoni: Ingat Mang Dadang, dulu ada zaman Orde Lama, kemudian Orde Baru sekarang Orde Reformasi, bukankah masalah tetap ada dan tetap semrawut saja?. Kita ini percaya bahwa sistem dapat memperbaiki, tetapi yang lebih penting adalah pribadi-pribadi yang berubah, bukan sistemnya yang berubah.

 

Mang Dadang: Kan sulit juga memilih pemimpin yang baik? Dulu dipilih Dewan atau Majelis, kini dipilih rakyat langsung, apakah hasilnya lebih baik? Kalau diatas baik pun di tengah keruh bukan main, bagaimana dengan di bawah?

 

Pakdhe Jarkoni: Menurut pakdhe yang belajar dari Pak Guru, semua Pesuruh Tuhan berkepentingan dengan pribadi. Semuanya dimulai dari pribadi kita. Kita harus sadar dulu, kemudian baru keluarga kita. Kalau sudah banyak keluarga yang sadar, masyarakat yang sadar hanya tinggal menunggu waktu. Dalam pribadi pun semuanya dimulai dari pikiran. Pikiran menimbulkan keinginan. Keinginan menimbulkan tindakan. Tindakan yang berulang-ulang menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi karakter. Jadi untuk memperbaiki karakter orang, harus dimulai dengan pemahaman dulu. Pemahaman diawali dengan kesadaran.

 

Mang Dadang: Jadi lamun keruh ti girang komo ka hilirna, diartikan pakdhe perlu dimulai dari awal yaitu pikiran yang jernih yang tidak keruh sehingga menghasilkan tindakan yang jernih, akhirnya masyarakat yang jernih. Dan semua dimulai dengan kesadaran. Demikian pakdhe?

 

Pakdhe Jarkoni: Para Guru, para Wali berkepentingan dengan kesadaran manusia. Setelah sadar manusia baru menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat. Kanjeng Nabi memulai dengan La Illaha Illallah, tauhid. Setelah pengikutnya sadar bahwa tidak ada sesuatu selain Allah, barulah mereka diajak memperbaiki pemerintahan.

 

Mang Dadang: Terima kasih pakdhe, kami ingin ketemu lho dengan Gurunya pakdhe, salam buat Beliau, kami berharap padanya tentang masa depan Indonesia yang Jaya.

 

Triwidodo

Juli 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: