Pemugaran Candi Arjuna dan Simbol Kebangkitan Dharma di Indonesia


 

Penghormatan kepada budaya leluhur

Menurut pemahaman pribadi kami di alam ini tidak ada kejadian yang bersifat kebetulan. Pada hari Senin tanggal 28 Juli 2008 kami bersama istri kami menghadiri undangan peresmian Peresmian Museum Kailasa dan Pemugaran Candi Arjuna oleh Bapak Menteri Pariwisata dan Kebudayaan di Dieng. Beliau, Ir Jero Wacik orang Bali, lahir di Desa Batur Bali sambil ketawa menyampaikan kebetulan meresmikan Museum dan pemugaran candi Arjuna di Kecamatan Batur Dieng. Menurut beliau itu kebetulan bagi kita, tetapi bagi Dia Yang Maha Kuasa tidak ada sesuatu yang bersifat kebetulan.

Sepanjang perjalanan dari Kota Wonosobo menuju Dataran Tinggi Dieng kami menikmati Himalaya mini, jalan berkelak-kelokdi tepi jurang yang dalam, tanjakan yang curam, pemandangan indah, tanah subur menghijau, walau sebagian besar telah gundul. Di zaman dulu ketika alam masih utuh dengan selimut hutannya, dapat dibayangkan dataran tinggi ini merupakan suatu tanah suci yang menggetarkan nurani. Dieng, Dhyang, tempat bersemayam para Dewa, Kahyangan, Tempat Suci di Jawa.

Bupati menyampaikan bahwa malam sebelumnya temperatur mencapai 5 derajat Celsius, dan pada beberapa malam dalam bulan September bisa mencapai minus 8 derajat Celcius. Memang lahan seluas 90.000 ha dengan ketinggian 2.000 sampai 2.500 m di atas permukaan air laut di Dieng ini sangat dingin di waktu malam. Rumah penduduk memakai atap seng agar dapat menyimpan kehangatan matahari. Di dalam Candi yang tertutup batu, batunya terasa nyessss dingin sekali. Pak Menteri berkomentar, temperatur yang dingin, malam hari jam 18.00 yang sepi, dan pemandangan yang indah, cocok bagi turis yang berhoneymoon. Baik honeymoon pertama selagi uang di kantong belum tebal, atau honeymoon kedua, meningkatkan kebersamaan, kebertemanan dengan pasangan, ketika kantong di saku sudah lebih tebal. Bagi kami suasana spiritual masih terasa. Terima kasih Guru, terima kasih Bhagavad Gita, percakapan Yang Mulia Arjuna dengan Penasehat Agung Sri Krishna telah membawa kami menginjak Himalaya Kecil Tanah Jawa. Semoga Himalaya tetap abadi, tidak seperti Himalaya Kecil yang mulai rusak lingkungannya. Kenapa tidak dimulai dari kita memperbaikinya? Pak Bupati berkomitmen memperbaiki lingkungan, tahun ini menanam 10.000 pohon Cemara dan Puspa. Bersama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memugar Candi Arjuna dan Candi-Candi lainnya, membangun Museum Kailasa dan sedikit menggali Taman Balekambang dan Telaga Merdada. Kami dengar dari kolega kami, pengerukan cukup sulit karena masyarakat yang menanami lembah sekitar Telaga. Seorang Bapak di sebelah kami berkomentar bahwa pada tahun tujuhpuluhan, 40 tahun yang lalu, Telaga Balekambang masih luas sekali mengelilingi kompleks Candi Arjuna, dan pada saat sekarang sebagian sudah menjadi tempat parkir dan lahan tanaman kentang.

Pak Menteri bersyukur ada 2 Bupati yang hadir. Biasanya Bupati begitu terikat dengan partainya dan tidak mau hadir ketika Menteri beda partai menginjakkan kaki di wilayahnya. Bunda Pertiwi, begitu sempitnyakah jiwa putra-putramu saat ini? Pak Menteri hari sebelumnya meresmikan pemugaran Candi Prambanan yang rusak akibat gempa di Jogya dan Klaten. Kemudian malamnya beliau menemani Pak Presiden SBY menghadiri acara di Borobudur. Dan pagi tadi mengajak ke 4 Direktur Jenderal-nya ke Dieng.

Beliau mengkritik pers, berita kebudayaan hanya dimuat di halaman 5 pojok dan kecil sedangkan berita bakar ban , menggoyang gerbang dimuat di halaman utama dan bisa bersambung. Bunda Pertiwi, demikiankah keadaanmu saat ini? Berita Adharma merajalela memenuhi lontar modern yang dicetak setiap hari, sedangkan pesan Dharma terdesak di pojok. Masyarakat menyukai berita Adharma daripada Pesan Dharma. Aura materi telah melingkupi bumi pertiwi. Semoga dapat mengetuk nurani mereka yang mulai sadar. Bunda Pertiwi berkahilah mereka yang berada di jalan-Mu!

Selesai acara, kami bersama istri menyempatkan masuk ke komplek Candi Gatotkaca di sebelah tempat acara. Masih ada lingga batu di pojok luar dan kami berdua ke dalam dan mengheningkan diri sesaat. Kemudian kami masuk ke museum dengan beberapa arca terpajang yang terkumpul dan kami sempat berfoto di sebelah patung Mahakala. Di belakang museum terdapat Movie Teather yang memutar film tentang Pemugaran Candi. Di atas sebelah Teather berdiri megah Restaurant Bertingkat. Bunda Pertiwi, putera-puteramu meninggikan Restaurant daripada museum. Semoga saja persepsi kami salah.

Dari tempat upacara kami berjalan di atas jalan beton setapak menuju komplek Candi Arjuna yang telah menjadi indah, jauh lebih indah dibanding delapan tahun yang lalu, ketika kami ke sana. Kami sempat masuk Candi dan berdoa sejenak, tidak lama karena di luar ramai pengunjung. Pemandangan di luar sangat indah, kami bayangkan di zaman dulu ketika tanah pertanian sekitar masih berwujud Telaga Balekambang yang luas akan nampak seperti Kashmir Kecil dengan Danau Dal nya. Selanjutnya, kami meninggalkan komplek naik kendaraan sekitar 2 km masuk perkampungan beraspal beton dan naik tangga sepanjang 200m yang cukup menanjak dan kami masuk ke komplek Candi Dwarawati, yang sepi tanpa pengunjung satu pun. Kalau setiap Sabtu kami afirmasi dan latihan meditasi di Jalan Dworowati Solo tempat latihan Anand Krishna Center Surakarta, kini kami afirmasi dan berdoa di Candi Dworowati Dieng. Rasanya kami pernah mengenal tempat tersebut sebelumnya.

Kemudian kami naik kendaraan sekitar 2 km dan berhenti di pertigaan “Gangsiran Aswatama” , demikian masyarakat menyebutnya, untuk menanyakan lokasi candi Bhima. Seorang Desa bernama Pak Din akan pulang ke rumah Simenang dekat Kawah Sikidang menawarkan ikut mobil kami mengantar. Kami sempat berdoa di dalam candi Bhima, yang terletak sekitar 1 km dari Telaga Warna. Menurut Pak Din Telaga warna dihubungkan terowongan alam dengan Telaga Menjer. Selanjutnya kami mengantar pak Din ke desanya dimana terdapat instalasi pipa gas alam yang diperoleh dari Kawah Sikidang (Kijang dalam bahasa Jawa). Dari jalan di atas kelihatan kawah Sikidang yang mengeluarkan uap. Kami tertawa, telah mengantar pak Din (Agama) ke rumah, dari pertigaan Gangsiran Aswatama (Terowongan buatan Aswatama ketika mau membunuh Putra-putra Pandawa setelah perang Bharatyuda), ingat buku Guru Christ of Kahmiris. Ada Sikidang yang mengingatkan latihan katarsis dengan napas kijang. Dan kami harus pulang, karena esok hari kami ada tugas ke Pati. Dieng yang berjarak sekitar 150 km dari Semarang dapat ditempuh selama 3.5 jam perjalanan darat, jalannya bagus, pemandangannya indah. Seandainya agama tidak menjadi persoalan, candi-candi dihidupkan energi spiritualnya, Dieng mempunyai potensi seperti di Bali.

 

Tempat-tempat Wisata (spiritual) di Dieng

Dieng Plateau, Dataran Tinggi Dieng merupakan tujuan wisata setelah Candi Borobudur dan Prambanan. Dieng dari kata Dhyang yang berarti Kahyangan. Pada zaman Rake Warak Dyah Wanara tahun 809 M digunakan sebagai tempat suci untuk bermeditasi.

Kompleks Candi Arjuna, terdiri dari 5 candi. Deret sebelah timur adalah Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Putadewa dan Candi Sembadra. Berhadapan dengan Candi Arjuna adalah Candi Semar yang terletak sendiri di sebelah barat. Pada candi-candi tersebut digambarkan dewa-dewa pendamping Dewa Siwa. Hanya di candi Srikandi terdapat gambar Dewa Brahma, Siwa dan Wisnu.

Candi Gatotkaca, terletak di kaki bukit Pangonan (Bukit tempat penggembalaan) terdapat Makara yang khas berupa wajah raksasa yang menyeringai tanpa rahang bawah.

Candi Bhima mempunyai penampilan yang khas, pada bagian atapnya mirip dengan bentuk Shikara seperti mangkuk yang ditelungkupkan.

Candi Dworowati terletak di utara dan didirikan di Bukit Perahu dengan ukuran 5m x 4 m dan tinggi 6 m.

Pemandangan yang indah di bumi kahyangan ini dilengkapi dengan Kawah Sikidang, Kawah Sileri, Kawah Candradimuka, Telaga Merdada, Telaga Dringo, Telaga Balekambang, Sumur Jalatunda, Goa Jimat, Air panas Bitingan dan Curug Sirawe.

Sumur Jalatunda merupakan kepundan gunung berapi yang meletus dan menjadi sumur dengan kedalaman 100 m. Konon Sumur Jalatunda merupakan salah satu pintu gaib menuju penguasa Laut Selatan.

Kawah Candradimuka merupakan pemunculan Solfatana berupa gumpalan asap putih dari rekahan tanah. Tempat ini dipakai untuk Upacara Ritual Ruwatan 1 Suro.

Kawah Sileri merupakan kawah terluas yang masih aktif. Air kawahnya bergolak, mendidih persis seperti bekas cucian beras yang dalam bahasa Jawa disebut Leri, sehingga dinamakan Sileri.

Di Dieng juga ada wisata arung jeram, Serayu River Rafting. Memang Sungai Serayu berawal dari Dataran Tinggi Dieng. Ada legenda Bhima datang ke Jawa dan berlomba dengan Kurawa memperebutkan Putri Arimbi yang merupakan putri dari Raja Raksasa Harimba. Bhima berhasil menyodet sungai memenangkan perlombaan dan mendapatkan Sang Putri Arimbi. Sungainya dinamakan Cinta dengan Putri Ayu, Sir Ayu, Serayu. Buah cinta mereka adalah Sang Putra, Pahlawan Gatotkaca yang layaknya pilot pesawat tempur supersonik yang handal terbang dan membantu dalam peperangan Baratayudha. Akhirnya sang Pahlawan gugur terkena peluru kendali Sang Basukarna yang bernama Kuntawijayadanu yang dapat mengejar mangsanya setelah terkunci seperi layaknya Senjata Anti Pesawat Modern.

 

Kebangkitan Dharma di Indonesia

Kami tulis pesan Guru dalam buku Be The Change. Dunia ini ibarat medan perang Kurusetra. Di medan ini kita akan menemukan Kurawa yang berpihak pada adharma, dan pandawa yang berpihak pada dharma. Di medan ini pula kita dapat berharap bertatap muka dengan sang Sais Agung, Sri Krishna. Bila ragu, bila bimbang, tanyalah kepada Krishna yang bersemayam dalam diri. Dialah Sang Mahaguru Sejati.

Hidup adalah sebuah perjuangan. Berjuanglah terus-menerus demi penegakan dharma, demi hancurnya adharma. Kita tidak di sini untuk saling jarah-menjarah, atau saling rampas-merampas. Kita tidak mewarisi budaya kekerasan dan barbar seperti itu. Jangan berjuang untuk tujuan-tujuan kecil yang tidak berguna. Jangan berjuang untuk memperoleh kursi yang dalam beberapa tahun saja menjadi kadaluarsa. Jangan berjuang untuk memperoleh suara yang tidak cerdas.

Berjuanglah untuk tujuan besar untuk sesuatu yang mulia. Berjuanglah untuk memperoleh tempat di hati manusia, ya manusia, bukan di hati raksasa. Berjuanglah untuk mencerdaskan sesama anak manusia, supaya mereka memahami arti suara mereka, supaya mereka dapat menggunakan hak suara mereka sesuai dengan tuntutan dharma. Perjuangan kita adalah perjuangan sepanjang hidup. Perjuangan kita adalah perjuangan abadi untuk melayani manusia, bumi ini dengan seluruh isinya, bahkan alam semesta. Janganlah mengharapkan pujian dari siapa pun jua. Janganlah menjadikan pujian sebagai pemicu untuk berkarya lebih lanjut. Berkaryalah terus menerus walau dicaci, dimaki, ditolak…….. Berkaryalah karena keyakinan pada apa yang mesti kita kerjakan.

Berjuanglah Para Arjuna, Para Srikandi, Para Subadra, Para Puntadewa, Para Gatotkaca. Tegakkan Dharma di Bumi Pertiwi. Simbol di Dieng bukan suatu kebetulan.

 

Triwidodo

Juli 2008.

Iklan

2 Tanggapan

  1. mari kita sama2 berjuang demi tegaknya dharma di muka bumi ini.mudah2an benar2 ada satria piningit yg tiba2 muncul menyelamatkan bumi dr ke angkara murkaan.hidup hindu hidup sanata dharma.

    • Matur Suksma Bli Nyoman Tirta…… Bagi kami satria piningit dalam diri kita masing-masing yang harus bangkit. Semakin banyak satria piningit yang sadar akan menyelamatkan bumi pertiwi….
      Namaste __/\__

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: