Kebahagiaan dan Manusia Indonesia

 

Anand Krishna

Radar Bali, Senin 26 November 2007

 

 

Terlambat setahun penuh sejak BBC dan NEWSWEEK mengangkat isu Kebahagiaan manusia barat – akhirnya salah satu media lokal menurunkan berita tentang apa saja yang membuat manusia Indonesia bahagia.

 

Bukan Relasi atau Hubungan Keluarga, bukan pula Kesehatan dan Kepuasan Bathin – tetapi Tuhan dan Uang. Wow, hebat! Dan, koran itu pun menyamakan Tuhan dengan Agama. Jadi, Berdoa dan Mencari uang – itulah Kebahagiaan Manusia Indonesia!

 

Tuhan dan Uang, Berdoa dan Mencari Uang, Ruh dan Kebendaan. Bila menggunakan bahasa Einstein, Energi dan Materi. Memang sih, alam semesta ini memang permainan Energi dan Materi yang sesungguhnya pun bukanlah dua hal yang beda tapi satu dan sama. Setidaknya demikianlah pendapat para saintis, para ilmuwan modern yang masih belum dapat memperbaiki Hukum Relativitas sebagaimana dijabarkan oleh Einstein.

 

Pertanyaannya – apakah para responden yang menyebut Tuhan dan Uang itu semuanya memahami teori Eisntein? Apakah mereka memahami Tuhan sebagai Energi dan Uang sebagai materi? Atau, sebagaimana diterjemahkan oleh media yang menerbitkan hasil penelitian itu, mereka pun belum dapat membedakan dogma dan doktrin agama dari Tuhan? Padahal, dogma dan doktrin itu sepenuhnya masuk ke dalam wilayah materi.

 

Tuhan dan Uang – keduanya itulah yang membahagiakan Manusia Indonesia. Coba kita telusuri lebih lanjut dengan menggunakan sedikit rasio, sedikit intelejensia: Apa urusan kita dengan Tuhan, sehingga Ia dapat membahagiakan kita?

 

Ya, pertanyaan ini sungguh penting, sangat penting – supaya menjadi jelas “apanya” Tuhan yang membahagiakan kita? Saya berusaha untuk mencari jawaban dari orang-orang yang sebelumnya saya tidak kenal, supaya lebih objektif. Ternyata dugaan saya betul – umumnya kita berurusan dengan Tuhan karena Ia adalah Yang Maha Memberi.

 

Urusan kita dengan Tuhan pun bukanlah urusan cinta, bukanlah urusan kasih – tetapi perkara materi murni. Kita berdoa, kita menjalankan ritus-ritus keagamaan, bahkan kita beragama – hanya karena Tuhan adalah Hyang Maha Memberi segala apa yang kita butuhkan, Hyang Maha Mendengar segala macam keluhan kita, Hyang Maha Memenuhi segala macam keinginan kita, Hyang Maha Menyelesaikan segala macam perkara kita.

 

Barangkali kita tidak akan berurusan dengan Tuhan bila Ia adalah Hyang Maha Menegur dan Maha Menjewer kuping ketika kita berbuat salah. Kita lebih suka dengan atribut-atribut Tuhan seperti Hyang Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi. Jelas, kita tidak mau ditegur dan dijewer kuping kita.

 

Berarti, Tuhan yang Membahagiakan kita adalah Tuhan yang Memenuhi segala macam kebutuhan, bahkan keinginan materi kita. Dan, tidak pernah menegur, apalagi menghakimi dan menghukum kita. Keberagamaan kita sepenuhnya, 100 persen adalah urusan materi murni!

 

Tuhan dan Uang Membahagiakan kita…..

Sesungguhnya, yang kita maksud adalah: Tuhan yang menyediakan Uang dan Uang itu sendiri yang membahagiakan kita. Berarti, kebahagiaan manusia Indonesia sepenuhnya datang dari Uang, dari Materi.

 

Tidak heran, bila politisi senior kita menganggap perolehan suara di pemilu sebagai rejeki. Tidak heran pula bila kita tidak pernah lupa mengucapkan syukur kepada Hyang Maha Kuasa ketika meraih kekuasaan. Dari olahragawan hingga rohaniwan – semuanya mengharapkan materi dari Tuhan.

 

Nabi Isa pernah mengingatkan kita: “Carilah Dia, maka segala sesuatu yang lain akan ditambahkan kepadamu.”

 

Kita mencari Dia, supaya memperoleh segala sesuatu.

Sama-sama mencari, tetapi lain pencaharian Sang Nabi dan lain pencaharian kita. Sang Nabi tidak mencari untuk memperoleh sesuatu. Kita mencari dengan tujuan jelas untuk memperoleh sesuatu.

 

Baginda Rasul, panutan kita, sedang berdagang, berusaha, berkarya…. Sepanjang hayatnya berapa kali ia melakukan perjalanan ke tanah suci untuk menunaikan Ibadah haji? Berapa kali pula ia menjalankan ritual Umrah? Mari, bersama-sama kita mencari datanya dari risalah beliau, supaya mata bathin kita terbuka lebar. Kemudian, bandingkan dengan diri kita sendiri, dengan para rohaniwan dan para politisi dan para pengusaha modern. Berapa banyak uang yang mereka hamburkan untuk perjalanan yang sesungguhnya hanya wajib sekali saja?

 

Tuhan dan Uang….. Tuhan yang Menyediakan Uang dan uang itu sendiri – keduanya inilah yang membahagiakan diri kita. Maka, tidak heran bila di tanah suci pun, entah di Mecca, di Haridwar, di Yerusalem, di Roma, atau dimana pun jua – telepon genggam tidak pernah lepas dari tangan kita.

 

Sungguh, dalam kemunafikan kita – kita telah menjadikan Tuhan dan agama sebagai kedok. Kedok untuk menutupi wajah kita yang penuh noda. Para responden yang menyebut Tuhan dan Uang sebagai dua hal yang paling membahagiakan pun sesungguhnya hanya ingin menyebut Uang saja. Tetapi, tidak berani. Malu. Maka, kita menggunakan Tuhan sebagai pembungkus. Dengan pembungkus itulah kita menutupi keserakahan dan kerakusan kita pada materi.

 

Selama bertahun-tahun kita mencaci-maki komunis dan ajaran komunisme. Tetapi, melihat pembangunan fisik Cina, mata kita menjadi silau. Tiba-tiba, kita memuji habis pembangunan fisik yang sesungguhnya atas penderitaan rakyat itu. Ini gejala apa?

 

Mereka yang sebelumnya sibuk membakar buku-buku komunis, sekarang bolak-balik mengunjungi negeri tirai bambu yang lebih kuat dari besi itu. Dari urusan impor gunting hingga cangkok ginjal – Cina telah menjadi kiblat kita. Pernahkah kita bertanya ginjal yang kita peroleh itu milik siapa? Hati yang kita peroleh itu milik siapa? Jantung yang kita peroleh itu milik siapa?

 

Kita mengangung-agungkan keberhasilan materi yang telah menyebabkan penderitaan bagi sekian banyak orang. Apa salah para biarawan Tibet, sehingga mereka dikurung hanya karena Dalai Lama yang tinggal dalam pengasingan itu diberi penghargaan oleh Bush?

 

Kita tidak peduli, karena biarawan Tibet bukanlah sepupu kita. Ya, bila Yahudi menembak mati warga Palestina, maka kita peduli. Karena, warga palestina adalah sepupu kita. Saat itu kita lupa pula bila Yahudi pun sama-sama sepupu kita. Wong keduanya keturunan Nabi Ibrahim koq!

 

Apa salah para pengikut Falun Gong, sehingga mereka dipenjarakan dan menurut penelitian sekian banyak pihak telah dijadikan pemasok organ-organ tubuh yang kemudian dijual kepada kita?

 

Kita tidak pernah memikirkan semuanya itu, asal kita tidak rugi. Asal kita memperoleh cangkokan ginjal, hati dan jantung, setiap saat kita membutuhkannya. Pernahkah kita merenungkan implikasi dari Human Harvesting yang dilakukan oleh para pemasok organ tubuh itu? Apakah kita memahami makna Human Harvesting?

 

Tuhan dan Uang…… Sesungguhnya yang kita maksud adalah Uang dan Uang. Materi dan Materi. Kita, sebagai bangsa, telah sepenuhnya terjebak dalam Ilusi yang disebabkan oleh Lapisan Materi. Itu saja yang terlihat oleh kita. Kita tidak dapat melihat sesuatu di balik lapisan itu.

 

Kedudukan, ketenaran, keberhasilan, pasangan, harta, uang – semuanya itu materi. Dan,. Semuanya itu yang membahagiakan kita. Tuhan pun menjadi bagian dari apa yang membahagiakan kita karena Ia dapat memenuhi keinginan kita akan materi.

 

Manusia Indonesia dan Kebahagiaan…… Barangkali kita belum mengerti arti kebahagiaan. Kita masih sepenuhnya terperangkap dalam kenyamanan sesaat, kesenangan temporer dan kenikmatan materi….. Ya Allah, ya Rabb, Gusti, Widhi, Thien, Bapa di Surga, Tuhanku, tunjukkan kepada kami Jalan yang Benar – Jalan Menuju Kebahagiaan Sejati…… Amin, Amen, Sadhu, Om Shanti…….

 

Melepaskan Keterikatan dari Duniawi, Pemahaman dan Prakteknya

 

Lapisan Kesadaran merupakan pengalaman obyektif, sehingga tingkat kesadaran setiap orang akan berbeda karena perbedaan citra, pengalaman, pikiran dan emosinya.

Banyak orang yang mencitrakan dirinya, atau menganggap identitasnya adalah pikiran, rasa dan emosinya. Dan mereka berada pada Lapisan Kesadaran Mental Emosional. Dari persepsinya, mereka tahu bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang abadi. Seperti gelombang lautan yang sekilas nampak untuk berikutnya hilang lagi. Di dunia pun tadinya seseorang tidak nampak, kemudian lahir dan merasa hidup untuk kemudian mati dan tidak nampak lagi. Keterikatan pada dunia ini membuat hidup tidak nyaman, karena segala sesuatu di dunia ini hanya bersifat sementara.

Berdasarkan intelegensinya, seseorang tahu adanya hukum sebab-akibat, bahwa setiap akibat itu pasti ada sebabnya. Setiap buah yang dipetik, pasti merupakan hasil dari suatu benih, walaupun dia telah lupa kapan saat menanamnya. Apa pun yang kita hadapi sesungguhnya adalah buah dari benih yang kita tanam dan telah datang masa panennya. Sehingga rasa apa pun yang melekat padanya, suka atau duka harus di terima. Pada waktu gelap sebelum mendapat penerangan, kita telah menanam benih tanaman berduri, maka setelah datang penerangan, kita dapat memaklumi mengapa di sekeliling kita penuh pohon berduri. Keadaan tersebut dapat kita terima, kita cabuti tanaman berduri yang telah besar dan dengan penerangan yang kita dapatkan, kita mulai menanam lagi dengan penuh kesadaran.

Yang Mulia Guru Dharmakirti Svarnadvippi menasehati Yang Mulia Atisha untuk mengasihi dan memaafkan. Tindakan yang menyakitkan dari seseorang kepada kita adalah buah dari tanaman yang berasal dari benih yang telah kita tanam juga. Apabila kita membalasnya, maka kita akan membuat benih baru, “Kasihi dan maafkan!” dan …… selesai. Demikian seharusnya dalam menjalani hidup ini kita perlu mengasihi dan memaafkan. Kalau pun kita menegur seseorang, itu pun kita lakukan dengan penuh kesadaran dan penuh rasa kasih.

Apabila kesadaran seseorang sudah lebih tinggi, dia tidak menganggap pikiran, rasa dan emosional adalah identitasnya. “Aku” berada di atas pikiran dan perasaan. Maka tindakan apa pun yang terjadi padaku, maka aku dapat menerimanya tanpa gelisah. Yang suka dan duka adalah pikiran dan perasaanku bukan Aku. Aku tidak terpengaruh oleh pikiran dan perasaan. Aku adalah penguasa dari pikiran dan perasaanku.

Masalahnya adalah bagaimana menjaga kesadaran tersebut tetap eksis setiap saat. Bagaimana pun Aku berada di dunia ini karena mempunyai fisik, mempunyai energi hidup, mempunyai pikiran dan perasaan. Pemahaman diri bahwa Aku bukan fisik, bukan pikiran dan bukan perasaan tersebut harus diimplementasikan dengan penuh kesadaran setiap saat. Dan itu berarti kita harus hidup berkesadaran. Suatu hal yang memerlukan perjuangan yang gigih sepanjang masa. Pemandu telah berusaha dengan penuh kasih untuk meningkatkan kesadaran dan terus memandu agar kita dapat menjalani hidup berkesadaran, Support Group mendukung agar kesadaran kita tidak merosot lagi. Terima kasih Guru dan terima kasih sahabat-sahabatku.

 

Triwidodo

1 September 2008

BG Bab 10 Teks 19-42

 

Text 19

The lord of Sri said: Listen as I explain to you only those divine manifestation of my Self that are prominent, for there is no end to the nextent of my opulence.

Teks 19

Krishna menjelaskan: Sebenarnya, Kehadiran-”Ku” dapat dirasakan dalam segala sesuatu. Karena kau menanyakan, akan kujelaskan garis besarnya.

 

Text 20

I am the Self, O Gudakesa, abiding in the hearts of all beings. Of all beings I’m the beginning, middle and end.

Teks 20

Aku” bersemayam dalam diri setiap makhluk. “Aku” pula masa awal, masa pertengahan, dan masa akhir setiap makhluk.

 

Text 21

Of the Adhityas I am Visnu; of lights, the radiant sun; of the Maruts I am Marici; of heavenly bodies I am the moon.

Teks 21

Di antara mereka yang memelihara, “Aku”lah “Pemelihara yang sejati. Aku pula matahari, angin dan bulan.

 

Text 22-40

Of the Vedas I am the Sama Veda; of the gods I am Indra. Of the senses I am the mind, and of the living beings I am consciousness. Of the Rudras I am Sanikara; of the Yaksas I am Kuvera. Of the Vasus Iam fire (Agni), and of mountains I am Meru. Of priests, O Partha, know me to be the chief, Brhaspati. Of military commanders I am Skanda; of bodies of water I am the ocean. Of the great sages I am Bhrgu; of utterances the single syllable (Om); of sacrifices I am japa; of that which is immovable I am the Himalayas. Of trees I am the Asvatta (Pippala tree); of the godly seers I am Narada; of Gandharvas (heavenly musicians) I am Citra ratha; of the siddhas I am Kapila. Of horse know me as Uccaisrava born of nectar of immortality. Of lordly elephant, Airavata, and of men the king. Of weapons I’m the Thunderbolt; of cows , the wish-fulfilling Kamadhenu. Of progenitors I am Cupid and of serpents I am Vasuki. Of nagas I am Ananta; of aquatic, Varunna. Of the ancestor I am Aryama, and of those who punish and reward I am Yama. Of demons I am prahlada; of calculators I am time. Of animal I am the lion and of birds, Garuda. Of purifiers I am the wind; of warriors I am Rama; of fish I am the shark; of rivers I am Ganges.

O Arjuna of creations I am the beginning, middle, and end; of knowledge I am knowledge of the Supreme Self; among speakers I am words that are unbiased and in pursuit of truth. Of letters I am the letter a, and of compound words I am the dual. I alone am endless time and the universal dispenser facing in all direction. I am death, destroyer of all; I am the source of all things yet to be. Of women I’m fame, prosperity, speech, memory, intelligence, fortitude and forbearance.

Of the Vedic hymn I am brhatsama; of meters, Gayatri; of months, Marga-sirsa; of seasons, flower-bearing spring. Of cheaters I am gambling, and influence among the influential. I am victory, effort, and the godnes of the good. Of vrsnis I am vasudeva; of the Pandavas, Dhananjaya (Arjuna); of the wise I am Vyasa; of poets, Usana. Of punisher I am the rod of chastisement; of victors I’m the guidance they follow. Of secret things I am silence, and of the wise I am wisdom.

Furthermore, O Arjuna, I am the seed of all existence. There is nothing moving or unmoving that can exist without me. O conqueror of enemies there is no end to my divine manifestation. What I have told you is merely an indication of the extent of my opulence.

Teks 22-40

Dalam diri manusia, “Aku” berwujudkan sebagai “Kesadaran”nya. Di antara indera, “Aku” merupakan pikiran. Di anatara gunung, “Aku” merupakan Gunung Meru yang tertinggi. “Aku” pula lautan yang tak kenal batas. “Aku” malaikat, “Aku” tumbuh-tumbuhan, “Aku” pula makhluk hidup dan benda yang dianggap mati. Sesungguhnya segala sesuatu berada dalam diri-”Ku”. Burung-burung yang terbang di angkasa dan ikan-ikan yang berada dalam sungai – semuanya merupakan perwujudan-”Ku”. “Aku” lah aksara pertama dan pengetahuan sejati tentang “Aku”.

 

Text 41

Know that in all cases whatever in existense is powerful, glorious, and beautiful issues from but a`spark of my splendour.

Teks 41

Di mana pun kau lihat kekuatan, keagungan dan kemuliaan yang tak terhingga, ketahuilah bahwa semuanya itu berasal dari “Aku”.

 

Text 42

But what need is there for all this extensive knowledge, Arjuna? I sustain this entire universe by a mere portion of myself!

Teks 42

Apa gunanya merinci semua ini? Ketahuilah bahwa keberadaan dan alam semesta ini dipelihara oleh sebagian kecil “Sang Aku”.

BG Bab 10 Teks 10-18

 

Text 10

To those who are constantly devote, who worshipme with love, I give them understnding by which they come to me.

Teks 10

Kesadaran Tertinggi” ini membuat mereka sadar akan mana yang baik dan mana yang kurang baik bagi diri mereka, sehingga pada akhirnya mereka menyatu dengan “Aku”.

 

Text 11

Out of care for them idwell in their soul and with the lamp of knowledge. I destroy the darkness born of ignorance.

Teks 11

Bermanifestasi sebagai Kasih yang tak terhingga, “Aku” memusnahkan kebimbangan mereka dan menyalakan pelita kebijakan dalam diri mereka.

 

Text 12-18

Arjuna said : You are Supreme Brahman , the supreme abode and the supreme purifier. You are the eternal divine person , the primal God, unborn and omnipresent. All the sages like Narada, Asita, Devala and Vyasa confirm this and now you yourself are saying this.

O Kesava, I accept all that you have said as true, for, O Lord neither the god nor the demons can understand your glorious personality.

You alone kow yourself thrugh your own potency, O Supreme Being origin of all life forms, Lord of beings, God of gos, Lords of the universe.

Please enlighten me about your divine manifestation by which you persuade all the worlds.

O Supreme mystic how can I know you in constant thought, and I what various forms am I to meditate on you, O Blessed One?

O Janardana, describe in detail your mystic power and opulences, for I can never hear enough of you nectar.

Teks 12-18

Arjuna berkata: Sebagaimana telah kau jelaskan, memang “Sang Aku” ini segalanya dan begitu pula yang dikatakan oleh para bijak, namun jelaskan padaku, bagaimana dapat kurasakan KehadiranNya pada setiap saat dan wujud-wujud apa saja? Kata-katamu bagaikan madu yang tak bosan-bosannya kucicipi.

BG Bab 10 Vibhuti Yoga

 

Chapter 10 God’s Manisfestation

 

Bab 10 Vibhuti Yoga

 

Text 1

The Supreme Lord said: O mightly armed Arjuna , listen again to my supreme advice, which I shall impart for your welfare, my friend.

Teks1

Krishna melanjutkan: Wahai Arjuna dengarkan apa yang kukatakan padamu, demi kebaikanmu sendiri.

 

Text 2

Neither the gods nor the great sages know my origin, for in all respects I am the source of gods and great sages.

Teks 2

Para orang suci, bahkan para dewa dan para malaikat pun tidak dapat mengenal “Aku”.

 

Text 3

He, who is undeluded among mortals, who knows me as birthless and beginning less as the Supreme Lord of te world, is freed form all sins.

Teks 3

Hanya ia yang memahami “Aku” sebagai “Yang Esa”, Yang tidak Pernah Lahir dan Tidak Berawal, terbebaskan dari segala macam godaan.

 

Text 4-5

Intelligence, knowledge, freedom from doubt and delusion, forgiveness, truthfulness, self control, mind control, happiness, misery, birth , death, fear, fearlessness, nonviolence, impatiality, satisfaction, austerity, charity, fame , infamy all of these various qualities found in living beings come from me.

Teks 4-5

Segala macam sifat yang nampaknya bertentangan, seperti suka dan duka, kelahiran dan kematian, rasa takut dan rasa tidak takut, semuanya berasal dari”Aku”.

 

Text 6

The seven great sages of old, as well as the four great sages and the manus from whom the world’s creatures have come, originated in me, born of my mind.

Teks 6

Mereka yang berkembang-biak dan memenuhi alam semesta ini berasal dari “Aku”.

 

Text 7

One who knows my opulencw and true power is united with me in unwavering devotion, of this there is no doubt.

Teks 7

Ia yang memahami Kebenaran-”Ku” ini, mencapai pencerahan.

 

Text 8

I am the souce of everything. Everything originates from me. Aware of this, the wise worship me faithfully and whole heartedly.

Teks 8

Aku” adalah Sumber segala sesuatu. Mereka yang bijak mengenal-”Ku” dan mengabdi pada “Aku”.

 

Text 9

Those whose throughouts are constantly fixed on me whose lives are devoted in service of me, derive satisfaction enlightening one another and always speaking of me.

Teks 9

Kesadaran mereka selalu terpusatkan pada “Aku”. Mereka hidup dalam kesadaran itu. Mereka selalu bersuka ria dan berbagi rasa dengan yang lain.

Cara Menghadapi Dunia Versi Leluhur Kita

 

Nasehat nenek moyang dalam menjalankan kehidupan di dunia

Diantara banyak nasehat, terdapat ada dua pelajaran dari nenek moyang kita dalam menjalani kehidupan yaitu: mulur mungkret, berkembang-susut; dan sakdurunge ora ana, banjur ana, terus ora ana maneh, dari tak ada, sesaat ada, kemudian tak ada lagi. Dipandang dari sifat alam yang tiga: sattvik, tenang; rajas, agresif; dan tamas, malas-malasan, kedua nasehat tersebut masih valid untuk dijalankan di masa kini.

 

Mekanisme mulur-mungkret memberikan ketenangan hidup

Menurut Ki Ageng Suryamentaram, manusia mempunyai mekanisme kelenturan yang disebut mulur-mungkret, berkembang-susut. Pada waktu keinginan terpenuhi, ada dorongan untuk meningkatkan standar keinginan atau mulur, berkembang. Kalau keinginan tersebut tidak terpenuhi standarnya diturunkan atau mungkret, susut. Seorang anak perjaka mempunyai harapan mempunyai istri yang setia, cantik, cerdas, kaya, penurut. Setelah susah didapat diturunkanlah standarnya sampai mencapai standar yang dapat dicapainya. Misalnya dia mensyukuri pasangannya yang setia dan penurut yang menurut dia sudah cukup sebagai modal untuk diajak bersama mengarungi hidup ini. Seorang karyawan, apabila memungkinkan juga ingin menduduki jabatan yang tertinggi, tetapi dia pun akhirnya akan menerima apa pun yang dicapainya. Seseorang ingin memiliki sedan Mercy Tiger, kemudian karena terbentur-bentur, akhirnya mendapatkan sepeda motor Honda Tiger sudah disyukuri. Selama masih bisa menyadari mulur-mungkret manusia akan menerima dan mensyukuri, demikian menurut Ki Ageng Suryomentaram. Pada waktu seseorang menemui hal yang tidak sesuai dengan keinginannya, dia bisa putus asa, ogah-ogahan, pengaruh dari sifat tamas yang malas-malasan. Bisa juga dia, marah-marah, protes, pengaruh dari sifat alam rajas yang agresif. Penerimaan sesuai mekanisme mulur mungkret menimbulkan ketenangan, sifat alami sattvik, tenang.

 

Segala hal di alam ini hanya ada sesaat saja, tidak selamanya

Sakdurunge ora ana, banjur ana, terus ora ana maneh, dari tak ada, sesaat ada, kemudian tak ada lagi. Jadi, mengapa disedihkan? Sewaktu melakukan napas perut, tadinya perut kempis, tidak ada napas, lalu sesaat nampak menggembung nyata, kemudian kempis lagi, napas tidak ada lagi. Ketika lahir, bayi yang hanya bisa tiduran, selanjutnya dituntun, belajar jalan dan dapat berjalan mantap. Setelah mulai tua, karena sakit, jalan kembali dituntun dan akhirnya hanya dapat berbaring di tempat tidur menunggu waktu ajal. Awalnya kita disuapi, kemudian berkembang sampai dapat makan sendiri untuk akhirnya kita disuapi lagi. Demikian pula sewaktu masih bayi kita tidak punya gigi, dan berkembang sampai punya gigi lengkap, untuk akhirnya seperti nenek-nenek yang sudah kehilangan semua giginya. Sudah menjadi sifat alam nampak nyata hanya sementara, sehingga tidak perlu putus asa, sifat tamas, ataupun stress, sifat rajas ketika kehilangan sesuatu.

 

Pandangan Bhagavad Gita

Sifat alami yang tiga tersebut harus dilampaui, kalau tidak kita hanya seperti bandul bergoyang ke kanan dan ke kiri. Kita harus di atasnya. Pikiran dan perasaan bersifat alami, mempunyai tiga sifat alam yang berbeda proporsinya. Pikiran dan perasaan hanya bersifat sementara, termasuk Kshetra, lapangan, wadah alami sedangkan diri sejati adalah Kshetrajna yang bersemayam pada Kshetra. Pemahaman tersebut harus dilaksanakan sehari-hari sehingga menjadi kebiasaan. Witing tresno jalaran saka kulina, Kasih itu dihasilkan dari kebiasaan.

 

Triwidodo

Agustus 2008.

BG Bab 9 Teks 28-34

 

Text 28

In this way, you will be liberated from the bondage of karma, both its favourale and unfavourable results. With your mind fixed on me, freed from the cycle of your actions you will reach me.

Teks 28

Ia yang berkarya tanpa keterikatan duniawi pasti akan mencapai Kesadaran Tertinggi.

 

Text 29

I am unbiased towards all beings. I hate and favour no one. But whoever worship me deotedly are in me and I’m in them.

Teks 29

Aku” yang berada dalam diri setiap makhluk sesungguhnya satu dan sama. “Aku” tidak membenci ataupun menganggap seseorang lebih penting daripada yang lain. Namun, mereka yang berkarya dalam kasih, akan selalu merasakan kehadiran”Ku”.

 

Text 30-31

Even if a person of very offensive behaviour is engaged in devotional service unto me, he is considered saintly, as he is on the righteous path. He becomes virtuous and realises lasting peace. O son of Kunti, declare it boldly that my devotee is never lost.

Teks 30-31

Seseorang yang tersesat pun, apabila menyadari kehadiran-”Ku” di mana-mana, akan segera mencapai Kesadaran Tertinggi, karena ia telah memahami hal yang benar. Ia tidak akan pernah sesat lagi.

 

Text 32

O Partha, all who take refuge in me, even the lowborn, women, merchant, as well as the working class , attain the supreme goal.

Teks 32

Disebabkan oleh karma yang kurang baik, apabila seseorang lahir dalam keadaan yang kurang menguntungkan, akan mencapai Tujuan yang Tertinggi pula, apabila menyadari Kehadiran “Aku” di mana-mana.

 

Text 33

How much more is this the case for the pure priets and saintly kings! Having come to this temporary, unhappy world, engage in service unto me.

Teks 33

Apalagi mereka yang memang sudah lahir dalam keadaan yang menguntungkan. Mereka tentu akan mencapai Puncak Kesadaran yang Tertinggi itu.

 

Text 34

Fasten your mind always on me be my devotee, worship me and ofer obeisance unto me. Thus absorbed in me alone, you shall come to me.

Teks 34

Pusatkan kesadaranmu pada “Aku”. Berpalinglah pada”Aku”. Berkaryalah demi “Aku”. Demikian kau akan dengan sangat mudah mencapai Kesadaran Tertinggi.