MANDALA BALI – MANDALA NUSANTARA

 

Anand Krishna*

Radar Bali, Senin, 28 Juli 2008

 

Ketika Bali di bom untuk pertama kalinya, beberapa pejabat di pusat begitu yakin bila hal tersebut tidak akan berdampak terhadap Indonesia. Ternyata mereka salah. Kenapa? Karena para pejabat tersebut tidak memahami konsep negara dan bangsa sebagai satu keutuhan. “Satu Rumah” – sebagaimana saya jelaskan dalam tulisan terdahulu.

Nusantara mengenal istilah Mandala. Awalnya, setiap rumah, setiap tempat kerja, dibuat sesuai dengan konsep Mandala. Feng Shui China yang dipopulerkan oleh Pujangga Shi Fu – nama lain bagi Mahayogi Shiva – adalah penjabaran dari Mandala. Di Bali sendiri, setiap rumah dan desa adat dibangun sesuai dengan konsep yang sama – Kosala Kosali. Artinya, Penggunaan Ruang atau Shala yang Membawa Berkah atau Kushala.

Mandala adalah Tata Cara, the technical know how, untuk mengisi ruang. Dalam tata cara tersebut, tidak hanya manusia yang diperhatikan – tetapi juga makhluk-makhluk lain, dan bentuk-bentuk kehidupan yang lain. Pun diperhatikan elemen-elemen alami lainnya seperti Air, Angin, Api dan Tanah.

 

Penggunaan ruang tersebut, kemudian ditindaklanjuti dengan penggunaan waktu. Saat paling baik untuk belajar adalah pagi, ketika pikiran masih tenang, belum terpengaruhi oleh kebisingan dunia – antara pukul 04.00 hingga pukul 07.00. Saat untuk bekerja adalah dari pukul 07.00 hingga 18.00 sore. Namun, sekitar pukul 12.00 kita butuh istirahat sebentar, sekitar 15 menit – karena saat itu pengaruh matahari terhadap bumi dengan seluruh isinya luar biasa. Ini mengaktifkan elemen api di dalam tubuh kita dan dapat membakar emosi kita.

Waktu antara 18.00 dan 21.00 baik untuk kegiatan spiritual – karena saat itu “rasa” kita mengalami perkembangan. Selanjutnya waktu untuk istirahat.

 

Penataan ruang dan penggunaan waktu menjadi penting, karena keduanya itulah modal utama manusia. Selain tubuh yang dimilikinya, setiap bayi yang lahir dibekali dengan kedua modal tersebut. Modal-modal lain, harta, keluarga dan lain sebagainya – adalah penjabaran dari kedua modal utama tersebut.

Mandala adalah sarana supaya manusia dapat menggunakan waktu dan ruang yang dimilikinya secara tepat. Mandala adalah Ilmu Tepat Guna. Para pujangga kita sadar betul bila kedua modal tersebut disia-siakan atau digunakan secara tidak tepat – maka hidup menjadi neraka. Tak ada kejernihan pikiran, ketenangan hati, kepuasan batin dan kedamaian diri. Tak ada pula rejeki dan kebahagiaan dalam keluarga.

Mandala terkecil, unit utama dari Mandala tersebut adalah “diri” kita sendiri. Kita mulai dengan mengurusi diri sendiri. Apakah kita sudah menggunakan waktu dan ruang yang kita miliki dengan baik? Bagaimana pola hidup kita selama ini? Apakah sesuai dengan konsep awal Mandala, jam berapa untuk bekerja dan jam berapa untuk beristirahat?

 

 

Barangkali ada yang bertanya, “bagaimana dengan mereka yang justru bekerja dimalam hari?” Jawabannya, “tidak bisa untuk selamanya”. Pekerjaan malam mesti digilir. Sesungguhnya, banyak perusahaan yang sudah melakukan hal itu.

Penggunaan waktu dan ruang secara tepat juga menuntut “ketepatan waktu” dan “efisiensi” dalam hal penggunaan ruang. Seseorang yang tidak tepat waktu merusak sendiri Mandalanya. Seseorang yang membangun rumah tanpa mengindahkan lingkungan telah merusak sendiri Mandalanya. Orang-orang seperti itu tidak dapat berkontribusi terhadap Mandala Desa, Mandala Bali, Mandala Nusantara, dan Mandala Bumi. Kewarganegaraan mereka adalah penghinaan terhadap lembaga tersebut. Kemanusiaan mereka adalah beban bagi bumi.

Setelah mengurusi Mandala Diri, kita baru bsa mengurusi Mandala Keluarga dan Mandala Banjar, Mandala Desa, Mandala Kota, Mandala Kabupaten, Mandala Propinsi Bali, Mandala Nusantara dan Mandala Bumi.

 

Saat ini Mandala Bali sudah mengalami kerusakan, dan kerusakan ini bisa fatal bila tidak cepat-cepat diperbaiki. Kerusakan seperti apa yang dialami Bali? Kerusakan nilai-nilai…. “Kebersamaan” adalah nilai utama di Bali. Banjar adalah pengungkapan dari nilai tersebut. Nilai inilah yang saat ini sedang mengalami kemerosotan.

Nilai kebersamaan sebagai nilai tertinggi sudah terkalahkan oleh nilai materi. Demi materi kita akan melakukan apa saja. Bila saya menoleh balik dan melihat wajah Bali hingga tahun 1970-an, maka terlihat wajah yang sangat beda. Saat itu Bali masih cantik tanpa olesan tebal kosmetika pembangunan yang telah merusak kulitnya.

Saat itu, Mandala Nusantara sudah mulai mengalami kerusakan, tetapi Mandala Bali masih utuh. Dan, Mandala Bali yang utuh itu masih menjadi harapan bagi seluruh Nusantara. Sayang, saat ini, Mandala Bali pun ikut menjadi rusak.

 

 

Kita mesti kembali kepada Kosala-Kosali kita – penggunaan waktu dan ruang secara tepat. Bagi orang Bali, Tamu atau Atithi adalah wujud Ilahi – Atithi Devo Bhava. Bali menghormati tamu-tamunya, tetapi tidak boleh membiarkan tamu-tamu itu merusak Bali. Putra-putri Bali yang menjadi pejabat mesti disadarkan. Bila perlu dijewer kupingnya. Terakhir, bila masih tidak sadar juga dipersilakan untuk menyingkir, supaya “jabatan” yang mereka duduki itu tidak tercemar oleh adharma, oleh kebatilan.

Di awal tulisan ini saya menyingung soal pemboman Bali. Saat itu, Pak Wiyana dari Parisada, teman saya, memberi pernyataan yang saya tidak akan pernah melupakan. Bahwasanya peristiwa tersebut mesti membuat warga Bali menoleh ke dalam diri, “ada apa dengan diri saya, sehingga terjadi peristiwa ini?”

Pak Wiyana sungguh sangat sadar bahwa tak sesuatu pun terjadi diluar Hukum Sebab-Akibat. Lalu, apa yang kita lakukan untuk memastikan bahwa nasib sama tidak lagi menimpa Bali dan Nusantara?

Berdoa? Melaksanakan ritual tertentu dengan biaya tinggi? Ternyata tidak banyak membantu, karena setahun lagi Bali di bom untuk kedua kalinya.

 

Banyak yang mau percaya bila saat ini Bali sudah aman, sudah tidak ada ancaman bom. Saya tidak bisa hidup dalam halusinasi dan khayalan seperti itu. Saat ini Bali sedang dihantam dari kanan dan dari kiri, dari utara dan dari selatan dengan bom-bom anti budaya. Bom yang dilemparkan oleh Amrozi, Muchlas, Samudera dan lain sebagainya – sungguh tidak berarti bila dibandingkan dengan bom-bom yang sedang dilemparkan oleh saudara-saudara kita sendiri yang tidak memahami budaya. Mereka yang tidak menerima saripati budaya kita, yakni nilai-nilai ketuhanan, kebangsaan, kemanusiaan, kedaulatan rakyat dan keadilan bagi semua tanpa diskriminasi. Mereka yang tidak menerima kebhinekaan sebagai berkah dan ingin merubahnya dengan keseragaman. Nilai-nilai ini, kebhinekaan ini -adalah saripati budaya kita. Pancasila, Bhinneka Tungga Ika.

 

Banyak pejabat di pusat yang sudah tidak dapat melihat dan berpikir secara jernih. Demi kepentingan politik sesaat, demi kedudukan dan posisi – mereka melontarkan wacana-wacana yang tidak sehat bagi keutuhan bangsa dan negara. Sejarah akan mencatat nama mereka sebagai perusak Mandala Negara dan Bangsa.

Bali mesti lebih sadar dari mereka. Bali mesti sesegera mungkin, secepatnya memperbaiki Mandala ini. Bali bisa. Putra-putri Bali yang bekerja di luar Bali berperan penting pula untuk menegakkan Mandala. Lain kali kita akan membahas hal tersebut.

Iklan

Pancasila & Otak Manusia

 

Anand Krishna*

Radar Bali, Rabu, 16 Juli 2008

 

Dalam acara diskusi bulanan terakhir di padepokan One Earth (Ciawi, Jawa Barat), panitia penyelenggara menghadirkan beberapa pakar/ilmuwan, diantaranya seorang Ahli Bedah Syaraf, Pakar Fisika dan Fisika Quantum/Nuklir.

Kesimpulan dari ketiga orang pembicara tersebut sungguh sangat menarik untuk direnungkan bersama. Hanyalah manusia yang memiliki bagian otak yang disebut Neo-Cortex. Hewan-hewan jenis lain hanya memiliki bagian yang disebut Lymbic.

Manusia adalah jenis hewan yang boleh disebut “super” – ia adalah super-animal. Memiliki Lymbic maupun Neo-Cortex. Lymbic bersifat “statis”, dalam pengertian ia hanya melakukan pekerjaan rutin, tidak bisa berkembang. Maka, seekor katak lahir sebagai katak, dan sudah pasti mati sebagai katak. Sejak zaman dahulu mereka hidup di kolam, sekarang pun sama.

 

 

Lain halnya dengan manusia, dulu dia hidup di dalam gua, sekarang tidak. Dulu, rumahnya gubuk, sekarang villa. Seluruh keberhasilan manusia ini terkait dengan perkembangan Neo-Cortex. Makin berkembangnya bagian tsb, makin majunya manusia, makin progresif dirinya.

Lymbic di dalam diri manusia – persis seperti hewan-hewan lain – hanya memikirkan makan, minum, tidur, dan seks. Ia tidak dapat berpikir lebih jauh, dan lebih luas lagi. Manusia masih memiliki bagian itu, karena ia pun masih membutuhkan apa yang dibutuhkan hewan-hewan lain.

Namun, di luar urusan itu – manusia memiliki kesempatan untuk berkembang lebih jauh. Ini yang tidak dimiliki oleh hewan-hewan jenis lain. Maka, manusia bisa membangun. Hewan-hewan lain tidak bisa. Manusia bisa dididik atau mendidik diri untuk menjadi super-human, dan tidak berhenti pada tataran super-animal. Hewan-hewan lain tidak bisa.

 

Celakanya, tidak semua manusia berupaya untuk mengembangkan diri, dengan memanfaatkan neo-cortex yang dimilikinya. Padahal, bagian otak yang satu ini adalah hadiah paling penting dari Tuhan, Widhi, Gusti Allah, Adi Buddha, Bapa di Surga, Keberadaan atau apa pun sebutan Anda bagi Hyang Maha Kuasa itu. Sehingga – banyak diantara kita sudah merasa puas dengan manfaat yang kita peroleh lewat lymbic.

Hazrat Isa mengingatkan kita, “he, kalian tidak hidup untuk roti saja lho…” Nabi Muhammad mengingatkan bilamana kita tidak peduli terhadap keamanan dan kesejahteraan tetangga maka kita belum cukup beragama. Dalam hal ini, tentunya yang dimaksud beliau dengan rasa aman dan sejahtera jauh melebihi definisi-definisi kita yang sempit.

Buddha mengajak kita untuk berdamai dengan semua. Krishna menyerukan kesatuan dan persatuan antara umat manusia dan seluruh bentuk kehidupan yang ada, baik yang bergerak atau energi, maupun yang tidak bergerak atau materi. Karena, pada dasarnya kehidupan itu satu adanya. Segala apa yang saya lakukan terhadap Anda akan kembali kepada saya lagi. Kejahatan kembali sebagai kejahatan. Kebajikan pun sama.

 

Marx dan Machiavelli, dan para penganut mereka – jelas tidak dapat melihat sesuatu di luar kebutuhan lymbic. Dua-duanya bicara tentang kesejahteraan materi. “Urusi perut dan berikan sedikit hiburan”, seru Machiavelli, “dan kau dapat menguasai siapa saja”. Marx hanya mengembangkan apa yang pernah disampaikan oleh Machiavelli.

Banyak diantara kita yang masih percaya bahwa urusan negara ini akan langsung terselesaikan bila kebutuhan rakyat akan materi terpenuhi. Tanpa disadari, kepercayaan itu sesungguhnya menempatkan kita berada bersama Machiavelli dan Marx.

Machiavelli dan Marx akan membenarkan segala cara untuk, apa yang mereka anggap, kesejahteraan rakyat. Mereka bisa menolak agama dan kepercayaan, bisa juga menggunakan agama dan kepercayaan untuk mengelabui kita. Ini yang saat ini terjadi di negeri kita.

 

 

Para politisi kita di pusat – mudah-mudahan di Bali tidak – hampir seluruhnya masih memanfaatkan bagian lymbic dari otak mereka. Urusi kesejahteraan, bila tidak terurusi, bila gagal – maka salahkan Tuhan, “bagaimana pun jua kita sudah berupaya, Gusti-lah yang menentukan….. Tapi, jangan takut, bila disini masih tetap menderita, maka disana pasti tidak lagi.” Para Pemimpin Bali tidak boleh meniru mereka.

Padahal, dasar dari ajaran-ajaran agama adalah “here and now” – disini dan saat ini. Bila disini kau tidak bahagia, disana pun sama. Bila disini kau menanam benih asam, disana buah asam pula yang kau peroleh.

Salah satu kelemahan lymbic adalah ia “penakut”. Ia selalu merasa dirinya dalam keadaan bahaya – eksistensinya terancam. Bila ia memeluk agama atau memiliki ideologi, maka agama dan ideologi itu dirasakannya dalam keadaan gawat, darurat, maka mesti di-“bela”. Padahal ajaran-ajaran itu justru “turun” untuk memfasilitasi dirinya menjadi manusia yang lebih baik dengan memanfaatkan neo-cortex.

Kelemahan lain adalah ia selalu berpikir dalam kotak. Ia tidak bisa berpikir diluar kotak. Ia akan selalu mencari orang-orang yang sejenis dengannya, yang sama-sama hanya menggunakan lymbic. Wawasan mereka sempit.

 

Inilah orang-orang yang saat ini menolak “Pancasila” – karena butir-butir Pancasila itu memiliki implikasi yang sangat luas. Pancasila, adalah hasil dari penggalian yang dilakukan oleh founding fathers kita dengan memanfaatkan Neo-Cortex. Lymbic tidak dapat menggali Pancasila. Lymbic selalu bicara tentang sukuku, agamaku, rasku, golonganku, partaiku, ideologiku, pikiran dan sebagainya. Ia tidak dapat menerima kebhinekaan. Kalau pun dipaksa untuk menolerir perbedaan, ia akan metolerir dengan pengertian, “Aku menghormatimu, tapi bagaimana pun jua sukuku, agamaku, rasku dan golonganku-lah yang terbaik.”

 

Hewan-hewan lain pun sama, mereka hidup dalam hutan yang sama. Dan, mereka menunjukkan sikap toleransi terhadap beberapa jenis hewan lain yang kebuasan atau kejinakannya mirip mereka.

Beberapa waktu yang lalu, Televisi Pakistan (PTV) menyiarkan pernyataan-pernyataan yang sungguh luar biasa. Pernyataan-pernyataan tersebut datang dari keluarga almarhum Bhutto dan Perdana Menteri Pakistan. Intinya, dari pengalaman mereka bernegara selama lebih dari 60 tahun, terbukti sudah bila sistem pemerintahan Amiriyat itu gagal, tidak bisa berjalan. Hanyalah sistem Jamburiyat dimana kedaulatan ada di tangan rakyat – yang bisa berjalan. Ini berarti para pemimpin di belahan dunia tersebut sudah mulai memanfaatkan neo-cortex mereka.

 

Raja Saudi memfasilitasi dialog interfaith untuk pertama kalinya. Emirat membuka Masjid Agung bagi semua orang, Muslim maupun non-Muslim. Di negara lain, mereka memberi ijin bagi pembangunan gereja setelah seribu tahun lebih. Ini sangat menggembirakan. Makin banyak orang yang memanfaatkan neo-cortex.

Di negeri kita sendiri, malah sebaliknya. Ada partai politik, ada LSM, ada individu-individu yang masih ingin menggantikan landasan kita bernegara. Dari pemanfaatan Neo Cortex sebelumnya, kita malah mau kembali ke lymbic.

Kebhinekaan, dan butir-butir Pancasila itu sepenuhnya selaras dengan Hukum Fisika – meluas, tidak menyempit. Hal ini juga sangat menggembirakan, karena berarti para pemimpin, individu dan lembaga-lembaga yang tidak selaras dengan hukum tersebut akan tersingkir dengan sendiri.

 

Pancasila Jaya – Indonesia Jaya.

BG Bab I teks 37-46

 

Text 37-38

O Janardana, although others gathered here, overtaken by greed see no fault in destroying their own friends and family, why should we, aware of the crime of killing one’s kinsmen, fight this battle ?

Teks 37-38

Wahai Janardana, meskipun pihak lain berkumpul disini, terliputi keserakahan yang tidak melihat suatu kesalahan dalam menghancurkan teman-teman dan keluarga mereka sendiri, mengapa kami yang sadar akan kejahatan membunuh sanak saudara, tetap bertempur dengan mereka?

 

Text 39

With the destruction of dynasty, family tradition gets destroyed and the remaining family gets involved in irreligion.

Teks 39

Dengan kehancuran dinasti, tradisi keluarga dihancurkan dan keluarga tersisa menjadi tidak beriman.

 

Text 40

O Krsna, when irreligion increases, women gets polluted and the corruption of women produces unwanted, unworthy children.

Teks 40

Wahai Krishna, ketika yang tidak beriman membesar, para wanita tercemar dan para wanita yang melenceng menghasilkan putra-putra yang tidak dikehendaki dan tidak berharga.

 

Text 41

An increase in unworthy population condemns the dinasty to hellish life, where even the ancestors are doomed, when they are no more offered rice and water.

Teks 41

Bertambahnya populasi yang tidak berharga mengutuk dinasti ke dalam kehidupan jahat, dimana leluhur pun dihukum mati, saat mereka tidak menawarkan lagi air dan nasi.

 

Text 42

Such evil deeds of destroying family traditions and giving rise to unwanted children destroys all community projects and family activities.

Teks 42

Perbuatan jahat yang menghancurkan tradisi keluarga dan meningkatkan jumlah anak-anak yang tidak dikehendaki akan memusnahkan semua kegiatan keluarga dan masyarakat.

 

Text 43

O Krsna, I have heard from reliable sources that those who destroy family tradition and values are condemned to hellish life.

Teks 43

Wahai Krishna, saya telah mendengar dari sumber yang dapat dipercaya bahwa mereka yang merusak tradisi keluarga dikutuk ke dalam kehidupan jahat.

 

Text 44

Alas! What has happened that we are willing to commit such sins as killing our own family out of greed for material pleasures?

Teks 44

Aduh! Apa yang telah terjadi sehingga kami mau mengerjakan dosa seperti membunuh keluarga sendiri selain keserakahan demi kesenangan materi?

 

Text 45

I would prefer it, if the sons of Dhrtarastra, weapons in hand kill me unarmed and unresisting in battle.

Teks 45

Saya lebih suka, jika putra-putra Destarastra dengan senjata di tangan membunuh saya yang tak bersenjata dan tanpa perlawanan di medan pertempuran.

 

Text 46

Sanjaya said: Having spoken thus, Arjuna cast aside his bow and arrows and sat down on his chariot, his heart overcome with grief.

Teks 46

Sanjaya berkata: Setelah berbicara demikian, Arjuna meletakkan senjata dan duduk di kendaraannya, hatinya penuh duka cita.

Asalamualaikum Dan Seluruh Alam Menyapa Kita

 

Asalamualaikum Dan Seluruh Alam Menyapa Kita

 

Kecerdasan alami pada semua benda baik yang hidup maupun yang dianggap mati

Seorang Amerika menghubungkan kedua elektrode ”lie detector” pada sebatang bunga Adhatoda Vasica, kemudian menyiramkan air pada bagian akar bunga, setelah itu dia menemukan pena elektronik dari “lie detector” dengan cepat menggoreskan suatu garis lengkung. Garis lengkung ini persis sama dengan garis lengkung dari otak manusia ketika dalam waktu yang sangat pendek mengalami suatu rangsangan maupun kegembiraan. Selanjutnya, dia meletakkan dua tanaman dalam pot dan salah seorang siswa diminta menginjak-injak salah satu tanaman sampai mati, dan kemudian tanaman yang masih hidup dipindah ke dalam ruangan dan dipasangi lie detector. Empat orang siswa diminta masuk ruangan satu per satu. Ketika giliran siswa kelima, siswa yang menginjak tanaman masuk ke dalam, belum sampai berjalan mendekat, pena elektronik segera menggoreskan suatu garis lengkung, suatu garis lengkung yang terjadi saat manusia merasa ketakutan. Luar biasa, tanaman mempunyai emosi, tanaman mempunyai kesadaran.

Air pun dapat mengungkap perasaan dan telah dibuktikan oleh Dr. Masaru Emoto. Ungkapan penuh kasih terhadap air akan direspon dengan membentuk kristal hexagonal yang indah. Kalau kita memperhatikan es yang padat menjadi air yang berupa cairan dan berubah menjadi uap air yang tidak nampak oleh penglihatan, sejatinya semuanya adalah bentuk dari air. Dan salah satu tanda makhluk hidup adalah mengandung air. Pada hakikatnya Ruang, Udara, Api, Cairan dan Benda Padat adalah vibrasi energi dengan beda kerapatan dan amplitudonya. Bagian terkecil semua benda adalah atom dengan elektron yang selalu bergerak berputar. Pada dasarnya semua benda bergetar. Pikiran manusia pun juga berupa getaran, vibrasi. Vibrasi pikiran yang ditujukan kepada setiap benda akan direspon. Seorang Mistik Sufi berkata, menjadi peka-lah karena sebetulnya setiap benda ingin berbicara kepada kita. Pakaian yang kita cuci, seterika dan kita pakai berbicara pada kita. Dia berbahagia ketika kita menghormatinya. Hal ini selaras dengan Hukum Alam, Hukum Sebab-Akibat, segala sesuatu akan bereaksi sesuai tindakan kita kepadanya. Ketika kita membersihkan kamar mandi dan memberi pengharum ruangan, vibrasi tindakan kita akan direspon oleh semua benda termasuk ruangan di kamar mandi, mereka akan bahagia. Dalam Surat al Baqarah ayat 286, Laa yukallifallahahu nafsan illaa wus’ahaa lahaa maa kasabat wa’alaihaa mak tasabat ……. Allah tiada memberati manusia, melainkan sesuai kesanggupannya (yang selaras dengan alam). Baginya kebajikan yang diusahakannya dan di atasnya kejahatan yang diperbuatnya……

 

Salam kepada Alam Semesta

Asalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh, damai rahmat dan berkah kepada seluruh alam. Pikiran, ucapan, tindakan dan perasaan yang berupa vibrasi yang penuh perhatian akan direspon alam dengan sebanding. Penghormatan kepada manusia, tumbuhan dan semuanya yang berupa pikiran, ucapan, perbuatan dan perasaan kasih kepada segalanya akan direspon sebanding. Salam kepada manusia disunahkan mendahului yang diberi salam. Salam kepada seluruh alam minimal dilakukan 5 kali sehari semalam. Semuanya untuk melatih kepekaan manusia. Luar biasa, sekedar salam yang dipraktekkan akan membawa dunia kepada kedamaian.

 

Triwidodo

Juli 2008.