BG Bab 2 Teks 37-72


 

Text 37

O son of Kunti! If you die in battle you will attain heaven. If you win , you will attain the earth. So get up and fight it out.

Teks 37

Wahai putra Kunti! Jika kamu mati di pertempuran kamu akan mencapai surga. Jika kamu menang, kamu akan memperoleh bumi. Bangkit dan bertempurlah sekuat tenaga.

 

Text 38

Treat joy and sorrow, victory and defeat, gain and loss alike and prepare yourself for battle. Do not fear that you will be sinning.

Teks 38

Anggap sama suka dan duka, menang dan kalah dan bertempurlah. Tindakanmu akan bebas dari dosa.

 

Text 39

I have spoken to you about how to use wisdom in sankhya, now I will speak to you about wisdom in yoga. With this wisdom , Arjuna, you will free yourself from the bondage that results from karma.

Teks 39

Saya telah menjelaskanmu bagaimana menggunakan kebijaksanaan sankhya, sekarang saya akan menjelaskanmu tentang kebijaksanaan yoga. Dengan kebijaksanaan ini, Arjuna, kamu akan membebaskan dirimu sendiri dari keterikatan karma.

 

Text 40

No effort that you put in following your Dharma is wasted nor is your growth hampered. Practising your dharma even in its mildest forms saves you form harm.

Teks 40

Upaya bagi dharma tidak akan terbuang sia-sia. Praktek dharma menyelamatkanmu dari kesalahan.

 

Text 41

O Joy giver, on the path of dharma you should be firm and fix your concentration on your goal. Otherwise you will easily be distracted.

Teks 41

Wahai pemberi kegembiraan, Di jalan dharma kamu harus teguh dan bertekad bulat mencapai tujuan. Atau kamu akan mudah dibingungkan.

 

Text 42-43

People with inadequate knowledge give undue importance to the impresive words of Vedas. They do not look beyond that. These people are only immersed in material desires and wealth and think that the attainment of heaven or the chances of a good life in the next birth are desirable. Such people are always attached to rituals.

Teks 42-43

Orang yang tidak berpengetahuan tidak tergerak hatinya oleh ungkapan Veda. Mereka tidak melihat dengan seksama. Orang ini terbenam pada keinginan materi dan kekayaan dan memikirkan pencapaian surga atau kesempatan hidup baik di kelahiran berikutnya. Orang yang demikian selalu terikat dengan ritual.

 

Text 44

They lose their minds by attaching too much importance to material pleasures. They cannot thus attain any deep insights into the state of Samadhi.

Teks 44

Mereka telah kehilangan kejernihan pikiran karena melekat pada kenikmatan materi. Mereka tidak dapat mencapai pemahaman yang dalam menuju keadaan samadhi.

 

Text 45

The three Gunas are the main components within the circumference of which the Vedas analyse life. Arjuna, you should transcend these Gunas. Fix your mind on truth and be free from the concerns of the material word. Concentrate on The Self Alone.

Teks 45

Kitab-kitab suci bicara tentang tiga sifat utama dalam diri manusia. Jangan terperangkap dalam dualitas. Dalam keadaan seimbang setiap saat, janganlah kaiu terikat pada apa yang kau peoleh dan apa yang kau berikan. Bersandarlah pada dirimu sendiri.

 

Text 46

Just as a reservoir would well serve the purpose of a well and more, so will a Brahmana who knows the purpose of the scriptures will serve well in place of the scriptures themselves.

Teks 46

Bagaikan sumur di tengah-tengah bendungan, begitu pula kitab-kitab suci ini, bagi ia yang sudah sadar.

 

Text 47

Having acquired the state of a warrior you are now eligible to act in whatever way the stature of warrior demands out of you. But you are not entitled to any benefit resulting from your actions. At the same time you are not entitled to a state of not acting at all. Thus you should act according to your stature without any hope of enjoying the fruits of your actions.

Teks 47

Berkaryalah sebatas kemampuanmu, namun jangan selalu memikirkan hasil akhirnya. Jangan pula bermalas-malasan dan duduk diam.

 

Text 48

Mind fixed on duty and all thoughts about the fruits of your action abandoned; such equanimity of mind is the essence of yoga, O winner of wealth.

Teks 48

Berkaryalah tanpa keterikatan, wahai Arjuna. Jangan terpengaruh oleh kegagalan maupun kebehasilan. Itulah pencerahan.

 

Text 49

Any action driven by the desire to enjoy its benefits in inferior to intelligence that adheres to a discipline. O winner of wealth, seek wisdom and do not be misserly like those who concentrate on the results of their actions.

Teks 49

Mereka yang selalu membutuhkan motivasi untuk bekerja, mereka yang selalu memikirkan hasil pekerjaannya, sangat tak berguna. Berkaryalah, Arjuna, dengan jiwa yang tentram dan keseimbangan diri.

 

Text 50

Devote yourself to Yoga, the essence of work. Acting this way one gets rid of good and bad karma that affects him if he attaches himself to the fruits of his actions.

Teks 50

ia yang telah mencapai keseimbangan diri, akan berhasil membebaskan dirinya dari dualitas baik dan buruk. Oleh karena itu, Arjuna, berkaryalah sebatas kemapuanmu. Itulah Pencerahan.

 

Text 51

The wise renounce the fruits of their action. They are immersed in yogic wisdom. They do not have rebirth and attain an abode where tranquality and peace prevails.

Teks 51

Setelah mencapai keseimbangan diri, mereka yang bijak selalu berkarya tanpa mempedulikan hasil akhirnya. Demikian, mereka terbebaskan dari duka yang disebabkan oleh kelahiran dan mencapai kesadaran tinggi, suatu alam tanpa noda.

 

Text 52-53

When your mind is released from the dense delusions, you shall realise that how disgusting all that you have heard so for have been. When your mind is fixed and unmoved and not confused by scriptural injunctions you shall attain yogic samadhi.

Teks 52-53

Apabila langit pemahamanmu terbebaskan dari awan delusi, kau tak akan terpengaruh oleh apa yang kau dengar dan apa yang akan kau dengar. Apabila pikiranmu sudah bebas dari konflik-konflik pendapat, dan telah menjadi tenang dan tenteram, ketahuilah bahwa kau telah mencapai Pencerahan.

 

Text 54

Arjuna asked: O Kesava, what are the characteristics of one who is accomplished in meditation and steady in intellegence? How does he sit? How does he move?

Teks 54

Arjuna bertanya: Jelaskan padaku, wahai Krishna, apa ciri-ciri seseorang yang telah mencapai pencerahan? Bagaimana ia bertindak dalam kehidupan sehari-hari?

 

Text 55

The Lord of Sri said: O Partha, one who, having renounced all desires born of the mind, is satisfied in the self and by the self, it is said to be one whose insight is steady.

Teks 55

Krishna menjawab: Apabila seseorang telah melepaskan segala macam keinginan dan puas dengan dirinya sendiri, dialah yang dapat disebut bijak.

 

Text 56

In the midst of suffering and happiness his mind is neither confused nor kindled. He who is free from desires, passions, fear, and anger is said to be a sage of tranquil mind.

Teks 56

Ia yang pikirannya tak tergoyahkan dalam keadaan duka, ia yang tidak mengejar suka, ia yang bebas dari rasa takut dan amarah ialah manusia yang cerah.

 

Text 57

One who is free from all material desires, who is neither delighted nor disturbed by joys and sorrows is the one who stands firm in wisdom.

Teks 57

Orang yang tercerahkan tidak terikat pada apa pun, dimana pun; ia yang tidak kegirangan apabila memperoleh kebahagiaan, dan tidak pula kecewa apabila menghadapi yang tidak baik, yang jahat.

 

Text 58

And when he completely controls his senses and keeps them away from their objects, like a tortoise drawing its limbs within its shell, his wisdom stands steady.

Teks 58

Bagikan seekor penyu yang dapat menyembunyikan badannya, seorang bijak dapat menyembunyikan panca inderanya dari obyek-obyek duniawi.

 

Text 59

It is not enough if one merely turns away from sense objects for the taste for such objects remains. One should totally be devoid of even the taste for such objects. And one who sees God loses the taste acquired for sense objects. He remains fixed.

Teks 59

Seseorang yang tengah mengupayakan pengendalian diri, akan berhasil menjauhkan diri dari obyek-obyek duniawi; namun keinginan-keinginannya tetap ada. Akhirnya, itu pun akan musnah apabila ia memperoleh pencerahan.

 

Text 60

Indeed, O son of Kunti, the force of the senses is so powerful that they can even dissuade a very discriminating person.

Teks 60

Panca indera yang vterangsang dapat pula menjatuhkan mereka yang tengah berupaya untuk memperoleh kesadaran.

 

Text 61

In order to attain steady wisdom you should restrain your senses and focus your entire mind and being on me.

Teks 61

Ia yang telah mengendalikan dirinya, ia memfokuskan kesadarannya pada “Aku” dan menganggap “Aku” sebagai tujuan utama. Demikian ia tak akan pernah kehi;angan kesadarannya.

 

Text 62-63

Thinking about sense objects bring an attachment towards them. Attachment breed desires, and desire leads to frustration, which in turn leads to delusion. When you are deluded, you lose your memory and with the loss of memory, the power of discrimintion is destroyed; with the destruction of discrimination, your self itself is lost.

Teks 62-63

Keterlibatan diri dengan obyek-obyek duniawi menyebabkan keterikatan. Keterikatan membuahkan keinginan dan dari keinginan timbul amarah. Amarah membuat penglihatan manusia menjadi kabur. Demikian daya ingatnya hilang, akal sehatnya hilang dan pada akhirnya ia musnah.

 

Text 64

However, even while moving among the sense objects, the self-controlled one who is free from desire and disgust and brings himself under the jurisdiction of God, attain God’s grace.

Teks 64

Ia yang bijak, hidup di tengah-tengah obyek-obyek duniawi, namun panca inderanya terkendali. Ia bebas dari rasa suka dan rasa benci. Oleh karenanya, ia memperoleh ketenangan jiwa.

 

Text 65

Purity of mind causes all suffering to cease. Such a person will attain without doubt steady intellegence.

Teks 65

Jiwa yang tenang tidak lagi mengenal duka. Ia yang tenang selalu berada dalam keadaan seimbang.

 

Text 66

Only through discipline in yoga, can one attain clear intellegence. Only then can one engage in meditation can give you peace and without peace where is happiness?

Teks 66

Ia yang tidak tenang pikirannya, mustahil memasuki alam mediatsi, dan ketahuilah bahwa tanpa meditasi, kedamaian atau ketentraman jiwa, tidak ada kebahagiaan.

 

Text 67

Whichever of the wandering senses the mind hankers after, that sense carries away one’s intellegence, just as the wind blows away a ship on sea.

Teks 67

Seperti perahu tanpa kendali, yang dihanyutkan oleh badai, begitu pula ia yang panca inderanya tak terkendalikan, akan kehilangan kemampuannya untuk memilah mana yang baik, mana yang tidak baik bagi dirinya.

 

Text 68

Therefore, O mighty-armed, one whose sense are completely withdrawn from sense objects, is the one fixed in wisdom.

Teks 68

Pemahaman, pengertian serta penglihatan dia selalu jernih, yang sudah dapat mengendalikan panca inderanya.

 

Text 69

That which is dark for all sentient beings is like bright daylight for those senses are controlled. That which is dawn for sentient beings is like the dark night for the introspective sage who sees.

Teks 69

Malam bagi mereka yang tidak sadar, merupakan siang bagi mereka yang sadar. Saat itu mereka dalam keadaan jaga. Dan pada saat mereka yang belum sadar dalam keadaan jaga, seseorang yang bijak berada dalam keadaan tidur.

 

Text 70

Just as many rivers entering the ocean cannot stir it or disturb its stillness similarly the mind of a person who is unmoved by desires remains still and attains peace. The one who hankers after such doesnot attain peace.

Teks 70

Ia yang penuh dengan keinginan tidak akan pernah mendapatkan kedamaian. Namun ia yang bagaikan lautan luas tidak terpengaruh oleh begitu banyak sungai-sungai yang memasuki dan bersatu dengannya. Ia akan memperoleh rasa damai yang sejati.

 

Text 71

The action of a person who has abandoned all desires is freed from desire. Indifferent to ownership or sense of possession and free from any sense of ego, he attains peace.

Teks 71

Ia yang tidak lagi mengharap-harapkan sesuatu, ia yang bebas dari segala macam keinginan dan tanpa rasa angkuh serta kepemilikan, ialah yang bisa memperoleh kedamaian sejati.

 

Text 72

O Partha, having attained such a divine state one is not confused; if one is fixed in this consciousness even at the moment of death, one attains Brahman and all suffering ceases.

Teks 72

Inilah Kesadaran yang Tertinggi, wahai Arjuna. Setelah mencapai kesadaran ini, seseorang tidak akan bingung lagi. Apabila saat kematian pun tiba, seseorang yang berada dalam kesadaran semacam ini akan menyatu dengan Sumbernya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: