Hidup itu Ibadah (Persembahan kepada Allah)


Persembahan kepada Allah swt

 

Surat Al Zumar ayat 2 (Q 39:2)

Innaa anzalna ilaikal kitaaba bil haqqi fa’budillaahaa muklishal lahud diin.

Sesungguhnya Kami menurunkan Al Quran kepadamu dengan sebenarnya, maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama bagi-Nya.

 

Surat Al Kahfi ayat 110 (Q 18:110)

Qul Innamaa ana basyarum mitslukum yuuha ilayya annamaa ilaahukum ilaahuw waahidun fa man kana yarjuu liqaa-a rabbihi fal ya’mal ‘amalan shaalihaw wa laa yussyrik bi ibaadati rabbihii shadaa.

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu hanyalah Tuhan Yang Esa. Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhan-Nya, maka hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan Tuhan-Nya dalam beribadat dengan seorangpun.

 

Agama adalah ibadah, persembahan kepada Allah swt. Mereka yang mengikuti Nabi Muhammad saw dan mengharapkan perjumpaan dengan Allah swt, maka hendaklah mereka melakukan ibadah dengan mengerjakan amal saleh demi Allah swt semata.

 

Ibadah melalui raga

 

Surat Al A’Raaf ayat 31-32 (Q 7:31-32)

Yaa banii aadama khudzuu ziinatakum ‘inda kulli masjidiw wa kuluu asy rabuu wa laa tusrifuu innahuu laa yuhibbul musrifiin.

Qul man harrama ziinatallaahil latii akhraja li ‘ibaadihii wath thayyibaati minar rizqi qul hiya lil ladziina aamanuu fil hayaatid dun-yaa khaalishatay yaumal qiyaamati ka dzaalika nufashshiful sayaati li qaumiy ya’lamuun.

Hai keturunan Adam, pakailah perhiasanmu (pakaian yang bersih, bagus dan layak) pada setiap (masuk) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Katakanlah, Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah (segala rizki dari Allah) yang Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik? Katakanlah, (Semuanya) itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan tertentu untuk mereka (saja) pada hari kiamat. Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat itu bagi yang mengetahui.

 

Raga digunakan untuk ibadah, untuk mendekatkan diri dengan Allah swt, sehingga memakai pakaian yang baik, makan dan minum tak berkelebihan itu juga merupakan ibadah. Bukankah diri kita ini sebenarnya juga milik Allah, bukankah orang yang senang melihat kita berpakaian pantas hakikatnya juga milik-Nya. Bukankah makanan dan minuman itu hakikatnya juga berasal dari-Nya. Bukankah raga yang menerima manfaat dari berpakaian, makan dan minum ini hakikatnya juga milik-Nya? Maka perbuatan yang baik bagi raga juga merupakan ibadah.

 

Ibadah melalui amal saleh

 

Surat Al Baqoroh ayat 83 (Q 2:83)

Wa idz akhadznaa miitsaqa israaiila laa ta’buduuna illallaha wa bil waalidaini ihsaanaw wa dzil qurbaa wal yataamaa wal masaakiini wa quuluu lin naasi husnaw wa aqiimush shalaata wa aatuz zakaata tsumma tawallaitum illaa qalillam minkum wa antum mu’ridhuun.

Dan ingatlah ketika Kamu membuat janji dengan Bani Israil, Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin; dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu melainkan sebagian kecil saja daripada kamu, sedang kamu berpaling.

 

Ibu bapak pada hakikatnya adalah makhluk Allah yang menyebabkan kita dapat lahir di dunia untuk melakukan ibadah. Kaum kerabat, anak-anak yatim merupakan karunia-Nya agar kita dapat beribadah pada-Nya lewat mereka. Shalat dan zakat juga perbuatan kita semata untuk-Nya.

 

Al-Ghazali mengutib Umar: Jika kamu lihat seorang alim yang mencintai dunia, maka jauhlah ia dari agamamu, karena setiap pencinta tenggelam dalam apa yang dicintainya.

Ketika Nabi ditanya : Wahai Rasulullah, dimanakah Allah, di bumi atau di langit? Dengarkan jawaban Rasulullah: Di dalam hati hamba-hambanya yang beriman. Bumi dan langit-Ku tidak dapat memuatKu. Tetapi hati hamba-Ku yang berimanlah, yang lemah lembut dan tenang, yang dapat memuatKu.

Bagi hamba yang beriman makan minum tak berkelebihan, mamakai pakaian yang pantas, beramal saleh, shalat dan zakat demi Dia yang beremayam dalam hati nurani. Kita perlu introspeksi, apakah tindakan kekerasan yang kita lakukan itu demi Dia yang bersemayam dalam hati nurani atau demi dunia, karena setiap pencinta tenggelam dalam apa yang dicintainya. Dan masalah hati nurani adalah masalah rasa yang lembut, sedangkan kekerasan menggunakan logika yang mudah terselip kepentingan dunia walau mengatasnamakan-Nya.

 

Triwidodo

Agustus 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: