Ojo Nggege Mongso, Jangan Tergesa-gesa

Mencapai hasil yang banyak dalam waktu singkat
Mereka yang sibuk mempunyai motto: ”Time is money”, dan bekerja dengan efisien. Anak kecil dimasukkan sekolah sedini mungkin untuk belajar bahasa asing dan menguasai ilmu sebanyak-banyaknya. Agar pekerjaan yang menumpuk cepat terselesaikan, makan siang singkat di counter makanan siap saji, makan pun diselingi menerima telpon dan sms lewat HP. Gaya berjalan gadis Solo tidak lagi seperti Macan Luwe, Harimau Lapar, yang berjalan pelan-pelan dan anggun. Irama sepatu haknya seperti lagu rap dengan ketukan yang rapat. Pikiran manusia yang serakah ingin melakukan banyak hal seketika.

Alam tidak selalu bergerak cepat
Teman kami, seorang dokter dari Rumah Sakit Kelet Jepara bercerita, alam tidak selalu bergerak cepat. Makan harus pelan-pelan agar kunyahan sempurna dan mempersiapkan usus mengeluarkan enzym-enzym yang dibutuhkan pencernaan. Mengatur napas dahulu baru dilanjutkan berdoa sebelum makan dan mengucapkan syukur dengan penuh perasaan selesai makan akan mempengaruhi organ-organ pencernaan sekaligus menenangkan syaraf otak. Betapa mahal dan canggihnya alat pencernaan manusia, dan seorang yang makan tergesa-gesa tidak menghargai nilai organ yang dimilikinya. Seperti halnya dengan mengendarai mobil mewah dengan sembrono.
Memberi input berbagai mata pelajaran terlalu dini hanya mengembangkan otak kiri. Perlombaan ketinggian nilai mata pelajaran bagi anak memacu penggunaan otak kiri. Seorang anak seharusnya banyak bermain, sehingga otak kanannya dapat berkembang. Itulah sebabnya begitu banyak orang pandai yang terlalu serius bekerja seperti robot, kurang kreatif, karena otak kanannya kurang berkembang. Bekerja dengan otak kiri yang penuh logika menyebabkan seseorang selalu memperhatikan untung rugi yang berakibat sifat kasih dan gampang memaafkan yang keluar dari hati nurani terpinggirkan.
Bekerja dengan tergesa-gesa, menyebabkan ritme napas menjadi cepat, dan dalam jangka panjang tekanan darah akan meningkat. Pada waktu seseorang napasnya lebih tenang, gelombang otaknya juga menjadi pelan dan pikiran menjadi jernih dan masalah yang muncul terselesaikan dengan mudah.

Tetap bekerja dengan tekun sampai saat panen tiba
Telur ayam perlu menunggu 21 hari dierami induknya untuk dapat menetas. Benih padi menunggu 140 hari baru siap dipanen. Biji mangga menunggu 6 tahun untuk dapat menghasilkan buahnya. Pohon jati ada yang ditunggu selama 25 tahun agar hasilnya memuaskan. Bagi yang percaya, akibat perbuatan pun bisa menunggu kelahiran berikutnya untuk memberikan hasil karmanya. Menurut mereka itulah sebabnya ada anak yang lahir dalam keluarga bahagia atau sebaliknya. Memerlukan waktu yang lama untuk menunggu anak kecil menjadi dewasa. Merubah kebiasaan pun juga memerlukan waktu lama. Yang penting adalah tetap tekun bekerja. Seseorang yang menunggu telur menetas tanpa mengupayakan telurnya dierami induknya atau dipanaskan dengan mesin penetas seperti menunggu datangnya Godot. Intelejensia leluhur mengatakan teruslah bekerja tanpa pamrih, jangan nggege mongso, jangan bekerja tergesa-gesa, tunggulah saat panen tiba.

Triwidodo
Agustus 2008

Iklan