Parade Seni Budaya Jawa Tengah Tahun 2008 dan Bangkitnya Kecintaan pada Budaya Nusantara


Semarang, 16 Agustus 2008

 

            Kami ingat nasehat Para Sesepuh Pepunden kami, sebuah karya harus ‘ngepop’ agar menyentuh nurani masyarakat saat ini. Mereka yang mencintai lagu nostalgia hanyalah mereka yang terkenang saat mereka masih muda, berapakah jumlah mereka? Leluhur kita memang menulis tembang macapat, tetapi dalam konteks zaman dahulu, tembang macapat itu termasuk ‘ngepop’ dan merasuk sanubari masyarakat pada zamannya. Pada saat ini hanya berapa gelintir manusia yang masih dapat memahami tembang macapat? Bukannya kita melupakan, tetapi perlu memberi jiwa baru, yang dapat diterima masyarakat kini. Bukankah pada pagelaran wayang saat ini terdapat perubahan-perubahan dibanding yang lalu? Acara- acara pun dikemas lebih singkat, mengakomodasikan masyarakat yang tidak mau terlampau lama terjebak dalam suatu acara. Acara pengantin di Solo pun maksimal hanya 2 jam saja, atau akan ditinggalkan para undangan.

            Kanjeng Nabi Sulaiman berkata, tidak ada hal yang baru di dunia ini, konteksnya hampir sama, yang berbeda hanya situasi, kondisi dan cara penampilannya. Apakah perang antara Pandawa dan Hastina saat ini sudah tidak ada? Apakah Kebo Ijo, Ken Arok yang menjadi korban Keris Empu Gandring sudah tidak ada? Apakah para raksasa yang serakah sekarang sudah tidak ada? Ada juga hanya penampilannya yang berbeda.

            Materi pitutur-pitutur para leluhur boleh sama tetapi cara mengemasnya harus disesuaikan dengan selera masa kini. Dunia selalu berubah, jatidiri bangsa boleh tetap , budaya boleh kokoh, tetapi cara mengemasnya harus disesuaikan dengan selera masa kini. Atau akan tertinggal oleh kemajuan zaman. Kita juga tidak membayangkan para Bupati dan Walikota memakai pakaian kebesaran basahan, telanjang dada dengan celana tiga perempat dan topi kuluk. Kita juga tidak membayangkan pemimpin kita memakai pakaian kebesaran kalifah Islam abad ke 8 Masehi. Dunia berkembang, adalah suatu nostalgia memakai pakaian zaman dulu. Serap budayanya dan sesuaikan dengan perkembangan zaman. Tetapi dalam acara nasional, juga tidak perlu jas, pantalon yang sumuk itu, cukup batik yang tipis.

            Achdiat Karta Mihardja, menulis:

Tiap-tiap kebudayaan yang hendak diwariskan kepada suatu angkatan, tidak bisa diterima secara pasif, apabila kebudayaan itu mau segar bertugas serta hidup terus dengan subur. Jika tidak ada kegiatan mencipta yang memberi kehidupan baru kepada kebudayaan itu sesuai dengan keadaan masyarakat yang telah berubah, yang membawa pula nilai-nilai dan ukuran baru, maka kebudayaan itu akan merana, lantas mati sama sekali pada akhirnya.

            Kita melihat para artis memakai batik di televisi, mereka tetap imut-imut juga, bahkan terkesan anggun. Wahai perancang busana dalam dirimu mengalir darah seni leluhur yang dapat menciptakan lukisan batik tulis. Batik yang dirancang dengan intuisi para Empu, yang membuat yantra, alat berdoa, afirmasi cara Nusantara. Sido Luhur ditulis perempuan tekun di atas kain mori putih membayangkan putera-puteranya akan menjadi manusia luhur. Sido Mulyo, Truntum, Cakar, Sido Mukti semua mempunyai makna dari Yantra tersendiri. Kita telah mengabaikannya Bunda, Bunda Pertiwi. Putera-puteramu sebagian telah menggantinya dengan back less, tank top ataupun brukut hitam, dengan mata pun ditutup cadar. Wahai para Bupati dan Walikota, di dalam darahmu mengalir DNA Tumenggung, Senapati dari zaman Sriwijaya dan Majapahit, Kalingga, bangkit bela Ibumu, Ibu Pertiwi. Ataukah hanya ingin mempunyai DNA Tumenggung Wiroguno yang mengejar gadis-gadis cantik, seperti Layonsari?

            Hari itu Saptu 16 Agustus 2008, memperingati Hari Jadi Jawa Tengah 15 Agustus, kami berkesempatan melihat Parade Seni Budaya Jawa Tengah Tahun 2008. Setiap peserta dari seluruh Kabupaten dan Kota di Jawa Tengah diberi kesempatan tampil sekitar 5-10 menit di depan podium, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke depan diganti penampilan peserta di belakangnya. Alat musik tradisionalnya dilengkapi roda di bawahnya agar dapat berjalan mengikuti barisan. Alat pengeras suara pun jelas bukan buatan zaman Singasari.

            Acara dimulai dengan pemukulan gong bertalu-talu oleh Gubernur Jawa Tengah Ali Mufidz, dan diikuti oleh bunyi gamelan yang menyahut dari seberang jalan. Suara Gong, Hoong, Hooooong, Hoooooooong, suara yang dikenal sebagai pranawa, sebagai suara asal Oommmmmm yang diimplementasikan di Nusantara dalam bunyi gong yang menggetarkan dada. Bunyi gong diperindah dengan suara gamelan yang menyebarkan semangat. Luar biasa. Pasukan Marching Band Cenderawasih dari Akpol menunjukkan kebolehannya, dan dilanjutkan penampilan para peserta parade.

            Dirgahayu Jawa Tengah, Bangkitlah Indonesia, Bangkitlah wahai para Arjuna, hadapi para Kurawa yang merongrong persatuan bangsa.

 

Persembahan Provinsi Jawa Tengah

            Hasil koreografi teman-teman alumni ISI Surakarta, DERAP JATIDIRI HAMBANGUN, Karya ini bertemakan keprajuritan dengan mengkolaborasikan tiga pola garap tari, yaitu tari watang (pasukan tombak remaja perkasa), tari jemparing putri (pasukan panah gadis-gadis ayu), tari jathilan (Jaran Kepang, pasukan berkuda yang sigap dan semangat) masing-masing dengan kostum budaya Jawa yang adhi luhung. 60 seniman muda menari indah penuh semangat. Tepuk tangan menggema, luar biasa.

 

Persembahan Kabupaten Blora

            Seni Barong Blora, merupakan salah satu kesenian rakyat yang sangat populer di kalangan masyarakat Blora. Alur cerita bersumber dari hikayat panji. Di dalam seni Barong tercermin sifat-sifat kerakyatan seperti spontanitas, sederhana, keras, kompak yang dilandasi kebenaran. Kesenian barongan berbentuk tarian kelompok yang terdiri dari tokoh Singo Barong, Bujangganong, Joko Lodro/Gendruwon. Jaranan/Pasukan Berkuda, serta prajurit. Secara demonstratif mereka menari dengan penuh penghayatan. Tepuk tangan, luar biasa.

 

Persembahan Kabuapten Brebes

            Greget Lenggok Brebesan adalah sajian yang menampilkan sebagian besar potensi kesenian yang dimiliki Kabupaten Brebes. Diawali dengan pasukan bawang merah yang melambangkan semangat masyarakat Brebes untuk membangun daerahnya, kemudia disusul dengan kesenian buraq dan sisingaan. Sepasang remaja maju ke hadapan Gubernur mempersembahkan sekeranjang bawang merah dan sekeranjang telor asin khas Brebes. Selamat Brebes, bangkitlah.

 

Persembahan Kabupaten Batang

            Kesenian Sintren merupakan kesenian rakyat yang berkembang di Kabupaten Batang. Setelah tersentuh tangan-tangan seniman, kesenian Sintern dapat berkembang dan menjadi andalan Kabupaten Batang. Tepuk tangan menggemuruh.

 

Persembahan Kabupaten Boyolali

            Topeng Ireng kepanjangan dari Tata Lempeng Irama Kenceng yang artinya baris lurus irama keras. Topeng ireng hidup dan berkembang di lereng Gunung Merbabu dan Merapi. Kesenian itu sering dipergunakan untuk acara hajatan. Sekelompok penari dengan sepatu gemerincing dan kostum bak Indian Boyolali, topi bulu ayam, kain berwarna-warni memainkan tarian dinamis yang mengundang tepuk tangan penonton.

 

Persembahan Kabupaten Banjarnegara

            Tari Aplang merupakan tarian tradisional yang berasal dari Kabupaten Banjarnegara. Dahulu Tari Aplang digunakan untuk syiar Agama Islam. Aplang berasal dari kata ndaplang yang berarti tangan digunakan seperti gerakan silat. Tarian ini ditarikan oleh remaja putra-putri dengan diiringi rebana, bedug, kendang dan nyanyian syair salawatan. Kostumnya model Islam Jawa yang indah dipandang mata. Kembali ke Jatidiri Bangsa Kabupaten Banjarnegara. Tepuk tangan riuh rendah.

 

Persembahan Kabupaten Banyumas

            Karya kolaborasi Kahuripan menggambarkan kehidupan masyarakat Banyumas yang bersumber dari kehidupan pola tradisional agraris. Ada 5 macam kesenian: Cowongan, upacara minta hujan; Rengkong, ritual mengusung padi dari sawah; Gubreg lesung, ritual menumbuk padi; Lengger Banyumasan, tari rakyat Banyumas; dan Musik Kenthongan untuk hiburan. Luar biasa, karya leluhur yang diperbaharui disesuaikan dengan masa kini. Luar biasa.

 

Persembahan Kabupaten Cilacap

            Pesta Seni Rakyat Tapal Batas. Sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat Cilacap kepada Allah SWT dalam rangka keberhasilan panen raya yang melimpah sehingga masyarakat mengekspresikan dengan luapan kegembiraan yang luar biasa. Ekspresi kegembiraan tersebut diungkapkan dengan upacara adat Syukuran. Penari putra-putri menari jaipongan dengan gairah. Tepuk tangan bagi kabupaten Cilacap.

 

Persembahan Kabupaten Demak

            Singo Barong. Kesenian ini merupakan kesenian tradisional asli rakyat Demak, yang dilatar belakangi sejarah Demak. Hutan Glagah Wangi akan dijadikan pemukiman, namun Sang Penunggu yang merupakan sosok gaib Singo Barong Kembar tidak mau menerimanya. Dengan kesaktian “Cemeti Saptomowo” siluman Singo Barong dapat ditaklukkan. Prajurit dengan kostum surjan menaiki Kuda Kepang warna-warni yang indah. Terima kasih Ibu Pertiwi. Luar biasa.

 

Persembahan Kabupaten Grobogan

            Tari Gondoriyo. Perpaduan antara tari, teater dan gerak akrobatik. Ceritera diambil dari babad panji yaitu kisah cinta Raden Panji Asmarabangun adri Jenggala yang mempersunting Dewi Sekartaji dari Kediri. Untuk adapat mempersunting putri tersebut Raden Panji harus dapat mempersembahkan seekor singo barong yang dapat berbicara. Joko Lodro utusan Raden Panji dapat menangkap Singa Lodro di hutan Lodaya. Tepuk tangan buat Grobogan.

 

Persembahan Kabupaten Jepara

            SERNEMI, Seni Rakyat Muslim Indonesia. Sebuah kesenian di semenanjung pantai Ujungpara. Potret kehidupan masyarakat nelayan yang penghidupannya dari tangkapan ikan di laut. Sekelompok pemuda menari seakan mendayung perahu dan mengibarkan layar bertuliskan DIRGAHAYU JAWA TENGAH. Sebagian pemuda yang lain menebar jala sedangkan sekelompok putri mengolah hasil tangkapan. Tepuk tangan buat Jepara.

 

Persembahan Kabupaten Karanganyar

            Tari Loro Blonyo. Tari Loro Blonyo merupakan gambaran Dewi Sri dan saudaranya Dewa Sadana. Dewi Sri adalah Dewi pelindung padi dan pemberi berkah serta merupakan lambang kemakmuran. Dewa Sadana adalah Dewa sandang pangan. Pada saat sekarang, kedua dewa dan dewi tersebut sudah sirna dari bumi pertiwi dan menetap di Tirta Kedasar. Sepeninggal mereka keadaan bumi pertiwi makin terpuruk. Bencana, malapetaka serta huru-hara terjadi di mana-mana. Atas petunjuk Dewa Wisnu agar keadaan kembali aman tenteram maka kedua dewa dewi tersebut harus dikembalikan. Hal tersebut tidak mudah karena untuk mendapatkan mereka harus berhadapan dulu dengan raksasa penunggu negara Tirta Kedasar. Semar akhirnya bisa membawa kembali mereka dan bumi pertiwi kembali pulih. Untuk mensyukuri keberhasilan tersebut dibunyikan kothekan lesung yang berirama magis. Tepuk tangan buat Karanganyar.

 

Persembahan Kabupaten Kebumen

            Ebleg adalah kesenian khas Kabupaten Kebumen. Sepasukan pemuda memakai kostum warna-warni etnik naik kuda kepang melawan 2 Ular Raksasa. Selamat bagi Kebumen yang telah menampilkan kesenian daerahnya.

 

Persembahan Kabupaten Kendal

            Soreng Manggala Mangsah Yuda. Sekelompok pasukan perang dipimpin seorang komandan yang meniup terompet kerang bak perang Bharatayuda. Gadis-gadis cantik pasukan Srikandi meramaikan suasana. Pakaian yang gemerlapan menimbulkan suasana ceria. Selamat Kendal.

 

Persembahan Kabupaten Klaten

            Jathilan. Tarian kera-kera seperti di ramayana. Ada yang berkostum putih rombongan Hanuman. Berkulit merah rombongan Hanggada. Dan Berbulu biru rombongan Anila. Tidak ketinggalan raksasa-raksasa berambut panjang naik kuda kepang. Tepuk tangan meriah.

 

Persembahan Kabupaten Kudus

            Tari Kretek. Tari Kretek diilhami akar kesejahteraan yang sampai kini dirasakan di Kabupaten Kudus. Beberapa penari ayu memakai kain kebaya, selendang bergaris hitam dengan topi lebar sedang membawa tampah tempat tembakau. Tarian menggambarkan kegiatan membuat rokok. Selamat Kudus.

 

Persembahan Kabupaten Magelang

            Karya tari yang merupakan kolaborasi Seni Grasak dan Kuntulan ini menceritakan pentingnya kembali kepada alam. Persembahan gunungan berisi sayur dan buah-buahan digotong 4 pemuda gagah. Serombongan petani dan perajurit berkuda mengawalnya. Tepuk tangan meriah.

 

Persembahan Kota Magelang

            Sepasukan pemuda perkasa lari cepat diiringi gendang dinamis, semua penonton bersorak sorai. Serombongan manusia memakai pakaian kulit kayu dan hiasan kayu kering bergerak serempak menarikan gerakan indah. Pasukan anak-anak bugil hanya dihiasi pakaian seadanya dan cat putih di seluruh tubuhnya bergerak lucu. Seorang putri naik diatas hutan hijau mengawasi. Wilayah kita telah dirusak manusia dan kekringan di mana-mana. Kembalilah sadar tanamlah pohon agar hutan kembali hijau. Luar biasa. Gerak tari diiringi musik yang dinamis. Tepuk tangan membahana.

 

Persembahan Kabupaten Pati

            Tari rebana, putra-putri Pati menyanyikan shalawat pujian, sambil memainkan rebana yang meriah. Selamat Kabupaten Pati.

 

Persembahan Kabupaten Pekalongan

            Tari Rebana Santri. Putra-putri memakai kain batik khas pekalongan memainkan rebana. Sepatu tali kulit dengan krincingan membuat suasana meriah sekali. Warna hijau dan merah mendominasi disamping gemerlap keemasan. Tepuk tangan buat Kabupaten Pekalongan.

 

Persembahan Kota Pekalongan

            Kesenian Terjing Madroh. Gabungan dari Terbang Genjring, Marawis dan Tari Hadroh memeriahkan suasana. Gadis-gadis berpakaian ala Gypsy dengan bahan batik pekalongan warna-warni memeriahkan suasana. Selamat Kota Pekalongan.

 

Persembahan Kabupaten Pemalang

            Kenthongan Calung menjadi andalan kesenian Kabupaten Pemalang. Beraneka macam bentuk, ukuran dan bahan kayu dipukul dengan irama cepat. Suara yang indah dinamis dan membangunkan semangat membangun. Selamat Kabupaten Pemalang.

 

Persembahan Kabupaten Purbalingga

            Thek-thek King San. Awalnya hanya merupakan musik penjaga keamanan lingkungan, tetapi seniman-seniman Purbalingga mengubahnya menjadi musik yang penuh pesona dengan menambahkan rancab. Sepasang liong naga merah kuning memainkan akrobat dan tepukan membahana. Selamat Purbalingga.

 

Persembahan Kabupaten Purworejo

            Semua mata tertuju ke arah datangnya rombongan ketika disebutkan rombongan dari Kabupaten Purworeja. Tari Dolalak yang terkenal. Putri-putri berpakaian ala prajurit kompeni dengan bahan busana batik berwarna-warni. Gerakan-gerakannya lucu dan penuh semangat menarik perhatian penonton.

 

Persembahan Kabupaten Rembang

            Seni tradisional Thong-thong Lekdimainkan oleh remaja kreatif untuk mengadakan hiburan setelah shalat tarwih. Semua peserta memakai Batik Lasem yang khas bergaris-garis. Batik bukan hanya dari daerah Solo, Jogya dan Pekalongan tetapi juga Lasem di Kabupaten Rembang yang berbatasan dengan Jawa Timur. Tepuk tangan buat Rembang.

 

Persembahan Kota Salatiga

            Beksan Jurit Ampil menggambarkan salah satu laskar putri Raden Mas Said yang bergelar Pangeran Samber Nyawa. Jangan dianggap menakutkan, putri-putri penari Jurit Ampil memakai kebaya putih lengan pendek membawa gendewa panah dan cundrik dan menari penuh keanggunan. Mahkota janur menghiasi rambutnya. Selamat Salatiga.

 

Persembahan Kabupaten Semarang

            Kabupaten Semarang yang berbatasan dengan Salatiga menampilkan pasuka Samber Nyawa dengan naik kuda kepang dan pengawal yang membawa tombak dan tameng. Tepuk tangan pengunjung memberi semangat.

 

Persembahan Kota Semarang

            Tari Warak Dugder. Mengiringi Patung warak sekelompok gadis berpakaian Encim putih biru melenggang lenggok dengan manisnya. Asal kata Dug Der adalah suara bedug Dug Dug dan suara merian Dher. Campuran budaya Islam, Jawa dan Cina melatar belakangi seni ini. Tepuk tangan buat Kota Semarang.

 

Persembahan Kabupaten Sukoharjo

            Tari Prajurit Bumi Rumekso merefleksikan masyarakat pada masa prakemerdekaan. Pasukan putri bersenjatakan panah dan Pasukan pria bersenjatakan toya mempertahankan bumi pertiwi. Gerak yang sederhana namun tegas menjiwai tari ini. Terima kasih Sukoharjo.

 

Persembahan Kota Surakarta

            Tari Kuncaraning Batik Solo memukau semua hadirin. Semua penari membawa bermacam-macam batik. Gerak tari yang gemulai dan kompak sangat indah sekaligus mempromosikan nama motif kain batik. Pada zaman dulu motif batik seperti sebuah yantra, alat afirmasi bagi pemakainya. Luar biasa seluryh penonton memberikan applaus luar biasa.

 

Persembahan Kabupaten Tegal

            Tari Kuntulan adalah gerak pencak silat yang diwujudkan dalam tarian. Semangat penari membangkitkan gelora semangat penonton. Terima kasih Kabupaten Tegal.

 

Persembahan Kota Tegal

            Menampilkan Tari Kuntulan juga. Tari Kuntulan memang kesenian daerah di sekitar Tegal. Ketegasan dalam keindahan. Musik yang dinamis sessuai dengan jiwa anak-anak muda. Tepuk tangan buat Kota Tegal.

 

Persembahan Kabupaten Temanggung

            Tari Topeng Ireng yang dinamis sangat indah dan membuat para penonton memberi tepuk tangan riuh rendah. Selamat Temanggung.

 

Persembahan Kabupaten Wonogiri

            Kethek Ogleng. Kisahnya menceritakan seekor kera jelmaan Raden Panji dalam mencari Dewi Sekartaji yang menghilang dari istana. Tarian yang lucu dtarikan oleh puluhan pemuda berkostum bak Hanuman. Dilanjutkan kera-kera kecil lucu yang dimainkan anak-anak kecil dengan sangat Jenaka. Ada beberapa orang yang membawa tangga tertutup dedaunan untuk kera kecil memanjat. Dan akhirnya dari kerimbunan dedaunan muncullah kera besar lebih dari 3 meter. Luar biasa. Selamat Wonogiri.

 

Persembahan Kabupaten Wonosobo

            Putri Sima yang bijaksana danh cantik jelita sangat dicintai rakyatnya. Datang pasukan raksasa dan singa barong yang mencaplok penduduk desa. Suasana mencekam ini diujudkan dalam tarian yang indah dan seorang penduduk betul-betul masuk mulut singa barong. Sebuah bunga teratai besar yang masih kuncup dipandu 4 orang mendekati Singa barong. Kemudian kelopak bunga tersebut membuka dan keluarlah Putri Sima yang disambut applaus hangat para penonton.  Akhirnya Puteri Sima turun tangan mengalahkan mereka. Selamat buat Wonosobo.

 

Penutup

            Dalam diri kita terdapat sifat genetik leluhur yang diturunkan dari kakek ke orang tua ke anak ke cucu, terus menerus sampai kita. Dalam diri kita terdapat genetik para Pahlawan Sriwijaya dan Majapahit. Dalam diri kita terdapat DNA yang menyatukan kita. DNA Nusantara. Budaya yang cocok dengan DNA kita akan menenangkan diri kita. Usaha kita membawa budaya luar membuat risih DNA kita, ada penolakan. Selama berabad-abad tanaman dari bumi Nusantara telah mempengaruhi DNA kita. Bukan tanaman dari negara empat musim maupun dari padang pasir.  Warga Nusantara yang makanan pokoknya bukan lagi hasil dari bumi Nusantara akan terpengaruh karakter dirinya. Apakah kita harus melihat parade gadis berbikini dengan berbagai bunga ditubuhnya atau parade wanita bercadar dengan hanya kelihatan matanya tanpa suara musik apa pun? Tidak apa-apa juga, mungkin dalam DNA seseorang tercampur DNA dari luar, tetapi tidak usah mempengaruhi yang lainnya, dan tidak usah terpengaruh oleh yang lain. Biarlah semuanya beraneka ragam. Bhinneka Tunggal Ika. Sudah waktunya kita bangkit. Kemaslah budaya nenek moyang dengan cara kini, wahai para seniman Nusantara. Ibu Pertiwi mengharapkan hasil karyamu.

 

Triwidodo

Agustus 2008. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: