Buddha, Dharma dan Sangha Melalui Pengelolaan Pikiran

Otak manusia
Otak manusia mempunyai berat sekitar 2 % dari tubuh, tetapi memerlukan pasokan darah sekitar 15 % serta oksigen 20-25 % dari keseluruhan yang berada dalam tubuh. Seperti halnya seluruh sel tubuh yang berjumlah sekitar 80 trilyun, yang kesemuanya memerlukan sari makanan dan oksigen yang dipasok lewat darah, dan mengeluarkan limbah proses oksidasi lewat darah, demikian halnya dengan otak manusia. Penyumbatan darah ke otak 15 detik akan menyebabkan seorang dalam keadaan koma, dan apabila kejadian tersebut lebih dari 4 menit akan mengakibatkan kerusakan permanen otak.
Otak sangat erat kaitannya dengan jantung sebagai organ pemompa darah. Ketenangan di jantung akan membawa ketenangan di otak. Napas yang tenang akan membuat jantung menjadi tenang dan otak juga akan menjadi tenang. Kita mengatakan rasa, hati nurani, terletak di dalam dada sedangkan pikiran terletak di dalam otak. Ucapan dan tindakan manusia bersumber dari pikiran dan perasaan, sedangkan Kesadaran melampaui pikiran dan perasaan dan dapat mengelola keduanya.

Pikiran yang bebas, terbuka, reseptif dan selaras dengan alam
Iklan Baliho di jalan berusaha mempengaruhi kita, dan kalau kita tunduk tanpa reserve, ucapan atau pesannya akan direkam otak kita dan akan mempengaruhi tindakan kita, sehingga kita disebut manusia korban iklan. Fatwa suatu lembaga juga berusaha mengatur kita, demi kebenaran mestinya. Apabila kita hanya menerima secara membuta kita tidak berkuasa lagi atas pikiran kita. Nabi meminta kita meminta fatwa dari hati nurani, biarlah hati nurani yang memilah, menyaring dan menyampaikan ke pesan ke otak untuk direkamnya. Kalau kita menjadi penguasa otak, kita dapat memilah, menyaring dan menyampaikan informasi yang kita anggap valid ke otak. Apabila dalam bernapas kita dapat menerima oksigen, memproses oksidasi dan membuang limbahnya, dalam hal berpikir informasi yang masuk otak dapat terekam dan akan mewarnai hidup kita. Sudah seharusnya kita menjadi penguasa otak dan tidak membebek terhadap informasi yang tidak benar yang akan merasuki pikiran kita.

Buddha, Dharma dan Sangha pemikiran
Kita sadar akan adanya Kebenaran, yang juga disebut Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang melampaui pikiran. Kesadaran adalah Dia yang bersemayam dalam pikiran, dalam perasaan dan dalam semua yang terbentuk dari unsur alami. Pikiran, perasaan dan semua unsur alami disebut Kshetra, lapangan, wadah, sedang yang bersemayam disebut Kshetrajna. Kita selalu menganggap Kshetra itu sebagai identitas diri padahal Diri Sejati itu Ksehetrajna yang bersemayan dalam Kshetra. Dan karena Kshetra itu bersifat alami maka mempunyai tiga sifat: tenang; agresif; atau malas-malasan.
Untuk menjaga Kesadaran, kita perlu melakukan Dharma, tindakan penuh kesadaran setiap saat. Tindakan yang berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Setiap tindakan akan membuat perubahan dalam synap saraf otak, dan setelah menjadi kebiasaan synap sarafnya akan menjadi semakin stabil dan ketika sudah menjadi perilaku synap sarafnya sudah menjadi lebih permanen. Nabi mengatakan setelah perang Badar, kita akan mengalami perang lebih besar, berjuang untuk bertindak penuh kesadaran. Bertindak penuh kesadaran dalam Surat Wal Ashri, disebut melakukan Amal Shaleh, melakukan Kebenaran dan Sabar dalam pelaksanaan hal tersebut. Leluhur kita memberi petuah Rame ing Gawe Sepi ing Pamrih, ramai beramal dan tidak mengharapkan hasil akhir. Hasil tidak perlu dipikirkan dan akan muncul otomatis sebagai akibat ikutan dari proses beramal.
Support group diperlukan, agar Kesadaran kita tidak menurun dan tindakan penuh kesadaran tidak terganggu. Vibrasi pikiran dan informasi yang masuk diusahakan dari teman-teman seperjalanan yang mempunyai visi misi yang sama. Dalam menentukan support group tidak hanya berdasarkan pandangan seumat saja yang berbagai pikiran dan tindakannya belum tentu selaras, tetapi harus dari mereka yang selalu melakukan Amal Shaleh, bertindak dengan mendasarkan Kebenaran dan Sabar dalam melakukan hal tersebut.

Menjaga kesadaran
Yang Mulia Atisha bertanya kepada Gurunya Yang Mulia Dharmakirti dari Suwarnadwipa, bagaimanakah cara yang mudah dan sederhana untuk melepaskan diri dari hukum sebab akibat. Yang Mulia Dharmakirti menjawab agar kita Sadar dan dapat Mengasihi dan Memaafkan. Kita Sadar, bahwa seseorang bertindak tidak baik terhadap kita karena kita pun pernah berbuat tidak baik. Membalas hal tersebut akan menanam benih baru yang akan menimbulkan sebab baru. Maafkan dengan penuh kasih dan selesai. Untuk itu kita perlu selalu sadar; melakukan tindakan setiap saat penuh kesadaran; dan berteman dengan teman-teman yang bertindak penuh kesadaran. Terima kasih Guru.

Triwidodo
Agustus 2008.

Iklan

BG Bab 5 Teks 18-29

Text 19
Even in this world rebirth can be conquered by keeping alive an impartial mind. Just as the Absolute is faultless and impartial so will those who conquer rebirth , become established in the Absolute.
Teks 19
Segala macam duka lenyap bagi mereka yang mencapai Kesadaran Tinggi dan melihat “Sang Aku” yang sejati ini dalam diri setiap makhluk.

Text 20
One who knows the Absolute and whose and whose intelligence is fixed on the Absolute is not moved to pleasure or pain by pleasant or unpleasant happenings.
Teks 20
Seseorang yang selalu berada dalam Kesadaran Tinggi ini tidak akan kehilangan keseimbangan diri dalam suka maupun duka.

Text 21
Unconcerned about sense pleasures, one who find joy in the self, united with God in yoga, attains boundless happiness.
Teks 21
Tanpa keterikatan dengan dunia luar, ia memperoleh kebahagiaan yang btak terhingga, dari dirinya sendiri.

Text 22
O son of Kunti the wise don’t rejoice in sensual pleasure they know that these have a beginning and end very soon. They know that sense pleasures are the birth place of pain.
Teks 22
Wahai putera Kunti, Kesenangan-kesenangan yang kita peroleh dari benda-benda duniawi bersifat sementara, karena benda-benda duniawi yang memberikan kesenangan itu sendiri bersifat sementara.

Text 23
A person in this world who can tolerate the agitation that arises from desire and frustration untill he is liberated from the body is fixed in yoga. He is happy , he is a human being.
Teks 23
Ia yang berhasil mengatasi keinginan-keinginannya dan mengendalikan inderanya adalah seorang yang patut disebut Yogi, ialah yang selalu bahagia.

Text 24
The yogi who is able to delight in the joy within and is enlightened within is the one firmly established in self realisation . Such a person attains cessation of material existence and attains Brahman.
Teks 24
Ia yang menikmati kebahagiaan yang berasal dari dirinya sendiri dan memperoleh Pencerahan akan jati-dirinya sesungguhnya menyatu dengan Kesadaran Tertinggi itu.

Text 25
It is the seers who with their sins washed away , doubts cleared and firmly in the control of their self and those who live for the welfare of others who attain Brahman.
Teks 25
Orang bijak menghapuskan dosanya, menjernihkan keraguan, kokoh dalam pendirian dan menyejahterakan yang lain.

Text 26
Those who are able to exersise control over their minds, those who know the self and those who renounce all desires and emotion attains Brahman both in this world and the world after.
Teks 26
Ia yang telah menenangkan pikirannya, mengendalikan nafsu dan amarahnya menyadari kehadiran Tuhan di mana-mana.

Text 27-28
The way to attain liberation is to concentrate on the area between the two brows, equalising one’s inhalation and exhalation , controlling the sense , mind and the self and giving up anger.
Teks 27-28
Ia yang telah mengendalikan panca inderanya, pikiran serta inteleknya – yang telah meninggalkan segala macam keinginan, rasa takut dan amarah dan tidak terpusatkan pada benda-benda duniawi – hendaknya mengalihkan kesadarannya ke tengah-tengah kedua alis matanya, dan memperhatikan nafas yang keluar serta nafas yang masuk. Demikian ia akan mencapai Kesadaran yang Tertinggi itu.

Text 29
When one realises that I am the one who enjoys the results of all sacrifices and penances, and the one who controls everything in this world one can attain peace.
Teks 29
Kenalilah “Aku” sebagai Penerima segala macam persembahan dan tujuan akhir dari segalanya. Ketahuilah bahwa “Aku” adalah sahabatmu yang sejati. “Aku” pula yang menguasai alam semesta ini. Demikian kau akan memperoleh kedamaian.

BG Bab 5 Teks 10-18

Text 10
Just as lotus leaf remains untouched even when lying inside water, a person who works without having any attachment towards his actions and ascribes them to brahman, remains untouched by evil.
Teks 10
Bagaikan daun bunga teratai yang berada di atas air dan tidak dapat dibasahi oleh air, begitu pula ia yang berkarya tanpa keterikatan dan menganggapnya sebagai persembahan, hidup tahpa noda dan tidam tercemar oleh dunia ini.

Text 11
Karma yogis act with the body, mind, intelect and senses only for the purpose of purification , for they have abandoned any kind of attachment.
Teks 11
Ia yang bijak melepaskan segala macam keterikatan dan bekerja dengan raga, pikiran, intelek serta panca inderanya, hanya untuk membersihkan dirinya.

Text 12
A person who is disciplined in karma-yoga, renounces the fruit of action and attains ultimate peace. A person who doesn’t practise karma-yoga remains attached to the fruits of his labour and is entangled by his actions.
Teks 12
Ia yang bijak tidak mengharapkan sesuatu dari pekerjaannya, demikian ia memperoleh ketenangan jiwa. Sebaliknya ia yang tidak bijak selalu mengharapkan hasil akhir dari apa yang ia lakukan, sehingga tetap saja terikat.

Text 13
Mentally renouncing all actions, the embodied one happily resides with self control in the city of nine gates, neither acting nor causing action to be performed.
Teks 13
Ia yang bijak selalu dalam keadaan tenang dengan pengendalian diri dari raga (kota dengan sembilan gerbang) karena ia bekerja tanpa keterikatan apa pun.

Text 14
The lord neither creates a person’s agency of action nor his actions nor even the result of the actions. All this is done by a person’s conditioned nature.
Teks 14
Tuhan sebenarnya tidak menyebabkan adanya keterikatan kita dengan dunia ini. Yang menyebabkannya adalah sifat alam ini.

Text 15
The all knowing God is not responsible for anyone’s good or evil actions. Human beings are deluded because their knowledge is covered by ignorance.
Teks 15
Tuhan tidak memperhatikan kebaikan ataupun keburukan orang; dimata-Nya tidak ada dosa. Pengetahuan Sejati tentang diri kita ini tertutup oleh tirai kebodohan dan makhluk-makhluk hidup terjebak olehnya.

Text 16
The knowledge which repels all ignorance about the self also reveals like a shining sun, one’s true relationship with God.
Teks 16
Ibarat cahaya matahari, Pengetahuan Sejati menerangi mereka yang telah berhasil mengatasi ketidaktahuannya dan memperlihatkan keberadaan Kesadaran Tinggi dalam diri mereka.

Text 17
Those whose mind and faith are in god whose sin is cast off by their knowledge and devotion to God, go to a place where there is no rebirth.
Teks 17
Mereka yang selalu berada dalam Kesadaran Tinggi ini, akhirnya menyatu dengan-Nya dan terbebaskan dari segala macam noda oleh Pengetahuan Sejati yang telah mereka peroleh.

Text 18
For the wise a learned and cultured brahmana , a cow , an elephant, and even a dog or dog eater is the same.
Teks 18
Bagi mereka yang telah memperoleh Pengetahuan Sejati ini, hewan dan manusia semuanya sama. Mereka yang berpendidikan tinggi dan mereka yang rendah derajatnya bagi mereka sama sekali tidak berbeda.

BG Bab 5 Sanyas Yoga Teks 1-9

Chapter 5 Yoga of renunciation with knowledge

 

Bab 5 Sanyas Yoga

 

Text 1

Arjuna said: O Kesava , on the one hand you advocate abadonment of action and on the other you encourage yoga. Tell me with unambigous clarity, which is better of the two?

Teks 1

Arjuna bertanya: Wahai Kesava (Krishna) di satu pihak kau menganjurkan pelepasan keterikatan, di pihak lain kau menganjurkan agar aku berkarya. Jelaskanlah padaku, apa yang sebenarnya harus kau lakukan?

 

Text 2

The lord of Sri said: Both abandonment of action and selfless action lead to boundless happiness. However, of two,selfless action is better.

Teks 2

Krishna menjawab: Melepaskan diri dari pekerjaan dan tetap bekerja, kedua-duanya dapat membuat kita merasa bebas, namun di antara kedua sikap ini, tetap bekerja lebih unggul.

 

Text 3

A person free of both hatred and desire is always renounced. Indifferent to dualities, he is freed from all bondage and easily attains liberation.

Teks 3

Seseorang yang tidak benci lagi, tidak punya keinginan-keinginan lagi sesungguhnya terbebaskan dari segala macam keterikatan.

 

Text 4

Only ignorant and childish people think that life of the contemplation and a life of selfless action are different. But in reality both yield the same result to the person following either.

Teks 4

Mereka yang tidak bijak menganggap bahwa pencapaian pencerahan lewat jalur pengetahuan dan lewat jalur pekerjaan itu merupakan dua hal yang berbeda. Sesungguhnya, apabila seseorang menekuni salah satu di antaranya, ia akan memperoleh hasil ganda.

 

Text 5

Contemplative life and karma yoga are one and the same and take one to the same destination. One who perceive this sees things as they are.

Teks 5

Hasil akhir yang dicapai oleh mereka yang melewati Jalur Pengetahuan dan oleh mereka yang melewati Jalur Pekerjaan sebenarnya satu dan sama. Ia yang memahami hal ini, melihat sebenarnya,.

 

Text 6

Yet, abandoning action without yoga is difficult, o Arjuna. And the sage who is practised in yoga, quickly attains the Absolute.

Teks 6

Wahai Arjuna, melepaskan diri dari keterikatan tidak mudah bagi mereka yang belum mendapatkan ketenangan jiwa. Sebaliknya ia yang telah mencapai ketenangan dan keseimbangan lewat meditasi dengan mudah dapat melepaskan dirinya dan mencapai Kesadaran Tinggi.

 

Text 7

One who practises yoga and is thus able to control senses conquers his mind and with purified inteligence is able to attain oneness with the self and remains free and un-entangled even when in action.

Teks 7

Ia yang telah mencapai ketenangan dan keseimbangan jiwa menyadari adanya persatuan antara “Aku” yang bersemayam dalam dirinya dan “Aku” yang bersemayam dalam diri setiap makhluk. Demikian walaupun ia berkarya, ia tetap juga tidak terikat pada apa pun.

 

Text 8-9

A person who is steadfast in yoga knows things as they are. He thinks that “I am not doing anything , even while I see , hear, touch, smell, eat,walk ,sleep ,breathe ,talk, evaluate , accept things and even blink my eyes, it isn’t me who does all this but sense that are doing these”.

Teks 8-9

Ia yang bijak menyadari bahwa yang terlibat dengan benda-benda duniawi hanyalah panca inderanya. Sebenarnya “Ia” tidak terlibat.