Antara Makhluk Tuhan yang Paling Seksi dan Padamu Negeri


 

Gubernur Baru

Setelah dilantik Mendagri Mardiyanto pada tanggal 25 Agustus 2008, pada saat apel pagi, Pak Bibit, Gubernur Jawa Tengah yang baru, mengungkapkan rasa prihatin atas lunturnya nasionalisme bangsa Indonesia. Anak-anak sekarang lebih menyukai tembang populer “Makhluk Tuhan yang paling Seksi”dari Mulan Jameela atau “Lelaki Buaya Darat” dari Maia dari pada lagu-lagu perjuangan. Pak Gubernur berencana setiap sekolah mulai SD, SMP sampai SMA di Jawa Tengah akan memperdengarkan lagu perjuangan “Halo-Halo Bandung”, “Padamu Negeri” dan yang lainnya setiap pagi. Para tukang kebon nantinya diberi tugas khusus untuk menyetel kaset atau kompak disk setiap pagi. Setiap Senin di seluruh instansi juga wajib mengadakan upacara bendera untuk menanamkan jiwa nasionalisme. Ada tiga kekuatan yang menjaga NKRI tetap tegak, yakni TNI, Polri dan Korps Pegawai Negeri. Faktanya Provinsi Jawa Tengah merupakan benteng Pancasila dan kenyataan itu harus dipertahankan.

 

Pengaruh lagu terhadap kehidupan manusia

Lagu mempunyai sifat universal dan dapat merasuk ke dalam hati sanubari. Kalau lagu “Makhluk yang paling Seksi” diulang-ulang dan diterima diri, lagu itu akan masuk bawah sadar dan menjadi bagian permanen di dalamnya. Informasi bahwa diri makhluk terseksi ini akan mewarnai kehidupan pendengar setianya. Untungnya kita ini mempunyai sifat jenuh dan lagu populer akan terdesak kedalam rak pengingat oleh lagu-lagu populer baru. Repotnya, kalau lagu yang baru pun selalu bernuansa sama dan penampilan penyanyi di televisi hampir sama, atau bahkan semakin “berani”. Informasi yang tersimpan semakin menebal, dan jelas hal tersebut akan mempengaruhi diri kita. Mereka yang puritan, tidak akan mau mendengarkan lagu, sehingga menutup diri dari pengaruh luar. Tetapi kalau di sumbernya, di pikirannya masih belum jernih, masih dipenuhi nafsu, maka dalam situasi kondusif nafsunya akan meledak juga. Sebetulnya kita itu penguasa pikiran, karena kita bisa menolak merekam informasi yang akan merugikan diri. Tetapi karena “iklan” itu begitu lihai, merasuk pelan-pelan, kita tunduk juga pada “iklan” dan menjadikan “iklan” sebagai penguasa. Dan, kita menjadi budaknya serta patuh terhadap pesannya. Begitulah caranya kebudayaan luar merembes ke dalam masyarakat kita. Sudah seharusnya para profesional pembuat “iklan” menyadari dan membuat “iklan” yang membangkitkan kecintaan pada Indonesia. Kata “iklan” di sini adalah sesuatu hal yang menarik perhatian pemirsa, yang didukung oleh sponsor untuk meresapkan suatu produk ke dalam bagian bawah sadar. Iklan pun sesuatu yang netral, tidak selalu negatif tergantung kesadaran si pembuatnya.

 

Membangkitkan potensi kejuangan di dalam diri

Dalam DNA kita, terdapat potensi genetik yang diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang kita. Genetik nenek moyang kita di zaman Sriwijaya dan Majapahit yang penuh kejuangan masih ada dalam DNA kita. Lagu-lagu perjuangan “Halo-Halo Bandung” dan “Padamu Negri” yang berulang-ulang merasuk diri, dapat membangkitkan semangat kejuangan. Upacara bendera secara rutin dapat memunculkan potensi genetik nenek moyang, ketika leluhur kita mengibarkan bendera dan umbul-umbul “Gula Kelapa”. Jati diri kita adalah Indonesia, potensi keindonesiaan ada dalam diri kita.

Lagu-lagu juga mempunyai berbagai irama yang dapat mempengaruhi diri kita. Setelah mendengar lagu klasik yang meditatif selama 5 menit dicoba untuk mengukur detak nadi, dan hasilnya detak nadi menjadi tenang. Kemudian setelah mendengar lagu cadas yang keras selama 5 menit diukur detak nadinya, dan ternyata nadinya berdetak lebih cepat. Lagu mars perjuangan membuat semangat pengabdian terhadap bangsa.

 

Penguasa pikiran

Setelah kita sadar adanya pengaruh luar terhadap diri, maka kita harus selektif dalam menerima informasi. Jangan biarkan “iklan” luar menguasai kita, juga jangan biarkan nafsu indera, yang penuh keserakahan dan kemalasan mempengaruhi kita. Biarlah hati nurani tenang yang menguasainya. Sudah menjadi sifat alam: ada yang tenang; ada yang agresif; dan ada yang malas-malasan yang sifat-sifat tersebut terkandung dalam segala bentuk manifestasi alam. Pikiran dan perasaan termasuk wadah yang bersifat alami. Diri sejati bukan identitas wadah yang bersifat alami. Diri sejati bersemayam di atasnya.

Selamat Berjuang putera-putera Indonesia. Indonesia Jaya.

 

Triwidodo

Agustus 2008

Iklan

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: