Cara Menghadapi Dunia Versi Leluhur Kita


 

Nasehat nenek moyang dalam menjalankan kehidupan di dunia

Diantara banyak nasehat, terdapat ada dua pelajaran dari nenek moyang kita dalam menjalani kehidupan yaitu: mulur mungkret, berkembang-susut; dan sakdurunge ora ana, banjur ana, terus ora ana maneh, dari tak ada, sesaat ada, kemudian tak ada lagi. Dipandang dari sifat alam yang tiga: sattvik, tenang; rajas, agresif; dan tamas, malas-malasan, kedua nasehat tersebut masih valid untuk dijalankan di masa kini.

 

Mekanisme mulur-mungkret memberikan ketenangan hidup

Menurut Ki Ageng Suryamentaram, manusia mempunyai mekanisme kelenturan yang disebut mulur-mungkret, berkembang-susut. Pada waktu keinginan terpenuhi, ada dorongan untuk meningkatkan standar keinginan atau mulur, berkembang. Kalau keinginan tersebut tidak terpenuhi standarnya diturunkan atau mungkret, susut. Seorang anak perjaka mempunyai harapan mempunyai istri yang setia, cantik, cerdas, kaya, penurut. Setelah susah didapat diturunkanlah standarnya sampai mencapai standar yang dapat dicapainya. Misalnya dia mensyukuri pasangannya yang setia dan penurut yang menurut dia sudah cukup sebagai modal untuk diajak bersama mengarungi hidup ini. Seorang karyawan, apabila memungkinkan juga ingin menduduki jabatan yang tertinggi, tetapi dia pun akhirnya akan menerima apa pun yang dicapainya. Seseorang ingin memiliki sedan Mercy Tiger, kemudian karena terbentur-bentur, akhirnya mendapatkan sepeda motor Honda Tiger sudah disyukuri. Selama masih bisa menyadari mulur-mungkret manusia akan menerima dan mensyukuri, demikian menurut Ki Ageng Suryomentaram. Pada waktu seseorang menemui hal yang tidak sesuai dengan keinginannya, dia bisa putus asa, ogah-ogahan, pengaruh dari sifat tamas yang malas-malasan. Bisa juga dia, marah-marah, protes, pengaruh dari sifat alam rajas yang agresif. Penerimaan sesuai mekanisme mulur mungkret menimbulkan ketenangan, sifat alami sattvik, tenang.

 

Segala hal di alam ini hanya ada sesaat saja, tidak selamanya

Sakdurunge ora ana, banjur ana, terus ora ana maneh, dari tak ada, sesaat ada, kemudian tak ada lagi. Jadi, mengapa disedihkan? Sewaktu melakukan napas perut, tadinya perut kempis, tidak ada napas, lalu sesaat nampak menggembung nyata, kemudian kempis lagi, napas tidak ada lagi. Ketika lahir, bayi yang hanya bisa tiduran, selanjutnya dituntun, belajar jalan dan dapat berjalan mantap. Setelah mulai tua, karena sakit, jalan kembali dituntun dan akhirnya hanya dapat berbaring di tempat tidur menunggu waktu ajal. Awalnya kita disuapi, kemudian berkembang sampai dapat makan sendiri untuk akhirnya kita disuapi lagi. Demikian pula sewaktu masih bayi kita tidak punya gigi, dan berkembang sampai punya gigi lengkap, untuk akhirnya seperti nenek-nenek yang sudah kehilangan semua giginya. Sudah menjadi sifat alam nampak nyata hanya sementara, sehingga tidak perlu putus asa, sifat tamas, ataupun stress, sifat rajas ketika kehilangan sesuatu.

 

Pandangan Bhagavad Gita

Sifat alami yang tiga tersebut harus dilampaui, kalau tidak kita hanya seperti bandul bergoyang ke kanan dan ke kiri. Kita harus di atasnya. Pikiran dan perasaan bersifat alami, mempunyai tiga sifat alam yang berbeda proporsinya. Pikiran dan perasaan hanya bersifat sementara, termasuk Kshetra, lapangan, wadah alami sedangkan diri sejati adalah Kshetrajna yang bersemayam pada Kshetra. Pemahaman tersebut harus dilaksanakan sehari-hari sehingga menjadi kebiasaan. Witing tresno jalaran saka kulina, Kasih itu dihasilkan dari kebiasaan.

 

Triwidodo

Agustus 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: