Melepaskan Keterikatan dari Duniawi, Pemahaman dan Prakteknya


 

Lapisan Kesadaran merupakan pengalaman obyektif, sehingga tingkat kesadaran setiap orang akan berbeda karena perbedaan citra, pengalaman, pikiran dan emosinya.

Banyak orang yang mencitrakan dirinya, atau menganggap identitasnya adalah pikiran, rasa dan emosinya. Dan mereka berada pada Lapisan Kesadaran Mental Emosional. Dari persepsinya, mereka tahu bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang abadi. Seperti gelombang lautan yang sekilas nampak untuk berikutnya hilang lagi. Di dunia pun tadinya seseorang tidak nampak, kemudian lahir dan merasa hidup untuk kemudian mati dan tidak nampak lagi. Keterikatan pada dunia ini membuat hidup tidak nyaman, karena segala sesuatu di dunia ini hanya bersifat sementara.

Berdasarkan intelegensinya, seseorang tahu adanya hukum sebab-akibat, bahwa setiap akibat itu pasti ada sebabnya. Setiap buah yang dipetik, pasti merupakan hasil dari suatu benih, walaupun dia telah lupa kapan saat menanamnya. Apa pun yang kita hadapi sesungguhnya adalah buah dari benih yang kita tanam dan telah datang masa panennya. Sehingga rasa apa pun yang melekat padanya, suka atau duka harus di terima. Pada waktu gelap sebelum mendapat penerangan, kita telah menanam benih tanaman berduri, maka setelah datang penerangan, kita dapat memaklumi mengapa di sekeliling kita penuh pohon berduri. Keadaan tersebut dapat kita terima, kita cabuti tanaman berduri yang telah besar dan dengan penerangan yang kita dapatkan, kita mulai menanam lagi dengan penuh kesadaran.

Yang Mulia Guru Dharmakirti Svarnadvippi menasehati Yang Mulia Atisha untuk mengasihi dan memaafkan. Tindakan yang menyakitkan dari seseorang kepada kita adalah buah dari tanaman yang berasal dari benih yang telah kita tanam juga. Apabila kita membalasnya, maka kita akan membuat benih baru, “Kasihi dan maafkan!” dan …… selesai. Demikian seharusnya dalam menjalani hidup ini kita perlu mengasihi dan memaafkan. Kalau pun kita menegur seseorang, itu pun kita lakukan dengan penuh kesadaran dan penuh rasa kasih.

Apabila kesadaran seseorang sudah lebih tinggi, dia tidak menganggap pikiran, rasa dan emosional adalah identitasnya. “Aku” berada di atas pikiran dan perasaan. Maka tindakan apa pun yang terjadi padaku, maka aku dapat menerimanya tanpa gelisah. Yang suka dan duka adalah pikiran dan perasaanku bukan Aku. Aku tidak terpengaruh oleh pikiran dan perasaan. Aku adalah penguasa dari pikiran dan perasaanku.

Masalahnya adalah bagaimana menjaga kesadaran tersebut tetap eksis setiap saat. Bagaimana pun Aku berada di dunia ini karena mempunyai fisik, mempunyai energi hidup, mempunyai pikiran dan perasaan. Pemahaman diri bahwa Aku bukan fisik, bukan pikiran dan bukan perasaan tersebut harus diimplementasikan dengan penuh kesadaran setiap saat. Dan itu berarti kita harus hidup berkesadaran. Suatu hal yang memerlukan perjuangan yang gigih sepanjang masa. Pemandu telah berusaha dengan penuh kasih untuk meningkatkan kesadaran dan terus memandu agar kita dapat menjalani hidup berkesadaran, Support Group mendukung agar kesadaran kita tidak merosot lagi. Terima kasih Guru dan terima kasih sahabat-sahabatku.

 

Triwidodo

1 September 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: