Mutiara Quotation SAPTAPADI, 7 Steps toward a happy marriage

Judul              : SAPTAPADI, 7 Steps toward a happy marriage

Pengarang      : Anand Krishna

Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan          : 2006

Tebal              : 236 halaman

 

Mutiara Quotation SAPTAPADI, 7 Steps toward a happy marriage

 

            Pada tanggal 18 Agustus 1945 dua orang pengikut Mahatma yang berbeda agama melakukan perkawinan di Ashram beliau. Perkawinan semacam itu memang tidak dilarang di India ketika India masih dijajah Inggris, maupun setelah kemerdekaannya. Perkawinan lintas agama dengan memberikan kebebasan penuh kepada masing-masing pihak untuk tetap menjalani agamanya malah difasilitasi oleh Kantor Catatan Sipil, dan disebut Civil Marriage.

            Mahatma Gandhi sadar betul bahwa hal itu tidak melanggar nilai-nilai budaya yang telah mengakar di wilayah peradabannya, wilayah peradaban Sindh, yang oleh petapa Cina disebut Shintu, Shin atau Syin, oleh sejarawan Arab disebut Hind, dan oleh bangsa-bangsa Eropa disebut Indies, Indische, Indo, India.

            Dari budaya asal itulah kita mewarisi Saptapadi, Tujuh Langkah Menuju Kebahagiaan Hidup, Kebahagiaan Berumahtangga. Warisan milik Anda ini saya kembalikan kepada Anda, semoga berkenan.

Baca lebih lanjut

RUU Pornografi dan Hubungannya dengan Keutuhan NKRI

 

Sore itu Lik Darmo, seniman yang berambut sebahu itu bersilaturahmi ke rumah Pakdhe Jarkoni, kebetulan Pakdhe Jarkoni sedang keluar , maka dia ditemui oleh Wisnu, mahasiswa keponakannya, yang sedang nggethu, serius membaca Kompas.

 

Lik Darmo: Bagaimana pendapat dik Wisnu, sebagai mahasiswa terhadap UU Pornografi?

 

Wisnu: Lik Darmo, saya sangat gregeten, darah saya naik, apa mereka yang berusaha mengegolkan RUU ini, tidak melihat kondisi negara kita? Hampir semua bidang telah dikuasai Perusahaan Multi Nasional, mental korupsi dan suap kita begitu parah, mengapa pada saat kritis begini malah membuat suasana menjadi semakin tidak kondusif?

 

Lik Darmo: Maksud dik Wisnu, kita tidak tahu mana masalah yang lebih urgent? Salahnya apa dik?

 

Wisnu: Mohon maaf Lik Darmo, saya mahasiswa berdarah muda, tidak seperti Pakdhe yang berjiwa kasepuhan, orang tua. Minimal kesalahannya: 1. Prosesnya menyalahi pembentukan undang-undang yang terbuka dan menghargai aspirasi umum; 2. Komentar-komentar para politisi yang bernada mengancam mengarah pada rezim otoriter bertabir agama dan moralitas; 3. Semangatnya melukai prinsip-prinsip kehidupan bersama sebagai bangsa, bahkan telah membelah publik kedalam dua kutub yang sulit dipertemukan; 4. Mengesampingkan persoalan besar bangsa, korupsi dan suap yang parah, tanggung jawab bangsa yang kurang, neokolonialisme lewat perusahaan mutinasional; 5. Mengancam perkembangan industri kreatif.

 

Lik Darmo: Saya dukung dik Wisnu, demi kepentingan politik sesaat, sebagian pemimpin mengabaikan keutuhan dan kelestarian sebuah bangsa. Pornografi memang bisa menjadi sosial problem, namun bukan problem nasional. Saya juga menentang pornografi, tetapi RUU tersebut akan menyeragamkan nilai-nilai yang mengancam pluralitas bangsa. Mengatur moralitas individu berdasarkan persepsi moralitas tertentu.

 

Wisnu: Iya Lik Darmo, Adat istiadat dan ekspresi yang berbeda di Nusantara sudah ada sebelum agama-agama datang dan menjadi bagian inheren dari kehidupan masyarakat Nusantara. DNA rakyat Indonesia mempunyai persambungan dengan DNA nenek moyang Sriwijaya dan Majapahit yang diturunkan melalui generasi penerus, berkelanjutan sampai dengan kita. Peraturan yang tidak sesuai dengan jati diri kita, keindonesiaan kita, tidak akan membuat kita tenang. Saya baru saja selesai membaca Buku Terjemahan The History of Java tulisan Thomas Stamford Raffles, apa yang ditulis dengan lengkap pada tahun 1800-an, 200 tahun lalu, masih terasa kebenarannya sampai saat ini. DNA kita belum banyak berubah.

 

Lik Darmo: Saya sering mendengar kondisi rapat-rapat di DPR, rapat-rapatnya sering tidak mencapai kuorum, jumlah absen mungkin memenuhi, tetapi jumlah kepala yang hadir tidak sebanyak itu. Diantara mereka yang kita pilih pun banyak yang silent majority, diam demi kenyamanan diri, karena berada dalam comfort zone. Tidak sadarkah mereka, pada hari pembalasan nanti, hari dimana mulut kita dikunci, dan anggota tubuh menyampaikan pertanggungan jawab dengan sejujurnya? Karena ulah mereka bangsa kita semakin tercerabut dari akarnya?

 

Wisnu: Betul Lik Darmo, materi RUU Pornografi menegaskan tubuh perempuan adalah obyek perangsang laki-laki. Jadi siapa yang sebenarnya porno????

 

Triwidodo

September 2008.

Saatnya Kaum Moderat Keluar Pagar

 

Anand Krishna

 

Sam Harris, penulis The End of Faith, memperingatkan kita soal kaum moderat, dan saya setuju sekali dengannya. Kaum moderat hidup dalam keadaan limbung. Mereka tak di sini, tidak juga di sana. Mereka bingung menentukan mana yang benar dan yang tidak.

 

 

Lihat saja kaum moderat di negara kita. Mereka menjadi bagian dari kelompok pasif silent majority. Dalam siaran radio baru-baru ini, pengacara senior Adnan Buyung Nasution menyayangkan kecuekan mereka terhadap kesewenangan negara. Kita menghadapi soal krusial seputar kebebasan beragama dan berkeyakinan, amandemen serampangan konstitusi kita, penghancuran budaya dan warisan leluhur kita – mereka tidak bersuara menyaksikan politik luar negri yang keluar jalur dan industri kita yang secara sistematis dijajah, pelan tapi pasti akan mati.

 

Menyikapi soal dumping kain batik dari China, Kabinet kita terbelah. Satu pihak melihat itu bukan ancaman karena China tak bisa mencuri motif kita; pihak lain memprihatinkan dampak dumping terhadap industri lokal.

 

Di antara dua kubu tersebut, ada kelompok besar yang tetap diam. Mereka tak peduli kalau para importir dan pengusaha kita yang menjadi pengkhianat dengan menghancurkan industri lokal. Mereka tidak ambil pusing kalau pajak kita, petugas bea cukai menjadi calo dan kehilangan rasa nasionalisme dari sisi ini.

 

Mari kita tak terperdaya oleh mentri kita yang sangat pintar mengatakan China tak bisa meniru motif kita. Masalahnya kita orang awam yang tak sepintar anda Tuan. Sebagian besar dari kami bahkan tak bisa membedakan antara motif Surakarta dan Yogyakarta. Kita juga tak tahu motif apa yang hanya pantas dipakai kaum bangsawan, dan mana yang untuk rakyat jelata seperti kami. Bagi kami, batik ya batik. Dan kami tidak tahu apakah kemeja atau blouse yang kami beli buatan lokal atau kain impor.

 

Tuan, mohon bergabung dengan teman-teman Anda yang menganggap batik China sebagai ancaman terhadap industri kecil di Pekalongan dan tempat lainnya. Lakukan dialog dari hati ke hati dengan mereka. Tuan, pernyataan anda terlalu naif, dan kami tak tahu ada alasan apa di baliknya.

 

Masalah krusial lainnya ialah konstitusi kita. UUD 1945 telah secara serampangan diamandemen – sehingga membatasi ideologi negara menjadi sekedar prase. Siapa peduli Pancasila? Setelah sekian lama, Presiden kita akhirnya menyadari ancaman disintegrsi bangsa yang disebabkan oleh amandemen semacam itu.

 

Beliau menunjuk komisi khusus untuk mengkaji hal tersebut. Tapi siap yang duduk di komisi itu? Siapa anggotanya? Apakah mereka berkomitmen penuh pada Pancasila, yang berakar dari budaya kita sendiri? Atau loyalitas mereka semu? Barangkali mereka sama sekali tak peduli pada warisan leluhur kita, dan lebih bersimpati dengan budaya asing.

 

Koran ini baru saja memuat dua artikel di halaman yang sama. Satu tentang rencana pengesahan RUU Pornografi yang didukung salah satu partai; satunya lagi tentang pemerintah Saudi yang menyetujui pemutusan saluran televisi karena menyiarkan tayangan yang “dianggap” immoral.

 

Berapa banyak dari kita sungguh tahu implikasi pengesahan RUU Pornografi? Berapa banyak dari kita peduli pada dampak-dampak tersebut? Mereka yang menolak RUU ini sering disalahpahami sebagai pendukung pornografi.

 

Tidak, kami tidak mendukung pornografi, tapi kami menolak RUU ini. Kita sudah memiliki peraturan, regulasi, hukum dan KUHP untuk mengurusi soal tersebut. Kita tak membutuhkan UU yang memuat difinisi dari segerombolan orang tentang apa yang dianggap pornografi.

 

Saya sudah berkali-kali membaca draft yang diajukan, dan melihatnya sebagai ancaman besar terhadap budaya, peninggalan leluhur, dan tradisi masa silam kita. Kita tidak, saya mengulanginya dengan garis bawah dan huruf besar TIDAK menganggap sex sebagai dosa. Kita memiliki teknik bagaimana, pengetahuan, dan teknologi untuk mentransformasi energi seksual menjadi energi spiritual. Para sarjana kita kita di Sukuh dan Ceto menjadi saksi tradisi dan kebijaksanaan leluhur di masa silam.

 

Mereka yang menyusun rancangan undang-undang ini jelas tak menyadari kekayaan khasanah kearifan lokal kita. Presiden pertama kita, Bung Karno, membangun Monumen Nasional (MOnas) sebagai pembadanan kebijaksanaan tersebut. Ini simbol modern dari lingga dan loni, organ kelamin laki-laki dan perempuan, mewakili kemampuan mencipta kembali. Brosur yang dikeluarkan Dinas Pariwisata Jakarta memaparkan visi bapa bangsa kita tersebut dengan jelas sekali.

 

RUU Pornografi, jika disahkan, dapat menganggap segala sesuatu porno. Tarian kita, seni kita, penari kita dan artis-artis kita – semuanya dapat terjerat pasal pornografi dan dikategorikan sebagai perbuatan mesum. Jika UU ini disahkan, negara kita akan tercerabut dari akar budaya dan identitas nasionalnya. Kita akan menjadi seperti negara Saudi Arabia, dan semua orang tahu partai politik mana yang akan menarik keuntungan dari perubahan budaya dan ideologis semacan ini.

 

Diplomat kita benar-benar bingung. Beberapa dari mereka bahkan mengatakan negara kita sebagai Negara Muslim yang sopan. Betulkan demikian? Kita memang memiliki penduduk Muslim terbesar, tapi kita jelas bukan Negara Islam.

 

Saya menyerukan kepada pemerintah saat ini agar belajar dari kesalahan masa lalu. SKB 3 Mentri soal kelompok Ahmadiyah tak menyelesaikan masalah sama sekali. Bahkan justru menambah masalah. Dengan menyalahtafsirkan keputusan tersebut, setidaknya seorang gubernur sudah mencekal kelompok ini dan itu menurut pendapat pengacara senior Adnan Buyung Nasution terdahulu melanggar konstitusi. Manuvernya tak sejalan dengan semangat undang-undang. UU Pornografi juga akan menambah masalah bagi kita.

 

Saya mendesak kaum moderat di antara kita yang disebut silent majority untuk bangkit dan berhenti menjadi penonton. Saya setuju di antara hitam dan putih, ada daerah abu-abu. Tapi, sekarang bukan saatnya untuk berada di wilayah abu-abu

 

Ketika ada pencuri memasuki rumahmu, Anda tak akan bersikap moderat. Saat ibu atau saudara perempuan atau anak wanitamu diperkosa, Anda tak akan berceramah tentang anti-kekerasan. Tatkala keutuhan bangsa terancam, jelas diam Anda tak bisa dibenarkan.

 

 

Anand Krishna, Jakarta Post, Kamis, 09/25/2008, Opini

diterjemahkan oleh Nunung.

Aksara Hanacaraka sebagai Pemandu Spiritual

Prawacana dari makna Aksara Hanacaraka oleh Sultan Paku Buwana IX Almarhum Pujangga Kraton Surakarta Hadiningrat Raden Ngabei Yasadipura, mengemukakan ajaran Sultan Paku Buwana IX mengenai aksara Hanacaraka dan dimulai dengan tembang kinanthi, yang terjemahan bebasnya sebagai berikut:
Tidak kurang pelajaran; bagi orang tanah Jawa; dalam melakoni kehidupan; Apabila mau melakoni; makna aksara Jawa; dianggap sebagai Guru Sejati.

Makna huruf
Ha Hana hurip wening suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci
Na Nur candra,gaib candra,warsitaning candra – Harapan manusia hanya selalu ke sinar Ilahi
Ca Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi – satu arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal
Ra Rasaingsun handulusih – rasa cinta sejatiku muncul dari cinta kasih
Ka Karsaningsun memayu hayuning bawana – hasratku memperindah alam semesta

Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan – hidup memang demikian adanya
Ta Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa – holistik: mendasar, total, tepat, teliti dan bermakna
Sa Sifat ingsun handulu sifatullah – sifatku seperti sifat kasih Tuhan
Wa Wujud hana tan kena kinira – wujud ada namun tak bisa diperkirakan
La Lir handaya paseban jati – mengalir semata pada tuntunan Ilahi

Pa Papan kang tanpa kiblat – Hakekat Allah yang ada disegala arah
Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane – akhirnya di atas awalnya di bawah
Ja Jumbuhing kawula lan Gusti – menyatu dengan Tuhan
Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi – yakin atas kodrat Ilahi
Nya Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki – nyata tanpa indera, paham tanpa diajari

Ma Madep mantep manembah mring Ilahi – yakin, mantap dalam berbhakti pada Ilahi
Ga Guru sejati sing muruki – belajar pada guru sejati
Ba Bayu sejati kang andalani – menyelaraskan diri pada gerak alam
Tha Tukul saka niat – dimulai dari niat
Nga Ngracut busananing manungso – melepaskan ego manusia

Penjelasan Bhagavad Gita
Buku Jnana Vahini sebagai penjelasan dari Bhagavad Gita menguraikan hal berikut:
Maya, ilusi mempunyai kekuatan untuk:
1. menyembunyikan sifat dasar yang sejati dan
2. menimbulkan kesan yang keliru sehingga yang tidak nyata tampak sebagai nyata.
Kedua hal tersebut membuat Brahman yang tunggal dan esa tampak sebagai: jiwa, Iswara (Tuhan), dan alam semesta; tiga hal yang sesungguhnya hanya satu! Kemampuan maya terpendam, tetapi bila menjadi nyata, ia akan mengambil wujud manas, pikiran. Pada waktu itulah benih pohon yang besar (yaitu alam semesta) mulai bertunas, menumbuhkan daun dorongan mental (vasana) dan kesimpulan mental (sankalpa). Jadi, seluruh dunia objektif ini hanya berkembang biak dari manas. Maya, ilusilah yang menimbulkan khayal adanya jiwa, Iswara (Tuhan), dan alam semesta.
Dalam keadaan jaga dan mimpi ketiga hal ini tampak seakan-akan nyata. Tetapi pada waktu tidur lelap atau pada waktu tidak sadar (misalnya ketika pingsan), manas tidak bekerja dan karena itu ketiga hal tersebut tidak ada! Fakta ini dialami oleh semua orang. Karena itu dapat dipahami bahwa ketiga hal ini (jiwa, Iswara dan alam semesta) akan lenyap selama-lamanya bila proses mental dimusnahkan melalui jnana, keberadaan pengetahuan sejati. Kemudian manusia akan terlepas dari perbudakan pada ketiga hal ini dan mengetahui eksistensi yang esa dan satu-satunya. Sesungguhnya ia menetap dalam advaitha jnana, Keadaan Yang Esa. Hanya jnana yang diperoleh dengan menganalisis proses mentallah yang dapat mengakhiri maya. Vidya ‘pengetahuan atau penerangan batin’ melenyapkan maya. Segera setelah maya dihancurkan oleh vidya, vidya pun berakhir. Pepohonan-maya dan api-vidya semuanya musnah bila api telah menyelesaikan pekerjaannya. Jnana adalah hasil akhir, dicapainya kekosongan, keseimbangan, dan kedamaian yang sempurna.

Sebuah pandangan pribadi
Makna huruf Aksara Jawa ajaran Sultan Paku Buwana IX di atas adalah Vidya, atau pengetahuan batin untuk melenyapkan maya, ilusi yang telah membuat jiwa, Iswara dan alam semesta nampak terpisah. Makna huruf Aksara Jawa tersebut merupakan laku, pemahaman yang diwujudkan dalam tindakan luar sehari-hari dan afirmasi, mantra, keyakinan yang diresapkan ke dalam bawah sadar untuk merubah diri dari dalam, menuju jumbuhing kawula-Gusti, penyatuan, yoga.
Ha-Na-Ca-Ra-Ka, ada Utusan, yang berwujud pengetahuan sejati, Vidya. Da-Ta-Sa-Wa-La, Utusan yang jujur, tidak berdusta, tidak pernah mengelak, penerang, cahaya Ilahi. Pa-Dha-Ja-Ya-Nya, pada saat manusia, si penerima utusan meningkatkan kesadarannya melalui vidya dan mencapai tingkat yang sama dengan Pengutusnya, Kesadaran Murni. Terjadilah Jnana, Jumbuh kawula Gusti, persatuan antara hamba dengan Kesadaran Murni. Ma-Ga-Ba-Tha-Nga, manas, ego telah menjadi jasad. Diri telah bersatu dengan Kesadaran Murni. Manusia asal katanya dari manas (pikiran) dan Isha (Yang Tunggal), ketika manas ditaklukkan tinggallah Yang Tunggal. La Illa ha Illallah. Tidak ada yang lain selain Allah.

Triwidodo
September 2008.

Menghormati Alam menurut Neuro Language Programming

 

Niat baik dengan implementasi yang kurang tepat

Seorang ibu menelpon anak gadisnya yang masih belajar di tempat temannya, “Sekarang sudah larut malam sudah jam 10 malam cepat pulang agar besok pagi tidak terlambat ke sekolah!” Niat Sang ibu amat baik. Akan tetapi, Sang Anak Gadis berpikir hanya setengah jam lagi tugas beres, dan besok ke sekolah tanpa beban tugas dan paparan di sekolah bagus.

”Selalu ada maksud baik di balik setiap perilaku”, demikian ujar salah satu anggapan NLP (Neuro Language Programming). Ditambah lagi, ”Manusia itu lebih dari sekedar perilakunya”, berarti selalu ada kemungkinan bagi setiap orang untuk melakukan perubahan dalam dirinya.

”Segala sesuatu itu tergantung niatnya”. Ya, niat memang penting, tetapi niat yang terealisasi menjadi perilaku yang selaras jauh lebih penting.

Seorang yang efektif adalah mereka yang selaras. Walk the talk. Sangat teruji integritasnya, karena apa yang ia niat dan katakan, itulah pula yang ia jalankan. Dalam law of attraction, orang yang kongruen memiliki vibrasi energi yang jauh lebih besar dibandingkan dengan yang tidak.

 

Love Peace and Harmony

Sang Ibu bisa dilatih menerapkan NLP, untuk memahami Lingkungan, Perilaku, Kemampuan, Keyakinan, Identitas dan Spiritual agar tindakan Sang Ibu selaras dengan niatnya. Dalam spiritualitas, tindakan Sang Ibu terhadap anak gadisnya sudah ada love, sudah kasih. Akan tetapi dalam diri Sang Ibu belum terdapat kedamaian diri, rasa khawatirnya membuat tindakannya kurang harmony. Seandainya Sang Ibu lebih tenang, dia akan menanyakan baik-baik apa masalah Sang Anak Gadis, dan mungkin akan keluar tindakan biarlah setengah jam lagi Sang Bapak menjemput Sang Anak Gadis ke rumah temannya. Dengan love, peace and harmony maka niat dan implementasi bisa selaras.

Semua agama meminta kita melayani tetangga, janda, anak yatim piatu dan orang yang kurang mampu agar love, sifat kasih kita tumbuh. Setelah kita sadar, aku ini siapa? Di Alam ini ada Yang Maha Kuasa. Aku pun bukan badanku, pikiranku atau perasaanku, aku dapat menyaksikan badan, pikiran dan perasaanku. Mengapa aku harus takut dan kawatir? Rasa peace, damai dalam diri muncul. Setelah kedamaian diri dan rasa kasih muncul maka segala tindakannya akan harmony, selaras dengan alam.

 

Menghormati Alam sesuai NLP

Sesuai teori agar niat baik menghormati alam dapat diimplementasikan dengan tindakan, perlu introspeksi, memperhatikan beberapa hal:

  1. Lingkungan, manusia harus sadar tindakannya selaras dengan alam atau tidak?

  2. Perilaku, menyesuaikan perilakunya agar selaras dengan alam.

  3. Kemampuan, skill untuk bekerja selaras dengan alam.

  4. Keyakinan, tindakan selaras dengan alam adalah tindakan bijaksana.

  5. Identitas, diri kita adalah subsistem dari alam.

  6. Spiritual, alam ini menghidupi kita, dan kita wajib melestarikannya.

Penerapan Teori NLP (Neuro Language Programming), selaras dengan bagaimana cara kita menggunakan mind, menggantikan conditioning mind, pikiran lama yang sudah terkondisi dan menggantikannya dengan created mind, pikiran baru.

Yang Mulia Atisha menyampaikan setelah kesadaran seseorang telah mencapai kesadaran murni, BoddhiChitta, maka conditioning mind harus dibuang dan diganti dengan created mind. Terdapat keselarasan antara ilmu pengetahuan dengan spiritualitas.

 

Triwidodo

September 2008.

Nasehat Leluhur dalam Menghadapi Keretakan Rumah Tangga

 

Tidak ada perceraian, yang ada hanyalah perpisahan

Seorang anak berkomentar: “Ayah dan ibu saya bercerai, dan saya benar-benar stress. Itu terjadi beberapa tahun yang lalu, dan hampir setiap hari saya menyesal dengan tidak memiliki ibu dan ayah bersama-sama dalam rumah yang penuh kasih. Bagaimana saya bisa mengatasi hal ini?”

Memang bukanlah suatu pengalaman yang mudah menghadapi perceraian kedua orang tua. Ada perasaan hampa, sesuatu hilang, yang tidak pernah bisa diraih kembali. Akan tetapi pada dasarnya, ketika anak-anak lahir sebagai hasil pernikahan, sesungguhnya tidak ada perceraian, yang ada hanyalah perpisahan. Setiap pernikahan benar-benar tidak bisa dibatalkan, sifat genetik kedua orang tua sudah bersatu dan berada dalam diri sang anak, dan tidak bisa diceraikan.

 

Perlu perjuangan agar kejadian tidak berulang

Para leluhur mengingatkan, sebelum mengambil keputusan bercerai, perlu mempelajari kehidupan orang tua dan generasi sebelumnya dan kemudian mempertimbangkan pula tentang kehidupan anak-anak. Leluhur telah memberi nasehat, suatu kejadian harus diselesaikan dengan pengorbanan, dengan penuh kesadaran atau selama tujuh turunan, kejadian tersebut akan dapat menimpa dan menghantui anak keturunan.

Ki Ageng Suryamentaram mempunyai pemahaman bahwa keinginan seorang anak yang ingin lahir menyebabkan kedua orang tuanya memadu kasih. Sehingga orang tua adalah pilihan diri sendiri dalam proses evolusi menuju kesempurnaan. Wajar sekali apabila bukan hanya sifat genetik, akan tetapi siklus kehidupan kedua orang tua pun ada kemiripannya dengan siklus kehidupan diri sendiri, walaupun situasi dan lingkungannya bisa berbeda. Seseorang yang tidak menghormati ayahnya, akan menurunkan sifat genetik anak yang tidak menghormati orang tuanya. Apabila orang tua tidak akur dengan saudaranya, sifat tersebut juga akan diturunkan kepada anaknya. Diperlukan suatu perjuangan untuk memutus siklus agar sifat tidak baik yang telah diturunkan tidak berkembang. Sudah sewajarnya seorang anak mempelajari kehidupan kedua orang tuanya dan selanjutnya berjuang memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka, sehingga sifat yang tidak baik tersebut tidak diturunkan lagi kepada anak cucunya. Itulah anak saleh dipandang dari sudut genetika.

 

Kanca Urip, Teman Hidup

Apabila seseorang memilih bercerai dalam rumah tangga, maka kejadian tersebut akan dapat berulang kepada anak keturunannya. Ada kebijakan leluhur yang memahami pasangan hidup sebagai kanca urip, teman hidup. Sebelum pernikahan, seseorang sudah lebih dulu memilih pasangan hidupnya. Adalah tidak mungkin menyamakan setiap keinginan dia dengan keinginan pasangan hidupnya, karena sifat genetik, pendidikan dan pengalamannya berbeda. Kalau memang dalam perjalanan ditemui banyak perbedaan, biarlah dia hidup seperti keinginannya. Kalau pasangan hidup menempuh jalan masuk neraka, diri tidak perlu ikut-ikutan, diri punya prinsip sendiri. Pada akhirnya masing-masing akan dimintai pertanggungan jawab sendiri-sendiri. Banyak rumah tangga pada zaman dahulu, dimana suami dan istri tidak selaras, tetapi mereka tetap memilih hidup dalam satu rumah, dengan kegiatan sendiri-sendiri. Bukankah pasangan hidup hanya sebagai kanca urip sampai saatnya kita meninggalkan dunia ini? Kalau bisa selaras disyukuri, kalau tidak selaras ya dapat dimaklumi juga. Pandangan leluhur tentang kanca urip ini semakin relevan ketika seseorang mulai mendalami spiritual. Itulah jalan terbaik bagi anak-anak dan perkembangan spiritual diri.

Pandangan leluhur tersebut, semakin terasa benarnya, setelah diri sadar bahwa aku bukan egoku: bukan badanku; bukan pikiranku; dan bukan perasaanku; aku adalah saksi. Yang mengalami hukum sebab akibat adalah egoku. Ketika pemahaman aku sebagai saksi disadari dan dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari maka akan muncul kedamaian diri. Aku telah menjadi aku universal, bukan aku yang terpisah karena adanya egoku. Terima kasih Guru.

 

Triwidodo

September 2008.

KARMA NEGARA

 

Anand Krishna

Radar Bali, Senin 24 September 2007

 

 

Seorang pemikir kawakan, cendekiawan yang cukup terkenal, pernah menolak pandangan saya dalam sebuah seminar, hanya karena saya menggunakan “Hukum Karma” sebagai landasan untuk menjelaskan sesuatu.

 

“Itu adalah Hukum menurut Teologi Hindu dan Buddhis, tidak bersifat universal. Janganlah dikaitkan dengan perkara non Hindu dan non Buddhis!” demikian pendapat dia.

 

Para supporter bertepuk tangan…. Horre, hebat, luar biasa!

Kemudian, penjelasan yang saya berikan tenggelam dalam suara tepukan itu. Hari itu, Hukum Karma dinyatakan Hindu, Buddhis…..

 

Padahal, Yesus, Sang Masiha yang kucintai pernah berkata bahwa kita hanya memperoleh hasil dari apa yang kita tanam. Jangan mengharapkan buah manis jika biji asam yang kita tanam.

 

Begitu pula dalam firman Allah yang disampaikan lewat Baginda Rasul, Nabi Muhammad….. Bahwasanya, kelak setiap anggota badan kita akan dimintai pertanggungan-jawab.

 

“Karma” berarti “Perbuatan”.

Dan, Perbuatan itu tidak bisa diberi label Hindu, Buddhis, Muslim, Kristen, atau lain sebagainya. Perbuatan dapat dijelaskan sebagai perbuatan yang baik dan yang tidak baik. Perbuatan yang tepat dan tidak tepat. Perbuatan berakhlak dan tidak berakhlak. Perbuatan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan. Perbuatan yang menyejukkan atau justru menggerahkan.

 

Kebaikan adalah kebaikan, dan kebatilan adalah kebatilan. Perbuatan tidak membutuhkan label agama. Tapi, tidak…. teman saya hari itu, tidak dapat menerima penjelasan saya. Tidak mau menerima. Bahkan, tidak mau mendengar…. Saya belum selesai bicara, dia sudah langsung memotong: “Sudahlah, penjelasan itu merupakan pembelaan yang bersumber pada kepercayaan Anda!”

 

Wow, hebat…..

Tapi, ya, betul juga sih…. Gita, Dhammapada, Qur’an, Injil – semuanya adalah bagian dari kepercayaan saya, keyakinan saya. Dengan “memisahkan” kepercayaannya dari kepercayaan saya, hari itu sesungguhnya ia bergabung dengan kelompok yang dalam firman Allah disebut kafir. Hati mereka tertutup. Mereka buta…..

 

Hukum Karma adalah Hukum Perbuatan, Hukum Tindakan. Dalam bahasa fisika, hukum ini disebut “Hukum Aksi Reaksi”. Setiap aksi sudah pasti menyebabkan reaksi yang setimpal. Inilah Hukum Sebab Akibat.

 

Dan, Hukum ini bersifat Universal. Berlaku sama bagi setiap orang, bahkan setiap makhluk hidup. Hukum ini tidak tergantung pada akidah agama tertentu. Ia tidak bersandar pada dogma maupun doktrin tertentu. Mau percaya atau tidak, hukum ini tetap berlaku bagi semua. Dan, berlaku sama.

 

Setiap orang, lelaki maupun perempuan mesti tunduk pada Hukum Universal ini. Hukum ini berlaku bagi individu, maupun bagi kelompok. Sehingga, mau tak-mau, kita pun mesti menerima akibat dari Karma Negara. Negara dimana kita tinggal, kita bermukim.

 

Saat ini, bila keadaan negeri kita masih terpuruk – maka keterpurukan itu pun hanyalah akibat dari perbuatan kita sendiri. Perbuatan kita secara kolektif. Inilah Karma Negara. Benih yang telah kita tanam dalam ketidaksadaran kita, dan telah kita biarkan tumbuh besar dalam ketidaktahuan pula – saat ini sedang berbuah!

 

Tsunami tidak mampu mempersatukan kita.

Gempa Bumi tidak mampu menggetarkan jiwa kita. Dan, banjir tidak mampu membersihkan sampah-sampah yang ada dalam pikiran kita. Hasilnya ada di depan mata:

 

Negara yang kaya raya, dengan sumber alam dan sumber daya manusia berlimpah telah menjadi negara jajahan baru. Aset-aset kita dikuasai oleh kekuatan-kekuatan asing. Sumber alam kita dijarah habis-habisan. Akibatnya, sumber daya manusia kita harus menggadaikan diri, harus menjual jiwa dan raganya di negeri orang.

 

Manusia Indonesia pun menjadi jongos di negerinya sendiri. Tanyalah kepada saudara-saudara kita yang masih bekerja di perbankan yang sahamnya telah diambil alih oleh perusahaan-perusahaan dari luar, “bagaimana kabarmu?”

 

Jangankan saham bank, gelombang di udara pun sudah dikuasai oleh perusahaan asing. Sehingga setiap sambungan telepon yang kita lakukan, setiap SMS yang kita kirim – hanya memperkaya perusahaan-perusahaan asing.

 

Maskapai Penerbangan Asing merajalela dan membanggakan diri sebagai perusahaan yang paling aman, paling murah pula. Sementara itu, Garuda kita melemah sayapnya. Sayapnya hanya dapat mengantar kita ke beberapa negara di Asia saja.

 

Bisnis ritel bertumbuh…. namun pertumbuhan itu pun dinikmati oleh hyper-market yang berasal dari luar. Bertanyalah kepada saudara-saudara kita yang menjadi rekanan mereka – dari penawaran harga hingga pembayaran, semuanya menjadi “perkara”.

 

Adalah telepon genggam dan otomotif yang menjadi “komoditas utama” – dan kedua komoditas itu hanya memperkaya produsen-produsen asing.

 

Inilah akibat nyata dari perbuatan kita yang tidak sadar, tanpa kesadaran. Selama bertahun-tahun kita membangun dengan dana dan ketrampilan dari luar. Kita membangun berdasarkan survey-report yang berasal dari luar pula. Pembangunan kita tergantung pada kekuatan-kekuatan di luar.

 

Kita tidak pernah mandiri, tidak pernah Berdikari – Berdiri di atas Kaki Sendiri. Punya industri, tapi bahan bakunya masih harus diimpor dari luar. Kita tidak mengembangkan industri-industri yang dapat menggunakan bahan baku dari dalam negeri.

 

Ketergantungan kita pada kekuatan di luar, telah berakibat pada kehancuran kita. Kehancuran industri dan kepunahan sumber alam. Sungguh ironis, bila dalam keadaan terpuruk ini pun masih ada ekonom dan pejabat negara yang sekedar melihat angka pertumbuhan. Angka itu tidak riil. Angka itu tergantung pada sekian banyak faktor di luar kendali kita.

 

Masih ingat dengan angka pertumbuhan dan pujian yang pernah diberikan kepada kita oleh Bank Dunia? Semuanya itu hanya beberapa bulan sebelum kita terjun bebas dari ketinggian imajiner, hanya beberapa bulan sebelum krisis ekonomi yang berkepanjangan hingga hari ini….

 

Pertanyaan berikutnya: Adakah krisis tersebut memang krisis buatan? Tidak riil pula. Dan, dibuat oleh segelintir anak cucu Adam yang memang menginginkan kejatuhan kita – supaya kita terpaksa menjual diri.

 

Ada konspirasi besar di balik apa yang terlihat oleh mata.

Sayangnya, beberapa saudara kita sendiri, secara sadar maupun tidak sadar, telah menjadi bagian dari konspirasi tersebut. Kebetulan, saudara-saudara itu berada pada posisi-posisi yang sangat menentukan. Maka, perbuatan mereka, Karma mereka mempengaruhi setiap anak bangsa, setiap warga negara, setiap putra dan putri Indonesia.

 

Konspirasi ini mesti diakhiri.

Dan yang dapat mengakhirinya kita pula. Hutang-Piutang Karma ini mesti diselesaikan, dan yang menyelesaikannya pun mesti kita.

 

Akhir kata: Bergegaslah untuk bersama-sama mulai menyelesaikan hutang-piutang tersebut. Aku sudah bangun, cangkul sudah kuangkat…. sekarang aku menunju ladang…. bergabunglah saudaraku……

Spiritualisme Ki Hajar Dewantara

 

Kepedulian seseorang yang telah sadar

Konon Kanjeng Nabi Muhammad SAW setelah mi’raj, bertemu Gusti Allah SWT, turun lagi ke dunia, memberikan panduan Shalat agar umat Islam selamat dalam menjalani kehidupan ini. Demikian pula Kanjeng Nabi Musa AS setelah mendapatkan pencerahan memberikan panduan dengan memberikan Sepuluh Perintah Tuhan. Mereka yang telah sadar berupaya memandu masyarakat agar selamat dalam menjalani kehidupan ini. Seorang pilot harus menurunkan pesawatnya agar dapat mengambil penumpang dan membawanya naik menuju tempat tujuan. Seseorang yang telah sadar, perlu menurunkan tingkat kesadarannya, menyamakan diri dengan tingkat kesadaran mereka yang akan ditingkatkan kesadarannya untuk dapat memandunya. Sehingga sebuah Sabda yang sama akan mempunyai pemahaman berbeda bagi mereka yang mempunyai tingkat kesadaran yang berbeda: ada yang hanya memahami kulitnya; dan ada juga yang memahami hakikatnya. Ki Hajar Dewantara, Leluhur kita, Bapak Pendidikan kita, telah merumuskan cara memandu masyarakat dengan rumus, “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani”.

 

Ing Ngarsa Sung Tulada

Di depan memberikan keteladanan. Sebagai orang tua, guru atau sebagai pimpinan sebuah organisasi macam apa pun, anak-anak, para murid dan para bawahan akan memperhatikan tingkah laku orang tua, guru atau pimpinannya. Dakwah yang baik adalah dakwah dengan perbuatan. Sejak masih muda, masyarakat telah melihat keteladanan Kanjeng Nabi Muhammad SAW dalam hal kejujuran, maka Kanjeng Nabi diberi gelar Al Amin. Angin tidak perlu gembar-gembor, cukup bertiup dengan pelan, akan menyejukkan orang yang kepanasan. Masyarakat membutuhkan keteladanan, bukan untaian kata-kata belaka. Betapa banyak petinggi negara kita yang pandai bebicara, tetapi tindakannya tidak sesuai dengan yang diucapkannya. Kepandaian bicara tanpa keteladanan itulah yang dicontoh masyarakat masa kini.

 

Ing Madya Mangun Karsa

Di pertengahan memberi semangat. Dalam pergaulan sehari-hari ketika melihat anak-anak, murid atau bawahan mulai mandiri, menjalankan hal yang benar, mereka wajib diberi dorongan, diberi semangat. Kepedulian terhadap perkembangan anak, murid dan bawahan diwujudkan dengan memberi dorongan kepada mereka untuk menjalankan hal yang benar. Seorang anak, murid atau bawahan perlu diberi semangat dalam menjalankan kewajibannya.

 

Tut Wuri Handayani

Di belakang memberi dukungan. Anak-anak, murid atau bawahan yang mulai percaya diri perlu didorong untuk berada di depan. Orang tua, guru atau pimpinan perlu memberi dukungan dari belakang. Sudah seharusnya generasi tua memberi kesempatan kepada generasi yang lebih muda untuk berkiprah. Para sesepuh yang masih bercokol dan tidak mau meninggalkan jabatannya menunjukkan kelalaian dan ketidakberhasilan diri mereka dalam membina generasi penerusnya.

 

Membentuk Gembala yang mumpuni, bukan membentuk Domba yang patuh

Mengikuti perkembangan anak, murid atau bawahan dengan penuh perhatian berdasar cinta kasih tanpa pamrih, tanpa keinginan menguasai dan memaksanya. Seorang tua, guru atau pimpinan termasuk pemimpin spiritual dapat diibaratkan sedang membentuk Gembala yang mumpuni dan bukan membuat Domba yang patuh yang tergantung sepenuhnya kepada orang tua, guru atau pimpinan. Memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya kepada yang muda untuk membina disiplin pribadi secara wajar, melalui pengalamannya sendiri, pemahamannya sendiri dan usahanya sendiri. Yang penting diperhatikan adalah menjaga agar pemberian kesempatan ini tidak akan membahayakan mereka sendiri atau memungkinkan timbulnya ancaman bagi keselamatan orang lain. Demikian nasehat Ki Hajar Dewantara yang mengingatkan para orang tua, guru dan pimpinan sebagai Pemandu, agar masyarakat dapat memberdaya diri. Terima kasih Guru.

 

Triwidodo

September 2008.

Kemerdekaan Indonesia: Urusan Yang Belum Selesai

 

Anand Krishna

 

Baru-baru ini saya diundang untuk berbicara tentang “Kemerdekaan Indonesia dan Relevansinya Kini.” Tema tersebut tak masuk akal bagi saya. Kalimatnya terkesan kurang tepat. Relevansi kemerdekaan Indonesia ya berarti kebebasan yang anda dan saya nikmati saat ini.

 

“Tapi,” salah seorang panitia berpendapat, “tidak semua dari kita sejahtera. Tak semua dari kita menikmati buah dari apa yang disebut kemerdekaan. Kesetaraan masih jauh panggang daripada api, begitu juga soal keadilan.”

Kalau begitu pertanyaannya bukan tentang relevansi kemerdekaan Indonesia dan kebebasan. Soalnya terletak pada kesejahteraan, kesetaraan dan keadilan bagi semua. Itu semua murni urusan ekonomi dan sosial. Kemerdekaan sepenuhnya merupakan isu yang berbeda. Budak bisa saja hidup sejahtera dan menikmati perbudakannya tanpa memikirkan tentang kemerdekaan dan kebebasan.

Kemerdekaan ialah isu psikologis. Kebebasan merupakan urusan spiritual. Yakni bebas untuk berevolusi tanpa intervensi orang lain. Manusia yang berevolusi bisa memilih untuk hidup sebagai seorang fakir; ia barangkali tak berurusan dengan kesejahteraan, sesuai definisi kita atas kata tersebut. Seseorang yang berevolusi bisa memilih untuk melepaskan hak-haknya atas kesetaraan dan menerima ketidakadilan karena alasan tertentu yang mereka yakini.

Masyarakat perkotaan China di daratan China sana, saat ini hidup lebih sejahtera ketimbang zaman-zaman sebelumnya. Tapi apakah mereka bebas untuk berevolusi secara psikologis dan spiritual? Mereka dijajah oleh ideologi negara, komunisme sebagai satu-satunya tolok ukur. Karena urusan itu pula, Saudi tak memiliki kebebasan psikologis dan spiritual. Mereka musti mematuhi seperangkat dogma yang ditentukan oleh ulama mereka.

 

China dan Arab Saudi secara ideologis bersebrangan 180 derajat. Satunya komunis, lainnya religius. Ya, tatkala keduanya harus meratifikasi Konsensus Internasional tentang Hak Sipil dan Politik – mereka bisa berdiri bersama, bersatu. Keduanya menolak diikat oleh kesepakatan PBB yang berlandaskan pada Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia.

 

Baik China dan Arab Saudi keduanya ialah negara yang bebas dan merdeka, tapi bagaimana dengan warga negara mereka? apakah anda pikir mereka bebas dan merdeka?

 

Mao Tse Tung, bapa bangsa komunis China, menyerukan agar rakyat China dan dunia bangkit bersama. Rakyat China merespons ajakan tersebut, dan menempatkannya pada posisi yang ia sendiri tak pernah bayangkan. Mao itu “buatan” rakyat China. Tapi jangan tanya apa yang ia lakukan kemudian pada orang-orang tersebut. Jangan tanya pula kenapa rezim China yang dikukuhkan olehnya – dan masih berkuasa sampai saat ini – tak mau meratifikasi konsensus internasional.

 

“Pemerintah Saudi mengorbankan hak-hak asasi manusia untuk melestarikan dominasi kaum pria atas wanita,” ujar Farida Deif, peneliti hak-hak perempuan di Timur Tengah pada Pengawas Hak-hak Asasi Manusia. “Wanita Saudi tidak akan pernah maju sampai pemerintah mengakhiri penyalahgunaan wewenang politik tersebut.”

 

Fatma A, wanita Saudi berusia 40 tahun yang hidup di Riyadh, tak bisa memesan tiket pesawat tanpa ijin tertulis dari anak laki-laki yang menjadi penjaga resminya. “Anak laki-laki saya itu baru berusia 23 tahun tapi ia harus datang jauh-jauh dari provinsi di belahan timur sana, sekedar untuk memberikan ijin agar saya dapat meninggalkan negara ini,” ujarnya pada Pengawas Hak-hak Asasi Manusia.

 

Kemerdekaan macam apa ini?

 

Kita, orang Indonesia, paling tidak bisa menikmati kemerdekaan yang lebih baik.

 

Ya, kita dapat mengatakan kemerdekaan sebagai urusan yang belum selesai. Kaum minoritas kita masih ditindas bukan oleh mayoritas, tapi oleh satu kelompok di masyarakat kita ‘atas nama mayoritas”. Hanya beberapa hari yang lalu, sekolah teologi Kristen diserang oleh segerombolan kelompok radikal. Lebih surut ke belakang, pada 1 Juni, sekelompok orang yang tengah merayakan hari lahir ideologi negara kita yang menjunjung tinggi inklusifitas dan pluralitas diserang secara brutal.

 

Kita tidak sendirian; radikalisme saat ini sedang bangkit di mana-mana. Lihat saja di Pakistan dan India, bahkan di Turki. Kaum radikal di mana-mana memperoleh energi tambahan. Dari mana energi tu berasal? Siapa pemasoknya?

 

Beberapa teman saya, semuanya Muslim dan tinggal di pelbagai penjuru Indonesia, telah meresponnya dengan mendeklarasikan Gerakan Umat Islam Anti kekerasan. Sungguh mengejutkan, dalam beberapa hari saja beberapa tokoh agama Muslim dari dalam dan luar negri menyatakan dukungan atas gerakan mereka.

 

Tapi apa yang lebih mengejutkan bagi mereka ialah saat mendekati anggota kaum muda dari kelompok Muslim besar yang tinggal di daerah Non Muslim di negara ini – mereka merespon dengan cara berbeda. Bagaimana anda menjelaskan hal ini? Baiklah, paling tidak mereka memilki keleluasaan, kebebasan untuk menanggapi dengan cara begitu.

 

Dalam sebuah talk show di televisi, seorang mahasiswa ditepuk tangani oleh teman-temannya saat ia mendukung mantan mentri yang hendak mengganti dasar negara dengan landasan agama. Secara jelas, mahasiswa-mahasiswa itu menerapkan hak-hak mereka untuk bebas berpendapat dan berekspresi. Mereka bisa, dengan santainya, mengatakan bahwa kalau itu tak berhasil, negara ini kembali saja ke ideologi yang terdahulu, atau ganti lagi dengan yang lainnya. Pertanyaannya ialah, dengan landasan ideologi agama di Arab Saudi, atau ideologi komunis di China, apakah ia memiliki kesempatan yang sama untuk mengekspresikan dirinya?

 

Para mentri kita menikmati kebebasan yang sama ketika menjenguk pemimpin kelompok radikal di tahanan mereka. Bupati kita bisa mengikuti kontes pilkada dan tetap menjadi bupati jika gagal menjadi gubernur. Itu beberapa contoh kebebasan juga.

 

Hari ini, kita menikmati kebebasan yang lebih ketimbang zaman-zaman sebelumnya. Sayangnya, beberapa dari kita tak menghargainya. Bahkan ada yang menyalahgunakannya dengan mencabut hak orang lain atas kebebasan yang sama.

 

Ya, kemerdekaan kita ialah perkara yang belum selesai.

 

Tapi begitu pula hidup ini. Kita melakoni hidup yang belum selesai pula sampai ajal menjemput. Jadi kalau kemerdekaan kita sampai di garis “akhir”, maka kita mati sebagai sebuah negara. Kemerdekaan kita musti tetap menjadi perihal yang belum selelsai, sehingga bukan cuma generasi kita, tapi juga generasi yang akan datang yang bekerja atasnya.

 

Kemerdekaan bukan titik akhir. Tak ada pemberhentian dalam menghidupi kemerdekaan kita. Karena kemerdekaan bergerak, kemerdekaan berpikir, berpendapat, berperasaan dan berekspresi – ialah perjalanan yang panjang, dan bukan tanpa halangan. Saat-saat menjelang perayaan ulang tahun ke 63 kemerdekaan kita, saya pikir permainan ini menjadi lebih menarik.

 

Kita semua berkontribusi untuk memperindah bangunan raksasa bangsa yang telah kita bangun. Kita semua musti memiliki kebebasan untuk melakukannya dengan cara beradab dan cerdas. Ini membutuhkan pikiran yang tajam, budi yang dapat bekerja dengan intelegensia lain dalam kesatuan visi. Kita harus dapat bekerja bersama dalam keselarasan, kedamaina dan, di atas segalanya, cinta.

 

Beberapa dari kita telah mengambil loncatan kuantum untuk menghayati kebebasan jiwa. Banyak pula dari kita masih berjuang untuk mengatasi kebebasan badan kita. Kita memiliki kebesaran dalam diri kita, sekaligus kekerdilan. Tapi kia semua ialah bagian dan kepingan dari satu bangsa yang merdeka.

 

Kita semua menikmati kemerdekaan yang sama. Tantangan di depan kita bukan soal siapa yang lebih berkuasa. Tantangan di depan kita ialah bagimana kebebasan seorang raksasa tak menciut menjadi kerdil. Ini tantangan besar, sebagai bangsa besar – sebagaimana kemerdekaan kita.

 

Anand Krishna , Jakarta | Sat, 08/02/2008 12:35 PM

 

English Version: http://www.aumkar.org/eng/?p=69

Terjemahan oleh Nugroho Angkasa,

Tridharma dan Kesadaran Ibu Pertiwi

 

Keponakan Pakdhe Jarkoni, Wisnu diterima di Universitas Negeri dan sekarang tinggal di rumah Pakdhe Jarkoni. Sejak masih SMA Wisnu sudah aktif di berbagai organisasi di sekolah. Sore itu terjadilah diskusi antara keduanya.

 

Pakdhe Jarkoni: Wisnu, Pakdhe dan Budhe senang kamu tinggal di sini. Anak-anak Pakdhe sudah kerja di luar kota semua. Ibaratnya ada obor, pemuda seperti kamu sudah patut membawanya untuk menerangi sekitar, Guru Pakdhe menyarankan agar mahasiswa seperti kamu lulus di usia 23-24 tahun, sehingga pada waktu usia mencapai 25-26 tahun, saat yang paling kreatif, kamu sudah bekerja.

 

Wisnu: Mohon doa restu Pakdhe, kami ingin meneladani putera-puteri Pakdhe yang cepat lulus dan sudah bisa mandiri.

 

Pakdhe Jarkoni: Semoga demikian, setelah usia mencapai 35 tahun daya kreatif mulai pudar, dan diatas 45 tahun sebaiknya sudah jangan mengambil resiko pindah pekerjaan yang sangat berbeda jenisnya dengan sebelumnya. Demikian nasehat Guru Pakdhe. Teman-teman Pakdhe setelah pensiun banyak yang berusaha menjadi wiraswasta tetapi jiwanya sudah tidak pas, sudah terbentuk, terkondisi, dan banyak yang gagal. Kecuali mereka yang jauh hari sebelum pensiun sudah merintis menjadi wiraswasta.

 

Wisnu: Tetapi Pakdhe sekarang aktif menulis di Blog, dan sepertinya lebih kreatif aja. Saya sangat tertarik membaca tulisan bersambung Pakdhe tentang Menghadirkan Bhagavad Gita dalam kehidupan sehari-hari.

 

Pakdhe Jarkoni: Itu semua berkah Guru Pakdhe, bahan tulisan datang sendiri seperti ditarik magnet. Saya senang kamu membaca buku-buku spiritual, jadi kalau ada teman-teman Pakdhe yang mengajak diskusi, mulai sekarang Wisnu ikut saja. Pakdhe sudah masuk kelompok Pinisepuh, Tut Wuri Handayani, bukan saatnya tampil seperti pembawa obor atau kelompok penjaganya. Biar Pakdhe menulis dan sesekali ikut di study circle saja, dan tentu saja menjaga erat silaturahmi dengan Guru Pakdhe. Itu yang utama.

 

Wisnu: Baik Pakdhe. Arjuna sadar bahwa diri bukan badan, diri bukan pikiran dan perasaan, diriku adalah saksi abadi. Ketidaksadaran diri membuat diri terjerat dalam hukum sebab dan akibat, yang tak berkesudahan. Selanjutnya Arjuna menjalankan dharmanya berperang melawan Korawa. Kalau menurut Pakdhe, seandainya kami-kami nanti sadar selanjutnya akan berbuat apa?

 

Pakdhe Jarkoni: Setelah memahami hakikat hidup, setelah ada kedamaian dalam diri, barulah kita mulai membereskan di sekitar kita. Kita semua hidup di Indonesia dan dihidupi oleh tanah air Indonesia. Makan, minum, oksigen, sinar matahari, semuan yang memelihara kehidupan kita, diperoleh di tempat kita berada, di pangkuan Ibu Pertiwi. Sadar atau belum sadar pun kita harus berbakti pada Ibu Pertiwi.

 

Wisnu: Menurut Pakdhe kita perlu mengikuti pesan leluhur Kanjeng Gusti Mangkunagara I untuk menjalankan Tridharma ?

 

Pakdhe Jarkoni: Exactly! Pertama, “Rumangsa melu handarbeni”, merasa memiliki, contoh rumah kita rapi, tetapi di luar rumah kita membuang sampah sembarangan; rumah kita diberi alarm agar pencuri tidak masuk, tetapi bumi dan kekayaan Ibu Pertiwi dijarah kita cuek saja. Itu tidak sesuai dengan dharma pertama. Kedua, “Wajib melu hangrungkebi”. Ikut berjuang mempertahankan kehormatan bangsa, negara kita diambang disintegrasi karena sebagian masyarakat ada yang mempunyai pemahaman bahwa agama adalah segala-galanya, negara pecah tidak apa-apa. Apakah pemahamannya itu sudah betul? Padahal Nabi Muhammad SAW selalu berusaha mempersatukan negara. Konon saat masih muda dan dijuluki Al Amin, Nabi mempersatukan semua suku yang ada untuk bekerjasama mengangkat Hajar Aswad. Ketika keadaan tidak kondusif, Nabi hijrah, untuk kemudian mempersatukan negara, dan tidak pernah sesaat pun menjadikan negara terpecah-pecah. Dharma Ketiga, “Mulat sarira hangrasa wani”. Berani mengintrospeksi diri apakah dharma yang pertama dan yang kedua sudah dilaksanakan oleh kita atau belum?

 

Wisnu: Kami melihat contohnya di perusahaan: semua pimpinan dan anak buah harus merasa memiliki dan ikut mempertahankan eksistensi perusahaan tersebut. Memang di satu pihak perusahaan perlu efisiensi dan kualitas agar mendapat keuntungan dan dapat berkembang. Tetapi perikemanusiaan terhadap pekerja tetap perlu diperhatikan. Mestinya demikian pula dalam menjalankan negara. Baik Pakdhe atas ijin Pakdhe kami akan mulai ikut diskusi dengan teman-teman Pakdhe.

 

Triwidodo

September 2008.