Mutiara Quotation SAPTAPADI, 7 Steps toward a happy marriage

Judul              : SAPTAPADI, 7 Steps toward a happy marriage

Pengarang      : Anand Krishna

Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan          : 2006

Tebal              : 236 halaman

 

Mutiara Quotation SAPTAPADI, 7 Steps toward a happy marriage

 

            Pada tanggal 18 Agustus 1945 dua orang pengikut Mahatma yang berbeda agama melakukan perkawinan di Ashram beliau. Perkawinan semacam itu memang tidak dilarang di India ketika India masih dijajah Inggris, maupun setelah kemerdekaannya. Perkawinan lintas agama dengan memberikan kebebasan penuh kepada masing-masing pihak untuk tetap menjalani agamanya malah difasilitasi oleh Kantor Catatan Sipil, dan disebut Civil Marriage.

            Mahatma Gandhi sadar betul bahwa hal itu tidak melanggar nilai-nilai budaya yang telah mengakar di wilayah peradabannya, wilayah peradaban Sindh, yang oleh petapa Cina disebut Shintu, Shin atau Syin, oleh sejarawan Arab disebut Hind, dan oleh bangsa-bangsa Eropa disebut Indies, Indische, Indo, India.

            Dari budaya asal itulah kita mewarisi Saptapadi, Tujuh Langkah Menuju Kebahagiaan Hidup, Kebahagiaan Berumahtangga. Warisan milik Anda ini saya kembalikan kepada Anda, semoga berkenan.

Baca lebih lanjut

RUU Pornografi dan Hubungannya dengan Keutuhan NKRI

 

Sore itu Lik Darmo, seniman yang berambut sebahu itu bersilaturahmi ke rumah Pakdhe Jarkoni, kebetulan Pakdhe Jarkoni sedang keluar , maka dia ditemui oleh Wisnu, mahasiswa keponakannya, yang sedang nggethu, serius membaca Kompas.

 

Lik Darmo: Bagaimana pendapat dik Wisnu, sebagai mahasiswa terhadap UU Pornografi?

 

Wisnu: Lik Darmo, saya sangat gregeten, darah saya naik, apa mereka yang berusaha mengegolkan RUU ini, tidak melihat kondisi negara kita? Hampir semua bidang telah dikuasai Perusahaan Multi Nasional, mental korupsi dan suap kita begitu parah, mengapa pada saat kritis begini malah membuat suasana menjadi semakin tidak kondusif?

 

Lik Darmo: Maksud dik Wisnu, kita tidak tahu mana masalah yang lebih urgent? Salahnya apa dik?

 

Wisnu: Mohon maaf Lik Darmo, saya mahasiswa berdarah muda, tidak seperti Pakdhe yang berjiwa kasepuhan, orang tua. Minimal kesalahannya: 1. Prosesnya menyalahi pembentukan undang-undang yang terbuka dan menghargai aspirasi umum; 2. Komentar-komentar para politisi yang bernada mengancam mengarah pada rezim otoriter bertabir agama dan moralitas; 3. Semangatnya melukai prinsip-prinsip kehidupan bersama sebagai bangsa, bahkan telah membelah publik kedalam dua kutub yang sulit dipertemukan; 4. Mengesampingkan persoalan besar bangsa, korupsi dan suap yang parah, tanggung jawab bangsa yang kurang, neokolonialisme lewat perusahaan mutinasional; 5. Mengancam perkembangan industri kreatif.

 

Lik Darmo: Saya dukung dik Wisnu, demi kepentingan politik sesaat, sebagian pemimpin mengabaikan keutuhan dan kelestarian sebuah bangsa. Pornografi memang bisa menjadi sosial problem, namun bukan problem nasional. Saya juga menentang pornografi, tetapi RUU tersebut akan menyeragamkan nilai-nilai yang mengancam pluralitas bangsa. Mengatur moralitas individu berdasarkan persepsi moralitas tertentu.

 

Wisnu: Iya Lik Darmo, Adat istiadat dan ekspresi yang berbeda di Nusantara sudah ada sebelum agama-agama datang dan menjadi bagian inheren dari kehidupan masyarakat Nusantara. DNA rakyat Indonesia mempunyai persambungan dengan DNA nenek moyang Sriwijaya dan Majapahit yang diturunkan melalui generasi penerus, berkelanjutan sampai dengan kita. Peraturan yang tidak sesuai dengan jati diri kita, keindonesiaan kita, tidak akan membuat kita tenang. Saya baru saja selesai membaca Buku Terjemahan The History of Java tulisan Thomas Stamford Raffles, apa yang ditulis dengan lengkap pada tahun 1800-an, 200 tahun lalu, masih terasa kebenarannya sampai saat ini. DNA kita belum banyak berubah.

 

Lik Darmo: Saya sering mendengar kondisi rapat-rapat di DPR, rapat-rapatnya sering tidak mencapai kuorum, jumlah absen mungkin memenuhi, tetapi jumlah kepala yang hadir tidak sebanyak itu. Diantara mereka yang kita pilih pun banyak yang silent majority, diam demi kenyamanan diri, karena berada dalam comfort zone. Tidak sadarkah mereka, pada hari pembalasan nanti, hari dimana mulut kita dikunci, dan anggota tubuh menyampaikan pertanggungan jawab dengan sejujurnya? Karena ulah mereka bangsa kita semakin tercerabut dari akarnya?

 

Wisnu: Betul Lik Darmo, materi RUU Pornografi menegaskan tubuh perempuan adalah obyek perangsang laki-laki. Jadi siapa yang sebenarnya porno????

 

Triwidodo

September 2008.

Saatnya Kaum Moderat Keluar Pagar

 

Anand Krishna

 

Sam Harris, penulis The End of Faith, memperingatkan kita soal kaum moderat, dan saya setuju sekali dengannya. Kaum moderat hidup dalam keadaan limbung. Mereka tak di sini, tidak juga di sana. Mereka bingung menentukan mana yang benar dan yang tidak.

 

 

Lihat saja kaum moderat di negara kita. Mereka menjadi bagian dari kelompok pasif silent majority. Dalam siaran radio baru-baru ini, pengacara senior Adnan Buyung Nasution menyayangkan kecuekan mereka terhadap kesewenangan negara. Kita menghadapi soal krusial seputar kebebasan beragama dan berkeyakinan, amandemen serampangan konstitusi kita, penghancuran budaya dan warisan leluhur kita – mereka tidak bersuara menyaksikan politik luar negri yang keluar jalur dan industri kita yang secara sistematis dijajah, pelan tapi pasti akan mati.

 

Menyikapi soal dumping kain batik dari China, Kabinet kita terbelah. Satu pihak melihat itu bukan ancaman karena China tak bisa mencuri motif kita; pihak lain memprihatinkan dampak dumping terhadap industri lokal.

 

Di antara dua kubu tersebut, ada kelompok besar yang tetap diam. Mereka tak peduli kalau para importir dan pengusaha kita yang menjadi pengkhianat dengan menghancurkan industri lokal. Mereka tidak ambil pusing kalau pajak kita, petugas bea cukai menjadi calo dan kehilangan rasa nasionalisme dari sisi ini.

 

Mari kita tak terperdaya oleh mentri kita yang sangat pintar mengatakan China tak bisa meniru motif kita. Masalahnya kita orang awam yang tak sepintar anda Tuan. Sebagian besar dari kami bahkan tak bisa membedakan antara motif Surakarta dan Yogyakarta. Kita juga tak tahu motif apa yang hanya pantas dipakai kaum bangsawan, dan mana yang untuk rakyat jelata seperti kami. Bagi kami, batik ya batik. Dan kami tidak tahu apakah kemeja atau blouse yang kami beli buatan lokal atau kain impor.

 

Tuan, mohon bergabung dengan teman-teman Anda yang menganggap batik China sebagai ancaman terhadap industri kecil di Pekalongan dan tempat lainnya. Lakukan dialog dari hati ke hati dengan mereka. Tuan, pernyataan anda terlalu naif, dan kami tak tahu ada alasan apa di baliknya.

 

Masalah krusial lainnya ialah konstitusi kita. UUD 1945 telah secara serampangan diamandemen – sehingga membatasi ideologi negara menjadi sekedar prase. Siapa peduli Pancasila? Setelah sekian lama, Presiden kita akhirnya menyadari ancaman disintegrsi bangsa yang disebabkan oleh amandemen semacam itu.

 

Beliau menunjuk komisi khusus untuk mengkaji hal tersebut. Tapi siap yang duduk di komisi itu? Siapa anggotanya? Apakah mereka berkomitmen penuh pada Pancasila, yang berakar dari budaya kita sendiri? Atau loyalitas mereka semu? Barangkali mereka sama sekali tak peduli pada warisan leluhur kita, dan lebih bersimpati dengan budaya asing.

 

Koran ini baru saja memuat dua artikel di halaman yang sama. Satu tentang rencana pengesahan RUU Pornografi yang didukung salah satu partai; satunya lagi tentang pemerintah Saudi yang menyetujui pemutusan saluran televisi karena menyiarkan tayangan yang “dianggap” immoral.

 

Berapa banyak dari kita sungguh tahu implikasi pengesahan RUU Pornografi? Berapa banyak dari kita peduli pada dampak-dampak tersebut? Mereka yang menolak RUU ini sering disalahpahami sebagai pendukung pornografi.

 

Tidak, kami tidak mendukung pornografi, tapi kami menolak RUU ini. Kita sudah memiliki peraturan, regulasi, hukum dan KUHP untuk mengurusi soal tersebut. Kita tak membutuhkan UU yang memuat difinisi dari segerombolan orang tentang apa yang dianggap pornografi.

 

Saya sudah berkali-kali membaca draft yang diajukan, dan melihatnya sebagai ancaman besar terhadap budaya, peninggalan leluhur, dan tradisi masa silam kita. Kita tidak, saya mengulanginya dengan garis bawah dan huruf besar TIDAK menganggap sex sebagai dosa. Kita memiliki teknik bagaimana, pengetahuan, dan teknologi untuk mentransformasi energi seksual menjadi energi spiritual. Para sarjana kita kita di Sukuh dan Ceto menjadi saksi tradisi dan kebijaksanaan leluhur di masa silam.

 

Mereka yang menyusun rancangan undang-undang ini jelas tak menyadari kekayaan khasanah kearifan lokal kita. Presiden pertama kita, Bung Karno, membangun Monumen Nasional (MOnas) sebagai pembadanan kebijaksanaan tersebut. Ini simbol modern dari lingga dan loni, organ kelamin laki-laki dan perempuan, mewakili kemampuan mencipta kembali. Brosur yang dikeluarkan Dinas Pariwisata Jakarta memaparkan visi bapa bangsa kita tersebut dengan jelas sekali.

 

RUU Pornografi, jika disahkan, dapat menganggap segala sesuatu porno. Tarian kita, seni kita, penari kita dan artis-artis kita – semuanya dapat terjerat pasal pornografi dan dikategorikan sebagai perbuatan mesum. Jika UU ini disahkan, negara kita akan tercerabut dari akar budaya dan identitas nasionalnya. Kita akan menjadi seperti negara Saudi Arabia, dan semua orang tahu partai politik mana yang akan menarik keuntungan dari perubahan budaya dan ideologis semacan ini.

 

Diplomat kita benar-benar bingung. Beberapa dari mereka bahkan mengatakan negara kita sebagai Negara Muslim yang sopan. Betulkan demikian? Kita memang memiliki penduduk Muslim terbesar, tapi kita jelas bukan Negara Islam.

 

Saya menyerukan kepada pemerintah saat ini agar belajar dari kesalahan masa lalu. SKB 3 Mentri soal kelompok Ahmadiyah tak menyelesaikan masalah sama sekali. Bahkan justru menambah masalah. Dengan menyalahtafsirkan keputusan tersebut, setidaknya seorang gubernur sudah mencekal kelompok ini dan itu menurut pendapat pengacara senior Adnan Buyung Nasution terdahulu melanggar konstitusi. Manuvernya tak sejalan dengan semangat undang-undang. UU Pornografi juga akan menambah masalah bagi kita.

 

Saya mendesak kaum moderat di antara kita yang disebut silent majority untuk bangkit dan berhenti menjadi penonton. Saya setuju di antara hitam dan putih, ada daerah abu-abu. Tapi, sekarang bukan saatnya untuk berada di wilayah abu-abu

 

Ketika ada pencuri memasuki rumahmu, Anda tak akan bersikap moderat. Saat ibu atau saudara perempuan atau anak wanitamu diperkosa, Anda tak akan berceramah tentang anti-kekerasan. Tatkala keutuhan bangsa terancam, jelas diam Anda tak bisa dibenarkan.

 

 

Anand Krishna, Jakarta Post, Kamis, 09/25/2008, Opini

diterjemahkan oleh Nunung.

Aksara Hanacaraka sebagai Pemandu Spiritual

Prawacana dari makna Aksara Hanacaraka oleh Sultan Paku Buwana IX Almarhum Pujangga Kraton Surakarta Hadiningrat Raden Ngabei Yasadipura, mengemukakan ajaran Sultan Paku Buwana IX mengenai aksara Hanacaraka dan dimulai dengan tembang kinanthi, yang terjemahan bebasnya sebagai berikut:
Tidak kurang pelajaran; bagi orang tanah Jawa; dalam melakoni kehidupan; Apabila mau melakoni; makna aksara Jawa; dianggap sebagai Guru Sejati.

Makna huruf
Ha Hana hurip wening suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci
Na Nur candra,gaib candra,warsitaning candra – Harapan manusia hanya selalu ke sinar Ilahi
Ca Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi – satu arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal
Ra Rasaingsun handulusih – rasa cinta sejatiku muncul dari cinta kasih
Ka Karsaningsun memayu hayuning bawana – hasratku memperindah alam semesta

Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan – hidup memang demikian adanya
Ta Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa – holistik: mendasar, total, tepat, teliti dan bermakna
Sa Sifat ingsun handulu sifatullah – sifatku seperti sifat kasih Tuhan
Wa Wujud hana tan kena kinira – wujud ada namun tak bisa diperkirakan
La Lir handaya paseban jati – mengalir semata pada tuntunan Ilahi

Pa Papan kang tanpa kiblat – Hakekat Allah yang ada disegala arah
Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane – akhirnya di atas awalnya di bawah
Ja Jumbuhing kawula lan Gusti – menyatu dengan Tuhan
Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi – yakin atas kodrat Ilahi
Nya Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki – nyata tanpa indera, paham tanpa diajari

Ma Madep mantep manembah mring Ilahi – yakin, mantap dalam berbhakti pada Ilahi
Ga Guru sejati sing muruki – belajar pada guru sejati
Ba Bayu sejati kang andalani – menyelaraskan diri pada gerak alam
Tha Tukul saka niat – dimulai dari niat
Nga Ngracut busananing manungso – melepaskan ego manusia

Penjelasan Bhagavad Gita
Buku Jnana Vahini sebagai penjelasan dari Bhagavad Gita menguraikan hal berikut:
Maya, ilusi mempunyai kekuatan untuk:
1. menyembunyikan sifat dasar yang sejati dan
2. menimbulkan kesan yang keliru sehingga yang tidak nyata tampak sebagai nyata.
Kedua hal tersebut membuat Brahman yang tunggal dan esa tampak sebagai: jiwa, Iswara (Tuhan), dan alam semesta; tiga hal yang sesungguhnya hanya satu! Kemampuan maya terpendam, tetapi bila menjadi nyata, ia akan mengambil wujud manas, pikiran. Pada waktu itulah benih pohon yang besar (yaitu alam semesta) mulai bertunas, menumbuhkan daun dorongan mental (vasana) dan kesimpulan mental (sankalpa). Jadi, seluruh dunia objektif ini hanya berkembang biak dari manas. Maya, ilusilah yang menimbulkan khayal adanya jiwa, Iswara (Tuhan), dan alam semesta.
Dalam keadaan jaga dan mimpi ketiga hal ini tampak seakan-akan nyata. Tetapi pada waktu tidur lelap atau pada waktu tidak sadar (misalnya ketika pingsan), manas tidak bekerja dan karena itu ketiga hal tersebut tidak ada! Fakta ini dialami oleh semua orang. Karena itu dapat dipahami bahwa ketiga hal ini (jiwa, Iswara dan alam semesta) akan lenyap selama-lamanya bila proses mental dimusnahkan melalui jnana, keberadaan pengetahuan sejati. Kemudian manusia akan terlepas dari perbudakan pada ketiga hal ini dan mengetahui eksistensi yang esa dan satu-satunya. Sesungguhnya ia menetap dalam advaitha jnana, Keadaan Yang Esa. Hanya jnana yang diperoleh dengan menganalisis proses mentallah yang dapat mengakhiri maya. Vidya ‘pengetahuan atau penerangan batin’ melenyapkan maya. Segera setelah maya dihancurkan oleh vidya, vidya pun berakhir. Pepohonan-maya dan api-vidya semuanya musnah bila api telah menyelesaikan pekerjaannya. Jnana adalah hasil akhir, dicapainya kekosongan, keseimbangan, dan kedamaian yang sempurna.

Sebuah pandangan pribadi
Makna huruf Aksara Jawa ajaran Sultan Paku Buwana IX di atas adalah Vidya, atau pengetahuan batin untuk melenyapkan maya, ilusi yang telah membuat jiwa, Iswara dan alam semesta nampak terpisah. Makna huruf Aksara Jawa tersebut merupakan laku, pemahaman yang diwujudkan dalam tindakan luar sehari-hari dan afirmasi, mantra, keyakinan yang diresapkan ke dalam bawah sadar untuk merubah diri dari dalam, menuju jumbuhing kawula-Gusti, penyatuan, yoga.
Ha-Na-Ca-Ra-Ka, ada Utusan, yang berwujud pengetahuan sejati, Vidya. Da-Ta-Sa-Wa-La, Utusan yang jujur, tidak berdusta, tidak pernah mengelak, penerang, cahaya Ilahi. Pa-Dha-Ja-Ya-Nya, pada saat manusia, si penerima utusan meningkatkan kesadarannya melalui vidya dan mencapai tingkat yang sama dengan Pengutusnya, Kesadaran Murni. Terjadilah Jnana, Jumbuh kawula Gusti, persatuan antara hamba dengan Kesadaran Murni. Ma-Ga-Ba-Tha-Nga, manas, ego telah menjadi jasad. Diri telah bersatu dengan Kesadaran Murni. Manusia asal katanya dari manas (pikiran) dan Isha (Yang Tunggal), ketika manas ditaklukkan tinggallah Yang Tunggal. La Illa ha Illallah. Tidak ada yang lain selain Allah.

Triwidodo
September 2008.

Menghormati Alam menurut Neuro Language Programming

 

Niat baik dengan implementasi yang kurang tepat

Seorang ibu menelpon anak gadisnya yang masih belajar di tempat temannya, “Sekarang sudah larut malam sudah jam 10 malam cepat pulang agar besok pagi tidak terlambat ke sekolah!” Niat Sang ibu amat baik. Akan tetapi, Sang Anak Gadis berpikir hanya setengah jam lagi tugas beres, dan besok ke sekolah tanpa beban tugas dan paparan di sekolah bagus.

”Selalu ada maksud baik di balik setiap perilaku”, demikian ujar salah satu anggapan NLP (Neuro Language Programming). Ditambah lagi, ”Manusia itu lebih dari sekedar perilakunya”, berarti selalu ada kemungkinan bagi setiap orang untuk melakukan perubahan dalam dirinya.

”Segala sesuatu itu tergantung niatnya”. Ya, niat memang penting, tetapi niat yang terealisasi menjadi perilaku yang selaras jauh lebih penting.

Seorang yang efektif adalah mereka yang selaras. Walk the talk. Sangat teruji integritasnya, karena apa yang ia niat dan katakan, itulah pula yang ia jalankan. Dalam law of attraction, orang yang kongruen memiliki vibrasi energi yang jauh lebih besar dibandingkan dengan yang tidak.

 

Love Peace and Harmony

Sang Ibu bisa dilatih menerapkan NLP, untuk memahami Lingkungan, Perilaku, Kemampuan, Keyakinan, Identitas dan Spiritual agar tindakan Sang Ibu selaras dengan niatnya. Dalam spiritualitas, tindakan Sang Ibu terhadap anak gadisnya sudah ada love, sudah kasih. Akan tetapi dalam diri Sang Ibu belum terdapat kedamaian diri, rasa khawatirnya membuat tindakannya kurang harmony. Seandainya Sang Ibu lebih tenang, dia akan menanyakan baik-baik apa masalah Sang Anak Gadis, dan mungkin akan keluar tindakan biarlah setengah jam lagi Sang Bapak menjemput Sang Anak Gadis ke rumah temannya. Dengan love, peace and harmony maka niat dan implementasi bisa selaras.

Semua agama meminta kita melayani tetangga, janda, anak yatim piatu dan orang yang kurang mampu agar love, sifat kasih kita tumbuh. Setelah kita sadar, aku ini siapa? Di Alam ini ada Yang Maha Kuasa. Aku pun bukan badanku, pikiranku atau perasaanku, aku dapat menyaksikan badan, pikiran dan perasaanku. Mengapa aku harus takut dan kawatir? Rasa peace, damai dalam diri muncul. Setelah kedamaian diri dan rasa kasih muncul maka segala tindakannya akan harmony, selaras dengan alam.

 

Menghormati Alam sesuai NLP

Sesuai teori agar niat baik menghormati alam dapat diimplementasikan dengan tindakan, perlu introspeksi, memperhatikan beberapa hal:

  1. Lingkungan, manusia harus sadar tindakannya selaras dengan alam atau tidak?

  2. Perilaku, menyesuaikan perilakunya agar selaras dengan alam.

  3. Kemampuan, skill untuk bekerja selaras dengan alam.

  4. Keyakinan, tindakan selaras dengan alam adalah tindakan bijaksana.

  5. Identitas, diri kita adalah subsistem dari alam.

  6. Spiritual, alam ini menghidupi kita, dan kita wajib melestarikannya.

Penerapan Teori NLP (Neuro Language Programming), selaras dengan bagaimana cara kita menggunakan mind, menggantikan conditioning mind, pikiran lama yang sudah terkondisi dan menggantikannya dengan created mind, pikiran baru.

Yang Mulia Atisha menyampaikan setelah kesadaran seseorang telah mencapai kesadaran murni, BoddhiChitta, maka conditioning mind harus dibuang dan diganti dengan created mind. Terdapat keselarasan antara ilmu pengetahuan dengan spiritualitas.

 

Triwidodo

September 2008.

Nasehat Leluhur dalam Menghadapi Keretakan Rumah Tangga

 

Tidak ada perceraian, yang ada hanyalah perpisahan

Seorang anak berkomentar: “Ayah dan ibu saya bercerai, dan saya benar-benar stress. Itu terjadi beberapa tahun yang lalu, dan hampir setiap hari saya menyesal dengan tidak memiliki ibu dan ayah bersama-sama dalam rumah yang penuh kasih. Bagaimana saya bisa mengatasi hal ini?”

Memang bukanlah suatu pengalaman yang mudah menghadapi perceraian kedua orang tua. Ada perasaan hampa, sesuatu hilang, yang tidak pernah bisa diraih kembali. Akan tetapi pada dasarnya, ketika anak-anak lahir sebagai hasil pernikahan, sesungguhnya tidak ada perceraian, yang ada hanyalah perpisahan. Setiap pernikahan benar-benar tidak bisa dibatalkan, sifat genetik kedua orang tua sudah bersatu dan berada dalam diri sang anak, dan tidak bisa diceraikan.

 

Perlu perjuangan agar kejadian tidak berulang

Para leluhur mengingatkan, sebelum mengambil keputusan bercerai, perlu mempelajari kehidupan orang tua dan generasi sebelumnya dan kemudian mempertimbangkan pula tentang kehidupan anak-anak. Leluhur telah memberi nasehat, suatu kejadian harus diselesaikan dengan pengorbanan, dengan penuh kesadaran atau selama tujuh turunan, kejadian tersebut akan dapat menimpa dan menghantui anak keturunan.

Ki Ageng Suryamentaram mempunyai pemahaman bahwa keinginan seorang anak yang ingin lahir menyebabkan kedua orang tuanya memadu kasih. Sehingga orang tua adalah pilihan diri sendiri dalam proses evolusi menuju kesempurnaan. Wajar sekali apabila bukan hanya sifat genetik, akan tetapi siklus kehidupan kedua orang tua pun ada kemiripannya dengan siklus kehidupan diri sendiri, walaupun situasi dan lingkungannya bisa berbeda. Seseorang yang tidak menghormati ayahnya, akan menurunkan sifat genetik anak yang tidak menghormati orang tuanya. Apabila orang tua tidak akur dengan saudaranya, sifat tersebut juga akan diturunkan kepada anaknya. Diperlukan suatu perjuangan untuk memutus siklus agar sifat tidak baik yang telah diturunkan tidak berkembang. Sudah sewajarnya seorang anak mempelajari kehidupan kedua orang tuanya dan selanjutnya berjuang memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka, sehingga sifat yang tidak baik tersebut tidak diturunkan lagi kepada anak cucunya. Itulah anak saleh dipandang dari sudut genetika.

 

Kanca Urip, Teman Hidup

Apabila seseorang memilih bercerai dalam rumah tangga, maka kejadian tersebut akan dapat berulang kepada anak keturunannya. Ada kebijakan leluhur yang memahami pasangan hidup sebagai kanca urip, teman hidup. Sebelum pernikahan, seseorang sudah lebih dulu memilih pasangan hidupnya. Adalah tidak mungkin menyamakan setiap keinginan dia dengan keinginan pasangan hidupnya, karena sifat genetik, pendidikan dan pengalamannya berbeda. Kalau memang dalam perjalanan ditemui banyak perbedaan, biarlah dia hidup seperti keinginannya. Kalau pasangan hidup menempuh jalan masuk neraka, diri tidak perlu ikut-ikutan, diri punya prinsip sendiri. Pada akhirnya masing-masing akan dimintai pertanggungan jawab sendiri-sendiri. Banyak rumah tangga pada zaman dahulu, dimana suami dan istri tidak selaras, tetapi mereka tetap memilih hidup dalam satu rumah, dengan kegiatan sendiri-sendiri. Bukankah pasangan hidup hanya sebagai kanca urip sampai saatnya kita meninggalkan dunia ini? Kalau bisa selaras disyukuri, kalau tidak selaras ya dapat dimaklumi juga. Pandangan leluhur tentang kanca urip ini semakin relevan ketika seseorang mulai mendalami spiritual. Itulah jalan terbaik bagi anak-anak dan perkembangan spiritual diri.

Pandangan leluhur tersebut, semakin terasa benarnya, setelah diri sadar bahwa aku bukan egoku: bukan badanku; bukan pikiranku; dan bukan perasaanku; aku adalah saksi. Yang mengalami hukum sebab akibat adalah egoku. Ketika pemahaman aku sebagai saksi disadari dan dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari maka akan muncul kedamaian diri. Aku telah menjadi aku universal, bukan aku yang terpisah karena adanya egoku. Terima kasih Guru.

 

Triwidodo

September 2008.

KARMA NEGARA

 

Anand Krishna

Radar Bali, Senin 24 September 2007

 

 

Seorang pemikir kawakan, cendekiawan yang cukup terkenal, pernah menolak pandangan saya dalam sebuah seminar, hanya karena saya menggunakan “Hukum Karma” sebagai landasan untuk menjelaskan sesuatu.

 

“Itu adalah Hukum menurut Teologi Hindu dan Buddhis, tidak bersifat universal. Janganlah dikaitkan dengan perkara non Hindu dan non Buddhis!” demikian pendapat dia.

 

Para supporter bertepuk tangan…. Horre, hebat, luar biasa!

Kemudian, penjelasan yang saya berikan tenggelam dalam suara tepukan itu. Hari itu, Hukum Karma dinyatakan Hindu, Buddhis…..

 

Padahal, Yesus, Sang Masiha yang kucintai pernah berkata bahwa kita hanya memperoleh hasil dari apa yang kita tanam. Jangan mengharapkan buah manis jika biji asam yang kita tanam.

 

Begitu pula dalam firman Allah yang disampaikan lewat Baginda Rasul, Nabi Muhammad….. Bahwasanya, kelak setiap anggota badan kita akan dimintai pertanggungan-jawab.

 

“Karma” berarti “Perbuatan”.

Dan, Perbuatan itu tidak bisa diberi label Hindu, Buddhis, Muslim, Kristen, atau lain sebagainya. Perbuatan dapat dijelaskan sebagai perbuatan yang baik dan yang tidak baik. Perbuatan yang tepat dan tidak tepat. Perbuatan berakhlak dan tidak berakhlak. Perbuatan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan. Perbuatan yang menyejukkan atau justru menggerahkan.

 

Kebaikan adalah kebaikan, dan kebatilan adalah kebatilan. Perbuatan tidak membutuhkan label agama. Tapi, tidak…. teman saya hari itu, tidak dapat menerima penjelasan saya. Tidak mau menerima. Bahkan, tidak mau mendengar…. Saya belum selesai bicara, dia sudah langsung memotong: “Sudahlah, penjelasan itu merupakan pembelaan yang bersumber pada kepercayaan Anda!”

 

Wow, hebat…..

Tapi, ya, betul juga sih…. Gita, Dhammapada, Qur’an, Injil – semuanya adalah bagian dari kepercayaan saya, keyakinan saya. Dengan “memisahkan” kepercayaannya dari kepercayaan saya, hari itu sesungguhnya ia bergabung dengan kelompok yang dalam firman Allah disebut kafir. Hati mereka tertutup. Mereka buta…..

 

Hukum Karma adalah Hukum Perbuatan, Hukum Tindakan. Dalam bahasa fisika, hukum ini disebut “Hukum Aksi Reaksi”. Setiap aksi sudah pasti menyebabkan reaksi yang setimpal. Inilah Hukum Sebab Akibat.

 

Dan, Hukum ini bersifat Universal. Berlaku sama bagi setiap orang, bahkan setiap makhluk hidup. Hukum ini tidak tergantung pada akidah agama tertentu. Ia tidak bersandar pada dogma maupun doktrin tertentu. Mau percaya atau tidak, hukum ini tetap berlaku bagi semua. Dan, berlaku sama.

 

Setiap orang, lelaki maupun perempuan mesti tunduk pada Hukum Universal ini. Hukum ini berlaku bagi individu, maupun bagi kelompok. Sehingga, mau tak-mau, kita pun mesti menerima akibat dari Karma Negara. Negara dimana kita tinggal, kita bermukim.

 

Saat ini, bila keadaan negeri kita masih terpuruk – maka keterpurukan itu pun hanyalah akibat dari perbuatan kita sendiri. Perbuatan kita secara kolektif. Inilah Karma Negara. Benih yang telah kita tanam dalam ketidaksadaran kita, dan telah kita biarkan tumbuh besar dalam ketidaktahuan pula – saat ini sedang berbuah!

 

Tsunami tidak mampu mempersatukan kita.

Gempa Bumi tidak mampu menggetarkan jiwa kita. Dan, banjir tidak mampu membersihkan sampah-sampah yang ada dalam pikiran kita. Hasilnya ada di depan mata:

 

Negara yang kaya raya, dengan sumber alam dan sumber daya manusia berlimpah telah menjadi negara jajahan baru. Aset-aset kita dikuasai oleh kekuatan-kekuatan asing. Sumber alam kita dijarah habis-habisan. Akibatnya, sumber daya manusia kita harus menggadaikan diri, harus menjual jiwa dan raganya di negeri orang.

 

Manusia Indonesia pun menjadi jongos di negerinya sendiri. Tanyalah kepada saudara-saudara kita yang masih bekerja di perbankan yang sahamnya telah diambil alih oleh perusahaan-perusahaan dari luar, “bagaimana kabarmu?”

 

Jangankan saham bank, gelombang di udara pun sudah dikuasai oleh perusahaan asing. Sehingga setiap sambungan telepon yang kita lakukan, setiap SMS yang kita kirim – hanya memperkaya perusahaan-perusahaan asing.

 

Maskapai Penerbangan Asing merajalela dan membanggakan diri sebagai perusahaan yang paling aman, paling murah pula. Sementara itu, Garuda kita melemah sayapnya. Sayapnya hanya dapat mengantar kita ke beberapa negara di Asia saja.

 

Bisnis ritel bertumbuh…. namun pertumbuhan itu pun dinikmati oleh hyper-market yang berasal dari luar. Bertanyalah kepada saudara-saudara kita yang menjadi rekanan mereka – dari penawaran harga hingga pembayaran, semuanya menjadi “perkara”.

 

Adalah telepon genggam dan otomotif yang menjadi “komoditas utama” – dan kedua komoditas itu hanya memperkaya produsen-produsen asing.

 

Inilah akibat nyata dari perbuatan kita yang tidak sadar, tanpa kesadaran. Selama bertahun-tahun kita membangun dengan dana dan ketrampilan dari luar. Kita membangun berdasarkan survey-report yang berasal dari luar pula. Pembangunan kita tergantung pada kekuatan-kekuatan di luar.

 

Kita tidak pernah mandiri, tidak pernah Berdikari – Berdiri di atas Kaki Sendiri. Punya industri, tapi bahan bakunya masih harus diimpor dari luar. Kita tidak mengembangkan industri-industri yang dapat menggunakan bahan baku dari dalam negeri.

 

Ketergantungan kita pada kekuatan di luar, telah berakibat pada kehancuran kita. Kehancuran industri dan kepunahan sumber alam. Sungguh ironis, bila dalam keadaan terpuruk ini pun masih ada ekonom dan pejabat negara yang sekedar melihat angka pertumbuhan. Angka itu tidak riil. Angka itu tergantung pada sekian banyak faktor di luar kendali kita.

 

Masih ingat dengan angka pertumbuhan dan pujian yang pernah diberikan kepada kita oleh Bank Dunia? Semuanya itu hanya beberapa bulan sebelum kita terjun bebas dari ketinggian imajiner, hanya beberapa bulan sebelum krisis ekonomi yang berkepanjangan hingga hari ini….

 

Pertanyaan berikutnya: Adakah krisis tersebut memang krisis buatan? Tidak riil pula. Dan, dibuat oleh segelintir anak cucu Adam yang memang menginginkan kejatuhan kita – supaya kita terpaksa menjual diri.

 

Ada konspirasi besar di balik apa yang terlihat oleh mata.

Sayangnya, beberapa saudara kita sendiri, secara sadar maupun tidak sadar, telah menjadi bagian dari konspirasi tersebut. Kebetulan, saudara-saudara itu berada pada posisi-posisi yang sangat menentukan. Maka, perbuatan mereka, Karma mereka mempengaruhi setiap anak bangsa, setiap warga negara, setiap putra dan putri Indonesia.

 

Konspirasi ini mesti diakhiri.

Dan yang dapat mengakhirinya kita pula. Hutang-Piutang Karma ini mesti diselesaikan, dan yang menyelesaikannya pun mesti kita.

 

Akhir kata: Bergegaslah untuk bersama-sama mulai menyelesaikan hutang-piutang tersebut. Aku sudah bangun, cangkul sudah kuangkat…. sekarang aku menunju ladang…. bergabunglah saudaraku……