Ki Ageng Suryomentaram Mengelola Mind dengan Kramadangsa


 

Otak sebagai Juru Catat

Ketika masih bayi aku menjadi juru catat apa saja yang berhubungan dengan diriku. Juru catat dalam diriku hidup dalam ukuran pertama, seperti hidupnya tanaman. Kerjanya hanya mencatat, kalau berhenti mencatat berarti mati. Untuk hal di luar diri otak mencatat dari panca indera, sedang di dalam diri otak mencatat dari rasa, emosi. Catatan-catatan ini jumlahnya berjuta-juta. Catatan-catatan itu barang hidup, hidupnya catatatan itu dalam ukuran yang kedua, seperti hidupnya hewan. Karena hidup catatan ini butuh makan. Bila kurang makan menjadi kurus dan akhirnya mati. Makanan catatan-catatan itu berupa perhatian. Kalau diperhatikan catatan-catatan menjadi subur, bila tidak diperhatikan catatan-catatan menjadi mati.

 

Kramadangsa, ego manusia

Kalau catatan ini sudah banyak maka Kramadangsa (yang bernama namaku) baru lahir, yaitu manunggalnya semua catatan bermacam-macam seperti: (1)harta milikku, (2)kehormatanku, (3)kekuasaanku, (4)keluargaku, (5)bangsaku, (6)golonganku, (7)jenisku, (8)pengetahuanku, (9)kebatinanku, (10)keahlianku, (11)rasa hidupku. Kramadangsa ini hidup dalam ukuran ketiga, karena tindakannya sudah memakai pikiran. Jadi Kramadangsa itu tukang berpikir, yang memikirkan kebutuhan catatan-catatannya.

Catatan-catatan ini termasuk ukuran kedua seperti halnya hewan yang apabila diganggu marah. Misalkan anakku diganggu, kita langsung marah, padahal anak itu sebetulnya itu hanya catatan tentang keluargaku. Sedangkan Kramadangsa ini termasuk ukuran ketiga, yang sebelum bertindak memikir dulu. Pada waktu akan marah memikirdulu, bagaimana marahnya, memukul, mengumpat atau lebih baik diam karena kalau marah membahayakan diri. Bila Kramadangsa didominasi salah satu catatan misalnya catatan tentang kekayaan, maka catatan lain misal catatan kehormatan, atau catatan bangsa diabaikan. Demi harta kekayaan kita mengabaikan kehormatan diri dan kepentingan bangsa. Kramadangsa ini adalah pembantu dari sebelas kelompok catatan-catatan tersebut di atas.

 

Persimpangan jalan antara Kramadangsa dan Manusia Universal

Apabila aku merasa marah dan kemudian berpikir bagaimana caranya marah, aku sedang menempuh ukuran ketiga yaitu Kramadangsa, ego. Apabila pada waktu marah aku berpikir, marah itu apa? Wujudnya bagaimana? Maksud marah itu apa? Apakah marah itu hanya karena catatan-catatan diri yang diganggu? Aku bukan kumpulan catatan-catatan, aku bertindak sebagai saksi. Dengan kesadaran tersebut, maka aku menempuh ukuran keempat yaitu Manusia Universal. Manusia Universal ini bila bertemu orang lain merasa damai. Bersamaan dengan munculnya Manusia Universal di ukuran keempat, maka Kramadangsa, Sang Ego menjadi berhenti dan aku dapat melihat kesalahan-kesalahan dari catatan-catatan yang telah dibuat. Yang sering salah bukan catatan dari panca indera tetapi catatan dari rasa emosi. Misalkan catatan tentang harta kekayaan. Bila harta kekayaan digunakan untuk mencukupi kebutuhan raga seperti makan, minum dan fasilitas istirahat, maka harta tersebut akan memadai. Akan tetapi bila harta kekayaan dipergunakan sebagai catatan kehormatan dan kekuasaan, yang merupakan kebutuhan jiwa, maka harta kekayaan tersebut selalu dirasakan kurang memadai.

 

Memanfaatkan Pemahaman Kramadangsa demi Ibu Pertiwi

Untuk menjernihkan catatan-catatan kita masing-masing, maka kita perlu memahami Kramadangsa. Kemudian, setelah dipahami, Kramadangsa, ego akan mati. Demikianlah cara menganalisis pengalaman untuk memahami kenyataan menurut Ki Ageng Suryomentaram, yang hampir selaras dengan Bhagavad Gita dalam cara melenyapkan manas , cara memahami objek yang berupa kumpulan pikiran, emosi dan vasana. Setelah memahami bahwa aku bukan raga, pikiran dan perasaan, Arjuna maju perang demi dharma. Setelah sadar bahwa diri kita bukan kumpulan catatan tetapi saksi, kita akan menjadi Manusia Universal, dan kita akan bertindak selaras dengan alam. Semua kebutuhan hidup kita dipenuhi oleh bumi tempat kita berpijak, sehingga sudah sepantasnya kita berbakti pada Ibu Pertiwi. Seandainya kita belum juga mencapai tingkatan Manusia Universal, masih hidup sebagai Kramadangsa, kita pun perlu memberi perhatian lebih kepada catatan tentang bangsa, tentang ibu pertiwi dibandingkan catatan-catatan lainnya. Sehingga kita lebih mendahulukan kepentingan Ibu Pertiwi daripada urusan lainnya.

 

Triwidodo

September 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: