Rasa Sesal dan Kuatir menurut Ki Ageng Suryamentaram dan Kesadaran Abadi


 

Cuplikan karya Ki Ageng Suryamentaram dalam Buku Rasa Abadi

Menyesal ialah takut akan pengalaman yang telah dialami. Khawatir ialah takut akan pengalaman yang belum dialami. Menyesal dan khawatir ini yang menyebabkan orang bersedih hati, prihatin, hingga merasa celaka.

Contoh dari rasa menyesal: “Andaikata dulu aku bertindak demikian, bahagialah sudah aku ini, tidaklah celaka begini.” Menyesal ialah takut akan pengalaman masa lampau yang menyebabkannya jatuh celaka, susah selamanya dalam keadaan miskin, hina, lemah. Bila orang mengerti bahwa manusia itu abadi, dapatlah ia menasehati dirinya sebagai berikut: “Walaupun dulu bagaimana saja, pasti rasanya sebentar senang sebentar susah.” Kemudian lenyaplah penyesalan semacam tadi.

Berlarut-larutnya penyesalan ini sampai menimbulkan ketakutan pada hal yang makin aneh ialah takut hidupnya tersesat. “Andaikata dulu tidak menjadi anak ibu dan ayah ini, pasti aku bahagia, dan tidak celaka seperti ini.” Tetapi bila mengerti babwa manusia itu abadi, ia dapat menasehati dirinya sendiri: “Walaupun dulu menjadi anak ibu-ayah ini atau tidak, tentu rasanya sebentar senang sebentar susah”, maka lenyaplah penyesalan tadi. “Andaikata dulu aku tidak salah memperoleh suami/isteri dan anak si kunyuk (si dogol) itu, pastilah aku bahagia dan tidaklah celaka.” Tetapi bila ia mengerti bahwa orang itu abadi, dapatlah ia menyadarkan dirinya: “Walaupun dulu aku mempunyai suami/isteri dan anak seperti kunyuk-kunyuk itu atau tidak, rasaku tentu sebentar senang, sebentar susah,” maka lenyaplah penyesalan tadi.

Demikian pula kekhawatiran yang berupa takut akan pengalaman yang belum dialami, contohnya: “Bagaimanakah nanti akhirnya bila aku tidak mencapai kebahagiaan yang kucita-citakan, tetapi tetap celaka seperti sekarang ini?” Tetapi jika orang mengerti bahwa manusia itu abadi, dapatlah ia menyadarkan dirinya: “Walaupun kelak akan terjadi apa saja, rasanya pasti sebentar senang sebentar susah,” maka lenyaplah kekhawatiran tadi.

 

Pandangan Bhagavad Gita

Dalam Bhagavad Gita Bab 2 Teks 14: “ Kegembiraan, duka cita, panas dingin, adalah pengalaman sementara yang muncul ke luar dari hubungan dengan obyek indera, wahai putera Kunthi. Kamu harus belajar memahami hal itu wahai keturunan Bharata”. Selanjutnya dalam Bhagavad Gita Bab 2 Teks 16: “Yang berubah dengan waktu tidak bisa dianggap abadi dan bukan merupakan kebenaran, karena kebenaran itu tidak bersifat sementara maupun berubah dan dia tak termusnahkan. Ini adalah kesimpulan para bijak yang telah mewaspadai aspek keduanya”. Pandangan Ki Ageng Suryamentaram mengenai Rasa Abadi selaras dengan Pandangan dalam Bhagavad Gita, bahkan dikatakan itu adalah kesimpulan para bijak.

 

Memadamkan Vasana

Rasa Abadi, Kesadaran Abadi hanya dapat diperoleh dengan jalan rangkap tiga, yaitu:

  1. membuang vasana (keinginan, naluri, dorongan, atau ketagihan yang ada dalam pikiran bawah sadar),

  2. melenyapkan manas (conditioning mind: kumpulan pikiran, emosi, dan vasana , yang menyebabkan diri terbelenggu oleh kesadaran lama),

  3. menganalisis pengalaman untuk memahami kenyataan, membuat created mind yang benar.

Tanpa ketiga hal ini, penghayatan tentang rasa abadi tidak akan timbul. Vasana mendesak manas manusia menuju dunia yang berhubungan dengan indera dan mengikat manusia pada kegembiraan serta kesengsaraan. Karena itu, vasana harus dipadamkan.

 

Triwidodo

September 2008.

Iklan

2 Tanggapan

  1. Pak Tri,
    menurut Bapak segala rasa yang diterima jiwa kita apakah sebaiknya kita padamkan atau matikan… ataukah justru kita jadikan motivator untuk menjadi lebih baik.
    Salam damai.

  2. Salam damai juga,
    Ki Ageng Suryomentaram menjelaskan tentang rasa yang sebenarnya tidak abadi. Dalam artikel -artikel tentang pikiran Ki Ageng yang terdapat dalam kategori Kearifan Lokal, misalnya mulur-mungkret, kramadangsa, kramadangsa modern, dijelaskan tentang kesadaran manusia yang sebetulnya hanya berupa kumpulan catatan atau informasi sejak lahir. setelah menyadari hal tersebut sampailah manusia pada kesadaran universal. Jadi segala rasa yang diterima jiwa tanggapannya akan tergantung kepada tingkat kesadarannya. Setiap orang mempunyai pandangan sendiri-sendiri. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: