Menjamurnya Mall di Kota Besar Dan Pengaruhnya Terhadap Budaya


 

Keponakan Pakdhe Jarkoni, Fauzi, seorang mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri datang silaturahmi, dan biasanya selalu terjadi diskusi berat antara dua generasi yang berbeda zaman ini.

 

Fauzi: Pakdhe kok membaca terus, mbok sekali-sekali jalan-jalan ke Mall, menyenang-nyenangkan diri to Pakdhe. Kalau ke pasar tradisional, pakdhe hanya tertuju untuk membeli apa yang menjadi keperluan terus pulang ke rumah. Lain dengan di Mall Pakdhe, kita bisa santai sight seeing, hitung-hitung sambil wisata. Tempatnya bersih, sejuk dan barangnya bagus-bagus.

 

Pakdhe Jarkoni: Oallah Fauzi, paling kamu senang lihat cewek-cewek trendy kan? Ngaku wae, mengaku saja. Fauzi, diri kita ini ibarat kerajaan dan mempunyai banyak pintu gerbang. Pintu gerbang utama adalah mata, kalau semua yang dilihat dimasukkan mata, tanpa ada satpam yang menyeleksi mana yang baik agar masuk atau mana yang sebaiknya ditolak, di dalam diri tidak akan didapatkan ketenangan. Pakdhe mulai meniti ke dalam diri, tetap berinteraksi dengan luar tetapi Pakdhe tahu apa yang baik dan apa yang tidak bagi perkembangan batin Pakdhe.

 

Fauzi: Wah filosofinya mulai keluar, apakah ada solusi lain bagi masyarakat selain refreshing ke Mall Pakdhe?

 

Pakdhe Jarkoni: Kota memerlukan banyak ruang publik yang lapang, tempat masyarakat bersosialisasi. Contoh, lihat di lapangan Manahan Solo, mau olahraga, jajan, ngobrol di bawah pohon semuanya tersedia. Di udara terbuka segar dan tidak becek seperti di pasar-pasar tradisional, hati rasanya bebas. Percepatan urbanisasi perlu diimbangi dengan taman-taman umum. Minimnya ruang publik menjadikan warga lebih banyak melakukan aktivitas menyenangkan diri ketimbang bersosialisasi. Dan banyak orang terperangkap dalam dunianya sendiri. Berkurangnya ruang publik mendorong masyarakat menuju Mall-Mall, dan efek sampingnya mereka akan semakin konsumtif.

 

Fauzi: Iya Pakdhe, bukan hanya konsumtif tetapi juga individualistis, ini urusan saya, orang lain sebodo amat! Di Mall yang bunyi hanya musik, penjaga supermarket jumlahnya sedikit dan banyak membisu, yang bicara hanya tulisan harga diatas handuk, baju, sepatu dan barang lainnya. Hampir tidak ada interaksi sosial seperti di pasar tradisional.

 

Pakdhe Jarkoni: Perhatikan adik bungsumu yang masih SD, kalau di Mall minta ditinggalkan di tempat Game, ibumu belanja sendiri, asyik tidak ada yang mengganggu, dan setelah selesai baru dijemput. Memang semua happy tetapi rasa individualisme tinggi banget. Remaja bermain games, internet, semakin individualis, padahal budaya individualis lekat dengan budaya hostile, bermusuhan, intolerance, mau menang sendiri. Dijamin para remaja enggan kursus menari, menabuh gamelan, dan lain-lain sehingga akan menjadi semakin keras, otak kanannya tidak dikembangkan.

 

Fauzi: Kami melihat kota-kota besar dikepung Mall, sehingga budaya komunitas melemah, kalah bebenturan dengan budaya kota yang individualis, egois dan pragmatis.

 

Pakdhe Jarkoni: Dari hasil survey untuk warga Jakarta, waktu luang mereka digunakan untuk jalan-jalan ke Mall 28.5 %, mengunjungi sanak kerabat 13.6%, berwisata 8.6%, mengunjungi tempat ibadah 6.1 %, ke tempat hobi 4.4%, sedang yang 32.4% tidak kemana-mana. Sudah sepantasnya kita mendukung ruang publik sebagai tempat sosialisasi masyarakat agar hilang pemeo: Ibukota lebih kejam daripada ibu tiri.

 

Triwidodo

September 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: