Bulan Penuh Berkah Bagi Industri Televisi Dengan Tayangan Siap Saji


 

Malam itu Pakdhe Jarkoni membawa resep dokter ke apotik. Sambil menunggu obat disiapkan petugas, Pakdhe melihat tayangan televisi yang dipasang diatas rak obat. Seorang bapak-bapak di sebelahnya mengajak senyum dan berkomentar tentang tayangan televisi di bulan Ramadan1429 H.

 

Bapak di sebelah: Wah, sekarang hampir semua penyiar tivi pakai baju koko dan jilbab, apakah mereka sudah tobat dan berniat menempuh jalan yang benar di bulan Ramadan ini? Kalau melihat luarnya saja mestinya begitu ya Pak?

 

Pakdhe Jarkoni: Begini Pak, kami ingat tulisan Pak Triyono Lukmantoro, Dosen Sosiologi Undip di Harian Suara Merdeka. Industri televisi itu sangat sigap, ibaratnya seperti restoran siap saji, tidak seperti birokrat yang sebelum bertindak selalu menunggu terbitnya juklak dan juknis dulu, sehingga ketinggalan peluang berharga.

 

Bapak di sebelah: Maksud Bapak industri tivi itu seperti waralaba Mac D yang paham psikologi pembeli?

 

Pakdhe Jarkoni: Coba lihat pak, mendadak mereka semua sedemikian beragama di bulan Ramadan. Olah raga, kuis, lawak, sinetron semuanya bernuansa Islami. Benarkah itu pertobatan atau pengabdian? Menurut kami itu adalah fenomena strategi penjualan.

 

Bapak di sebelah: Jadi menurut Bapak, industri tivi beroperasi menurut logika mereka sendiri. Sehingga Ramadan diolah dan dijadikan produk yang dijual untuk mendatangkan keuntungan. Memang ada benarnya, kan waktu tayang menjadi lebih panjang.

 

Pakdhe Jarkoni: Tanpa disadari perihal menjalankan peribadatan digeser menjadi berkonsumsi berlebihan. Prinsip-prinsip restoran cepat saji ala Mc D telah mendominasi masyarakat, misalnya: pertama, prinsip efisiensi biaya sehemat mungkin keuntungan sebesar mungkin. Pada saat sahur sms premium dikirim pemirsa sebanyak-banyaknya layaknya judi, yang menang dapat hadiah; kedua, kalkulabilitas, kuantitas bukan kualitas, polesan tipis, baju koko, jilbab, kata nuansa islami, kebiasaan berbuka dan sahur para selebrities, bukan perenungan yang mendalam; ketiga, prediktibilitas, masyarakat hanya ingin cerita seperti yang diharapkan, bukan kejutan; keempat, menggantikan manusia dengan non manusia. Hampir semua tivi mematuhi rating non manusia, rating tivi AGB Nielsen, yang berdasarkan 2.080 rumah respondent tersebar di 10 kota. Bukankah itu seperti Mac Donaldisasi?

 

Bapak di sebelah: Betul Pak! Dampak eksploitasi terhadap pemirsa semakin menjadi-jadi. Seluruh waktu non tidur dianggap kerja. Jam 3-5 pagi biasanya jam mati menjadi jam tayang utama. Prime time. Selanjutnya kami dengar harga iklan juga dipatok tinggi. Misalnyai iklan sinetron Para Pencari Tuhan adalah Rp 18 juta per 30 detik.

 

Pakdhe Jarkoni: Mbok ya dibuatkan tayangan yang lebih berkualitas. Yang mencerdaskan masyarakat. Yah mau dibawa kemana negeri ini. Semoga para ksatria Nusantara cepat sadar. Mari pak, obat saya sudah jadi, saya pulang dulu, Selamat Malam.

 

Bapak di sebelah: Selamat malam juga. GBU.

 

Triwidodo

September 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: