Nasehat Leluhur dalam Menghadapi Keretakan Rumah Tangga


 

Tidak ada perceraian, yang ada hanyalah perpisahan

Seorang anak berkomentar: “Ayah dan ibu saya bercerai, dan saya benar-benar stress. Itu terjadi beberapa tahun yang lalu, dan hampir setiap hari saya menyesal dengan tidak memiliki ibu dan ayah bersama-sama dalam rumah yang penuh kasih. Bagaimana saya bisa mengatasi hal ini?”

Memang bukanlah suatu pengalaman yang mudah menghadapi perceraian kedua orang tua. Ada perasaan hampa, sesuatu hilang, yang tidak pernah bisa diraih kembali. Akan tetapi pada dasarnya, ketika anak-anak lahir sebagai hasil pernikahan, sesungguhnya tidak ada perceraian, yang ada hanyalah perpisahan. Setiap pernikahan benar-benar tidak bisa dibatalkan, sifat genetik kedua orang tua sudah bersatu dan berada dalam diri sang anak, dan tidak bisa diceraikan.

 

Perlu perjuangan agar kejadian tidak berulang

Para leluhur mengingatkan, sebelum mengambil keputusan bercerai, perlu mempelajari kehidupan orang tua dan generasi sebelumnya dan kemudian mempertimbangkan pula tentang kehidupan anak-anak. Leluhur telah memberi nasehat, suatu kejadian harus diselesaikan dengan pengorbanan, dengan penuh kesadaran atau selama tujuh turunan, kejadian tersebut akan dapat menimpa dan menghantui anak keturunan.

Ki Ageng Suryamentaram mempunyai pemahaman bahwa keinginan seorang anak yang ingin lahir menyebabkan kedua orang tuanya memadu kasih. Sehingga orang tua adalah pilihan diri sendiri dalam proses evolusi menuju kesempurnaan. Wajar sekali apabila bukan hanya sifat genetik, akan tetapi siklus kehidupan kedua orang tua pun ada kemiripannya dengan siklus kehidupan diri sendiri, walaupun situasi dan lingkungannya bisa berbeda. Seseorang yang tidak menghormati ayahnya, akan menurunkan sifat genetik anak yang tidak menghormati orang tuanya. Apabila orang tua tidak akur dengan saudaranya, sifat tersebut juga akan diturunkan kepada anaknya. Diperlukan suatu perjuangan untuk memutus siklus agar sifat tidak baik yang telah diturunkan tidak berkembang. Sudah sewajarnya seorang anak mempelajari kehidupan kedua orang tuanya dan selanjutnya berjuang memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka, sehingga sifat yang tidak baik tersebut tidak diturunkan lagi kepada anak cucunya. Itulah anak saleh dipandang dari sudut genetika.

 

Kanca Urip, Teman Hidup

Apabila seseorang memilih bercerai dalam rumah tangga, maka kejadian tersebut akan dapat berulang kepada anak keturunannya. Ada kebijakan leluhur yang memahami pasangan hidup sebagai kanca urip, teman hidup. Sebelum pernikahan, seseorang sudah lebih dulu memilih pasangan hidupnya. Adalah tidak mungkin menyamakan setiap keinginan dia dengan keinginan pasangan hidupnya, karena sifat genetik, pendidikan dan pengalamannya berbeda. Kalau memang dalam perjalanan ditemui banyak perbedaan, biarlah dia hidup seperti keinginannya. Kalau pasangan hidup menempuh jalan masuk neraka, diri tidak perlu ikut-ikutan, diri punya prinsip sendiri. Pada akhirnya masing-masing akan dimintai pertanggungan jawab sendiri-sendiri. Banyak rumah tangga pada zaman dahulu, dimana suami dan istri tidak selaras, tetapi mereka tetap memilih hidup dalam satu rumah, dengan kegiatan sendiri-sendiri. Bukankah pasangan hidup hanya sebagai kanca urip sampai saatnya kita meninggalkan dunia ini? Kalau bisa selaras disyukuri, kalau tidak selaras ya dapat dimaklumi juga. Pandangan leluhur tentang kanca urip ini semakin relevan ketika seseorang mulai mendalami spiritual. Itulah jalan terbaik bagi anak-anak dan perkembangan spiritual diri.

Pandangan leluhur tersebut, semakin terasa benarnya, setelah diri sadar bahwa aku bukan egoku: bukan badanku; bukan pikiranku; dan bukan perasaanku; aku adalah saksi. Yang mengalami hukum sebab akibat adalah egoku. Ketika pemahaman aku sebagai saksi disadari dan dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari maka akan muncul kedamaian diri. Aku telah menjadi aku universal, bukan aku yang terpisah karena adanya egoku. Terima kasih Guru.

 

Triwidodo

September 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: