RUU Pornografi dan Hubungannya dengan Keutuhan NKRI


 

Sore itu Lik Darmo, seniman yang berambut sebahu itu bersilaturahmi ke rumah Pakdhe Jarkoni, kebetulan Pakdhe Jarkoni sedang keluar , maka dia ditemui oleh Wisnu, mahasiswa keponakannya, yang sedang nggethu, serius membaca Kompas.

 

Lik Darmo: Bagaimana pendapat dik Wisnu, sebagai mahasiswa terhadap UU Pornografi?

 

Wisnu: Lik Darmo, saya sangat gregeten, darah saya naik, apa mereka yang berusaha mengegolkan RUU ini, tidak melihat kondisi negara kita? Hampir semua bidang telah dikuasai Perusahaan Multi Nasional, mental korupsi dan suap kita begitu parah, mengapa pada saat kritis begini malah membuat suasana menjadi semakin tidak kondusif?

 

Lik Darmo: Maksud dik Wisnu, kita tidak tahu mana masalah yang lebih urgent? Salahnya apa dik?

 

Wisnu: Mohon maaf Lik Darmo, saya mahasiswa berdarah muda, tidak seperti Pakdhe yang berjiwa kasepuhan, orang tua. Minimal kesalahannya: 1. Prosesnya menyalahi pembentukan undang-undang yang terbuka dan menghargai aspirasi umum; 2. Komentar-komentar para politisi yang bernada mengancam mengarah pada rezim otoriter bertabir agama dan moralitas; 3. Semangatnya melukai prinsip-prinsip kehidupan bersama sebagai bangsa, bahkan telah membelah publik kedalam dua kutub yang sulit dipertemukan; 4. Mengesampingkan persoalan besar bangsa, korupsi dan suap yang parah, tanggung jawab bangsa yang kurang, neokolonialisme lewat perusahaan mutinasional; 5. Mengancam perkembangan industri kreatif.

 

Lik Darmo: Saya dukung dik Wisnu, demi kepentingan politik sesaat, sebagian pemimpin mengabaikan keutuhan dan kelestarian sebuah bangsa. Pornografi memang bisa menjadi sosial problem, namun bukan problem nasional. Saya juga menentang pornografi, tetapi RUU tersebut akan menyeragamkan nilai-nilai yang mengancam pluralitas bangsa. Mengatur moralitas individu berdasarkan persepsi moralitas tertentu.

 

Wisnu: Iya Lik Darmo, Adat istiadat dan ekspresi yang berbeda di Nusantara sudah ada sebelum agama-agama datang dan menjadi bagian inheren dari kehidupan masyarakat Nusantara. DNA rakyat Indonesia mempunyai persambungan dengan DNA nenek moyang Sriwijaya dan Majapahit yang diturunkan melalui generasi penerus, berkelanjutan sampai dengan kita. Peraturan yang tidak sesuai dengan jati diri kita, keindonesiaan kita, tidak akan membuat kita tenang. Saya baru saja selesai membaca Buku Terjemahan The History of Java tulisan Thomas Stamford Raffles, apa yang ditulis dengan lengkap pada tahun 1800-an, 200 tahun lalu, masih terasa kebenarannya sampai saat ini. DNA kita belum banyak berubah.

 

Lik Darmo: Saya sering mendengar kondisi rapat-rapat di DPR, rapat-rapatnya sering tidak mencapai kuorum, jumlah absen mungkin memenuhi, tetapi jumlah kepala yang hadir tidak sebanyak itu. Diantara mereka yang kita pilih pun banyak yang silent majority, diam demi kenyamanan diri, karena berada dalam comfort zone. Tidak sadarkah mereka, pada hari pembalasan nanti, hari dimana mulut kita dikunci, dan anggota tubuh menyampaikan pertanggungan jawab dengan sejujurnya? Karena ulah mereka bangsa kita semakin tercerabut dari akarnya?

 

Wisnu: Betul Lik Darmo, materi RUU Pornografi menegaskan tubuh perempuan adalah obyek perangsang laki-laki. Jadi siapa yang sebenarnya porno????

 

Triwidodo

September 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: