Mutiara Quotation SAPTAPADI, 7 Steps toward a happy marriage


Judul              : SAPTAPADI, 7 Steps toward a happy marriage

Pengarang      : Anand Krishna

Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan          : 2006

Tebal              : 236 halaman

 

Mutiara Quotation SAPTAPADI, 7 Steps toward a happy marriage

 

            Pada tanggal 18 Agustus 1945 dua orang pengikut Mahatma yang berbeda agama melakukan perkawinan di Ashram beliau. Perkawinan semacam itu memang tidak dilarang di India ketika India masih dijajah Inggris, maupun setelah kemerdekaannya. Perkawinan lintas agama dengan memberikan kebebasan penuh kepada masing-masing pihak untuk tetap menjalani agamanya malah difasilitasi oleh Kantor Catatan Sipil, dan disebut Civil Marriage.

            Mahatma Gandhi sadar betul bahwa hal itu tidak melanggar nilai-nilai budaya yang telah mengakar di wilayah peradabannya, wilayah peradaban Sindh, yang oleh petapa Cina disebut Shintu, Shin atau Syin, oleh sejarawan Arab disebut Hind, dan oleh bangsa-bangsa Eropa disebut Indies, Indische, Indo, India.

            Dari budaya asal itulah kita mewarisi Saptapadi, Tujuh Langkah Menuju Kebahagiaan Hidup, Kebahagiaan Berumahtangga. Warisan milik Anda ini saya kembalikan kepada Anda, semoga berkenan.

 

Langkah Pertama – Janji Pertama

 

I will provide you with food. Aku berjanji untuk menyediakan makanan dan minuman bagimu.

            Seorang pria harus memiliki pekerjaan yang tetap sebelum menikah. Dia tidak pantas mengharapkan sedekah, bantuan, maupun mas kawin. Dia sudah mandiri, tidak tergantung pada orang tuanya. Dia tidak menjadi beban di Pondok Mertua Indah. Istri adalah Menteri Dalam Negeri merangkap Menteri Keuangan dan kepala  Badan Perencanaan. Suami adalah Menteri Luar Negeri merangkap Menteri Perdagangan, Industri dan Tenaga Kerja.

 

I will be helpful in every way. Aku akan selalu membantumu di segala bidang.

            Itu termasuk mencuci piring, baju dan membersihkan lantai bila perlu. Dia bukanlah majikan atau master, tetapi anggota rumah tangga dengan tugas dan kewajiban yang sama dengan anggota lain.

 

I shall provide for the welfare of you and our children. Aku akan menyediakan segala yang dibutuhkan bagi kesejahteraanmu dan anak-anak kita.

            Bukan sekadar makanan dan minuman, seorang pria akan mengupayakan kesejahteraan secara menyeluruh. Selama anak masih anak, kesejahteraannya memang menjadi tanggungan orangtuanya. Bila sudah dewasa, ia harus belajar mandiri. Jangan mengawinkan anak atau merestui perkawinannya, sebelum ia mandiri. Bila ia memaksa, tegaskan bahwa Anda tidak bertanggung jawab lagi atas kesejahteraannya.

            Kesejahteraan yang dimaksud sungguh sangat luas lingkupnya. Bukan saja kesejahteraan materi, tetapi juga kesejahteraan jiwa, kesejahteraan mental dan rasa. Dan, nilai utama adalah cinta kasih. Bila hidup kita diwarnai olehnya, selesailah segala macam persoalan.

            Cinta kasih bukanlah keterikatan. Cinta kasih tidak memperbudak dan mengikat. Cinta kasih justru membebaskan. Demi cinta kasih terhadap anak-anak, berilah mereka kebebasan untuk berkembang sendiri sesuai dengan potensi dan kemampuan mereka.

            Seekor burung dengan rapi mempersiapkan sarang bagi anak-anaknya. Ia menjaganya hingga suatu saat mereka siap terbang sendiri. Siap, bisa tetapi anak-anak itu masih takut, masih tidak berani, maka ditinggallah mereka oleh induknya. Dari kejauhan ia memanggil mereka, memaksa anaknya untuk terbang sendiri mendekatinya.

 

I cherish you. Aku menghargaimu.

            Inilah dasar utama dalam perkawinan, dalam hidup berumah tangga. Bila kita kawin hanya karena urusan seks, perkawinan kita pasti tidak tahan lama. Kegairahan seks selalu membutuhkan pemicu baru untuk bertahan. Dari mana pula kita akan memperoleh pemicu baru setiap hari, setiap saat? Maka kita akan mencari pasangan lain, kita akan jajan di luar. Kemudian kau akan memaksa diri untuk mempertahankan perkawinanmu, karena merasa bersalah terhadap pasangan. Naamun perasaan bersalah pun bukan landasan kuat untuk berumah tangga.

            Loving, caring dan sharing adalah produk 3 in 1. Yang satu tidak bisa dipisahkan dari yang lain. Ketiganya berada dalam satu paket. Cinta, kepedulian dan kerelaan untuk berbagi adalah tritunggal yang disebut compassion, kasih yang melampaui segala batas; kasih yang tidak mengenal syarat. Dan saling menghargai adalah hasil dari kasih, hasil kasih.

 

Barulah, setelah mendengar janji dari calon suaminya, calon istri menjawab:

I accept you. Aku menerimamu.

            Ia menerima sang suami karena ketulusan hatinya, karena kejujurannya, karena kesiapannya untuk berjalan bersama, bahu membahu, bantu membantu; karena kesediaannya untuk hormat menghormati.

 

I shall be responsible of our household. Aku bertanggung jawab atas rumah tangga kita.

Maka terjadilah pembagian tugas.

 

I shall take care of our finances. Aku akan menjaga, mengurusi keuangan kita.

            Karena itu tidak ada salahnya seorang istri ikut bekerja bila keuangan suaminya tidak cukup. Berkembangnya seni lukis batik, seni masak dan seni-seni lain adalah karena waktu luang yang dimiliki oleh perempuan masa lalu. Seni adalah sumbangan perempuan dan keperempuanan di dalam diri seniman-seniman pria. Seni bersifat feminin, lembut dan melembutkan jiwa sealot apa pun juga.

            Namun, di atas segala aktivitas apa pun, ada sebuah aktivitas lain yang hanya dapat dikerjakan oleh seorang perempuan, yaitu mendidik dan membesarkan para pemimpin bangsa. Tidak sekadar melahirkan anak, tetapi membesarkan mereka. Membuat mereka menjadi manusia-manusia berjiwa besar. Kegiatan ini tidak dapat diambil alih oleh seorang pria.

            Adalah seorang perempuan yang melahirkan anak. Adalah kromosom X yang bersifat motorik dan diwarisinya dari induknya yang menggerakkan dia seumur hidup hingga ajal tiba. Kromosom pria, Y, mengandung memori namun tidak dapat melakukan sesuatu tanpa pasangannya X. Sementara itu, perempuan dapat hidup dengan X saja. Pria XY, angkanya 23-22 – Perempuan XX, angkanya 23-23. Para pria yang masih menganggap kaumnya lebih unggul perlu mendalami perkembangan ilmu mutakhir ini.

            Daya tahan perempuan jauh melebihi daya tahan pria. Itulah sebab ia dapat melakukan banyak hal yang tidak dapat dilakukan kaum pria. Rasa sakit saat kematian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan seorang perempuan saat melahirkan. Rasa sakit saat kematian hanyalah 50% dari apa yang dirasakan oleh perempuan saat melahirkan.

            Banyak kepercayaan yang membesar-besarkan penderitaan saat kematian untuk mengintimidasi umat, kemudian menawarkan solusi: Lakukan ini, lakukan itu, dan kau akan terbebaskan darinya.

            Rasa sakit ada di dalam otak. Otaklah yang mendeteksi rasa sakit, kemudian menyebarkannya ke seluruh badan. Karena itu, penyelesaiannya di dalam otak. Kita dapat menciptakan anastesi alami sebagai penawar rasa sakit.

            Saat melahirkan, seorang perempuan secara alami menciptakan anastesi itu dengan pernapasannya yang cepat. Seorang pria harus belajar lama untuk menguasai pernapasan seperti itu. Setelah belajar pun belum tentu ia mengingatnya saat kematian. Ia lupa dan ia menderita. Seorang perempuan yang pernah melahirkan ntidak pernah lupa, ia melakukannya juga saat kematian. Karena itu, ia terbebaskan dari penderitaan. Sungguh luar biasa!

            Saat melahirkan, seorang perempuan sesungguhnya sudah mengalami kematian.. pengalaman yang sangat mirip kematian. Ia sudah menderita. Karena itu pada saat kematian ia tidak begitu menderita lagi. Ia meninggalkan dunia ini dengan tenang. Walau sakit-sakitan sebelumnya, walau meninggal di rumah sakit, perhatikan senyumannya saat ajal tiba. Ia begitu lega, ringan, siap untuk perjalanan selanjutnya.

 

Langkah Kedua – Janji Kedua

 

Calon suami mengatakan:

Please fill my heart with strength and courage. Isilah hatiku dengan kekuatan dan semangat.

            Ia sadar sesadar-sadarnya bahwa perempuan adalah sumber energi, sumber kekuatan. Lapisan kesadaran kedua, chakra kedua memang kaitannya dengan energi. Chakra pertama dengan makanan dan minuman. Nafsu birahi di dalam diri manusia hanyalah bagian kecil dari energi itu. Bila bagian yang kecil dapat memberi kenikmatan yang luar biasa, bayangkan apa yang kita peroleh dari keseluruhan energi. Apalagi dari sumber energi, dari perempuan yang memiliki kromosom XX. Secara medis dan biologis pun ia sudah terbukti sebagai sumber energi. Dalam bahasa Sanskerta, perempuan adalah shakti. Energi itu sendiri, The Energy.

            Hanya seorang pria meditator, pria berkesadaran, pria yang telah memperoleh pencerahan yang dapat mengucapkan kata-kata ini: Isilah hatiku dengan kekuatan dan semangat. Ia mengakui kekurangannya, sekaligus kelebihan calon istrinya.

            Seringkali chakra kedua dikaitkan dengan seks, bahkan dalam bahasa Inggris disebut The Sex Center. Chakra kedua terkait dengan energi. Memang energi itu juga digunakan untuk kegiatan seks, namun digunakan juga untuk kegiatan-kegiatan lain. Untuk segala macam aktifitas sepanjang usia. Pria memiliki energi itu, dan ia paham bahwa energi yang menggerakkan itu, kromosom X nya, berasal dari induknya, dari ibunya, dari seorang perempuan. Ia tahu perempuan adalah sumber energi.

            Anda yang tengah membaca tulisan ini, Anda bukanlah orang bodoh. Anda tidak hidup dalam kegelapan. Bila Anda masih menganggap perempuan sebagai makhluk kelas dua, tiada maaf bagi Anda, karena kesalahan yang Anda lakukan terjadi dengan penuh kesadaran.

            Budaya kita tidak melihat perempuan sebagai objek seks yang menakutkan dan merongrong kejatuhan manusia ke neraka, sehingga tak ada keperluan untuk mengahruskan perempuan menutup rapat badan mereka. Budaya kita lebih percaya pada pemberdayaan dari dalam dan bukannya meniadakan semua godaan dari luar. Bila kuat di dalam, segala godaan di luar tak akan menggoda; bila lemah di dalam, segala sesuatu di luaran dapat menggoda. Bila imunitas ada di dalam diri, segala virus di luar dapat dikalahkan; tetapi bila sudah lemah di dalam, apa pun bisa jadi sumber penyakit.

            Tampak sepele, namun kebiadaban yang terjadi di negari kita ini tidak dapat dipisahkan dari apa yang terjadi dalam unit terkecil di dalamnya. Dan unit terkecil itu adalah keluarga.

Kembalilah pada budaya asal yang menyejukkan, jangan meniru budaya orang yang keras, kaku, alot dan tidak dapat menerima perbedaan.

Perempuan yang hendak diperistrinya pun menjawab:

In your grief, I shall always try to bring happiness. Bila engkau berduka, aku akan menghiburmu.

            Ia menyadari dirinya sebagai sumber energi, sumber kekuatan, maka ia berjanji, Bila engkau berduka, aku akan menghiburmu. Aku akan menjadi kekuatanmu. Aku akan mengangkatmu dari kegelapan duka itu dan menerangi kembali hidupmu. Aku akan mengisi hatimu dengan semangat baru.

In happiness Ishall rejoice. Dalam keadaan suka, aku akan ikut bersuka cita.

I will always try to use sweet words. Saya akan berusaha untuk selalu menggunakan kata-kata yang manis.

 

Langkah Ketiga – Janji Ketiga

 

            Lapisan kesadaran ketiga atau chakra ketiga terkait dengan kenyamanan dalam arti kata seluas-luasnya. Kenyamanan hasil kerja keras, hasil kita sendiri. Seorang pria mengambil langkah ketiga dan berjanji kepada calon istrinya:

I shall try, I shall do my utmost to increase our wealth and prosperity. Aku akan berusaha, aku akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk meningkatkan kekayaan dan kesejahteraan keluarga.

            Cinta di atas segalanya – setuju. Tapi, badan membutuhkan makan, minum, kenyamanan basic. Bila jatuh sakit, dibutuhkan pula obat-obatan. Saat melahirkan dibutuhkan bantuan dokter, atau setidaknya bantuan seorang bidan. Kita juga masih membutuhkan sandang dan papan. Pangan saja tidak cukup, belum cukup. Selanjutnya:

I shall be faithful to you. Aku akan selalu setia padamu.

            Seorang teman mengkritik, daripada menyeleweng sembunyi-sembunyi, lebih baik berpoligami. Saya tidak menjawab dia. Dua puluh enam tahun kemudian, putri tunggalnya menjadi korban poligami suaminya. Ia baru sadar betapa menyakitkan ulah seorang suami yang berpoligami.

Calon istri menjawab:

I respect your promise, therefore I promise you the same. Aku menghargai janjimu, maka aku pun berjanji yang sama.

My happiness lies beside you. Berada di sampingmu adalah kebahagiaanku.

 

Langkah Keempat – Janji Keempat

 

            Sekarang kita memasuki wilayah cinta; lapisan kesadaran atau chakra keempat. Setelah tiga janji sebelumnya diterima, sekarang pria memberanikan diri untuk menagajak calon istrinya untuk berjanji bersama:

Let us work together to bring sacredness and auspiciousness into our lives. Mari kita berusaha bersama untuk mengisi hidup kita dengan kesucian dan kemuliaan.

            Ini sudah jelas-jelas urusan spiritual, bukan urusan ritual agama. Bukan urusan akidah agama, tetapi urusan esensi agama. Bukan urusan perkawinan seiman maupun antar iman, tetapi perkawinan dengan iman, di mana iman itu menjadi landasan perkawinan. Iman suci dan mensucikan. Iaman mulia dan memuliakan. Iman luas dan meluaskan. Perkawinan yang betul-betul jelas bukan urusan syahwat dan selangkangan yang gatal. Perkawinan adalah sesuatu yang bersifat spiritual.

Selanjutnya, calon istri berkata:

If you forget this promise of yours, Ishall remind you. Bila kau lupa akan janjimu yang satu ini, aku akan mengingatkanmu.

 

Langkah Kelima – Janji Kelima

 

            Lapisan kesadaran atau chakra kelima – satu langkah lagi menuju Kesadaran Murni. Sepasang anak manusia yang btelah memutuskan untuk hidup bersama itu berjanji:

Together we shall work to enrich our lives with Consciousness. Bersama kita akan berupaya untuk memperkaya hidup kita dengan Kesadaran.

            Sekarang yang dibicarakan bukanlah kekayaan dan kesejahteraan duniawi untuk kenyamanan hidup semata. Sekarang, urusan perkawinan itu mengarah ke kesadaran, urusan rohani, urusan spiritualitas murni. Sekarang urusannya dengan kesadaran dan pencerahan.

            Pada tahap ini mereka mengurusi pembersihan dari segala mcam sampah yang mau tak mau terkumpul selama ini. Hidup dalam dunia ini ada input yang memiliki output dan by product-nya. Persis seperti dalam sebuah laboratorium. Ada hasilnya, ada pula sampahnya. Sekarang, saatnya kita membersihkan diri dari sampah-sampah macam itu.

            Ketika kita sedang mempraktekkan cinta, benci adalh sampahnya. Sampah ini pun selalu ada di dalam diri kita, walau yang terlihat di muka hanyalah cinta. Ketika kita sedang mempraktikkan kebenaran , kepalsuan adalah sampahnya. Dan kepalsuan itu pun tetap ada di dalam diri kita, bila tidak dikeluarkan.

            Banyak orang yang telah bermeditasi hingga bertahun-tahun, kemudian tergoda oleh kepalsuan, dan kebenaran pun terlupakan dalam sekejap. Kenapa? Apa yang terjadi? Karena, selama ini mereka tidak mengeluarkan sampah-sampah yang ada dalam diri mereka. Sampah-sampah itu mereka simpan. Mereka lupa membersihkan diri. Persis seperti pecandu narkoba yang merasa sudah sehat karena sudah tidak mengkonsumsi narkoba lagi. Ia tidak tahu bahwa perasaan tanpa kesadaran hanya bertahan sesaat saja. Pemicu di luar dapat mengubahnya setiap saat kapan saja.

            Langkah kelima ini diambil bersama untuk membersihkan diri dari sampah-sampah pikiran, ingatan dan keinginan-keinginan yang berlebihan; karena susu semurni apa pun akan rusak bila wadah yang digunakan untuk menyimpannya tidak bersih.

            Janji ini dibuat untuk letting go of the past. Apa pun yang terjadi di masa lalu, ya sudah… Masa lalu memang tidak bisa diperbaiki, termasuk konsekuensi dari perbuatan kita di masa lalu. Akibatnya harus dipikul, tetapi masa depan masih dapat diperbaiki. Masa depan lahir dari kandungan masa ini, dari hari ini. Inilah kesadaran, dan kesadaran seperti inilah yang dapat memperkaya hidup kita.

Calon istri berbahagia:

Your beautiful words make me honor, trust and love you. Kata-katamu yang indah membuatku menghormati, mempercayai dan mencintaimu.

 

Langkah Keenam – Janji Keenam

 

Calon suami berkata:

You have truly filled my heart with happiness, may you be filled with peace. Kau telah membahagiakan hatiku, semoga kedamaian mengisi hatimu pula.

Calon istri menjawab:

I will always support you in all your virtuous acts. Aku akan selalu mendukungmu dalam kegiatan-kegiatanmu yang baik dan mulia.

 

Langkah Ketujuh – Janji Ketujuh

 

            Lapisan kesadaran atau chakra ketujuh berkaitan dengan keseimbangan sebagai hasil dari sanggam atau senggama – pertemuan. Bukan sekedar pertemuan, tetapi The Meeting, The Union, Pertemuan Agung. Calon suami mengambil langkah ketujuh bersama calon istri, dan berkata:

From now onwards, we are friends. Mulai sekarang, sejak detik ini juga kita berteman.

            Persahabatan, kemitraan – itulah tujuan perkawinan. Persahabatan adalah sesuatu yang luar biasa.persahabatan adalah langkah awal menuju Pertemuan Agung. Persahabatan dengan sesama manusia adalah anak tangga yang dapat mengantar kita kepada-Nya.

            Persahabatan tidak membutuhkan perekat lagi. Cinta pun sudah tidak dibutuhkan sebagai perekat, karena persahabatan lahir dari cinta itu sendiri.bagaikan garam dalam air laut, cinta sudah ada dalam persahabatan. Garam masih dapat dipisahkan, diekstrak dari air laut, cinta tidak bisa dipisahkan dari persahabatan. Tidak ada persahabatan tanpa rasa cinta. Seorang perempuan yang memahami pula ketulusan calon suaminya, dan ia mengatakan:

Our frienship is now complete, I therefore promise in good faith and with pure mind that I shall not cause you disturbance in all yaour beneficial undertakings. I love you and love such undertakings of yours. Sempurna sudah persahabatan kita, maka aku berjanji tak akan mengganggumu dalam usaha-usahamu yang menguntungkan dan demi kebaikan sesama. Aku mencintai dirimu dan segala kegiatanmu itu.

            Berada pada lapisan kesadaran ketujuh ini, kepentingan kita pun sudah tidak relevan lagi. Kepentingan keluarga dan kita harus mengalah pada kepentingan sesama. Dari aku ke kamu, dari kamu ke kita dan dari kita ke semua atau sesama. Inilah perjalanan hidup. Inilah tujuan perkawinan.

Bila kita ingin menikah karena urusan selangkangan semata, kita belum layak untuk itu. Bila kita ingin menikah hanya untuk memperoleh keturunan, sebaiknya kita memungut seorang yatim piatu. Namun, bila kita ingin mencapai kesempurnaan diri lewat perkawinan, lewat persahabatan, masukilah wilayah suci ini dengan penuh percaya diri.

            Masukilah wilayah suci ini demi kesucian dan penyebaran kesucian. Sebarkan kesucian. Berbagilah kesucian itu dengan sesama manusia, dengan sesama makhluk hidup. Pasangan kita adalah sahabat kita dalam tugas suci ini. Inilah makna perkawinan yang dikenal oleh budaya asal kita; makna yang sudah terlupakan lama. Kita boleh beragama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, apa saja… makna perkawinan ini tidak melanggar nilai-nilai dasar yang ada dalam agama kita, karena makna perkawinan ini bersifat user friendly. Sangat layak bagi manusia dan kemanusiaan di dalam dirimu.

            Pasangan kita bukanlah milik kita, karena hanya Dialah Pemilik Tunggal Alam Semesta – Al Malik. Syukurilah keberadaannya di samping Anda, karena Ia telah menitipkannya kepada Anda.

            Sahabatku, saudaraku, dengan kesadaran seperti inilah hendaknya kita mengisi perkawinan kita, maka kebahagiaan pun akan datang sendiri. Kemudian, sebarkan kebahagiaan ini ke seluruh kota, ke seluruh negeri, ke seluruh dunia. Itulah langkah pertama menuju kedamaian dunia, kedamaian alam semesta.

Mari menyiapkan diri untuk mengambil langkah ini!

 

Triwidodo

September 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: