Bom Bali III


Anand Krishna*

Radar Bali, Minggu 5 Oktober 2008

 

 

 

Amrozi, Samudera, Muchlas dan gerombolan, termasuk para simpatisan mereka dengan berbagai latar belakang – ternyata gagal merusak Bali. Mereka juga gagal mematahkan semangat para wisatawan yang masih saja memilih Bali sebagai salah satu tujuan pariwisata utama. Aktor intelektual atau inspirator di balik mereka pun sudah pasti bingung, karena mereka tidak berhasil meneror kita.

 

Bom Bali pertama dan kedua memang merugikan secara materiil, namun secara spiritual semestinya malah menguntungkan. Kedua kejadian itu semestinya membuat kita makin sadar akan ketakkekalan fisik, dan kekelan spirit.  Adalah cerita lain bila sebagian besar diantara kita tidak juga mengambil hikmah dari kedua peristiwa tersebut.

 

Seandainya, kita belajar dari kedua peristiwa tersebut, maka sesungguhnya peristiwa Bom Bali ketiga yang baru saja terjadi – tidak terjadi.

 

Dengan Bom Bali Ketiga, maksud saya adalah pembunuhan keji yang dilakukan oleh saudara kita sendiri, warga Bali, Agung Rai. Kedahsyatan bom pertama dan kedua sungguh terkalahkan oleh kedashyatan bom ketiga ini.

 

Bila bom pertama dan kedua adalah serangan pada fisik kita, maka bom ketiga ini adalah “ledakan batin” kita. Rasanya, Amrozi dan gerombolannya digunakan oleh Sang keberadaan untuk menyadarkan kita semua, tetapi kita tidak sadar juga. Maka, terjadilah ledakan yang maha dahsyat ini.

 

Mari kita berhenti mencari pembenaran bahwa Agung Rai membunuh kedua majikannya karena tekanan ekonomi. Mari kita juga tidak mencari pembenaran atas perbuatannya itu dengan menyatakan dirinya menderita gangguan jiwa. Siapa diantara kita yang tidak menderita gangguan jiwa? Salah satu koran nasional baru saja melakukan poling, ternyata 4 dari 10 orang diantara kita mengalami depresi dan stres yang sudah pasti mengganggu jiwa kita. Kemudian, apakah 4 dari 10 orang itu akan dibenarkan membunuh seseorang?

 

Sedemikian dahsyatnya Bom Ketiga ini, terbukti dari jumlah pengacara yang bersedia untuk membela Agung Rai. Ajaib! Atas nama Profesionalisme? Tuan pengacara, bagaimana jika mereka yang dibunuh itu adalah anggota keluarga Anda sendiri? Saudara atau anak atau orangtua Anda sendiri?

 

Adalah lebih elegan jika pengadilan mencarikan seorang pengacara untuk mendampingi Agung Rai. Seorang penjahat pun boleh didampingi oleh seorang pengacara, tidak menjadi soal. Tetapi bukan untuk membela kejahatan. Seorang pengacara semestinya membela kebenaran. Adalah tugas dan kewajiban seorang pengacara yang sedang mendampingi seorang penjahat, supaya orang yang didampinginya itu menyadari kejahatan dirinya, bertobat dan tidak bertele-tele dalam persidangan.

 

Profesionalisme adalah ego pribadi. Keadilan adalah mahkota kemanusiaan. Mana yang lebih penting?

 

Luka batin yang diberikan oleh Agung Rai kepada Bunda Bali – mesti diingat sepanjang masa. Supaya, tidak ada lagi putra Bali yang melukai sendiri ibunya.

 

Agung Rai akan dihukum. Tetapi hukuman itu, sebetapa pun beratnya, tak mampu menyembuhkan luka sayatan yang tergores pada dada Bunda Bali. Luka itu mesti disembuhkan dengan dan oleh kesadaran diri kita.

 

Beban ekonomi…. Siapa yang menyebabkannya? Apa yang menyebabkannya? Hingga hari ini Bali masih saja dibanjiri oleh orang dari luar dan dalam negeri, untuk mengadu nasib dan mencari nafkah. Ternyata mereka berhasil. Sering saya bertemu dengan mereka yang gagal di Jakarta, di Surabaya, di Medan, bahkan di Milan nan jauh sana – dan berhasil disini. Mereka datang dengan modal baju dan uang yang cukup untuk membayar hotel selama seminggu saja. Sekarang, mereka kaya raya.

 

Sementara itu, di Jakarta masih ada warga Bali yang bekerja sebagai satpam atau office-boy. Apa yang salah dengan diri kita?

 

Beban ekonomi…… Baca tulisan di media ini tentang biaya yang kita keluarkan untuk upacara. Seorang pejabat tinggi, dengan nada sedih, bercerita tentang biaya ngaben di Kuta, Ubud dan di pedalaman Buleleng. Di Kuta dan Ubud, rata-rata keluarga yang ditinggalkan mampu membayar 5 juta, di pedalaman Buleleng untuk membayar 500,000 saja mesti hutang atau menggadaikan sepetak sawah.

 

“Beban ekonomi”, sebagaimana jua “krisis ekonomi” adalah dua kata yang tidak pantas digunakan dalam konteks Bali. Bila orang Bali menderita, sementara orang dari luar bisa menikmati hidup di Bali – maka kesalahan ada pada diri kita. Mari kita berhenti mencari pembenaran dan menangisi nasib. Sesungguhnya kita semua bernasib baik sehingga dilahirkan di Bali yang kaya dengan sumber alam, seni, budaya, dan kekayaan-kekayaan lain baik materil maupun spirituil.

 

Sekarang, tinggal memanfaatkan apa yang sudah dianugerahkan oleh alam kepada kita. Kita mesti lebih cakap dalam hal pengolahan aset-aset kita. Para pejabat yang menjual Bali dan membiarkan pembangunan yang tidak cerdas merusak Bali, mesti disadarkan akan kewajiban mereka terhadap Bunda Bali. 

 

Manusia Bali mesti berdagang kembali, tidak puas menjadi birokrat saja. Manusia Bali lebih cocok membuka warung sendiri daripada menjadi manajer di hotel berbintang milik orang asing. Guest-houses kita mesti menjadi saingan berat bagi hotel-hotel dan vila-vila milik para investor dari luar.

 

Para pemandu wisata pun mesti diberi pencerahan tentang keadaan Bali yang sesungguhnya. Demi komisi besar dan kepentingan kantong pribadi, mereka tidak boleh merugikan sesama warga Bali. Seorang pemahat bekerja keras dan memperoleh penghasilan tidak lebih dari sekian ratus ribu untuk patung seharga 10 juta. Tetapi, seorang pemandu mengambil keutungan 5 juta bahkan lebih. Ini tidak fair. Uang yang dihasilkan dengan memeras darah sesama warga Bali, tidak akan bertahan lama.

 

Saya salut pada Gubernur Mangku Pastika yang mengharapkan para Bupati tidak sekedar bercerita tentang yang baik-baik saja, justru yang jelek mesti dihadapi.

 

Dan, yang terjelek saat ini kita hadapi adalah krisis moral, krisis budaya, krisis kesadaran. Agung Rai adalah bukti nyata akan hal itu. Kita semua, seluruh Bali mesti bertanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh Agung Rai. Tidak boleh lagi ada Agung Rai kedua di pulau Bali ini.

 

Kesadaran, kecerdasan, keahlian – inilah kebutuhan utama kita. Tanpa ketiga hal tersebut, Bali akan menjadi korban Bom Keempat, Kelima dan seterusnya. Dan, itu tidak boleh terjadi. Mari bersama kita menyelamatkan Bali demi anak cucu kita, dan upaya keselamatan itu mesti dimulai dari diri sendiri.

 

 

*Aktivis Spiritual (http://www.californiabali.org/, http://www.aumkar.org/, http://www.anandkrishna.org/)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: