Hiburan bagi Raga dan hiburan bagi Jiwa


Spiritualitas adalah hiburan bagi jiwa. Bila kita masih mencari hiburan lain, maka itu membuktikan kita belum mengetahui kebutuhan jiwa, baru bersentuhan dengan raga (SMS Wisdom, Anand Krishna).

 

Kenyamanan dan kebahagiaan

            Seekor kambing berbahagia selama masih bisa makan rumput dan hidup dalam kandang. Seekor binatang belum bisa membedakan antara kebahagiaan dan kenyamanan. Apabila manusia dapat memenuhi kebutuhan dasarnya yaitu makan, minum, tidur dan seks, maka manusia pun merasa nyaman. Akan tetapi rasa nyaman tidak sama dengan rasa bahagia, banyak orang berharta yang sangat nyaman tetapi belum merasakan kebahagiaan. Manusia memiliki kemampuan untuk membedakan antara kenyamanan dan kebahagiaan.

Polling yang diadakan di Inggris pada tahun 1957 menyatakan bahwa 52% di antara para responden merasa sudah cukup bahagia. Sementara itu, pada tahun 2007, hanya 36% yang merasa bahagia. Padahal, dalam 50 tahun terakhir penghasilan orang-orang Inggris telah meningkat hingga 3 kali lipat. Menurut polling dari BBC tersebut, faktor yang membahagiakan adalah 1. relasi; 2. kesehatan; 3. ketenangan batin dan kepuasan. Faktor no.1 dan no.2 menyangkut fisik, akan tetapi faktor no.3 menyangkut batin, rohani.

            Ketenangan batin dan kepuasan muncul dari kesadaran. Kita sadar bahwa keinginan tidak mengenal batas. Setiap keinginan yang tidak terpenuhi menimbulkan kekecewaan. Karena itu, dengan penuh kesadaran kita membatasi keinginan kita. Saat itulah kita menjadi tenang dan puas. Selama ini manusia tidak bahagia di dalam dirinya, dia mencari kebahagiaan di luar, karena dia tidak pernah menghargai dirinya sendiri. Justru keadaan dan benda-benda di luarlah yang dihargainya.

 

Shifting Awareness, pergantian kesadaran

            Shifting awareness, pergantian kesadaran membahagiakan. Seorang pecandu, pemabuk, perokok merasa bahagia ketika ia mengalami shifting of awareness, ketika ia melampaui kesadaran jaga dan memasuki kesadaran yang lain. Saat terjadinya shifting awareness itulah yang membahagiakan. Pergantian kesadaran yang hanya terjadi sesaat saja. Semestinya manusia mencari kebahagiaan sejati yang abadi lewat shifting awareness yang terjadi bukan sesaat saja, tetapi untuk selamanya. Berarti shifting awareness yang kita rasakan mesti berlanjut untuk waktu yang lama.    Pada waktu indera menikmati makanan, terjadi pergantian kesadaran dari kesadaran jaga menjadi kesadaran yang lain, terjadi celah antara dua pikiran dan merasakan kebahagiaan sesaat. Perpindahan kesadaran yang membahagiakan itulah yang membuat diri kecanduan makan berlebihan, merokok atau minum memabokkan.

            Mata yang mengkonsumsi hal yang indah berlebihan, hidung dan telinga mengkonsumsi keharuman dan suara musik melebihi kewajaran, bacaan-berita-diskusi yang dimasukkan otak melampaui takaran, itu semua hanya pelarian dari rasa tidak bahagia yang ditimbulkan pikiran.

            Spiritual bukan hanya mencari kenikmatan yang terjadi diantara dua celah pikiran, ataupun lari dari suatu hal yang tidak membahagiakan, akan tetapi bagaimana menundukkan pikiran. Hal tersebut bukan pekerjaan yang mudah karena selama ini pikiran kita biarkan memerintah diri kita.

            Bapak Anand Krishna berkata: Spiritualitas adalah hiburan bagi jiwa. Bila kita masih mencari hiburan lain, maka itu membuktikan kita belum mengetahui kebutuhan jiwa, baru bersentuhan dengan raga.

 

Panduan Guru untuk memperoleh kebahagiaan dari dalam diri

Salah satu hal yang penting dalam spiritual adalah keceriaan. Keceriaan berasal dari dalam diri manusia. Keceriaan adalah sebuah sikap, suatu sifat. Manusia  tidak tergantung pada orang lain untuk bersikap ceria. Sikap itu adalah milik manusia sendiri. Manusia boleh miskin, tidak berduit, orang susah di mata orang kaya, tetapi tetap bisa tetap ceria.

            Cara mendapatkan kebahagiaan yang lain adalah menenangkan pikiran dan masuk ke dalam kesadaran Ilahi. Kejahatan dan kebaikan adalah produk pikiran. Bila seseorang harus berpikir untuk berbuat baik, suatu waktu dia pun pasti berpikir untuk berbuat jahat. Kemudian dia akan terombang-ambing antara kedua tepi itu. Keadaan itu yang menyebabkan kegelisahan. Pikiran dapat ditenangkan dengan menghanyutkan pikiran ke dalam Kesadaran Ilahi. Pikiran dihanyutkan pikiran dengan meniti ke dalam diri, karena Kesadaran Ilahi tidak berada di luar diri. Tempat-tempat ibadah di luar itu sekedar cermin untuk mengingatkan keadaan diri yang sebenarnya. Hening, kosong, plong, namun tidak hampa, tidak sepi. Menurut Bapak Anand Krishna, dalam keheningan itulah terjadi Pertemuan Agung. Kita pun akan merayakan pertemuan itu bersama Krishna yang ceria, Isa yang bercanda, dan para Buddha yang cerah.

 

Triwidodo

Oktober 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: