Semar Rohnya Indonesia

Semar di dalam diri manusia Indonesia

Tokoh Semar selalu muncul dalam setiap pementasan wayang. Penampilan dan perannya mengundang penafsiran yang beraneka ragam. Peran Semar menarik untuk ditelaah kembali dalam pencarian jati diri bangsa yang pada saat ini sedang menghadapi tekanan dari budaya asing yang melanda seluruh pelosok Nusantara. Hal ini penting agar bangsa Indonesia tidak terlalu jauh terperosok ke dalam budaya asing dan melupakan akar budayanya sendiri.

Dalam DNA manusia Indonesia terdapat catatan pengalaman leluhur-leluhur zaman Sriwijaya, zaman Majapahit dan genetik bawaan dari pembangun Candi Monumental Borobudur. Zaman dulu dan zaman sekarang ini adalah satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan. Perilaku manusia saat dewasa terkait erat dengan perilaku dia sewaktu kecilnya. Sebuah kontinuitas yang melekat. Kearifan bangsa Indonesia sudah ada sejak zaman dahulu. Berdasar pengetahuan tentang genetika, bangsa Indonesia perlu mengkoreksi klasifikasi sejarah yang mengkotak-kotakkan Sejarah Bangsa menjadi Zaman Pra Hindu, Zaman Hindu, Zaman Islam, Zaman Penjajahan dan seterusnya. Genetik manusia Indonesia saat ini ada kaitannya dengan masa lalu, tidak dapat dipisah-pisahkan atas dasar kepercayaan yang dianut pada beberapa masa. Genetik yang berada dalam diri manusia Indonesia pernah mengalami zaman pra Hindu, zaman Hindu, zaman Islam, zaman Penjajahan. Masa-masa itu semua pernah dialami oleh genetik manusia Indonesia. Demikian pula genetik penuh ketakutan pada masa lalu dan genetik penuh keberanian pada masa lalu juga ada dalam diri manusia Indonesia.

Baca lebih lanjut

Pagelaran Wayang Sebagai Model Pemicu Peningkatan Kesadaran

Pelajaran dari model fisik, model perilaku dan model pemicu peningkatan kesadaran

Sungai Bengawan Solo sering terjadi banjir, oleh karena itu pemerintah merencanakan pembangunan sudetan sungai baru di Desa Babat, Lamongan menuju ke laut, agar dapat mengurangi besarnya banjir. Dalam perencanaannya, sebuah perhitungan teknis saja tidak cukup, karena banyak faktor lapangan yang sulit disederhanakan. Oleh karena itu para pakar membuat model penelitian fisik di laboratorium dengan membuat model Sungai Bengawan solo dengan skala dimensi yang lebih kecil. Pada model tersebut dibuat sudetan dan dicoba dengan simulasi beberapa besaran debit banjir. Hasil penelitian menggunakan model tersebut lebih dapat mewakili kenyataan yang terjadi di lapangan dari pada perhitungan teknis semata.

Para pakar perilaku ingin mengetahui apakah kondisi lingkungan tertentu dapat mempengaruhi moral seseorang. Satu kelas mahasiswa di Universitas Washington melakukan simulasi model perilaku selama dua minggu. Separuh mahasiswa menjadi sipir, penjaga penjara sedangkan separuhnya lagi menjadi narapidana. Belum sampai satu minggu simulasi dihentikan, karena perilaku para sipir sangat keterlaluan, semakin semena-mena, sedangkan para narapidana semakin hari semakin tertekan, depresi berat. Ternyata lingkungan kerja mempengaruhi perilaku. Ini merupakan contoh model penelitian perilaku.

Baca lebih lanjut

Gunungan Wayang Kulit Dan Global Warming

Gunung, Candi dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

Secara umum Gunungan menggambarkan bentuk gunung, profil lapisan permukaan bumi yang menonjol. Gunung mempunyai sifat alamiah yang stabil. Gunung menggambarkan tempat yang tinggi, sejuk, oksigen yang tipis, lereng yang curam penuh hutan belukar, pada kaki gunung biasanya terdapat dataran yang subur. Daerah pegunungan cocok sebagai tempat peristirahatan, tempat mencari kedamaian batin. Pemandangan yang indah dan alami di pegunungan membangkitkan rasa terdalam dalam diri seseorang.

Oksigen yang tipis di pegunungan mengakibatkan seseorang kurang bicara, dan mudah mendapatkan inspirasi. Otak kita mendapat masukan energi dari sari-sari makanan dan oksigen. Pasokan oksigen yang tipis di tempat pegunungan yang tinggi, membuat pikiran seseorang berkurang keaktifannya, berkurang keliarannya dan menjadikannya lebih meditatif.

Baca lebih lanjut

Salah Satu Penyebab Anak Bangsa Kurang Cerdas

Di suatu hari minggu, pulang dari jalan sehat Pakdhe Jarkoni lewat di depan rumah Bu Guru Nana dan Pakdhe jarkoni diajak diskusi Bu Guru Nana di depan rumahnya.

 

Bu Guru Nana: Tindak-tindak, jalan-jalan Pakdhe? Kelihatan segar sekali.

 

Pakdhe Jarkoni: Iya, sejak Sekolah Dasar Pakdhe sudah suka olah raga. Bagaimana murid-murid sekarang Bu Guru? Tambah kritis ya pemikirannya?

 

Bu Guru Nana: Memang tambah kritis Pakdhe, tetapi kayaknya kelebihan energi, tidak dapat tenang, dibanding dulu mungkin gizinya lebih baik ya Pakdhe? Memang tak ada yang lebih efektif untuk membangun suatu bangsa kecuali lewat pendidikan yang baik, pelayanan kesehatan yang prima dan input makanan yang berkualitas.

Baca lebih lanjut

Budaya Sebagai Alat Pemersatu

Malam semakin larut tetapi pakdhe Jarkoni masih asyik berdiskusi dengan Wisnu, keponakannya seorang aktifis mahasiswa.

 

Pakdhe Jarkoni: Budaya memberi ciri khas pada suatu bangsa. Beda bangsa kita dengan bangsa lain terletak dalam perbedaan budayanya. Budaya adalah unggulan-unggulan dari adat kebiasaan yang bersifat luhur dan universal dari suatu bangsa.

 

Wisnu: Maksud Pakdhe, perbedaan adat atau kebiasaanlah yang sering membuat friksi dan budayalah yang mempersatukan suatu bangsa?

Baca lebih lanjut

Kebiasaan Masturbasi Anak Bangsa

Sambil minum teh kental manis, Pakdhe Jarkoni berbincang-bincang dengan Wisnu, keponakannya yang menjadi mahasiswa perguruan tinggi negeri.

 

Pakdhe Jarkoni: Wisnu, saya sedang ketawa sendiri, he he he ada rubrik dokter yang membahas tentang masturbasi dalam surat kabar.

 

Wisnu: Tidak apa-apa to Pakdhe, asal tidak keseringan! Daripada otak sumpek tidak dapat berpikir, kan sehat-sehat saja. Memangnya Pakdhe belum pernah muda?

Baca lebih lanjut

Sudut Pandang: Pencarian ’sang pemimpin’

Diambil dari http://www.aumkar.org/ind/

 

 

 

Beberapa minggu lalu saya berada di Singapura, menghadiri peluncuran buku seorang tokoh terkemuka. Penulis tersebut, Prof. Joyce Lebra, ialah seorang Amerika yang berusia 80 tahun lebih, tapi begitu muda dalam hal energi, semangat dan kekuatan. Beliau menulis tentang India dan Jepang dengan gairah yang tak ada bandingannya. Barangkali gairah itu pulalah yang menarik perhatian Presiden Singapura, S.R. Nathan, yang menganugerahinya acara ini.

 

 

Sehari sebelum acara peluncuran buku, saya mendapat kesempatan langka menemani sang penulis ke istana Presiden untuk minum teh. Saya terkejut sekali oleh kesederhanaan mereka, kantornya, ruang pertemuannya, dan para pegawainya. Di atas segalanya, saya begitu terkesan oleh ketertarikan beliau pada sejarah.

 

Kami berdiskusi tentang Subhash Chandra Boshe, pejuang besar kemerdekaan India dan subjek penelitian Prof. Lebra baru-baru ini. Masyarakat India suka menyebut Bose sebagai Netaji, atau “sang pemimpin”. Namanya menyandang gelar itu sampai hari ini, lebih dari enam dekade paska kematian yang terlalu cepat  dalam sebuah kecelakaan pesawat. Apa yang membuatnya menjadi seorang pemimpin? Presiden Nathan menyebutkan tiga kualitas utama yang semua pemimpin musti miliki: menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan lain, ketegasan dan kesediaan untuk menjadi tak populer.

 

Saya bisa menambah banyak lagi dalam daftar. Saya tentu akan menambah kriteria kesederhanaan dan kebijaksanaan, bukan semata pengetahuan dari buku dan pinjaman dari orang lain. Presiden Nathan tampak puas dengan tiga kualitas tersebut, barangkali karena kriteria lain sudah melekat dan menjadi sifatnya.

 

Duta besar Singapura untuk Yordania dan Direktur Institut Studi Asia Tenggara, K. Kesavapany, yang menjamu kami, mengatakan pada saya kemudian: “Pejabat kami di sini tak mendapat sopir apalagi mobil. Mereka harus mengendarai mobilnya sendiri ke tempat kerja. Presiden juga lebih memilih tinggal di rumah yang sederhana, walau beliau bisa saja tinggal di istana.”

 

Rumah yang sederhana benar-benar sederhana. Ini bukan sebuah komplek atau sebuah jalan yang diubah menjadi komplek perumahan untuk presiden, anggota keluarga dan kroninya.

 

Saya sekarang merasa yakin kenapa kita ketinggalan jauh dari Singapura. Singapura mungkin sebuah negara kecil sehingga lebih mudah ditata, tapi itu bukan satu-satunya sebab kenapa Singapura lebih baik penataannya ketimbang negara kita. Manusialah yang menata sebuah negara, sang mananger, yang membuat perbedaan. Bukan sistem, bukan bedil, tapi manusia yang memegang bedillah yang menciptakan segala perbedaan itu.

 

Di negara ini saat ini kita memiliki banyak pejabat tapi tak satupun pemimpin. Dalam bahasa Indonesia kita memiliki kata panutan, yang berarti “menjadi teladan”. Kita kekurangan kualitas kepemimpinan tersebut karena pejabat kita tak menempatkan dirinya di depan sebagai contoh.

 

Kesavapany mengatakan lebih lanjut, “Kami tak menyediakan fasilitas khusus bagi para pejabat, karena mereka menjabat hanya sementara waktu. Setelah itu, mereka musti kembali ke masyarakat dan hidup seperti orang kebanyakan. Jika mereka diberi perlakuan khusus dan mereka menjadi terlena dengan gaya hidup tersebut, itu akan menyulitkan diri mereka untuk menyesuaikan diri dengan norma yang biasa berlaku di masyarakat.”Hal ini begitu masuk akal dan mudah sekali untuk dipahami. Tapi bisakah kita memahaminya? Atau karena saking sederhananya sulit dipahami oleh pikiran kita yang begitu bising dan njelimet?

 

“Negara anda baik-baik saja dan berada di jalur yang tepat. Dan para pejabat melakukan tugasnya.” Saya mendengar pengakuan itu dari dua utusan luar negri di Jakarta. Um…apa benar demikian? Kepala negara dan lembaga keuangan internasional  terkemuka mengatakan hal senada lebih dari satu dekade lalu saat kita diberkati dengan sebuah “mukjizat ekonomi”.

 

Sayangnya, keajaiban itu tak berlangsung lama. Ekonomi kita berantakan pada tahun 1997, dan walaupun pernyataan “di atas jalur” sudah basi, tulisan di atas dinding begitu jelas. Kita belum sembuh. Aset nasional dan sumber daya alam kita telah dijual sejak krisis tersebut. Dan musim penjualan itu terus berlangsung tanpa terlihat tanda-tanda kapan akan berakhir.

 

Kita sedang dalam pencarian seorang pemimpin, yang dapat mengarahkan kembali diri kita dari kepentingan pribadi yang begitu sempit ke arah kepentingan nasional yang lebih luas. Kita sudah mencarinya di luar negeri selama beberapa waktu. Barangkali, saatnya telah tiba untuk kita mencarinya di dalam. Bisa jadi kita telah memiliki seorang pemimpin di dalam diri kita, di dalam diri anda dan diri saya. Kita tinggal membangunkannya saja.

 

Anand Krishna ,  Jakarta   |  Kamis, 06/Nov/2008 10:30 AM  |  Opini