Budaya Nusantara, Berkembang, Menyesuaikan Diri atau Mati Pelan-Pelan


Posisi budaya lokal dalam era ekonomi kreatif

            Tari Barong dan Kecak di Bali menjadi andalan pariwisata dalam era globalisasi saat ini. Kebanyakan turis mencari hiburan yang khas dari suatu daerah untuk memuaskan keinginan tahunya dan mencari nilai keindahan dari budaya daerah yang dikunjunginya.

            Indonesia dengan keberagaman budaya lokalnya memiliki posisi strategis dalam era globalisasi yang telah mendorong berkembangnya ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif memfokuskan diri pada kekayaan budaya. Dalam era globalisasi, budaya lokal merupakan salah satu mata air ekonomi yang potensial bagi suatu bangsa. Budaya-budaya lokal perlu dilestarikan agar terjaga dari serangan virus berbahaya yang mengakibatkan kepunahan.  Salah satu cara melestarikan adalah dengan proses pewarisan nilai budaya kepada generasi muda. Setiap karya budaya akan tetap lestari bila ia mampu menyempurnakan diri dengan penampilan-penampilan yang bisa mengena terhadap generasi muda. Dalam era ekonomi kreatif, pewarisan budaya kepada generasi muda dan kesiapan mereka untuk mengelola aset merupakan kata kunci dalam proses pelestarian budaya.

 

Hukum alam yang perlu menjadi perhatian

Hukum alam merumuskan bahwa yang lahir dan tumbuh akhirnya akan mati. Setelah mencapai titik tertinggi perkembangan dimulailah jalan menurun menuju ketiadaan. Untuk mempertahankan spesiesnya makhluk hidup membuat generasi baru yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat. Dinosaurus dan Mastodon sudah tidak ada, tetapi reptilia dan gajah tetap eksis. DNA yang dikandung Dinosaurus dan Mastodon masih ada yang terbawa setelah jutaan tahun berlalu.

Seorang master spiritual yang sudah “cerah” pun masih selalu berkembang. Begitu dia puas dengan dirinya dan tidak mau berkembang lagi maka penurunan akan mengikutinya. Hukum alam itu berbunyi berkembang atau mati pelan-pelan. Tubuh manusia dalam waktu satu tahun sudah 90% selnya berganti. Air yang lewat di Bengawan Solo pada saat ini sudah berbeda dalam dua detik kemudian. Cuaca yang sejuk di Solo zaman dahulu sudah berubah menjadi lebih panas.

Perubahan-perubahan yang terjadi adalah wajar dan selaras dengan alam yang selalu berubah. Pakem-pakem atau aturan-aturan dari lembaga-lembaga yang terlalu membelenggu juga tidak selaras dengan alam. Semuanya selaras pada waktunya dan harus berubah menyesuaikan diri dengan keadaan seiring dengan perubahan zaman. Esensinya atau hakikinya boleh saja tidak berubah, tetapi penampilannya perlu penyesuaian. Dalam bidang spiritual, esensinya adalah bagaimana manusia meniti jalan yang lurus untuk kembali keharibaan-Nya. Kelompok-kelompok yang terbelenggu oleh ikatan yang dibuat secara eksklusif pada zamannya, menjadi potensi friksi yang dapat mengganggu di kemudian hari.

Sudah tidak lucu lagi bagi seorang kepala negara, setiap memimpin pertemuan kabinet memakai surjan dan blangkon dengan keris dipinggangnya. Kelompok yang bahkan menginginkan kembali memakai model pakaian dari budaya zaman dahulu tidak akan bertahan lama dalam pemakaian model pakaian tersebut. Bisa saja nampak berkembang karena ephoria dan dikembangkan dalam mencari dukungan politik dengan tujuan tertentu.

 

Esensi pelestarian kebudayaan 

Secara alamiah segala sesuatu mengalami evolusi. Secara alamiah pula sebuah aksi tindakan akan mendapatkan reaksi akibat. Untuk melestarikan budaya diperlukan aksi tindakan yang tepat untuk mewariskan nilai-nilai budaya terhadap generasi penerus. Yang perlu diperhatikan adalah power of will, kehendak yang kuat, power of  knowingness, pemahaman dan skill dan power of action, tindakan nyata. That is the way to success, itulah jalan menuju keberhasilan. Bangkitlah wahai anak keturunan Sriwijaya dan Majapahit.

 

Triwidodo

November 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: