Sudut Pandang: Pencarian ’sang pemimpin’


Diambil dari http://www.aumkar.org/ind/

 

 

 

Beberapa minggu lalu saya berada di Singapura, menghadiri peluncuran buku seorang tokoh terkemuka. Penulis tersebut, Prof. Joyce Lebra, ialah seorang Amerika yang berusia 80 tahun lebih, tapi begitu muda dalam hal energi, semangat dan kekuatan. Beliau menulis tentang India dan Jepang dengan gairah yang tak ada bandingannya. Barangkali gairah itu pulalah yang menarik perhatian Presiden Singapura, S.R. Nathan, yang menganugerahinya acara ini.

 

 

Sehari sebelum acara peluncuran buku, saya mendapat kesempatan langka menemani sang penulis ke istana Presiden untuk minum teh. Saya terkejut sekali oleh kesederhanaan mereka, kantornya, ruang pertemuannya, dan para pegawainya. Di atas segalanya, saya begitu terkesan oleh ketertarikan beliau pada sejarah.

 

Kami berdiskusi tentang Subhash Chandra Boshe, pejuang besar kemerdekaan India dan subjek penelitian Prof. Lebra baru-baru ini. Masyarakat India suka menyebut Bose sebagai Netaji, atau “sang pemimpin”. Namanya menyandang gelar itu sampai hari ini, lebih dari enam dekade paska kematian yang terlalu cepat  dalam sebuah kecelakaan pesawat. Apa yang membuatnya menjadi seorang pemimpin? Presiden Nathan menyebutkan tiga kualitas utama yang semua pemimpin musti miliki: menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan lain, ketegasan dan kesediaan untuk menjadi tak populer.

 

Saya bisa menambah banyak lagi dalam daftar. Saya tentu akan menambah kriteria kesederhanaan dan kebijaksanaan, bukan semata pengetahuan dari buku dan pinjaman dari orang lain. Presiden Nathan tampak puas dengan tiga kualitas tersebut, barangkali karena kriteria lain sudah melekat dan menjadi sifatnya.

 

Duta besar Singapura untuk Yordania dan Direktur Institut Studi Asia Tenggara, K. Kesavapany, yang menjamu kami, mengatakan pada saya kemudian: “Pejabat kami di sini tak mendapat sopir apalagi mobil. Mereka harus mengendarai mobilnya sendiri ke tempat kerja. Presiden juga lebih memilih tinggal di rumah yang sederhana, walau beliau bisa saja tinggal di istana.”

 

Rumah yang sederhana benar-benar sederhana. Ini bukan sebuah komplek atau sebuah jalan yang diubah menjadi komplek perumahan untuk presiden, anggota keluarga dan kroninya.

 

Saya sekarang merasa yakin kenapa kita ketinggalan jauh dari Singapura. Singapura mungkin sebuah negara kecil sehingga lebih mudah ditata, tapi itu bukan satu-satunya sebab kenapa Singapura lebih baik penataannya ketimbang negara kita. Manusialah yang menata sebuah negara, sang mananger, yang membuat perbedaan. Bukan sistem, bukan bedil, tapi manusia yang memegang bedillah yang menciptakan segala perbedaan itu.

 

Di negara ini saat ini kita memiliki banyak pejabat tapi tak satupun pemimpin. Dalam bahasa Indonesia kita memiliki kata panutan, yang berarti “menjadi teladan”. Kita kekurangan kualitas kepemimpinan tersebut karena pejabat kita tak menempatkan dirinya di depan sebagai contoh.

 

Kesavapany mengatakan lebih lanjut, “Kami tak menyediakan fasilitas khusus bagi para pejabat, karena mereka menjabat hanya sementara waktu. Setelah itu, mereka musti kembali ke masyarakat dan hidup seperti orang kebanyakan. Jika mereka diberi perlakuan khusus dan mereka menjadi terlena dengan gaya hidup tersebut, itu akan menyulitkan diri mereka untuk menyesuaikan diri dengan norma yang biasa berlaku di masyarakat.”Hal ini begitu masuk akal dan mudah sekali untuk dipahami. Tapi bisakah kita memahaminya? Atau karena saking sederhananya sulit dipahami oleh pikiran kita yang begitu bising dan njelimet?

 

“Negara anda baik-baik saja dan berada di jalur yang tepat. Dan para pejabat melakukan tugasnya.” Saya mendengar pengakuan itu dari dua utusan luar negri di Jakarta. Um…apa benar demikian? Kepala negara dan lembaga keuangan internasional  terkemuka mengatakan hal senada lebih dari satu dekade lalu saat kita diberkati dengan sebuah “mukjizat ekonomi”.

 

Sayangnya, keajaiban itu tak berlangsung lama. Ekonomi kita berantakan pada tahun 1997, dan walaupun pernyataan “di atas jalur” sudah basi, tulisan di atas dinding begitu jelas. Kita belum sembuh. Aset nasional dan sumber daya alam kita telah dijual sejak krisis tersebut. Dan musim penjualan itu terus berlangsung tanpa terlihat tanda-tanda kapan akan berakhir.

 

Kita sedang dalam pencarian seorang pemimpin, yang dapat mengarahkan kembali diri kita dari kepentingan pribadi yang begitu sempit ke arah kepentingan nasional yang lebih luas. Kita sudah mencarinya di luar negeri selama beberapa waktu. Barangkali, saatnya telah tiba untuk kita mencarinya di dalam. Bisa jadi kita telah memiliki seorang pemimpin di dalam diri kita, di dalam diri anda dan diri saya. Kita tinggal membangunkannya saja.

 

Anand Krishna ,  Jakarta   |  Kamis, 06/Nov/2008 10:30 AM  |  Opini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: