Salah Satu Penyebab Anak Bangsa Kurang Cerdas


Di suatu hari minggu, pulang dari jalan sehat Pakdhe Jarkoni lewat di depan rumah Bu Guru Nana dan Pakdhe jarkoni diajak diskusi Bu Guru Nana di depan rumahnya.

 

Bu Guru Nana: Tindak-tindak, jalan-jalan Pakdhe? Kelihatan segar sekali.

 

Pakdhe Jarkoni: Iya, sejak Sekolah Dasar Pakdhe sudah suka olah raga. Bagaimana murid-murid sekarang Bu Guru? Tambah kritis ya pemikirannya?

 

Bu Guru Nana: Memang tambah kritis Pakdhe, tetapi kayaknya kelebihan energi, tidak dapat tenang, dibanding dulu mungkin gizinya lebih baik ya Pakdhe? Memang tak ada yang lebih efektif untuk membangun suatu bangsa kecuali lewat pendidikan yang baik, pelayanan kesehatan yang prima dan input makanan yang berkualitas.

 

Pakdhe Jarkoni: Dibanding gizi zaman saya dulu iya. Akan tetapi bila dibandingkan dengan negara-negara lain, kondisi kita kalah jauh dengan mereka. Diperlukan perbaikan konsumsi protein hewani yang terdapat dalam telur, susu, daging dan ikan yang sangat penting bagi pertumbuhan fisik dan kecerdasan. Pada waktu ini, konsumsi susu/kapita/th rakyat Indonesia baru 5.60 liter, lebih rendah dari Kamboja yang 12,97 liter dan Bangladesh 31,55 liter dan  jauh di bawah India yang 60 liter. Rata-rata konsumsi susu rakyat Indonesia hanya satu sendok makan susu per hari. Kasihan deh!

 

Bu Guru Nana: Wah konsumsi protein hewani masih rendah sekali ya pakdhe. Bagaimana dengan konsumsi daging dan telornya? Kan bukan hanya susu to Pakdhe? Katanya kita yang berkulit coklat kadang-kadang agak tinggi lacto intolerance, kepekaan terhadap susu.

 

Pakdhe Jarkoni: Pengaruh diare sebentar, itu hanya di awal saja, apalagi kalau hanya 1 gelas, tidak apa-apa. Dalam hal daging, konsumsi perkapita/tahun bangsa kita baru 7 kg, jauh di bawah Malaysia yang 48 kg dan Filipina yang 18 kg. Konsumsi telur ayam per kapita/tahun rakyat Indonesia baru 51 butir, sementara Malaysia telah mencapai 279 butir. Sebagai negara yang 75% wilayahnya berupa lautan yang luasnya 5,8 juta km², konsumsi ikan rakyat kita juga masih rendah, baru 26 kg/kapita/tahun, di bawah Malaysia yang 45 kg dan jauh di bawah Jepang yang 70 kg/kapita/tahun. Apa kita nggak prihatin to Bu Guru?

 

Bu Guru Nana: Apakah karena daging masih impor ya Pakdhe? Sehingga mahal?

 

Pakdhe Jarkoni: Teman saya pegawai Dinas Peternakan bilang bahwa negara kita masih impor 1 juta ekor sapi dari Australia per tahun, baik dalam bentuk daging maupun sapi. Menurut teman saya, subsidi pupuk kita sudah Rp.15 Trilyun per tahun. Kalau anggaran 1 tahun subsidi pupuk untuk mengembangkan peternakan, kita tidak akan tergantung impor lagi. Mungkin saja pendapatnya berlebihan, tetapi potensi untuk swasembada sapi bisa dilaksanakan. Susu murni pun bisa dikembangkan. Teman Pakdhe bilang di luar negeri orang selalu mencari susu murni, kita yang mencari susu kalengan diketawain.

 

Bu Guru Nana: Apakah karena kurang protein hewani ya pakdhe bangsa kita kurang cerdas menangkap peluang-peluang?

 

Pakdhe Jarkoni: Bangsa Indonesia ini kebanyakan makan nasi yang malah banyak memunculkan penyakit diabetes. Kalau saja dalam satu minggu ada satu hari kita tidak mengonsumsi nasi kita akan lebih sehat dan konsumsi beras berkurang 1,18 juta ton per tahun. Ini bisa mengurangi impor beras juga.

 

Bu Guru Nana: Wah, karena kebanyakan karbohidrat dari nasi, bangsa Indonesia kebanyakan energi. Akan tetapi karena kurang protein hewani sehingga kurang cerdas. Kombinasi banyak energi dan tidak cerdas, pantas saja mahasiswa saja banyak yang tawuran. Semoga bangsa kita cepat sadar!

 

Triwidodo

November 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: