Bhisma, Tokoh Integrasi Nasional Yang Hanyut Dalam Takdir


Pesan terakhir Bhisma

Resi Bhisma pernah bersumpah untuk setia melindungi Kerajaan Hastinapura. Seiring dengan perjalanan sang kala, Kerajaan Hastinapura dipimpin kelompok Kurawa yang tidak memahami kebajikan. Terdapat berbagai pertimbangan mengapa Resi Bhisma tetap memegang sumpahnya ketika Hastina berperang melawan Pandawa. Beberapa pertimbangan tersebut perlu diungkapkan untuk melengkapi pemahaman tentang karakter Bhisma.

Dalam keadaan luka-luka terkena puluhan anak panah Srikandi, Resi Bhisma bertahan menunggu saat yang tepat untuk meninggalkan badannya. Pada waktu itu Yudhistira, sulung Pandawa bertanya: “Kakek yang Agung, aku masih bingung, sebenarnya Dharma itu apa? Dan apa perbedaannya dengan Adharma?”

Resi Bhisma menjelaskan, Segala sesuatu yang menciptakan ketakserasian, perpecahan dan konflik itulah Adharma dan segala yang mengakhiri Adharma adalah Dharma. Apa dan siapa pun yang menciderai persatuan dan menyebabkan konflik, ketegangan yang berpotensi memecah belah bangsa adalah Adharma. Dharma memperkuat, mengembangkan persatuan dan keserasian.

Persatuan itu unity bukan keseragaman atau uniformity. Persatuan berarti menerima perbedaan. Kemudian menemukan benang merah yang dapat mempersatukannya. Apa dan siapa pun yang menciderai persatuan dan menyebabkan konflik, ketegangan yang berpotensi memecah belah bangsa adalah Adharma. Dharma memperkuat, mengembangkan persatuan dan keserasian. Persatuan itu unity bukan keseragaman atau uniformity. Persatuan berarti menerima perbedaan dan menemukan benang merah yang dapat mempersatukannya.

Pertanyaan selanjutnya: “Kemudian yang menetapkan mana yang Dharma dan mana yang Adharma itu siapa? Bukankah bisa disalah gunakan mereka yang mempunyai interest, kepentingan pribadi atau kelompok tertentu terhadap politik dan kekuasaan?”

Resi Bhisma menjelaskan bahwa untuk menentukan mana Dharma dan mana Adharma, satu-satunya kesaksian yang dibutuhkan adalah kesaksian diri pribadi, kesaksian hati nurani. Hanya orang yang sadar dan percaya secara tulus terhadap kebenaran yang dapat menentukan. Dasar awal perjuangan adalah landasan spiritual, bukan kepentingan keduniawian.

Di dalam diri manusia juga selalu ada perang antara Pandawa melawan Korawa, perang antara Dharma melawan Adharma. Kriteria Dharma jelas Unity and Harmony, Persatuan dan Keselarasan. Perlu perjuangan dalam diri untuk memenangkan dharma dan kemudian mengungkapkan dharma di luar diri.

Pesan terakhir Bhisma selalu ada dalam diri manusia, pesan tersebut muncul ketika diri bertanya kepada hati nurani. Selama diri manusia masih bergejolak, dan hanya bertanya kepada nafsu Korawa dalam diri, maka perbuatan Dharma dan Adharma akan bercampur aduk. Apalagi bila nafsu mau menang Korawa diwakili nafsu Shakuni, nafsu Sun Tzu, nafsu Machiavelli dalam diri yang bisa menghalalkan segala macam cara demi tujuan pribadi. Sebagai acuan adalah apakah suatu tindakan tersebut menguntungkan atau merugikan suatu bangsa. Pribadi atau Kelompok apa pun yang tindakannya tidak mengarah kepada Persatuan dan Keselarasan Bangsa, maka itu termasuk Adharma.

 

Riwayat Bhisma

Prabu Santanu, ayahanda Bhisma jatuh cinta terhadap perempuan cantik berbau harum Dewi Durgandini. Dewi Durgandini yang telah berputra Abyasa atas perkawinannya dengan Parasara, hanya mau kawin apabila anak-anaknya kelak menjadi putra mahkota. Sang Prabu Sentanu sangat bingung, yang berhak menjadi putra mahkota adalah Bhisma, kalaupun Bhisma bersedia mengalah, maka anak keturunan Bhisma tetap akan menuntut haknya, dan akan terjadi perang saudara pada wangsa Kuru. Memikir terlalu dalam, Sang Prabu sakit keras. Sebagai seorang anak yang berbakti, Bhisma mengalah tidak mau menjadi putra mahkota bahkan bersumpah untuk tidak kawin seumur hidup. Demikianlah kecintaan Bhisma terhadap negara Hastina, agar tidak terjadi perang saudara di kemudian hari. Pengorbanan Bhisma yang begitu besar meningkatkan spiritual Bhisma, sehingga dia bisa menentukan kapan saatnya meninggalkan jasadnya di dunia di kemudian hari. Bagi Bisma pengabdian dan bhaktinya hanya untuk Ibu Pertiwi, Hastina. Bhisma tidak melarikan diri ke puncak gunung sebagai pertapa. Dharma bhaktinya adalah mempersatukan negara.

            Dewi Durgandini dengan Prabu Sentanu mempunyai dua orang putra, Citragada dan Wicitrawirya. Citragada seorang yang sakti, akan tetapi sombong dan akhirnya mati sebelum kawin. Wicitrawirya seorang yang lemah dan diperkirakan akan kalah dalam sayembara untuk mendapatkan seorang putri raja. Ketika Raja Kasi mengadakan sayembara bagi tiga putrinya, demi pengabdian kepada kerajaan Hastina, Bhisma ikut bertanding, menang dan memboyong ketiga putri untuk diberikan kepada Wicitrawirya. Dewi Ambalika dan Dewi Ambika menerima kondisi tersebut, akan tetapi Dewi Amba menolak. Bhisma telah membunuh kekasihnya, sudah seharusnya Bhisma memperistri dia. Bhisma mengatakan bahwa dirinya telah bersumpah tidak akan kawin. Bhisma paham perkawinan dengan Dewi Amba akan membuat masalah bagi Hastina, akan terjadi perpecahan antara putranya dengan putra Wicitrawirya. Bhisma menakut-nakuti Dewi Amba dengan anak panah yang secara tidak sengaja terlepas dan membunuh Dewi Amba. Bhisma tertegun, demi Hastina tanpa sengaja dia telah membunuh seorang putri, Bhisma sadar dia pun harus terbunuh oleh seorang putri juga nantinya.

            Pengabdian Bhisma rupanya hampir sia-sia, karena Wicitrawirya pun meninggal sebelum memberikan putra. Akhirnya Abyasa diminta Dewi Durgandini menikahi Dewi Ambalika dan Dewi Ambika. Dewi Durgandini sadar keinginannya agar putranya menjadi raja Hastina berhasil, tetapi dia tidak dikaruniai cucu untuk meneruskan tahta putranya. Bhisma, putra tirinya jelas tidak mau menjadi raja dan tidak mau kawin. Dewi Durgandini mohon ampun kepada Yang Maha Kuasa atas kesalahannya dan minta Abyasa putranya dengan Parasurama memperistri Dewi Ambalika dan Dewi Amba untuk sekedar memberikan keturunan. Abyasa patuh terhadap ibunya walau tidak ikhlas memperistri mereka. Abyasa membuat dirinya berwajah mengerikan, sehingga ketika berhubungan suami istri Dewi Ambalika menutup mata, sehingga lahirlah Destaratha yang buta. Sedangkan Dewi Amba melengoskan leher dan pucat pasi melihat wajah Abyasa yang mengerikan, sehingga lahirlah Pandu yang lehernya miring dan pucat. Dewi Durgandini, kecewa dan minta mereka berhubungan suami istri dengan baik. Dewi Ambalika dan Dewi Ambika mendandani seorang pelayan dengan menutupi mukanya ketika berhubungan suami istri dengan Abyasa. Walaupun Abyasa tahu hal tersebut, dia tidak mau mengecewakan ibunya dan lahirlah Widura. Kemudian Abyasa pergi ke gunung Saptaarga meneruskan dharmanya sebagai penulis kitab-kitab tentang ketuhanan.

            Ambisi Dewi Durgandini untuk membuat anak keturunannya menjadi raja dalam perjalanannya mengalami banyak hambatan, bahkan telah mengakibatkan anak cucunya melakukan perang saudara dalam bharatayuda yang menghancurkan dunia. Pandawa dan keturunannya RajaParikesit pun sebetulnya merupakan anak keturunan Kunti dengan mantra pembuat keturunan tanpa hubungan suami istri dengan Pandu, cucu Dewi Durgandini. Anak keturunan Dewi Durgandini lewat Destarastha pun punah akibat perang bharatayuda. Perkawinan awal Dewi Durgandini dengan Parasara, yang tanpa nafsu duniawi dan penuh kasih telah melahirkan Bhagawan Abyasa yang akan dikenang sepanjang masa sebagai penulis kitab Mahabharata dan kitab-kitab ketuhanan lainnya. Putera Bhagawan Abyasa, Resi Shuka juga menjadi bhagawan yang bijaksana yang memandu Raja Parikesit menemukan jatidirinya.

            Demikianlah riwayat Bhisma yang selalu mengabdi kepada kerajaan Hastina. Bagi Bhisma mengabdi kepada Hastina, adalah bentuk bhakti, sedangkan hasil yang terjadi adalah urusan Ilahi. Apa pun akibat yang terjadi diterima dan dijalani dengan penuh kesadaran. Ada hukum sebab akibat, ada hukum evolusi, akan tetapi bhakti sebagai kasih akan tetap abadi. Bhakti adalah jalan terdekat menuju Yang Maha Kuasa.

           

Bhisma memberikan pertimbangan yang benar bagi Hastina

Bhisma tetap setia melindungi Kerajaan Hastinapura, walaupun seiring dengan perjalanan waktu negara Hastinapura dipimpin oleh kelompok Adharma. Apabila penguasanya bijaksana, Bhisma akan mendukung penuh, akan tetapi bila penguasanya lalim, Bhisma akan berusaha sekuat tenaga untuk mengingatkannya. Baginya yang penting negara Hastina aman sentosa dan sedapat mungkin berjalan di jalan yang benar. Beliau sadar adharma selalu ada. “Adakah seorang diantara kita yang dapat mematikan kegelapan? Tidak. Kegelapan itu abadi adanya. Nyalakan pelita pencerahan diri, dan yang gelap menjadi terang seketika”.

Dalam intrik-intrik perebutan kekuasaan, antara kelompok pro-Destaratha yang buta, ataupun kelompok pro-Pandu yang sakit-sakitan, Bhisma melindungi negara agar negara tetap utuh. Ketika kebijakan Hastina mulai dibelokkan oleh Patih Shakuni, Bhisma tidak mau mengundurkan diri. Apabila ditinggalkannya, negara Hastina akan semakin kacau. Kalau dia mengundurkan diri karena kecewa terhadap Shakuni, keberadaan dia tidak ada manfaatnya bagi Ibu Pertiwi. Usaha diplomasi Krishna untuk menggagalkan perang Bharatayuda didukung Bhisma, tetapi hasilnya sia-sia juga.

Dilema terjadi ketika terjadi perang Bharatayuda, dia akan berada di pihak siapa? Bhisma menenangkan diri, mengheningkan cipta. Aku ini siapa? Aku bukan badanku, bukan pula pikiran dan perasaanku. Aku abadi, keberadaanku di dunia, menghadapi segala permasalahan pelik adalah untuk menyadari jati diriku. Bhisma tahu Krishna adalah titisan Wisnu. Di dalam dirinyapun terdapat Krishna, sang pikiran jernih. Segalanya berjalan sesuai skenario Krishna. “Sudahlah Krishna, kalau memang diriku harus berperang melawan Pandawa, aku jalani peranku. Aku mohon berkahmu. Aku tidak peduli masyarakat yang mencibirku karena aku memihak Korawa yang jahat. Kalau memang itu bagian dari skenariomu, aku ikhlas. Bhaktiku pada Ibu Pertiwi Hastina juga merupakan bhakti pada perwujudan dari-Mu juga”.

Bhisma juga telah mengetahui sebelumnya bahwa Drupadi akan ditolong Krishna ketika dipermalukan Dursasana yang menarik kainnya. Justru keajaiban yang akan terjadi, karena kain yang ditarik tidak kunjung habis dibiarkannya untuk menyadarkan para Korawa bahwa ada kekuatan Ilahi yang melindungi Pandawa. Hanya Korawa tetap tidak sadar juga, mereka hanya mengandalkan pasukan tempur fisik yang perkasa. Dan tindakan mereka mempermalukan Drupadi adalah bagian dari rencana Shakuni untuk mengajak perang dan kemudian melenyapkan Pandawa.

Bhisma tidak peduli pandangan dari luar, bahkan pada saat Drupadi protes dengan menangis terisak-isak: “Mengapa kakek Bhisma bisa memberikan penjelasan tentang dharma dan adharma kepada Yudistira sedemikian bagusnya, sedangkan sewaktu Drupadi dipermalukan Kakek diam seribu bahasa”. Bhisma tidak mengatakan bahwa dia tahu Drupadi akan diselamatkan Krishna dan keajaiban yang terjadi adalah untuk menyadarkan para Korawa. Tidak, dia tidak berkata demikian, akan tetapi Bhisma menjelaskan secara teknis agar yang hadir mendapatkan pengetahuan yang mungkin belum diketahuinya. Bhisma berkata:”Cucuku Drupadi, aku tahu apa yang menjadi ganjalan hatimu. Selain menunggu posisi matahari yang masih bergerak ke arah selatan sampai tiba waktunya berbalik ke arah utara, dan menunggu konstelasi matahari dan bulan yang paling harmonis, saya juga menunggu waktu enam bulan agar seluruh sel tubuhku berganti. Cucuku, pada waktu itu aku dijamu makan oleh Duryudana, pengaruh makanan tersebut sangat besar. Nuraniku memberontak melihat engkau dipermalukan Dursasana, tetapi pengaruh makanan membuat aku tak berdaya. Darah yang keluar dari anak-anak panah yang menembus diriku, membuatku lebih tenang, selama ini darah yang diproduksi organ yang tercemar itulah yang membuat aku tak berdaya. Maafkan aku Drupadi”.

Bhisma sepenuhnya sadar bahwa apa pun yang terjadi memang harus demikian. Dirinya bukanlah tubuh fisik, dirinya menghuni tubuh fisik, dan sudah tiba waktunya bagi dirinya untuk meninggalkan tubuh fisik. Bhisma sudah tidak punya keinginan apa pun juga. Hanya karena Yudistira bertanya, dan hanya karena Drupadi ingin mengetahui permasalahan, dia menjelaskan.

            Bhisma sudah tidak terpengaruh luaran, dunia ini adalah bayangan, semacam film yang terpampang di layar kehidupan. Manusia terlalu terpengaruh bayangan, bereaksi terhadap adegan film di layar, padahal layar hanyalah proyeksi dari film di proyektor. Bhisma tidak menempatkan dirinya di bayangan, beliau mendekatkan diri pada proyektornya. Beliau telah tahu apa yang akan terjadi. Kalau penonton wayang  bisa menangis dan tertawa dan terobsesi dengan permainan wayang, Bhisma sudah dekat dengan dhalangnya, apa yang akan terjadi dia telah tahu. Dia tahu Drupadi dipermalukan, akan tetapi dia melihat akan ada Krishna yang menolong. Bagi Bhisma keajaiban kain Drupadi adalah ayat petunjuk bagi Korawa, bahwa ada kekuatan Ilahi yang melindungi keluarga Pandawa.

Tindakan Bhisma yang menghadapi kematian dengan seluruh anak panah di tubuh dan berbantalkan barisan ujung anak panah dari Arjuna, banyak ditiru oleh ahli-ahli kanuragan. Banyak juga kaum “ascetic” yang menyakiti diri sendiri, guna mencapai pencerahan. Pendapat ini didasarkan asumsi bahwa untuk mempercepat pelunasan hutang karma dilakukan dengan tindakan yang menyakiti diri sendiri. Ya kalau dengan menyakiti diri sendiri hutangnya dapat impas, kalau hutang tetap belum lunas, tubuh malah sakit, maka dia tidak dapat melunasi hutangnya. Hidup sederhana memang penting karena tubuh yang dimanjakan akan menjadi lemah daya tahannya. Tetapi menyakiti badan sendiri untuk apa?

Bhisma yang terpanah oleh Srikandi, paham dia tidak akan sembuh. Hutang kematian Dewi Amba telah terbalaskan oleh Srikandi. Akan tetapi dia tetap sadar, bahwa setiap keluhan, kekecewaan yang terbersit dalam pikiran akan mengakibatkan adanya obsesi baru yang akan membuatnya lahir kembali. Setiap saat dia hanya mengingat Krishna. Kedatangan Krishna bersama Pandawa membesarkan hatinya. Bhisma pasrah dengan keadaannya, menunggu saat yang amat mulia untuk meninggalkan jasad sambil terus memperhatikan Krishna. Ketika posisi matahari dan bulan harmonis yaitu pada tanggal 14 Januari 3.000 SM Beliau meninggalkan jasadnya dengan menyebut Om, Sri Krishna ya namaha.

 

Peremajaan sel dan pengaruh makanan pada manusia

Hazrat Inayat Khan, memahami bahwa kematianpun, tidak alami, sudah 6.000 ekor ayam masuk dalam perutku, sudah 20 ekor sapi yang kukunyah, sudah 30 kg ikan kulewatkan kerongkongan, sudah 4 kg udang mengalir dalam darahku. Sudah sewajarnya, virus mereka menyerang tubuhku. Hukum Sebab-Akibat adalah Hukum Alam yang berlaku di dunia.

            Semua makhluk, mempunyai usia, semuanya berubah, ada masa hidupnya, diperlukan jutaan tahun dari kayu berubah menjadi kristal dengan kondisi tertentu. Tumbuh-tumbuhanpun punya kehidupan, punya ketakutan, punya kebahagiaan. Suara traktor dan gergaji mesin membuat mereka ketakutan. Komune tumbuh-tumbuhan, hutan, takut dengan suara traktor dan gergaji mesin. Seandainya manusia memasang ”lie detector” pada tumbuh-tumbuhan, dia dapat memahami vibrasi kejujuran yang diungkapkan oleh mereka. Getaran mereka memuncak ketika mereka berbunga, dan mereka berhenti berdetak ketika dipotong. Sapipun kecut melihat pisau pemotong, seandainya ada yang memasang “Electro Cardiograph” pada mereka, kitapun paham vibrasi detak jantungnya. Seandainya saja tangisan mereka seperti tangisan kita, seandainya kemarahan mereka merasuk ke daging yang kita makan.

Makanan yang kita makan akhirnya akan menjadi energi untuk kegiatan kita, mengganti sel yang rusak dan sisanya menjadi simpanan energi. Walau pernyataan tersebut tidak terlalu tepat, karena ada ”prana” sebagai sumber energi, tetapi tidak terlalu salah juga pernyataan tersebut. Makan sambil melihat televisi atau sambil membaca tidak menghormati calon organ tubuh kita sendiri. Mengunyah sambil bicara, tak hanya ”tidak menghargai” orang yang diajak bicara, tetapi juga tidak ”respek” kepada makhluk yang akan menjadi tubuh kita, otak kita, jantung kita, organ tubuh kita.

Makanan yang diperoleh dari cara yang tidak benar, ketidakbenaran akan menjiwai makanan tersebut. Makan yang dimasak oleh orang yang serakah, makanan pun ikut kena vibrasinya. Berdoa, sebelum dan sesudah makan dengan penuh ketulusan dapat menjadi penawar vibrasi jelek.

Penjelasan Bhisma bahwa makanan Korawa mempengaruhi tindakannya ada benarnya. Selagi kesadaran manusia masih naik turun, sebaiknya dia menjaga apa yang dimakannya. Hanya apabila kesadarannya sudah tinggi, dia dapat melepaskan diri dari pengaruh makanan yang disantapnya.

Informasi rasa manis dalam lidah sampai ke otak melalui barisan ribuan sel syaraf yang bersedia ber”estafet” mengantarkan informasi. Sel-sel dalam tubuh memahami tugas sel-sel yang lain, saling membantu, bekerjasama dalam keseluruhan. Dalam satu tahun, hampir seluruh sel, sekitar 98%  tubuh terbaharui. Sudah trilyunan sel yang lahir dan mati pada tubuh manusia. Bhisma memerlukan waktu enam bulan untuk mengganti organ tubuh utama yang tercemar akibat makanan Korawa. Bhisma mengingatkan manusia untuk berterima kasih pada makanan yang memelihara kehidupannya. Sudah lama sekali manusia tidak pernah menyadari pelayanan mereka. Bagi seluruh sel dalam tubuh, mati adalah hal biasa, agar yang baru, yang lebih segar dapat mengganti. Mereka mempunyai kecerdasan, calon sel mata tetap jadi sel mata, tidak jadi sel tangan. Mereka paham tentang ”blueprint” bagi kehidupan mereka. Mereka bekerja dengan tulus. Mereka tidak mementingkan diri, mereka mempunyai tujuan yang lebih tinggi.

 

Obsesi terakhir manusia sebelum mati

Kaum muslim yakin bahwa apabila ajal tiba dan dirinya sempat menyebut Kalimat Tauhid, maka surga sudah di depan mata. Akan tetapi hal tersebut sulit sekali dilakukan, pada waktu mau mati, kalimat tersebut terlupakan. Sakit yang diderita setingkat dengan sakitnya orang melahirkan. Otak sudah tidak dapat berpikir jernih lagi. Pemahaman tauhid yang dilkukan setiap saat, pemahaman bahwa segala sesuatu itu sebenarnya tidak ada, yang ada hanya Yang Maha Kuasa semata. Laa Illa Ha Illallah. Pemahaman tauhid setiap saat yang dilakukan dengan penuh kesadaran akan memandu manusia ketika menghadapi ajalnya.

Menurut Guru, obsesi terakhir manusia sebelum mati, membuat “mind” yang meninggalkan tubuh masih terikat dengan bumi dan akan mencari tubuh baru yang sesuai untuk menyelesaikan obsesinya. Kecewa tentang cara mendidik anak, akan mengakibatkan lahir lagi untuk mendidik anak dengan cara yang baru. Mati muda dimana obsesi seks belum selesai, akan lahir lagi dengan nafsu seks yang menggebu-gebu. Jabatan idaman yang masih menjadi obsesi, menyebabkan lahir lagi untuk menyelesaikan obsesinya. Istri yang dendam pada suami yang bertindak semena-mena,akan lahir gantian membalas untuk membalasnya. Orang yang ada kaitan kasih dan benci akan lahir di sekitar seseorang, untuk menyelesaikan hutang-piutangnya. Bahkan seorang Master bila ingin lahir kembali untuk membantu orang lain meningkatkan kesadarannya, dia membuat dirinya kecewa sebelum kematiannya, misalnya belum ada satu pun muridnya yang cerah. Maka dia akan lahir kembali dan alam akan berbahagia mencarikan tubuh yang sesuai dengan “mind’nya.  Orang yang sudah tidak punya keinginan lagi, orang yang setiap saat hanya membhaktikan dirinya pada Yang Maha Kuasa, sudah bisa melepaskan diri dari bumi dan “mind”-nya pecah memberkahi bumi.

 

Konstelasi matahari terhadap bumi

Beberapa pakar astronomi India, mempunyai keyakinan tentang tanggal terjadinya suatu kejadian berdasar penjelasan dalam cerita. Misalkan peristiwa kematian Bhisma yang merupakan peristiwa penting dalam Mahabharata. merupakan peristiwa-peristiwa penting dalam Mahaabharata. Bhisma sengaja menunggu saat yang mulia untuk mati. Bhisma menunggu perjalanan matahari menuju ke utara sementara ketika terpanah oleh Srikandi matahari masih menuju ke arah selatan. Penulis Abyasa menjelaskan saat kematian Bhisma tersebut.

            Astronomi modern memberitahukan bahwa ada fenomena alam yang disebut ketepatan dari konstelasi bintang. Kita tahu bahwa Bumi berputar melingkar keatas. Karena berputar melingkar seperti spiral, maka titik sumbunya selalu berubah.  Setelah 26.000 tahun seluruh siklus akan berulang. Dari perhitungan astronomi kematian Bhisma adalah pada tanggal 14 Januari dan tahunnya diperkirakan 3.000 Sebelum Masehi. Hari itu adalah hari yang paling suci yang akan berulang setelah 26.000 tahun. Apakah itu berarti permulaan zaman kaliyuga pun akan berulang setelah 26 tahun? Apakah pralaya pun akan berulang setiap 26.000 tahun? Sampai saat ini belum ada penjelasan ilmiahnya.

            Setiap tanggal 13 Januari terdapat tradisi “Lohri” di daerah Punjab. Pada tanggal tersebut tanaman gandum mulai berbuah. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, dalam Bhagawad Gita, Krishna bermanifestasi sebagai Viswaroopa pada hari tersebut. Di daerah Tamil Nadu tanggal 14 Januari adalah hari dimana matahari mulai bergerak ke arah utara selama enam bulan. Petani mengadakan pesta “Pongal” pada hari tersebut. Pada umumnya di India hari tersebut disebut hari “Makar Sankranti”. Pada waktu itu periode siang semakin lebih panjang dibanding hari sebelumnya.

 

Semuanya hanya bayang-bayang Ilahi semata

Manusia menjalani kehidupan dalam otaknya. Orang yang dilihat, rasa basahnya air, harumnya bunga, semuanya terbentuk dalam otak manusia. Padahal satu-satunya yang ada dalam otak manusia adalah sinyal listrik. Ini adalah fakta yang menakjubkan bahwa otak yang berupa daging basah dapat memilah sinyal listrik mana yang mesti diinterpretasikan sebagai penglihatan, sinyal listrik mana sebagai pendengaran dan dan mengkonversikan material yang sama dengan berbagai penginderaan dan perasaan.

Meskipun orang menganggap material ada di luar manusia, cahaya, bunyi dan warna di luar otak itu tidak ada, yang ada adalah energi. Benda di luar hanya ada dalam paket energi. Paket energi tersebut dilihat oleh retina. Retina mengirim sinyal listrik ke otak. Otaklah yang menginterpretasikan itu adalah suatu benda. Bunyi juga terbentuk kala gelombang-gelombang energi menyentuh telinga, kemudian diteruskan ke otak dan diintepretasikan sebagai bunyi tertentu oleh otak.

Fisika quantum memperlihatkan bahwa klaim adanya eksistensi materi tidak mempunyai landasan yang kuat. Materi adalah 99,99999 % hampa. Yang ada diluar otak hanyalah paket-paket energi, otaklah yang menginterpretasikan itu adalah benda. Alam semesta seperti yang terlihatpun hanya ada karena adanya otak. Yang luar biasa adalah mengapa penginterpretasian dari banyak otak di banyak manusia sama semua. Berarti ada kesatuan penginterpretasian dari semua makhluk. Berarti di dunia ini semuanya sebetulnya adalah maya, ilusi, dan ”mind”-lah yang menginterpretasikan hal-hal yang maya dianggap kenyataan.

Penonton wayang boleh jengkel setengah mati terhadap liciknya patih Shakuni, boleh juga naik darah seperti Bhima, ataupun termangu-mangu oleh kebijakan Krishna, akan tetapi semuanya itu hanya merupakan bayangan saja, manusia hanya sebagai penonton, sebagai saksi. Ibarat mimpi, manusia larut ke dalam suasana impian, akan tetapi setelah “sadar”, manusia tahu bahwa semuanya hanyalah  mimpi. Yang terpenting adalah bagaimana menarik manfaat dari mimpi, menarik manfaat dari pagelaran wayang.

Bayangan itu ada karena adanya sesuatu. Mengejar bayangan bagi orang yang sadar tidak ada gunanya. Segala sesuatu di alam ini tidak ada yang abadi, semuanya dari tidak ada, kemudian ada, dan akhirnya tidak ada lagi. Mengejar dunia demi kebahagiaan tidak akan tercapai juga, keserakahan tidak mempunyai batas, sedangkan hidup di dunia ini mempunyai keterbatasan.

            Kitab-kitab suci menyebutkan, tidak ada yang lain, yang ada hanya Dia. Seluruh alam ini berada dalam Dia. Alam ini hanya merupakan bayangan-Nya. Seseorang yang belum sadar berjalan membelakangi matahari, maka ia harus mengikuti bayangannya sendiri. Mereka yang sudah sadar berjalan menuju matahari, bayangannya berada di belakang. Bila seseorang berjalan menuju Kasih, dunia akan berada di belakangnya. Bila seseorang berjalan menjauhi kasih, dunia akan berada di depannya. Dan, keberadaan dunia di depan manusia itu sangat merepotkan. Ia ingin manusia mengikutinya. Kebebasannya dirampas. Ia diperbudak. Dengan mengikuti dunia, ia memberikan hak kepada dunia untuk menyetel dirinya.

            Bhisma telah memahami ilusi dunia, peningkatan spiritualnya dimulai ketika dia melakukan pengabdian untuk berbhakti kepada Ibu Pertiwi. Seluruh hidupnya didedikasikan kepada Ibu Pertiwi, apapun resikonya dia jalani demi Ibu Pertiwi. Keyakinan terhadap Krishna yang memandunya menuju keabadian. Bhisma dan seluruh pemeran lainnya eksis juga dalam diri manusia. Keyakinan terhadap Krishna, pikiran jernihlah yang akan memandunya. Terima kasih Guru.

 

 

Pesan Penggagas National Integration Movement (N.I.M), Bapak Anand Krishna

 

Bagimu, barangkali, sekadar Tanah-Air… Sebidang tanah yang dapat kau jualbelikan, dapat kau gadaikan demi kepingan emas… Dan, air yang tidak perlu kau tahu sumbernya, asal dapat kau minum. Hari ini kau masih memijakkan kakimu di atas tanah ini, besok kau akan memijakkan kakimu di atas tanah yang lain, dan melupakan tanah ini. Hari ini kau masih minum air dari sumur yang satu ini, besok kau bisa memilih sumur yang lain.

 

Bagiku, Indonesia adalah Ibu Pertiwi. Aku tidak dapat menggadaikan ibu demi surga, demi agama, demi apa saja – apalagi demi kepingan emas yang tak bermakna. Aku lahir “lewat” ibu kandungku, namun yang “melahirkan”ku sesungguhnya Ibu Pertiwi. Bagiku, Dialah Wujud Ilahi yang Nyata sekaligus Tak-Nyata…

 

Pernah kukatakan sebelumnya, mengabdi kepada-Nya adalah bagian dari Imanku… Sekarang harus kuralat pernyataanku tadi. Mengabdi kepada-Nya, kepada Ibu Pertiwi, itulah imanku, satu-satunya imanku. Itulah agamaku, itulah kepercayaanku

 

Engkau yang masih mencari surga, kenikmatan surgawi. Kuucapkan selamat kepadamu. Bagiku, pengabdian kepada Ibu Pertiwi, itulah surga.

 

Itulah kenikmatan yang paling tinggi.

 

Sembah Sujudku padaMu, Ibu Pertiwi..

 

Bende Mataram, Bende Mataram …

 

Triwidodo.

Desember 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: