Mengalahkan Bathara Kala Simbol Mengatasi Waktu


Waktu dunia dan waktu spiritual

Santo Agustinus menulis bahwa Tuhan menciptakan dunia dengan waktu, artinya waktu dimulai ketika dunia berawal. Perlu dibedakan antara waktu dunia dan waktu spiritual. Waktu adalah rangkaian kejadian, suatu kontinuitas. Dalam waktu ada masa lalu, masa kini dan masa depan.

Waktu dunia mempunyai tekanan, misalnya pemberian hadiah ulang tahun akan sangat berarti apabila tepat waktu. Sedangkan waktu spiritual tidak ada garis yang jelas antara tahapan kejadian. Misalnya waktu seseorang merasa dirinya damai tidak jelas batasannya. Einstein mengatakan waktu hanya berlaku pada satu orang. Misalnya seseorang berada di Solo pada saat ini dan waktu menunjukkan pukul 09.00, tetapi temannya di Papua pada saat itu menunjukkan pukul 11.00. Suara seseorang di radio saat itu di Solo akan sampai di Papua beberapa detik kemudian.

Pada waktu mimpi, waktu berjalan sangat cepat, manusia bisa bermimpi melakukan perjalanan hidup yang panjang dan setelah bangun ternyata tidurnya hanya satu jam saja. Waktu itu relatif. Seorang Master menjelaskan waktu di shambala satu menit sama dengan waktu dunia fisik lima tahun. Tuhan disebutkan tidak berawal dan tidak berakhir. Artinya Tuhan melampaui waktu. Karakter Tuhan tidak berubah karena melampaui waktu, sedangkan karakter dunia berubah seiring perjalanan waktu. Semakin kasar, semakin berwujud fisik waktu semakin lambat. Ibarat lingkaran roda yang besar sekali, pusat bergerak sedikit, di luar sudah bergerak panjang sekali. Semakin mendekat Ilahi gerakan atau perubahan semakin kecil. Di titik pusat sendiri berputar pun tetap dalam titik poros tersebut, artinya praktis tidak ada perubahan, melampaui waktu. Apalagi Tuhan melampaui waktu dan tidak dapat diserupakan dengan apapun juga, sehingga keberadaannya tetap akan merupakan misteri.

Menurut Buku Life Workbook karya Bapak Anand Krishna, dunia ini mempunyai dimensi ruang dan waktu atau perubahan. Sejak kelahiran manusia di dunia ini, Keberadaan telah menyediakan ruang baginya, bagi badannya. Ruang ini menjadi miliknya selama persinggahan di dunia. Setelah mempunyai ruang, dunia ini juga terikat dengan waktu.

Manusia dan makhluk lainnya terjerat waktu. Manusia harus tunduk pada waktu. Waktu adalah kontinuitas. Tidak ada garis jelas yang memisahkan masa lalu dari masa kini, dan masa kini dari masa depan. Untuk menyikapinya, manusia perlu selalu mengingat nasihat pujangga besar India yang pernah menjabat sebagai presiden, Prof. S. Radhakrishnan: “Belajarlah dari masa lalu tanpa penyesalan. Masa lalu sudah berlalu, mau disesali pun percuma. Buatlah rencana untuk masa depan tanpa kekhawatiran. Jangan Gelisah; jangan pula ngebet, seolah kita sedang berpacu dengan waktu, karena kita hidup dalam waktu. Hidup dan berkaryalah dalam masa kini dengan penuh kesadaran. Kita tidak dapat berkarya dalam masa lalu yang sudah berlalu, atau pun dalam masa depan yang belum datang. Kita harus berkarya dalam masa kini. Saat ini adalah saat kita untuk berkarya, untuk hidup dan menghidupi. Gunakanlah saat ini dengan sebaik-baiknya!”

Ketika manusia hidup dalam kekinian setiap saat, dia sudah melampaui waktu. Sumestinya manusia tidak terpengaruh luaran, “periphere”. Dunia, “periphere” ini adalah bayangan, semacam film yang terpampang di layar kehidupan. Manusia terlalu terpengaruh bayangan, bereaksi terhadap adegan film di layar, padahal layar hanyalah proyeksi dari film di proyektor. Semestinya manusia tidak menempatkan dirinya di bayangan, manusia mendekatkan diri pada proyektornya, pada jatidirinya. Kalau penonton wayang  bisa menangis dan tertawa dan terobsesi dengan permainan wayang, manusia perlu mendekat pada dhalangnya.

            Manusia harus berhati-hati menghadapi Bathara Kala, menghadapi waktu, semua makhluk dikalahkan oleh waktu, kecuali mereka yang telah melampaui waktu. Berikut ini cerita Raja Puranjana yang diambil dari buku Srimad Bhagavatam.

 

Kisah Raja Puranjana

Dalam buku Srimad Bhaghavatam diceritakan tentang Raja Puranjana. Raja Puranjana dalam pencariannya  meninggalkan sahabat setianya Awijnata, dan menemukan Kota Boghawati yang indah dengan sembilan gerbang megah. Di Kota tersebut, dia mengawini Dewi Puranjani yang cantik dan cerdas yang selalu dijaga oleh oleh ular Prajagara yang berkepala lima. Ber tahun-tahun Raja Puranjana hidup berbahagia bersama Dewi Puranjani, menurunkan putra-putri yang gagah dan cantik.

Kebahagiaan tersebut berkurang tatkala datang kesadaran bahwa ada perampok sakti Chandrawega dengan 360 anak buahnya yang selalu siap menyerang benteng. Kalau dia tidak waspada, sudah banyak mata-mata menyusup lewat sembilan gerbang Kota. Semakin lama merenung, Raja sadar bahwa pada akhirnya akan datang suatu saat dimana benteng Kota akan jatuh juga pada Candrawega yang dengan tegar, sabar menanti penaklukan Kota. Tiba-tiba saja, Raja Puranjana ingat sahabat setianya, Awijnata.

Kota Boghawati adalah tubuh kita dengan 9 pintu gerbang yang berhubungan dengan dunia luar, dua pintu gerbang mata, dua pintu gerbang telinga, dua pintu gerbang lubang hidung, satu pintu gerbang lubang mulut dan dua pintu gerbang lubang pembuangan. Dewi Puranjani adalah pikiran yang menikmati kesenangan dari lima indriya. Chandrawega adalah waktu yang bergerak selama 360 hari yang selalu waspada menunggu jatuhnya benteng tubuh kita. Awijnata adalah diri sejati yang selalu memandu dalam jalan kebenaran.

Haruskah kita mengikuti perjalanan hidup Raja Puranjana? Atau kita siapkan diri kita untuk pasrah kepada Awijnata, Pemandu Kita? Raja Puranjana berdoa:”Tuhan, semoga kedua mataku tidak melihat hal-hal yang tidak sepantasnya kulihat, kedua telingaku tidak mendengar hal-hal yang tidak sepantasnya kudengar, kedua lubang hidungku tidak mencium hal-hal yang tidak sepantasnya kucium, mulutku tidak mengucap serta makan minum  sesuatu yang tidak sepantasnya kuucapkan, kumakan dan kuminum. Demikian juga kedua gerbang lainnya. Guru, pandu kami semua dalam mengarungi hidup ini”.

Banyak kearifan lokal yang diwujudkan dalam cerita tentang Bhatara Kala, cerita Dewi Kali, Bathari Durga yang digambarkan menakutkan yang banyak kaitannnya dengan penjelasan tentang kala atau waktu.

 

Beberapa versi Bathara Kala dan Bathari Durga

Salah satu versi adalah cerita yang digambarkan pada relief Candi Sukuh. Bermula dari ulah Bathara Guru, Dewa Siwa yang berpura-pura sakit parah, karena itu dia minta kepada Dewi Uma untuk mencarikan obat. Dimana obat yang bisa menyembuhkan penyakitnya itu adalah susu lembu hitam. Karena cintanya terhadap sang suami, Dewi Uma segera pergi mencari air susu yang dimaksud, dengan harapan suaminya cepat sembuh. Dicari dimana-mana, tetapi air susu lembu hitam itu tidak ada. Dalam keputusasaan Dewi Uma bertemu seorang penggembala lembu hitam. Dengan mengemis-ngemis, Dewi Uma mohon sang penggembala memberikan susu lembu hitam tersebut. Tetapi sang penggembala ngotot tidak mau menyerahkan air susu lembu, kecuali Dewi Uma menyerahkan tubuhnya kepadanya. Dewi Uma berada dalam dilema, tidak mau melayani suami tercinta mati, bila mau melayani berarti suami hidup, akan tetapi dirinya ternoda. Dengan pengorbanan diri, akhirnya susu lembu hitam dapat diberikan kepada Bathara Guru sehingga dia sembuh dari penyakitnya. Bathara Guru menyampaikan bahwa yang menjadi penggembala adalah dia sendiri, dan Bathari Uma yang telah berselingkuh diusir ke dunia menjadi Bathari Durga yang berwujud sangat menyeramkan. Bhatari Durga memangsa manusia yang tersesat ke dalam wilayahnya. Bathari Durga kembali menjadi cantik seperti sedia kala ketika diruwat oleh Raden Sadewa, bungsu Pandawa. Raden Sadewa diajari Bathara Guru cara meruwat Bathari Durga.

            Pelajaran yang dapat ditarik adalah bahwa tindakan yang bertujuan baik yang menghalalkan segala macam cara walaupun disembunyikan tetap akan terbuka dan mendapatkan akibat yang tidak baik di kemudian hari. Apabila Adam diturunkan ke dunia karena menuruti nafsunya memakan buah khuldi, maka Dewi Uma diturunkan ke dunia karena menuruti nafsu baik yang menghalalkan segala macam cara. Bathari Durga memangsa manusia yang tersesat. Manusia yang tersesat di dunia, melenceng dari jalan kebenaran akan dimakan “waktu” sampai menemui ajalnya. Bathari Durga kembali ke jati dirinya setelah diruwat, dikembalikan ke asalnya seperti sebelum kena hukuman. Yang Maha Kuasa tidak pendendam dan bersifat Maha Pengasih. Manusia yang telah bertaubat, menjalani akibat dari kesalahannya masa lalu, tidak berbuat salah di masa sesudahnya akan dibimbing Ilahi untuk menemukan jatidirinya. Raden Sadewa adalah putera Raden Pandu dengan Dewi Madri dan dibesarkan oleh Dewi Kunti setelah Dewi Madri wafat mengikuti wafatnya Raden Pandu. Raden Sadewa mewakili Dewa Aswin kembar perlambang kemitraan dan kesetiaan. Hanya mereka yang bermitra dengan semua makhluk dan setia terhadap kebenaran yang mendapat petunjuk Ilahi untuk meruwat manusia yang telah sadar.

 

Versi yang lain mengisahkan Bathari Durga dahulunya adalah seorang putri yang cantik jelita berujud bidadari bernama dewi Uma. Ia sangat dicintai oleh Bathara Guru. Pada saat Bathara Guru beranjangsana naik lembu Nandini melihat keindahan jagad raya, karena berada dalam rasa yang sangat bahagia, gairah nafsu Bathara Guru terhadap Bathari Uma menggelegak. Akan tetapi Bathari Uma tidak mau karena sedang naik Lembu Nandini. Saking bernafsunya Bathara Guru maka spermanya jatuh di laut. Yang akhirnya lahir menjadi Bathara Kala. Setelah kejadian itu Dewi Uma disabdakan menjadi raksasa perempuan bengis bernama Bathari Durga yang tinggal di hutan Setra Gandamayit. Akhirnya Bathari Durga kembali ke wujud asalnya setelah diruwat oleh Raden Sadewa. Kama salah, sperma sesat, dari Bathara Guru yang penuh nafsu yang jatuh ke laut menjadi Bayi Raksasa. Selama tiga tahun Bayi Raksasa tersebut memangsa sebagian besar ikan di samudera. Bathara Baruna, penguasa samudera  melaporkan tindakan Bayi Raksasa tersebut dan mohon petunjuk kepada Bhatara Guru. Para Dewa yang diminta menundukkan Bayi Raksasa kalah dalam pertempuran dan melarikan diri. Sang Bayi Raksasa terus mengejar para Dewa sampai kepada Bathara Guru. Sang Bayi Raksasa ditundukkan Bathara Guru dan taringnya yang kanan dipotong menjadi senjata keris Kalanadah sedang taringnya yang kiri menjadi senjata keris Kaladhita. Bayi Raksasa tersebut diberi nama Bathara Kala dan diakui sebagai putera Bathara Guru. Bathara kala diberi kewenangan untuk memangsa manusia “sukerta”, manusia dengan kriteria tertentu dan manusia aradan yaitu manusia yang hidupnya selalu melalaikan kebenaran.

            Dapat ditarik pelajaran bahwa berhubungan suami istri adalah perbuatan suci, bersatunya badan mempersatukan dua jiwa. Yang Maha Kuasa menghuni kedua badan suami dan istri pertemuan sifat jantan dan betina membuat benih terbuahi. Hubungan suami istri yang hanya berdasar nafsu menimbulkan sifat raksasa dalam diri calon sang putra. Manusia yang lahir di dunia berarti masih mempunyai sifat raksasa dalam dirinya. Raksasa dalam dirinya tersebut harus dikendalikan dengan berbagai macam cara agar sifat raksasanya dapat dikendalikan. Pada dasarnya Bathara Kala adalah berasal dari Bathara Guru. Pada dasarnya jati diri manusia adalah kekuatan Ilahi. Bhatara Kala melambangkan kekuasaan waktu. Kekuasaan waktu berasal dari Bathara Guru, Hyang Jagadnata. Mereka yang belum diruwat, yang belum dijernihkan pandangannya oleh Guru, akan dimakan oleh “waktu”, terlena oleh “waktu” dalam keserakahannya, sampai dirinya terbunuh oleh “waktu”.  

 

Ada juga versi yang lain yang menjelaskan bahwa Dewi Uma atau Prathivi, atau Pertiwi adalah juga isteri atau shakti dari Shiva Mahadewa. Sedangkan Kali, lahir dari Shiva itu sendiri dan akhirnya “membunuh” Shiva dengan kekuatannya. Sebuah simbolisasi dari Sang Waktu (Kala dan Kali), yang maha dominan dan abadi. Dewa-dewi boleh berakhir tugas, tetapi tidak Sang Kala ataupun Sang Kali.

 

            Cerita tentang Bathari Durga dan Bathara Kala pun ada dalam cerita pra-Bharatayuda. Raden Wisanggeni yang sakti putra Arjuna dengan Dewi Dersanala diminta Krishna untuk bertanya kepada Sang Hyang Wenang, apakah perang Bharatayuda akan terjadi atau tidak. Hal tersebut ditanyakan karena pihak Korawa memperalat Bathari Durga dan Bathara Kala untuk memangsa Pandawa. Pandawa termasuk kelompok orang yang masuk kriteria “sukerta” yang boleh dimangsa mereka. Sang Hyang Weang akan menolong Pandawa, akan tetapi Raden Wisanggeni tidak boleh ikut perang Bharatayuda dan kembali ke kahyangan. Sang Hyang Wenang meminjamkan Gada Intan untuk menaklukkan Bathari Durga dan Bathara Kala. Setelah mereka ditaklukkan, Wisanggeni kembali ke kahyangan dan tidak balik lagi ke dunia. Agar perang Bharatayuda tetap terjadi sesuai skenario, Krishna telah memperalat Raden Wisanggeni, Bhatari Durga dan Bhatara Kala untuk tidak ikut campur dalam perang Bharatayuda.

 

Boleh dibilang Bathara Kala adalah nafsu angkara murka yang tak terkendali dan Bathara Kala, sang angkara murka, sang “waktu” bisa menelan “rembulan” dan “matahari”, yaitu hati dan pikiran yang terang. Satu-satunya cara untuk terlepas dari cengkeraman Bathara Kala adalah dengan proses penyadaran, yaitu pencerahan hati dan pikiran. Tradisi leluhur pada waktu gerhana matahari dan gerhana bulan memukul kentongan dan lesung beramai-ramai, ayam-ayam dan ternak yang tidur dibangunkan, wanita-wanita hamil harus mandi adalah simbol bahwa kesadaran spiritual harus dibangkitkan, jiwa dan badan harus dibersihkan, agar “rembulan” dan “matahari”, hati dan pikiran tidak ditelan oleh keserakahan Bathara Kala yang selalu siap menerkam sepanjang masa. Kentongan dan pemukul serta lesung dengan alu pemukul sendiri merupakan simbol lingga dan yoni, simbol feminin dan maskulin. Pada dasarnya alat musik gamelan selalu menggunakan kantong udara dan pemukul, misalnya kendang, gong, gambang, sitar dan lain-lainnya yang merupakan simbol feminin dan maskulin.

Tradisi memukul kenthongan dan lesung pada waktu gerhana tersebut juga dapat menjawab pengetahuan ilmiah. Menurut Dr. Masaru Emoto, air terpengaruh oleh vibrasi pikiran yang tertuju padanya. Air yang mendengar lagu indah akan membentuk kristal heksagonal, sedangkan lagu perpisahan tidak membentuk kristal. Kandungan air dalam tubuh kita sekitar 70% hampir sama dengan kandungan air di bumi. Pada waktu laut pasang, maka cairan darah di tubuh kita pun pasang. Pada waktu terjadi gerhana maka maka pasang air laut yang terjadi akan maksimal, demikian pula pasang cairan darah manusia, pada waktu itu mudah terjadi depresi. Suara tabuhan kentongan dan lesung akan menenangkan cairan darah manusia.

 

Simbol Kala dan Ular dalam Gunungan Wayang Kulit

Kepala raksasa, simbol dari Bathara Kala, dibuat untuk mengingatkan bahwa setiap orang terkena “belitan waktu”. Kadang-kadang “waktu” juga disimbolkan dengan Bathara Yamadipati, penguasa kematian. Diatas pintu-pintu gerbang, istana, bangunan keraton, candi, bahkan candi Buddha Borobudur terdapat gambar kepala raksasa, simbol dari Bathara Kala atau kekuasaan “waktu”. Simbol Bhatara Kala juga terdapat dalam Gunungan wayang kulit. Setiap babak pagelaran wayang selalu diawali dengan Gunungan, sehingga para pemirsa selalu diingatkan tentang “waktu”, Bhatara Kala yang selalu siap menerkan mereka yang lalai. “Waktu” adalah seorang hakim yang jujur dalam menyampaikan kebaikan-keburukan. “Waktu” adalah pelari yang tidak pernah beristirahat. Hukum sebab-akibat juga dibuktikan lewat perjalanan “waktu”.  

Dalam Gunungan wayang kulit juga digambarkan adanya Ular Besar yang melilit pohon. Arah utara disimbolkan dengan kepala ular, Rahu sedangkan arah selatan adalah ekornya, Ketu. Ketika matahari berputar melingkar ke arah utara dianggap waktu yang baik, sedangkan pada waktu matahari bergerak ke selatan dianggap waktu yang kurang baik ( lihat artikel: Cinta Bhisma Terhadap Ibu Pertiwi). Dalam satu tahun matahari bergerak ke utara selama enam bulan dan bergerak ke selatan selama enam bulan juga. Waktu adalah bagian dari perwujudan kekuasaan Yang Maha Kuasa. Semua makhluk mengalami kelahiran dan kematian, perubahan dalam berbagai tahapan oleh waktu, musim, tahun, bulan, hari, jam, menit, detik sebagai penghitung umur. Kala, sang waktu sangat berkuasa.

Simbol Ular Besar erat kaitannya dengan manusia. Pada saat kematiannya, jika seseorang masih memegang keinginan, obsesi terhadap dunia maka dia akan ditangkap Ular Besar, Sarpayoni untuk dilahirkan kembali. Bila perasaannya melekat erat terhadap keluarganya, maka ia akan dilahirkan lagi dalam keluarga yang sama. Hampir semua agama memberi nasehat untuk mengingat Yang Maha Kuasa pada saat kematiannya, apakah Kalimat Tauhid, Om dan yang lain-lainnya agar langsung menuju tempat di sisi-Nya. Akan tetapi hal tersebut tidak mudah dilakukan, rasa sakit pada waktu ajal dapat melupakan ingatannya, kecuali hanya obsesi yang masih ingin dicapainya semasa di dunia. Dia pun akan lahir untuk meneruskan evolusinya.

 

Keterbatasan Indriya

Apa yang dirasakan benar bagi manusia, tidak sepenuhnya benar. Tanah yang diinjak nampak datar, bumi yang didiami terasa diam, dua rel sejajar bersatu di titik pandang yang jauh. Matahari kelihatan muncul di timur dan tenggelam di barat. Bahkan yang dianggap benda padat, sebetulnya terdiri dari sejumlah atom yang merupakan kumpulan partikel yang berupa fluktuasi energi yang 99,99996 % berupa ruang hampa. Manusia punya keterbatasan. Mata manusia hanya dapat melihat dalam batasan tertentu. Apabila mata manusia setajam sinar X, maka ketika bertemu manusia lain kita hanya melihat tulangnya, seperti percakapan antar jerangkong saja. Apabila mata manusia seperti sinar gama maka yang terlihat hanyalah paket-paket energi. Apabila mata manusia seperti mikroskop, maka manusia akan melihat pertukaran atom di kulit dan hilanglah keindahan manusia. Telinga manusia pun hanya dapat mendengar getaran suara dengan batas tertentu, atau manusia akan disibukkan keramaian dari bunyi getaran otak sampai getaran geledek di angkasa. Apa yang kita anggap realita kebenaran, belum tentu benar juga. Semuanya hanya permainan maya, ilusi.

Manusia dipengaruhi oleh pikirannya, buktinya walau melihat perempuan yang sama-sama cantik tetapi perasaan manusia akan berbeda sewaktu melihat perempuan tetangga, ataupun anak atau ibunya. Apabila seseorang telah penuh kasih, maka dia akan melihat semua orang seperti dia melihat anak atau ibunya. Kasihlah senjata utama melawan kala. 

 

Mengalahkan Bathara Kala

 

            Berikut ini cuplikan dari Buku Narada Bhakti Sutra oleh Bapak Anand Krishna. Untuk mencapai ketinggian Kasih, tidak perlu melepaskan dunia dan kewajiban-kewajiban duniawi. Yang perlu dilepaskan hanyalah keinginan untuk memperoleh imbalan.

            Pada suatu hari Krishna menyuruh Arjuna:” Arjuna, berikan sekarung beras ini kepada seorang temanku, kebetulan dia berada di kota yang akan kau tuju.” Arjuna merasa aneh. “Satu karung beras?” Bila dia memang miskin, kenapa tidak diberi pekerjaan, kan Krishna seorang Raja, apa arti sekarung beras, mau makan sampai berapa lama? Terpaksa Arjuna harus mengangkut sekarung beras itu. Sampai di kota tujuan dia baru tahu ternyata teman Krishna seorang penjual daging. “Ah sungguh menjijikkan….”, pikir Arjuna. Lebih-lebih lagi ketika dia melihat si penjual daging menimbang barang dagangannya sembari mengucapkan nama Tuhan. “Hari Bol… Ucapkan Nama Dia Yang Maha Menyelamatkan, Maha Membebaskan…”

Arjuna menegurnya dengan nada kesal, “Ini akau membawa satu karung beras dari Krishna”. Si penjual daging berkata: “Kalau demikian, anda pastilah Prabhu Arjuna, silahkan masuk ke dalam.” Arjuna yang belum bebas dari kesadaran wujud fisik berkata: “Mungkin lain kali saja, saya masih ada urusan lain dan harus segera pulang ke Hastina.” Si penjual daging berkata: Ya, mungkin lain kali. Begitu pula dengan karung beras ini, mungkin lain kali saja.” “Apa maksudmu?“, tanya Arjuna. “Persediaan beras di rumahku masih cukup untuk dua hari mendatang. Aku berterima kasih kepada Sri Krishna dan juga kepada Sang Prabhu, akan tetapi aku tidak bisa menerima kirimannya.” Arjuna kaget:”Kamu tidak mau menerima kiriman ini, karena masih memiliki persediaan untuk dua hari mendatang?” “Ya Sang Prabhu. Dan, selama ini aku tidak pernah kelaparan. Keluarga pun berkecukupan. Untuk apa menimbun beras? Dia memenuhi segala kebutuhanku selama ini. Dan akan memenuhinya pula di kemudian hari.”

            Dia lah seorang bhakta, dialah seorang Pecinta Allah, bukan mereka yang sibuk menimbun harta dan kemudian sekian persen dari harta itu disumbangkan untuk membangun tempat-tempat ibadah. Atau dibagikan kepada fakir miskin. Mereka adalah pecinta “sekian persen”. Cinta mereka sebesar persentase sumbangan mereka. Cinta mereka belum sempurna, belum seratus persen. Bahkan, sesungguhnya mereka belum berserah diri. Arjuna membungkuk, mencium kaki si penjual daging.

            Si penjual daging menjalani hidup di dunia dengan berserah diri pada Yang Maha Kuasa, Bathara Kala tidak mampu menguasainya. Terima kasih Guru.

 

Triwidodo.

Desember 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: