Kesadaran Sang Batu Kali

Di tengah riuh rendah bisingnya suara mesin pemompa beton, dan di tengah semangatnya para pekerja bertopi kuning mengecor lantai gedung bertingkat lima, terdengar  pembicaraan lirih antara pecahan batu split dengan air semen.

 

Sang Pecahan Batu: Manusia menghormatimu, Air sahabatku! Mereka tak bisa hidup tanpamu. Dari lahir, berkembang, minum, mandi membuat gedung sampai mati pun mereka membutuhkanmu. Dengan berkurangnya ketersediaan air bersih di bumi, perang dunia ke-III pun diprediksi karena memperebutkanmu. Manusia telah menyadari kesadaran air, mereka tahu dirimu akan membentuk kristal heksagonal yang indah ketika mereka memberi vibrasi kebahagiaan kepadamu. Mereka mulai berkomunikasi denganmu. Gusti telah member kemuliaan padamu sahabatku.

  Baca lebih lanjut

Merusak Lingkungan Alam Tanpa Kesadaran

Lik Darmo yang seniman senang menjadi petani, rasanya ayem-tentrem, aman-tenteram melihat tanaman padi di sawah. Di atas Gubuk di tengah sawah, Lik Darmo berbincang-bincang dengan Pakdhe Jarkoni.

 

Lik Darmo: Pada zaman dahulu, negeri Nusantara ini maju pertaniannya. Orang-orang asing datang ke Nusantara bukan hanya untuk menikmati keindahan alam, melainkan untuk mencari hasil pertanian, baik kelapa, rempah-rempah maupun hasil bumi lainnya. Kesuburan tanah di Nusantara adalah berkah dari Yang Maha Kuasa. Kerajaan Sriwijaya mengekspor hasil bumi dengan armada milik sendiri. Luar biasa. Tetapi kondisi pertanian saat ini sangat memprihatinkan. Para petani sulit untuk hidup layak dengan hasil bertani saja. Anak-anak petani bersekolah di kota dan tidak mau kembali bertani, karena penghasilannya tidak ‘menjanjikan’. Bagaimana Pakdhe? Mengapa demikian?

Baca lebih lanjut

Mengambil Hikmah dari Bhakti Sebuah Sel

Sepasang suami istri berada di Candi Sukuh di lereng Gunung Lawu. Udara yang dingin, suasana yang tenteram, menenangkan gejolak mind yang liar. Setelah memejamkan mata beberapa saat, mereka duduk bercengkerama di atas tangga batu.

 

Sang Isteri: Candi Sukuh Peninggalan Leluhur dari Majapahit di Lereng Gunung Lawu.  Banyak pengunjung Candi Sukuh tertarik dengan segala macam pernak-pernik seks yang merupakan simbol dari Energi Feminin dan simbol dari Energi Maskulin, simbol dari Energi Yin dan Yang. Lingga dan Yoni tersebut adalah jalur energi Ilahi di tubuh manusia. Bukankah demikian Suamiku?

  Baca lebih lanjut

TAO DARI TAHUN KERBAU, MENGHADAPI TANTANGAN KE DEPAN

Tulisan  Kristina Wulandari tentang pandangan Bapak Anand Krishna mengenai Tahun Kerbau

http://www.facebook.com/home.php?ref=home#/notes.php?ref=sb

 

 

HOT NEWS!!!!!!….

 

MMM…… kita ketemu lagi dalam tulisan berikut ini. Ini adalah sebuah laporan pandangan mata secara ringkas, gabungan antara apa yang saya catat dan bapak Hardita catat, mungkin ada beberapa teman yang sudah mengatahui entah karena sudah mengikuti acara tersebut atau sudah mendengar dari teman-teman yang lain. Semoga saja tulisan ini akan memberi inspirasi pada kita untuk menghadapi tahun ini, yang konon katanya tahun kerbau… by the way, apa sich pesan Guruji Anand Krishna Untuk Menghadapi Tahun Kerbau? Silahkan simak, ups… maksud saya silahkan baca tulisan dibawah ini, GOOD DAYYYYYYYYYYY!!!!!!!!!!!!!!!!!…..

 

Lewat Dink… satu lagi teman-teman, ini merupakan pemahan saya, so keasliannnya tidak 100% hahhaaa….

 

………

 

Seperti biasa, dengan senyumya yang khas, beliau menyapa kita denga mengatakan “SELAMAT TAHUN BARU BAGI KITA SEMUA”… (ya silahkan dibayangin keadaan itu). Disana Guruji tidak mengatakan “Selamat Tahun Baru Imlek bagi yang merayakan”, malah beliau mengatakan selamat tahun baru bagi kita semua. Keren kan?. Ya iya lah….Tahu kenapa? Beliau mengatakan kelemahan orang-orang Indonesia yang sering terjadi ketika mengatakan “Selamat “….” bagi yang merayakan”, jadi hanya yang merayakan saja yang diberi selamat, oleh karena itu tidak ada apresiasi. Tapi disini kita semua diberikan selamat, apapun latar belakang kita, karena kita semua merayakan Imlek, kita semua merasakan nikmatnya perayaan itu, itulah apresiasi.

 

Yang lebih seru lagi, menanbah wawasan kita, ketika beliau mengatakan bahwa Shio itu dibuat oleh negara yang telah melakukan konspirasi terbesar terhadap rakyatnya. Untuk apa? Agar mereka mudah untuk dikuasai. Dengan pengelelompokan-pengelompkan seperti itu, pemerintah lebih mudah untuk mengusai rakyatnya. Seperti ketika bangsa Indonesia mengelompokkan rakyatnya dalam 4 agama, 5 agama, mungkin nanti akan bertambah sesuai dengan kesadaran manusia Indonesia. Ketika mereka dikelompokan dalam 5 agama ini, pemerintah lebih mudah untuk mengusai, urusi ketuanya, maka semua akan terurusi hahhaaa…Iya ya.. saya baru “ngeh”(sadar), tentang hal itu, sama sekali tidak ada dalam pemikiran saya kenapa harus ada pengelompokan agama. Dan saat itu terjawab sudah pertanyaan saya… dan jika teman-teman perhatikan keadaan kita dari dulu sampai sekarang, itulah yang terjadi…. Pemimpin agama lebih didengar dibanding pemerintah kita hahhaha becanda (ini lelucon saya, biar ga terlalu serius), oke terus apa lagi?….

  Baca lebih lanjut

Pergolakan Mind Sang Raja Kambing

Pada suatu hari Raja Kambing mengadakan sidang terbatas dengan para pembantu utamanya. Sebagai wartawan media masa, kita dapat mendengarkan pembicaraan mereka.

 

Mahapatih Kambing : Sang Raja Yang Mulia, kami melaporkan kondisi lapangan saat ini. Kondisi masyarakat kita di abad milenium ini masih tidak berbeda dengan kondisi manusia yang kalah perang di abad pertengahan. Masih dalam perbudakan. Masyarakat Paduka diperjual belikan, diangkut memakai pickup berdesak-desakan, dan diberi menu harian hanya rumput dan daun-daunan. Kami sadar kami dipelihara agar kami besar dan gemuk untuk kemudian dijadikan persembahan kepada Bathara Wudel, Dewa Pusar, Penguasa Nafsu di seluruh alam semesta.

 

Adipati Kambing : Kecuali kelompok hamba, Paduka! Kami tinggal di benua Astralya kami diberi konsumsi cukup dan selalu dicukur rapi, potongan bulu tubuh kami dijadikan pakaian wool para selebrities. Kami bersyukur kepada Gusti bahwa bulu kami bermanfaat bagi manusia..

  Baca lebih lanjut

Aura Materi Mencengkeram Nusantara

Percakapan antara seorang Pakdhe dengan keponakannya yang mahasiswa merupakan pembicaraan antara dua generasi. Berhubung mau pemilu percakapan mereka sangat bergairah.

 

Wisnu: Pakdhe! Nama Pakdhe sebenarnya kan Trisudewa, mengapa teman-teman Bapak memanggil Pakdhe Jarkoni.

 

Pakdhe Jarkoni: Wadhuh Wisnu, ponakan bagus yang jambulnya ala Ace Ventura, Trisudewa, maksudnya Tiga Dewa Yang Baik. Pakdhe sungkan setelah tua dan bau tanah. Sewaktu muda rambut pakdhe gondrong dan poni seperti John Lennon, ya pantes dipanggil Trisudewa. Sekarang Pakdhe dipanggil Jarkoni, bisa berujar tak bisa melakoni, matching eeeeeuuuyyy………….

 

Wisnu: Bagaimana pandangan Pakdhe terhadap bangsa kita. Terjadi kemajuan atau kemerosotan kualitasnya. Pemimpin itu Representasi Bangsa, Idola Bangsa, Panutan Bangsa. Sepertinya mereka malah semakin mengandalkan the Power of Money.

‘’Guru kencing berdiri murid kencing berlari. Pemimpin tak malu buka baju, masyarakat nekat buka celana”.

Baca lebih lanjut

Percakapan Nurani di Taman Safari

Sepasang orang hutan berdiskusi di Taman Safari Cisarua Bogor. Ditengah kesejukan dan kerindangan hutan mereka bercengkerama.

Orang hutan jantan :

Kita perlu mensyukuri karunia, kebutuhan makan, minum, berkelompok dan bermesraan telah dicukupi. Kebutuhan utama kita, rupanya juga menjadi standar kebutuhan manusia yang merasa lebih tinggi derajatnya. Kita selalu bersyukur, bersyukur menggunakan rasa. Manusia menggunakan mind yang hanya menghitung keuntungan atau kerugian, bersyukur hanya atas keuntungan saja. Begitu nelangsa hatinya ketika keinginannya tak tercapai.

Orang hutan betina :

I see! Tetapi  ada kekurangan sedikit tentang hutan tempat tinggal kita. Masih belum seperti hutan perawan di Surga Kalimantan sebelum dijarah manusia.

Orang hutan jantan :

Kau panggil mereka manusia? Mereka panggil diri mereka sendiri manusia, menurut penglihatan batinku mereka tidak nampak sebagai manusia. Sifat hewani mereka masih kuat sekali. Baca lebih lanjut