Rahasia Ungkapan “Terima Kasih” Yang Terlupakan


Cerita Para Pemandu

 

Barter hadiah persembahan

Ada seorang sahabat yang baru memanen singkong “spesial” di ladang pegunungan yang subur dan mengantarkan singkong tersebut kepada Sang Guru. Sang Guru menerima dan masuk ke dalam rumah bertanya kepada isterinya, apakah ada yang yang diberikan kepada sahabatnya. Sang istri mengatakan bahwa ia baru saja memasak ikan yang diperoleh dari kolam di belakang rumah. Selanjutnya, Sang Guru memberikan masakan ikan tersebut kepada sang sahabat. Tidak lama kemudian datanglah sahabat yang lain memberikan ayam bakar. Sang Guru menerimanya dan mengucapkan terima kasih dan memberikan singkongnya kepada sahabatnya. Alangkah indahnya sebuah masyarakat yang warganya saling berterima kasih.

 

Berterima kasih karena berhutang

Seorang Buddha berterima kasih kepada pohon Bodhi yang telah melindunginya saat beliau bermeditasi mencapai Penerangan Sempurna. Kehidupan di dunia ini pada hakikatnya mempunyai ketergantungan dengan yang lain. Itulah sebabnya dari dulu para leluhur melakukan persembahan, melakukan yadnya.

Dalam buku Life Workbook Bapak Anand Krishna menjelaskan tentang 5 macam hutang atau Rina:

  1. Deva Rina, hutang terhadap Dewa. Yang dimaksud adalah hutang terhadap kemuliaan, kesadaran, pencerahan karena kata dewa berasal dari Divya, yang berarti yang mulia, yang terang, yang berasal dari cahaya.
  2. Pitra Rina, hutang terhadap leluhur, atau barangkali lebih tepat hutang terhadap keluarga. Karena keluarga adalah kontinuitas dari leluhur dan leluhur adalah keluarga.
  3. Rishi Rina, hutang terhadap para bijak, atau terhadap kebijaksanaan itu sendiri.
  4. Nara Rina, hutang terhadap sesama manusia.
  5. Bhuta Rina, hutang terhadap lingkungan. Jauh sebelum ilmuwan modern mulai memperhatikan lingkungan, flora dan fauna, jauh sebelum mereka mencetak istilah baru eco system, para bijak sudah memaparkan, menjelaskan hubungan manusia dengan lingkungannya.

 

Membalas pemberian dengan apa yang dipunyai

Aththar an Nisaburi, salah seorang sufi bercerita sebagai berikut. Ketika Gusti Yesus pada suatu hari berjalan melintasi kota, beberapa orang Israel mencaci-makiNya. Merespon hal tersebut, Gusti Yesus menjawab dengan mengulang doa atas nama mereka. Seseorang berkomentar : ”Engkau berdoa untuk orang-orang ini, tidakkah Engkau merasa marah kepada mereka?” Gusti Yesus menanggapi : “Aku hanya dapat membelanjakan apa yang ada dalam dompetku.” Seseorang yang hatinya penuh kasih, yang diungkapkan pun hanya kasih, karena di dalam dirinya yang ada hanya kasih.

Apapun yang diterima diri manusia, baik makanan, maupun semua kejadian, alangkah baiknya kalau didaur-ulang dengan kasih. Apapun yang  dipikirkan, diucapkan dan diperbuatnya, alangkah mulianya bila dijiwai oleh kasih. Semua ingatan perlu didaur ulang, sehingga yang tertinggal dalam ingatan hanyalah tentang kasih. Kasih yang tulus tanpa pamrih, terlepas dari penilaian baik dan buruk, dari dualitas. Apa pun yang diterima dibalas dengan kasih.  Ungkapan terima kasih para leluhur kita mempunyai kesamaan dengan peristiwa di atas.

 

Guru Atisha berguru kepada Guru Dharmakirti Svarnadvipi

 

Ungkapan Terima Kasih produk asli Nusantara

            Bapak Anand Krishna dalam bukunya Chist of Kasmiris mengingatkan tentang hakikat Terima Kasih. Berbeda dengan warga Amerika yang mengucapkan “welcome” dan warga Inggris yang mengucapkan “never mind”, warga Indonesia mengembalikan penghormatan dengan penghormatan.

Lebih dari 800 tahun telah berlalu ketika Guru Atisha bepergian ke Sumatra yang pada waktu itu dikenal dengan nama Svarna Dvipa, belajar kepada Guru Dharmakirti Svarnadvipi. Guru Atisha menghabiskan waktu lebih dari 10 tahun untuk belajar dan mendokumentasikan tiap kata yang didengar dan tiap ilmu yang diajarkan oleh Guru Dharmakirti Svarnadvipi.

            Salah satu ilmu yang dipelajari dari Nusantara dan disebarkan di India dan Tibet oleh Guru Atisha adalah Meditasi Tong-Len, Menerima dan Memberi, Terima Kasih. Guru Atisha membicarakan prinsip give and take. Hanya saja give and take Guru Atisha berbeda dengan kebanyakan orang. Seseorang pada umumnya selalu ingin menerima yang terbaik, dan memberi yang kurang baik. Guru Atisha kebalikannya, memberikan yang terbaik, menerima yang terjelek. Yang terjelek pun harus di olah, di daur-ulang dan dijadikan baik kembali. Ilmu yang telah lama dilupakan di Nusantara, karena warga Nusantara akhir-akhir ini hanya mempunyai “short memory”, amnesia.

            Teknik ini sekarang digunakan para neurologist Barat sebagai bagian dari Transcranial Magnetic Stimulation Therapy, untuk menyembuhkan beberapa penderita stroke.

 

Beberapa butir Ajaran Guru Atisha

Beberapa butir ajaran Guru Atisha dari buku Seni Memberdaya Diri 3 Atisha karya Bapak Anand Krishna yang berhubungan dengan terima kasih:

Jangan mulai dari orang lain. Mulailah dari diri sendiri dulu. Sadarilah akan kekotoran diri. Terlebih dahulu, urusi diri dahulu. Tong berarti memberi. Berikan kasih, sebarkan kasih. Len berarti menerima. Terimalah kebencian, ambillah kebencian

Guru Atisha tidak menyangkal adanya kejahatan. Guru Atisha juga tidak mengatakan bahwa kejahatan dapat dihindari. Guru Atisha seorang ahli kimia rohani. Berikan kebencian, dan akan diolahnya menjadi kasih. Berikan kemunafikan dan ia akan mengolahnya menjadi kejujuran, ketulusan. Apabila kejahatan menimpa dunia ini, manusia perlu mengubah keadaan yang tidak menguntungkan menjadi sarana demi terjadinya peningkatan kesadaran.

Kembangkan rasa syukur. Ada yang menghujat, yang mencaci maki – balas dengan ucapan Terima Kasih. Selesai sudah masalahnya. Lagi pula, setiap kali mengucapkan terima kasih, sesungguhnya seseorang melepaskan mind-nya. Mind tidak pernah berterima kasih. Mind selalu  melakukan perhitungan. Mind selalu menghitung laba rugi. Bersyukur adalah rasa bukan mind.

Apabila masih menghitung laba-rugi, apabila masih mempertanyakan tujuan, sesungguhnya seseorang belum ingin mempertahankan Kasunyatan. Burung-burung berkicau tanpa tujuan. Kembang-kembang mekar tanpa tujuan. Sungai-sungai yang mengalirpun tidak bertujuan. Mind-lah yang selalu mengejar tujuan.

 

Pertemuan dengan Guru Dharmakirti dalam diri

 

Berikut ini cuplikan dari Buku Seni Memberdaya Diri 3 Atisha, karya Bapak Anand Krishna……

Guru Dharmakirti dalam diri manusia Indonesia sudah tidak tahan menyaksikan ketidakwarasan kita. Ia sudah muncul kembali, Ia tidak akan kemana-mana lagi. He has come to stay. Ajarannya tentang Kesadaran Murni akan melanda Persada Nusantara.

Apa pun agama yang dianut, perlu diwarnai keyakinan, kepercayaan dengan penuh kesadaran. Guru Dharmakirti tidak mewakili salah satu agama. Ia mewakili kemanusiaan. Ia mewakili keberadaan. Ia mewakili keindahan. Jika seseorang masih tetap alergi terhadap dia, apa boleh buat? Boleh-boleh saja seseorang menolak dia, sebagaimana seorang buta menolak keberadaan matahari. Penolakan tersebut sangat tidak berarti. Cahaya matahari Guru Dharmakirti sudah mulai menerangi sebagian bangsa kita. Dan ia akan melanjutkan tugasnya – tugas menerangi bangsa ini secara keseluruhan.

Pertemuan dengan seorang Guru Atisha, dengan seorang Guru Dharmakirti, bukanlah suatu kebetulan. Mereka tidak bisa ditemui secara kebetulan. Karma seseorang mempertemukan dengan mereka. Perbuatan dan tindakan seseorang selama sekian banyak masa kehidupan berbuah dan menghadirkan seorang Guru Atisha, seorang Guru Dharmakirti dalam hidup seseorang.

Lalu apa yang harus dilakukan? Menyia-nyiakan kesempatan itu, tidak sungguh-sungguh menerimanya, atau mengundangnya untuk bermukim di dalam jiwa? Yang telah dibuka bukanlah pintu hati, tetapi hanya jendela pikiran. Sebagaimana telah disia-siakan sebelum ini, masa kehidupan sebelum ini pun berlalu begitu saja, tanpa terjadinya peningkatan kesadaran sama sekali. Menerima Guru Dharmakirti, menerima Guru Atisha, berarti menerima kritik dan ujian, hujatan, cacian dan makian. Kalau belum bisa menerimanya, tunggu dulu! Seorang Guru Dharmakirti, seorang Guru Atisha akan mengeruhkan suasana sedemikian rupa, sehingga seseorang akan menerima semua itu.

Seorang Master akan merombak total kehidupan. Kendati demikian, ia tidak akan memulai pekerjaannya, jika seseorang belum siap untuk itu. Ia akan menunggu dan ia bisa menunggu untuk waktu yang lama sekali. Begitu seseorang siap , ia pun akan memulai pekerjaannya.

 

Triwidodo

Januari 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: