Bibit Bobot dan Bebet dan Spiritualitas Leluhur Kita


Penggunaan istilah Bibit Bobot dan Bebet

            Pada waktu memilih menantu pria atau menantu wanita, ataupun pada saat orang tua menasehati putera atau puterinya untuk menyeleksi calon pasangannya dipergunakan kriteria Bibit Bobot dan Bebet dari calon pasangan. Nasehat atau pitutur yang berasal dari leluhur tersebut juga mengingatkan agar seseorang tidak semata-mata memandang fisik lahiriyah berupa kecantikan dan harta kekayaan dalam memilih pasangan.

            Perkawinan dua orang calon mempelai bukan untuk jangka waktu pendek, diharapkan perkawinan akan lestari sepanjang hayat masih dikandung badan. Perkawinan juga akan melahirkan putera-puteri yang memberi berkah kepada keluarga dan masyarakat. Dalam masyarakat tradisional, perkawinan juga merupakan pengikatan antara dua kelompok keluarga besar.

            Ungkapan “Cinta itu Buta” ada benarnya bagi yang betul-betul “termehek-mehek” dalam cinta. Akan tetapi perkawinan yang lebih langgeng dan lebih dalam kualitasnya perlu ada pertimbangan-pertimbangan dari pikiran yang jernih. Kriteria yang ditetapkan bukan sebagai bentuk pilih kasih, akan tetapi lebih kepada kesesuaian multi dimendi antara sepasang manusia.

            Bagaimanapun, leluhur kita memberikan pedoman lain untuk mengatasi kriteria Bibit Bobot dan Bebet yang sulit terpenuhi, yaitu nasehat untuk dapat fleksibel, Mulur dan Mungkret. Mulur, meningkat kriterianya kalau terpenuhi dan Mungkret, menyusut kriterianya apabila sulit dipenuhi. Sehingga bagaimana pun seseorang dapat Narimo, menerima keadaan, qona’ah.

 

Makna Bibit Bobot dan Bebet seorang calon pasangan

            Untuk memilih pria atau wanita sebagai menantu atau pasangan hidup perlu kriteria pemilihan yaitu Bibit, Bobot dan Bebet.

           

Bibit

Bibit berarti benih,biji, asal atau keturunan. Keturunan mempunyai makna penting. Benih padi unggul varietas tahan hama akan menghasilkan butir-butir padi yang unggul kualitas dan kuantitasnya.  Seseorang yang lahir dari keluarga yang unggul karakternya, akan membawa genetik unggul dalam dirinya. Modal dasar yang dapat dilihat, adalah kebaikan karakter keluarganya. DNA dalam diri seseorang diwarisi dari genetik leluhurnya. Leluhur yang unggul karakternya menurunkan sifat genetik bawaan unggul kepada generasi penerusnya.

Leluhur kita memberikan ungkapan, Kacang ora ninggal lanjaran, kualitas biji kacang tidak jauh dari tanaman asalnya. Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga yang maknanya tidak jauh berbeda. Dikatakan seseorang pria yang sadar dapat mengubah perilaku lamanya, akan tetapi karakter seorang wanita hampir tidak berubah dari lingkungan keluarga lamanya.

Bagi mereka yang mempercayai adanya penitisan, maka anak yang lahir dalam suatu keluarga, kemungkinan besar merupakan penitisan dari leluhurnya, apakah kakek atau nenek buyutnya ataupun yang lainnya. Seseorang yang ingin menyelesaikan hutang-hutang perbuatannya di masa lalu akan lahir di dalam lingkungan keluarganya untuk melunasi hutang-hutangnya dan menyelesaikan obsesinya yang belum kesampaian.

Puteri keturunan seorang Begawan yang arif menjadi pilihan utama. Sedangkan pria keturunan Raja yang adil dan bijaksana mempunyai peringkat Bibit yang tinggi. Nenek moyang seseorang yang menjadi penjahat atau wanita tuna susila mempunyai peringkat Bibit yang rendah.

Bagi yang mempercayai hukum alam, Sapa sing nandur ngunduh, siapa yang menanam akan menuai, segala sesuatu yang dialami adalah akibat dari perbuatan masa lalu, sehingga dia meyakini jodoh pun adalah hasil akibat dari tindakan masa lalu. Sehingga seseorang harus pandai menerapkan nasehat Mulur Mungkret dan Narimo ing Pandum, menerima bagaimana pun jodohnya sebagai pemberian Gusti.

DNA dalam diri seseorang adalah potensi, tergantung semangat seseorang untuk meningkatkan dan mengubah hidup ke arah lebih baik. Buktinya tidak selalu putera Mozart menjadi musisi atau putera Einstein menjadi Scientist, walaupun dalam diri sang putera mempunyai DNA dari leluhurnya. Yang jelas seorang Guru, seorang Resi, seorang Nabi mempunyai kedua orang tua yang terbukti unggul karakternya.

 

Bobot

            Bobot berarti nilai, kekuatan, kualitas, harkat, derajat dan martabat seseorang. Seseorang sarjana yang memiliki pekerjaan terhormat memiliki peringkat Bobot yang tinggi. Seorang pengangguran mempunyai peringkat Bobot yang rendah. Bobot melekat langsung pada diri seseorang, bukan orang tuanya. Bobot seseorang merupakan faktor yang penting, karena perjalanan hidup sepasang penganten itu membutuhkan dukungan materi. Seseorang yang memiliki penghasilan tetap diharapkan dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga sepanjang waktu.

            Perjalanan hidup seorang manusia merupakan sebuah evolusi. Pada awalnya seorang bayi 100 % tergantung dari pihak luar. Seiring dengan perkembangannya, sang anak mulai berjalan sendiri dan mengambil benda yang diingininya dengan tangannya sendiri. Walaupun demikian kehidupannya masih ditopang oleh orang tuanya. Setelah dewasa seorang anak mandiri, bahkan pada suatu saat ekonominya pun sudah mandiri. Setelah lebih dewasa lagi, bukan hanya mandiri tetapi sudah senang berbagi dengan yang lain. Demikian pula dalam keluarga pasangan penganten, Bobot yang baik akan lebih menjamin keluarga yang mandiri dan bahkan suka berbagi dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

            Kebaikan karakter juga merupakan Bobot seseorang. Karakter seseorang yang baik akan memberikan dukungan positif terhadap keharmonisan rumah tangga. Peninjauan Bobot seseorang, dalam hal ini faktor kemandirian, merupakan faktor penting dalam mengelola biduk rumah tangga yang akan mengarungi samudera kehidupan yang luas.

            Karakter seseorang penting, karena seseorang mahasiswa yang berkarakter baik, akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan nantinya. Bagi seseorang yang peka, dia dapat merasakan seseorang di hadapannya mempunyai karakter yang baik atau tidak. Bagi yang belum melatih kepekaannya, perlu mengamati tindakan seseorang. Seseorang yang berkarakter baik akan melakukan perbuatan yang baik pula. Apa yang ada dalam diri seseorang akan terungkap dalam perbuatannya.

 

Bebet

            Bebet secara harfiah berarti kain, pakaian. Seseorang dinilai dari Bebetnya yang merupakan penilaian luar dari seseorang. Pakaian seseorang mengungkapkan dirinya. Pakaian raja berbeda dengan pakaian orang awam. Harta kekayaan yang dimiliki seseorang termasuk Bebet. Seorang lurah diperkirakan mempunyai sawah yang luas mestinya lebih dipilih daripada seorang buruh tani. Apabila nilai Bibit dan Bobot dua orang yang dipilih hampir sama maka kriteria Bebet memegang peranan menentukan. Bebet memegang peranan penting dalam kehidupan berumah tangga.

 

Penilaian berdasar kesesuaian hari kelahiran

            Para leluhur mempercayai, bahwa tidak ada hari-hari penting seperti kelahiran, perkawinan dan kematian secara kebetulan. Hukum sebab-akibat akan mempengaruhi kelahiran dan lain-lainnya, yang diwujudkan dalam konstelasi benda-benda langit terhadap suatu kejadian. Setiap keadaan pasti sedikit banyak dipengaruhi oleh pengaruh bulan, pengaruh matahari dan pengaruh alam lainnya. Kombinasi dari pengaruh matahari (ada 7 hari mulai Senin hingga Minggu) dan pengaruh bulan (ada 5 hari pasar, Legi, Paing, Pon Wage, Kliwon), diamati dalam jangka waktu lama. Ada 35 kombinasi, dan waktu 35 hari dimana hari dan hari pasar berulang disebut ”satu lapan”.  Dari intuisi para leluhur tersebut muncullah ramalan tentang potensi sifat seseorang berdasar hari kelahiran atau ”weton”. Orang yang lahir hari Minggu Wage akan mempunyai potensi tabiat dasar yang dipengaruhi oleh posisi matahari pada hari Minggu dan posisi bulan pada hari pasaran Wage.

            Dalam primbon kuno dapat dipahami tentang perlunya kecocokan calon pasangan berdasar tanggal kelahirannya. Tidak seratus persen benar memang, karena pengetahuan yang hampir sama dengan ilmu perbintangan ini hanya memberikan “potensi” kejadian. Potensi bisa terjadi dan bisa tidak. Secara ilmiah, keyakinan masyarakat dari beberapa generasi yang berkesinambungan dalam hal pengucapan mantra, japa, zikir, afirmasi semakin lama akan semakin besar pengaruhnya. Akumulasi dari getaran gelombang yang sama akan memperkuat. “Law of Attraction” dari Buku the Secret menjelaskan pengaruh getaran keyakinan yang menarik kekuatan alam yang sejenis. Keyakinan masyarakat tentang kecocokan berdasar tanggal kelahiran pun mempunyai pengaruh yang serupa.  

Dalam sebuah keluarga sukses, makmur dan sejahtera, apabila sang suami mempunyai istri baru, biasanya keberuntungannya menurun. Orang ketiga mengubah faktor keberuntungan. Mengapa warisan gana-gini dibagi adil antara suami dan istri, walaupun sang istri tidak bekerja, banyak yang berpendapat bahwa rejeki yang didapat sepasang suami istri dipengaruhi oleh kombinasi keberuntungan mereka dan bukan keberuntungan seorang suami semata.

 

Pelajaran berharga dari leluhur

            Semua nasehat para leluhur tersebut tidak “sakleg”, tidak pasti, banyak faktor yang ikut mempengaruhinya. Bukankah di dunia ini tidak ada yang pasti dan yang mengetahui kepastian hanya Gusti Kang Murbeng Dumadi?

            Leluhur kita menyadari ada tingkatan kesadaran yang tidak sama bagi setiap orang. Pertama kali bagi orang yang kesadarannya masih di tingkat fisik, maka penjelasannya harus secara fisik. Diperlukan pemaknaan Bibit Bobot Bebet secara fisik. Bagi seseorang yang wawasannya lebih luas mengenai alam semesta, diperlukan penjelasan tentang hukum-hukum alam, seperti pengaruh alam terhadap manusia. Penyalahgunaan pengetahuan tentang weton, atau pengaruh hari akibat konstelasi bintang di alam semesta, adalah karena dibelokkan masyarakat yang kurang paham ke arah klenik.

            Dalam memandu peningkatan spiritual para bijak memberikan pedoman-pedoman hidup sesuai tingkat kesadaran seseorang. Untuk mem”purifikasi”, memurnikan tindakan fisik diberilah pedoman perilaku, dharma, syariat. Ketidaksempurnaan pedoman fisik adalah bahwa orang yang melakukan tindakan baik belum tentu mind, pikirannya sudah baik, mungkin saja karena hal yang lain.

            Untuk itu selanjutnya diperlukan “purifikasi” mind, menjernihkan pikiran dengan cara meditasi, merenung yang dalam, olah rasa, melatih batin. Sehingga tindakan baik dilakukannya dengan penuh kesadaran.

            Banyak juga manusia Indonesia, yang sudah jernih tindakan dan pikirannyaakan tetapi nglokro, menyerah terhadap sulitnya memperbaiki keadaan negara. Air yang jernih pun kalau dibiarkan tergenang akan bau, tumbuh lumut, menjadi sarang nyamuk dan sumber penyakit. Demikian pula ketika orang bijak diam, tidak bertindak, dan pura-pura tidak tahu keadaan negerinya, kejernihan pikirannya tidak akan berusia lama dan menjadi keruh kembali. Kebijakan kalau tidak diungkapkan dalam tindakan akan menjadi basi. Maka “purifikasi” dari kebijaksanaan adalah melaksanakan dengan tindakan penuh antusiasme. Semoga semakin banyak orang yang bijak yang tetap antusias dalam memperbaiki keadaan negeri kita. Kriteria Bibit Bobot dan Bebet pun perlu dipraktekkan dengan antusias dalam memilih Calon Pemimpin Negeri.       

 

Triwidodo

Januari 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: