Meditasi dan Seni Kematian


Setelah latihan Meditasi, seorang peserta bertanya kepada sahabatnya tentang hubungan antara Meditasi dan Seni Kematian. Mungkin saja ada sesuatu yang berharga dari percakapan mereka yang perlu direnungkan bersama.

 

Sahabat pertama: Sahabatku, kami dengar adanya hubungan Meditasi dan Seni Kematian. Tolong dijelaskan!

 

Sahabat kedua: Yang kami dengar adalah sebagai berikut. Kita sebagaimana adanya saat ini harus mati! Terlalu banyak penyakit yang kita warisi dari masa lalu. Baru selesai mengobati yang satu, muncul yang lain. Sangat complicated. Yang harus mati adalah identitas diri kita.

 

Sahabat pertama: Jadi yang harus mati bukan badan kita kan? Terus kita ramai-ramai bunuh diri? Jangan-jangan yang dimaksud Syeh Siti Jenar, bahwa kita semua mati, kita semua hanya berupa bangkai ada kaitan dengan ego, identitas diri?

 

Sahabat kedua: Silakan merenung sendiri sahabat. Badan akan mati, badan “sedang” mati. Tanpa diapa-apakan pun, badan sedang dalam proses kematian. Yang harus mati adalah kepribadian kita yang sudah tercemari oleh “pikiran”, oleh “alam bawah sadar”, oleh “program-program kacau” yang kita dapatkan dari masyarakat dan lingkungan. Yang harus mati adalah “mind” kita.

 

Sahabat pertama: Kalau demikian itulah sebabnya Sri Sathya Sai Baba memberikan cincin berlian kepada seseorang sambil mengatakan: “This is not Diamond – but Die-Mind”. Seorang Guru sedang mengajak kita untuk melakukan perjalanan ke dalam diri, untuk menelusuri alam bawah sadar dan membunuh “mind”.

 

Sahabat kedua: Gusti Yesus pernah bersabda: “Sesungguhnya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu”. (Yohanes 16:25).

 

Sahabat pertama: Maksud sahabat apakah Gusti Yesus telah menepati janjinya? Sedangkan telinga kita kurang peka, mata kita kurang awas, sehingga kita tidak melihat Dia, sehingga kita tidak mendengar suara-Nya?

 

Sahabat kedua: Menurut Guru, Siapa yang sedang bicara lewat Anthony de Mello dan Thomas Merton? Siapa yang sedang menegur kita lewat Krishnamurti, Osho, Inayat Khan, Ronggowarsito dan banyak lagi master seperti itu? Kita perlu meningkatkan kepekaan kita sampai kita mendengarkan suara Dia. Tidak ada kekuasaan lain di luar kekuasaan-Nya. Yang ada hanyalah Dia, Dia, Dia….

 

(Dijiwai Buku Maranatha karya Bapak Anand Krishna)

 

Triwidodo

Januari 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: