Spiritualitas dalam HP yang Paling Sederhana


Bangun pagi hari sepasang suami isteri bercengkerama di beranda rumah di sebelah Patung Kayu Buddha Maitreya. Di depannya ada dua gelas teh panas. Mungkin ada sesuatu yang berharga dari percakapan mesra mereka.

 

Sang Suami: Semalam saya telah mempraktekkan ajaran Guru, tentang pengaruh lingkungan terhadap diri seseorang.

 

Sang Isteri: Pagi ini, saya dapat melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajahmu. Padahal beberapa minggu ini saya dapat merasakan kesedihanmu.

 

Sang Suami: Guru berkata bahwa pengaruh orang-orang di sekeliling kita dapat memerosotkan kesadaran. Apalagi pengaruh seorang istri yang tidak hanya berkomunikasi lewat percakapan, tetapi berhubungan dengan hal yang amat mendasar. Bertahun-tahun latihan meditasi pun dapat merosot kesadarannya setelah sekali berhubungan dengan istri yang rendah kesadarannya.

 

Sang Isteri: Benar suamiku, bukankah penjelasan itu tersirat dalam buku Tantra Yoga?

 

Sang Suami: Dalam keadaan depresi karena tempat latihan dibekukan, walaupun saya sadar akan kesalahan fatal yang telah dilakukan, tetap saja rasa depresi ini menyerang. Mungkinkah karena kasih kita terhadap Guru sudah begitu besar? Atau ego yang terpukul? Atau kedua-dunya? Tetapi pukulan tersebut terasa menghunjam dengan sangat telak…………… Semalam kita berhubungan secara total. Bangun lebih pagi, saya menulis di depan laptop.

 

Sang Isteri: Saya dapat merasakan bebanmu telah terlepas, suamiku.

 

Sang Suami: Isteri bukan hanya sekedar teman sangha, pengaruh semalam meningkatkan kesadaranku. Teman-teman yang setiap latihan kita ajak sinkronisasi, mulai tidak menampakkan batang hidungnya. Bukan hanya gagal dalam mencari kader, saya yang tua menyadari bahwa Bung Karno mendapatkan energi dari pertemuan dengan anak muda dan kehilangan semangat ketika bertemu orang tua yang loyo, sakit-sakitan, dan ndhendheng, bebal. Walaupun sudah merasakan manfaatnya, ingin berbagi dengan siapa?, apa pula yang dapat dibagikan? Hasilnya tidak ada.

 

Sang Isteri: Bukankah Guru dari dulu menyarankanmu sebagai penulis? Mungkin para pembaca Blog-mu jauh lebih banyak dan lebih dapat menyimak uraianmu dari pada mendengarmu secara langsung. Bukankah kau telah dibukakan pintu kesempatan untuk berkarya di situs Guru? Bukankah menurut statistik dari Blog-mu banyak orang baru yang tertarik dengan tulisanmu dan melakukan “link” ke Situs Guru yang kau pasang dalam Blog-mu?

 

Sang Suami: Benar Istriku, kejadian semalam meningkatkan kesadaranku. Terima kasih. Itulah yang saya renungkan tadi pagi di depan komputer.

 

Sang Isteri: Ingatkah Suamiku, engkau baru saja mengajak putrimu membelikan HP yang paling sederhana untukku. Memang aku hanya bisa menelpon dan tidak bisa SMS, dan HP paling sederhana itu yang paling logis menurut pikiranmu?

 

Sang Suami: Maafkan Isteriku, engkaulah yang mengelola ekonomi dan keharmonisan rumah tangga kita, sehingga kita sekeluarga lebih mudah dalam belajar meningkatkan kesadaran. Yang membina kesadaran anak-anak kita adalah engkau, akan tetapi anak-anak kita saya belikan HP yang canggih, sedangkan Kau kubelikan HP yang paling sederhana.

 

Sang Isteri: Terima kasih suamiku, ada hal yang logis dan ada hal yang tidak logis, yang hanya dapat dipahami dengan menggunakan rasa.

 

Sang Suami: Terima kasih Isteriku, kita telah dijelaskan Guru mengenai “Ajaran Terima Kasih”. Ajaran Guru Dharmakirti pada zaman Sriwijaya yang dipelajari Guru Atisha dari India, yang dikembangkan di Tibet dan masih lestari sampai kini…….. Baru saja terlintas dalam benak saya mengapa Sang Mawar Mistik, Maria Magdalena meminyaki kaki Gusti Yesus dengan minyak termahal dari India?

 

Sang Isteri: Maksudmu, mind, pikiran orang awam mengecam tindakan boros yang mubazir, dana yang seharusnya bermanfaat bagi masyarakat digunakan untuk hal yang tidak bermanfaat? Saya rasakan jantungku gemetar seakan merasakan kasih Gusti Maria Magdalena kepada Sang Guru.

 

Sang Suami: Pandangan masyarakat yang menggunakan mind, pikiran berbeda dengan pandangan para “inner circle” Gusti Yesus. Terima kasih telah mengingatkan saya yang telah membelikan HP yang paling sederhana. Pada saat ini demikian pemahamanku. Hanya Guru tahu yang Benar. Terima kasih Guru.

 

Triwidodo

Januari 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: