Cara Alam Mengingatkan Manusia


Seorang Suami sedang merenung di depan laptop, matanya seakan menerawang patung besi Wisnu setinggi 150 cm di depannya, ketika Sang Istri duduk di sebelahnya mengajaknya bicara.

 

Sang Isteri: Suamiku, malam sudah larut dan masih asyik menulis di depan laptop, ada “pesan baru” yang menarik perhatianmu?

 

Sang Suami: Saya baru memperhatikan patung Wisnu buatan Pedan, Klaten yang terasa aneh. Menurut Guru, Wisnu bertangan empat, satu tangan sedang mem-blessing dengan telapak tangan menghadap depan, satu tangan memegang kerang, semacam terompet alam, satu tangan memegang chakra dan satu tangan memegang gada. Kau melihat kekurangan patung ini?

 

Sang Isteri: Benar Suamiku, Patung Wisnu “made in” Solo tanpa gada, mungkin orang Solo terlalu halus, mosok perwujudan kekuatan alam, perwujudan kasih memakai gada simbol kekerasan. Hanya Bhima dan Setyaki kesatria tegas yang memakai gada. Akan tetapi, bukankah patung yang mahkota dan kainnya di-“airbrush” warna emas ini indah sekali? Bukankah keindahannya menutupi kekurangannya?

 

Sang Suami: Benar isteriku, Alam mengingatkan manusia seperti cara Wisnu mengingatkan. Pertama, tangan mem-“blessing”, memaafkan kesalahan awal yang telah diperbuatnya. Kedua, tangan memegang terompet kulit kerang, Alam memberi tahu kesalahan yang telah diperbuat dengan teguran keras. Ketiga, tangan memegang chakra, Alam memberi waktu untuk memperbaiki perbuatan yang salah yang telah diperbuat, bukankah chakra bermakna waktu yang berputar? Keempat, tangan membawa gada, begitu semua hal sudah dilaksanakan, masih ndhendheng, bebal, biarlah gada yang berbicara.

 

Sang Isteri: Maksudmu, seperti halnya bencana banjir. Ketika masyarakat memotong hutan hanya untuk pekarangan rumah, Alam memaafkan. Tetapi masyarakat memotong hutan semakin banyak, terompet alam memberi tahu bahwa air sungai sering kotor karena banyak lumpur akibat bukit gundul terkena air hujan. Alam pun menggerakkan lembaga advokasi mengingatkan masyarakat dengan terompet media. Selanjutnya Alam tetap menunggu, memberi waktu untuk bertobat, dan karena keserakahan manusia yang memotong hutan semena-mena, maka datanglah alam membawa gada dan banyak dapur rumah yang dimasuki air berlumpur.

 

Sang Suami: Sudah seharusnya manusia pun memberi sanksi atas kesalahan orang lain, dengan cara alam. Tidak langsung memakai gada, seperti Majikan yang langsung memecat hambanya.

 

Sang Isteri: Mungkin semua hal sudah dilakukan, hanya manusia yang tak peka yang tak pernah sadar

 

Sang Suami: Mari kita berdoa, berterima kasih kepada Guru yang setiap saat selalu memberikan “wisdom”.

 

Triwidodo

Januari 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: