Aura Materi Mencengkeram Nusantara


Percakapan antara seorang Pakdhe dengan keponakannya yang mahasiswa merupakan pembicaraan antara dua generasi. Berhubung mau pemilu percakapan mereka sangat bergairah.

 

Wisnu: Pakdhe! Nama Pakdhe sebenarnya kan Trisudewa, mengapa teman-teman Bapak memanggil Pakdhe Jarkoni.

 

Pakdhe Jarkoni: Wadhuh Wisnu, ponakan bagus yang jambulnya ala Ace Ventura, Trisudewa, maksudnya Tiga Dewa Yang Baik. Pakdhe sungkan setelah tua dan bau tanah. Sewaktu muda rambut pakdhe gondrong dan poni seperti John Lennon, ya pantes dipanggil Trisudewa. Sekarang Pakdhe dipanggil Jarkoni, bisa berujar tak bisa melakoni, matching eeeeeuuuyyy………….

 

Wisnu: Bagaimana pandangan Pakdhe terhadap bangsa kita. Terjadi kemajuan atau kemerosotan kualitasnya. Pemimpin itu Representasi Bangsa, Idola Bangsa, Panutan Bangsa. Sepertinya mereka malah semakin mengandalkan the Power of Money.

‘’Guru kencing berdiri murid kencing berlari. Pemimpin tak malu buka baju, masyarakat nekat buka celana”.

 

Pakdhe Jarkoni: Menurut Hukum Pareto yang dua puluh persen menghasilkan delapan puluh persen. Dua puluh persen Eksekutif Company, menghasilkan delapan puluh persen keberhasilan, sisa yang delapan puluh persen biasa-biasa saja. Dalam keadaan normal dua puluh persen penduduk Indonesia mempunyai delapan puluh persen total kekayaan. Seharusnya pemimpin yang jumlahnya sedikit dapat mengarahkan bangsa, bukan larut dalam massa. Dan nampak sekali aura materi dalam pemilu kali ini.

 

Wisnu: Segala macam cara, berbagai ragam SOP telah digunakan Pemerintah. Dulu,  Pemilihan Presiden dan Kepala Daerah oleh beberapa gelintir Anggota Dewan, ternyata uang punya kuasa. Kemudian diubah menjadi Pemilihan Langsung, ternyata untuk menjadi Calon Pemimpin harus main kejap-kejapan mata dengan Partai. Sampai ada istilah dari Kepala Daerah di lereng Gunung Kelabu, Bagi saya lebih baik naik taksi, bayar banyak tapi langsung naik, daripada memelihara mobil, lebih banyak pengeluarannya. Praktis, pragmatis. Menjadi pengurus partai mengeluarkan biaya banyak. Lebih baik nyetop taksi, kendaraan partai yang lampunya nyala yang siap ditumpangi dalam pilkada. Uang adalah segala-galanya. Kini yang dipakai suara terbanyak, tarip nomor jadi menjadi anjlok.

 

Pakdhe Jarkoni: Ha ha ha… Tukang becak yang mangkal di ujung gang yang sering kawin cerai ditinggal isteri, juga praktis pragmatis. Lebih baik jajan, bisa pilih menu selaras apa yang ada di kantong, kalau masak sendiri repot, mahal dan sering kena semprot anggota keluarga. Maksudnya punya isteri tanggung jawab lebih berat, kalau nafsu memuncak jajan saja. Kan ada benang merah persamaannya. Menjadi Pemimpin Negara pun dengan cara praktis pragmatis. Vibrasi Pemimpin yang materialistis mempengaruhi masyarakat luas.

 

Wisnu: Pakdhe kurang ajar, menyamakan Pemimpin dengan Tukang Becak. Tetapi menurut Gusti seseorang dinilai dari amalnya bukan dari jabatan duniawinya, belum tentu Pemimpin lebih mulia dari Tukang Becak di mata Gusti. Komentar kakak teman saya di desa pelosok lereng Gunung Sindoro demikian, “Panen kami hanya lima kali dalam lima tahun mas, Pemilihan Anggota Dewan, Pemilihan Bupati, Pemilihan Gubernur dan Pemilihan Presiden serta Pemilihan Kepala Desa. Setiap hari coblosan, sehabis subuh saya tunggu di balik pintu, nunggu ‘serangan fajar’ mas. Secara berkala kaos saya banyak dan berwarna-warni dari banyak partai. Saya hapal afirmasi dan yel-yel semua partai. Bensin sepeda motor saya juga selalu penuh. Kami punya tarip sendiri mas. Kan hanya lima kali dalam lima tahun. Secara materi, hanya itu yang dapat kami peroleh.

 

Pakdhe Jarkoni: Banyak teman saya dari dulu menjadi pemilih setia, memilih demi kebaikan bangsa, memilih visi partai yang cocok selera, tetapi setelah yang dipilih menjadi Anggota Dewan atau Pemimpin Daerah ternyata punya urusan dengan KPK. Sekarang banyak yang mutung, “Tahu hanya sebagai mainan, saya ganti main-main Pakdhe, siapa datang bawa angpo saya terima perkara milih urusan ‘nurani’ saya.

 

Wisnu: Ada fenomena baru, tempat fotocopy digital penuh pesanan. Sepanjang jalan Semarang Solo penuh bertaburan bintang film dadakan. Calon pemimpin ‘pede abis’ unggah gambar mereka, apakah mereka benar-benar memperkenalkan diri mereka, Pakdhe?

 

Pakidhe Jarkoni: Wisnu, sepalsu apa pun gambar tetap efektif. Bagi Socrates, “Diri sejati bukan tampakan seseorang, walaupun wajah bisa bagus dan penampilan keren belum tentu dalamnya. Pandangan kaum Sofis lain lagi. “Karena apa yang terungkap di luar sama dengan yang di dalam, maka tampilkan wajahmu yang keren dengan kata-kata indah menghibur, masyarakat awam percaya itu dirimu, itu jiwamu”. Mereka semua ahli psikologi massa.

 

Wisnu: Sebagimana layaknya iklan, terbersit ada manipulatif. Iklan mengemas produknya dengan menyelimuti kekurangan agar konsumen tertarik meski produk yang ditawarkan hanya berkualitas standar. Komoditas politik adalah tokoh atau lembaga politik yang akan menerima mandat kekuasaan dari rakyat. Iklan politik berpengaruh besar terhadap nasib dan masa depan bangsa, jauh berbeda dengan iklan shampo.

 

Pakdhe Jarkoni: Namun, iklan politik bukan tanpa suatu yang positif. Jika disertai gagasan yang utuh, memperhatikan etika dan menghindari hala-hal yang menimbulkan keresahan dan permusuhan, ia adalah sarana yang cukup baik untuk melakukan promosi politik. Iklan politik juga lebih efektif dan aman bagi masyarakat dibandingkan dengan pengerahan massa. Masalahnya adalah kesadaran bangsa kita telah merosot ke tingkat kesadaran fisik, kebutuhan utama adalah kebutuhan fisik: makan, minum, tidur dan seks. Nurani bangsa telah tertutup daki materi yang tebal.

 

Wisnu: Kami jadi ingat Ajaran Guru Pakdhe, “Mengharapkan perkembangan tanpa perubahan, persis seperti mengharapkan kesembuhan tanpa upaya”. Hanya puas memahami masalah dalam khayal tanpa bertindak nyata seperti masturbasi saja. “Negeri ini hanya dapat diselamatkan oleh mereka yang jujur dan mau mengabdi pada Ibu Pertiwi tanpa kepentingan pribadi. Janganlah berharap dari para politisi yang mengabdi pada kursi”.

 

Pakdhe Jarkoni: Yang harus dilakukan: Pertama mempurifikasi tindakan fisik dengan berpedoman pada sila yang lima. Kedua mempurifikasi mind dengan meditasi, menjernihkan pikiran. Ketiga mempurifikasi wisdom dengan real action. Pakdhe ingat Seminar Total Success, “Power of Your Will, Power of Knowingness, Power of Action, that is the way to Success. Om Shakti Om”…….”Men-cahaya-i diri saja tidak cukup. Cahaya yang menerangi dirimu itu mesti dibagikan dengan setiap orang yang membutuhkannya. Yakinlah bila kau mampu melakukan hal itu”. Terima kasih Bapak.

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

 

Januari 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: