Pergolakan Mind Sang Raja Kambing


Pada suatu hari Raja Kambing mengadakan sidang terbatas dengan para pembantu utamanya. Sebagai wartawan media masa, kita dapat mendengarkan pembicaraan mereka.

 

Mahapatih Kambing : Sang Raja Yang Mulia, kami melaporkan kondisi lapangan saat ini. Kondisi masyarakat kita di abad milenium ini masih tidak berbeda dengan kondisi manusia yang kalah perang di abad pertengahan. Masih dalam perbudakan. Masyarakat Paduka diperjual belikan, diangkut memakai pickup berdesak-desakan, dan diberi menu harian hanya rumput dan daun-daunan. Kami sadar kami dipelihara agar kami besar dan gemuk untuk kemudian dijadikan persembahan kepada Bathara Wudel, Dewa Pusar, Penguasa Nafsu di seluruh alam semesta.

 

Adipati Kambing : Kecuali kelompok hamba, Paduka! Kami tinggal di benua Astralya kami diberi konsumsi cukup dan selalu dicukur rapi, potongan bulu tubuh kami dijadikan pakaian wool para selebrities. Kami bersyukur kepada Gusti bahwa bulu kami bermanfaat bagi manusia..

 

Panglima Daerah Kambing : Nasib pasukan kami lebih parah Yang Mulia, anak buah kami yang masih muda dipotong, dicincang, ditusuk, dibakar setengah matang, jadi santapan manusia. Mereka bangga merasakan sate kambing muda. Mereka bebal, tertutup nuraninya, tidak peka, tidak dapat merasakan kesedihan makhluk yang dibantai. Banyak di antara mereka Doktor Psikologi, tetapi mereka tidak pernah praktek tentang empati terhadap bangsa kambing..

 

Mahapatih Kambing : Betul Sang Raja, kaki diikat, leher dikerat, kulit dikelupas dan digambari wayang dan dijadikan pajangan di kamar tamu manusia. Bahkan tulang belulang dengan daging melekat tersisa, dipotong dimasukkan kuah panas berbumbu dijadikan thengkleng kesukaan mereka. Betul-betul tidak berperikebinatangan. Sang Raja rimba pun tidak mengumpulkan bangsa kita dalam sel penjara, dan hanya makan apabila lapar saja.

 

Dengan kepala dingin, Sang Raja bertitah : Sahabat-sahabatku terkasih, cool-man, kalem sedikit dong, kita tidak kalah-kalah banget. Ini perintah rahasia pertama. Cepat sebarkan instruksi ke semua pasukan kalian. Ketika daging kalian masuk perut manusia, keluarkan energi panas, tingkatkan tekanan darah mereka, buat mereka ketagihan, dan akhirnya biarkan mereka terkena stroke. Minimal tempel darah mereka dan jadilah lemak di tubuh mereka, syukur kalau bisa bermukim di saluran jantung. Biar keluar keringat dinginnya sewaktu sakit, rasakan penderitaan bangsa kambing.

 

Mahapatih Kambing : Baik Sang Raja, hamba juga dikenal sebagai Bandot, kubuat juga manusia yang makan daging hamba terpengaruh sifat hamba, melihat pakaian wanita tersingkap sedikit sudah sakit kepala. Syukur kalau jatuh kesadarannya, biar dia menyesal seumur hidupnya. Bukankah alam itu mempunyai tiga sifat, satvik-tenang, rajas-agresif dan tamas-malas. Bangsa kita makan tanaman dan air maka sifat bangsa kita tenang. Tidak seperti bangsa Singa pemakan daging yang agresif. Tetapi potensi kekerasan yang masih terbawa dalam DNA kami bangkit ketika kami dibantai semena-mena. Sifat rajas-agresif kami akan masuk kedalam darah manusia dan membangkitkan keagresifan mereka dari dalam tubuhnya.

 

Sang Raja Kambing : Baik, ini perintah rahasia kedua. Roh ku sendiri akan masuk ke penguasa-penguasa durhaka, mempengaruhi pikiran dan nafsu mereka, agar selalu tidak puas, agar muncul keserakahannya, agar mengobarkan peperangan, agar manusia saling membunuh dan merasakan pembalasan kambing-kambing tak berdosa. Rahasia ini selaras dengan Hukum Alam Semesta. Tugas roh kamu semua menyelinap dalam diri manusia, menutupi nuraninya, dan membangkitkan nafsu berperang. Para pemakan ayam, kurang bergairah untuk berperang, kecuali mereka yang menyantap ayam jago aduan. Makanan asli Nusantara adalah burung dan ayam. Bangsa kambing telah didatangkan dari luar Nusantara, dan sebetulnya kurang cocok bagi DNA manusia Nusantara yang hidup di bumi yang subur penuh tetumbuhan. Bangsa kambing cocok hidup di daerah keras di gurun. Para pemakan bangsa kita akan menjadi semakin keras, tertutup dan merasa menang sendiri.

 

Tiba-tiba Seekor Kambing berjenggot putih panjang yang menjadi Guru Rohani Sang Raja yang tadi diam, tertawa penuh makna : Ha ha ha ha, calm-guys, cool please, dengarkan cerita saya. Sudah lama kalian menderita, segala macam kesalahan pun ditimpakan pada saudara kita, Si Kambing Hitam. Ada dua macam hukum alam, hukum sebab-akibat dan hukum evolusi. Apa pun akibat yang kalian terima disebabkan oleh tindakan kalian sendiri. Terimalah yang terjadi dengan lapang dada, janganlah kalian membuat karma baru. Biarlah Keberadaan mengimplementasikan hukum sebab-akibat kepada mereka. Belajarlah mengampuni manusia. Doakan mereka, agar mereka menjadi sadar, dan bangsa kita setelah mati akan berevolusi menjadi mereka. Kanjeng Gusti Atisha Almarhum mendapat pelajaran berharga dari Mendiang Gusti Pangeran Dharmakirti dari Sriwijaya, “Sabar dan Bersyukur dalam setiap keadaan, dan kesadaranmu akan meningkat!” Saya melihat ke masa datang, kesadaran kalian semua akan meningkat menjadi kesadaran manusia. Pesanku, setelah jadi manusia jangan berkarakter kambing lagi…….. Dan, semuanya hening …………….

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

 

Januari 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: