Merusak Lingkungan Alam Tanpa Kesadaran


Lik Darmo yang seniman senang menjadi petani, rasanya ayem-tentrem, aman-tenteram melihat tanaman padi di sawah. Di atas Gubuk di tengah sawah, Lik Darmo berbincang-bincang dengan Pakdhe Jarkoni.

 

Lik Darmo: Pada zaman dahulu, negeri Nusantara ini maju pertaniannya. Orang-orang asing datang ke Nusantara bukan hanya untuk menikmati keindahan alam, melainkan untuk mencari hasil pertanian, baik kelapa, rempah-rempah maupun hasil bumi lainnya. Kesuburan tanah di Nusantara adalah berkah dari Yang Maha Kuasa. Kerajaan Sriwijaya mengekspor hasil bumi dengan armada milik sendiri. Luar biasa. Tetapi kondisi pertanian saat ini sangat memprihatinkan. Para petani sulit untuk hidup layak dengan hasil bertani saja. Anak-anak petani bersekolah di kota dan tidak mau kembali bertani, karena penghasilannya tidak ‘menjanjikan’. Bagaimana Pakdhe? Mengapa demikian?

 

Pakdhe Jarkoni: Pertama sekali, kita lihat dulu dari sisi lahan-lahan subur yang dialihfungsikan menjadi kota dan permukiman. Kemudian di desak kebutuhan akan lahan, hutan tempat resapan air di gunung mulai dijadikan lahan pertanian. Kita telah menyia-nyiakan anugerah kesuburan tanah dan berkah hutan penyimpan air. Kita tidak menghargai anugerah Gusti.

 

Lik Darmo: Hal demikian terjadi karena hasil pertanian tidak menjanjikan dan kebutuhan permukiman melonjak akibat pertumbuhan penduduk serta pemikiran yang kurang bijak, demi keuntungan yang instan kita melupakan kerugian yang akan datang nantinya. Kumaha engke bae, bagaimana nantinya saja, yang penting sekarang saya untung. Tindakan yang tidak berlandaskan spiritual dan nafsu penyelesaian instan yang dijadikan panglima.

 

Pakdhe Jarkoni: Mari kita lihat kondisi petani di negara-negara maju. Di Jepang, agar petani tetap bersemangat, pemerintah membeli harga hasil bumi dengan harga tinggi. Kemudian agar harga terjangkau masyarakat luas, pemerintah menjual dengan harga lebih murah. Atau dengan kata lain disubsidi. Di Amerika investasi di bidang pertanian tidak dibebani bunga. Sehingga masyarakat mau pinjam modal untuk membangun prasarana irigasi karena menguntungkan. Pemerintah Belanda mengeluarkan dana subsidi sebesar US $ 2.50 setiap hari untuk setiap ekor sapi. Dana sekitar Rp 23.000 tersebut hampir sama dengan upah minimum seorang anak manusia di negeri kita.

 

Lik Darmo: Betul pakdhe, Indonesia dengan sekian belas ribu pulau dan tanah yang jauh lebih subur dari mereka – malah menjadi pengimpor buah-buahan, sayuran dan makanan kaleng dari mereka. Setiap tahun kita sudah mengeluarkan lebih dari 200 juta dollar Amerika untuk mengimpor buah-buahan, sayuran dan makanan kaleng dari Cina saja. Belum lagi dari Australia, Amerika, Timur Tengah, Eropa dan negara-negara lain.

 

Pakdhe Jarkoni: Prihatin sekali Lik, “bumi” dan “hasil bumi” adalah “bekal utama” yang diberikan oleh Keberadaan kepada kita. Menggadaikan pemberian utama itu demi sesuatu apa pun jua – sungguh tidak cerdas. Dengan segala kemajuan di bidang teknologi dan sains, Amerikat Serikat tetap saja melindungi para petani mereka. Hasil bumi mereka berlimpah dan diekspor ke manca-negara.

 

Lik Darmo: Saya mendengar dari seorang ahli pertanian kita yang sekarang pindah ke negeri Jiran, bahwa tanah Bali sungguh sangat subur. Ia menyayangkan pembangunan Bali yang dianggapnya tidak sesuai dengan potensi Bali. Ketika saya menantang dia untuk berbicara di depan umum dan menyampaikan ide-idenya kepada pemerintah, ia tersenyum: “Kamu pikir saya tidak melakukan hal itu? Sudah. Dan, tidak seorang pun mau mendengarku. Maka, aku frustrasi sendiri.” Dalam keadaan frustrasi itu, ia mendapat tawaran dari salah satu universitas termuka di Malaysia, dan ia menerimanya. Kesalahan terletak pada diri kita. Kita masih belum cukup cerdas untuk memahami dampak pembangunan yang kurang cerdas terhadap lingkungan yang menyebabkan “Pemanasan Global”. Sadarkah kita akan dampak kenaikan suhu 1.5 derajat saja? Sadarkah kita akan dampaknya? Berapa ratus pulau yang akan tenggelam, dan berapa ribu pulau yang luasnya menciut?

 

Pakdhe Jarkoni: Semoga Gusti mengampuni tindakan kita yang mengabaikan kesuburan tanah hanya untuk permukiman dan malah menghilangkan hutan sebagai resapan air. Terima Kasih kepada Bapak Guru yang telah memberikan ilmu penjernihan pandangan.

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

 

Januari 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: