Kesadaran Air Selokan dan Kebanggaan Mind Air Kemasan


Pada suatu hari, sebuah truk bermuatan puluhan galon Air Kemasan berhenti parkir di sebelah selokan yang kotor. Salah satu Air Kemasan dalam galon mengucapkan “say hello” kepada Air Selokan, dan pembicaraan mereka terekam oleh angin yang lalu.

 

Air Kemasan : Saudaraku Air Comberan, mengapa masih krasan juga tinggal di tempat kumuh ini? Lihatlah sampah busuk yang mengelilingimu. Pengemudi Truk inipun parkir di sini hanya untuk menguras air seni sambil menutup hidung agar tidak mencium bau busukmu. Kalau tidak terpaksa, dia tidak akan parkir di dekatmu. Sadarlah saudaraku, hanya cacing, nyamuk dan lalat yang senang menemanimu.

 

Air Selokan : Baik Sahabatku, aku menerima peran yang diamanahkan kepadaku dan dharma ini akan kujalankan sebaik-baiknya, busuk atau harum hanya bersifat sementara, aku menikmati tugasku, sedapat mungkin kubawa sampah untuk tidak mengotori selokan ini. Memang kali ini aku kecapaian, aku menunggu rombonganku datang ketika hujan tiba untuk bersama mereka menggotong sampah yang mengotori tempat ini. Bagaimana pengalamanmu sahabatku?

 

Air Kemasan : Memang dari sananya aku mendapatkan kesenangan. Mungkin dari karma kehidupanku yang lalu. Aku lahir di mata air yang jernih, lalu diproses pabrik canggih dimasukkan galon yang bersih. Aku dibawa truk untuk diantarkan ke mal-mal besar. Dipajang di rak dalam ruang yang sejuk, dingin dan bersih. Suatu saat, aku dinaikkan kereta dorong, dikawal pembantu berseragam putih yang mengantarkan artis cantik. Aku diletakkan di atas dispenser di rumahnya yang mewah, dihubungkan stop kontak dan kadang lewat gelas mahal masuk mulut mungil artis tersebut dalam keadaan dingin atau panas. Betapa bahagianya aku. Kau belum merasakannya kawan, enak juga jadi air kalangan atas.

 

Percakapan terhenti karena pengemudi mulai menjalankan mobilnya dan sementara terjadi keheningan di benak Air Selokan.

 

Air Selokan merenung : Gusti aku menerima keadaanku apa adanya, aku selalu bersyukur dapat menjadi berkah mereka yang terpinggirkan. Susah-senang sudah terlampaui, yang ada dalam diriku hanya kasih. Susah-senang hanya ilusi sementara, tak akan ada habisnya. Akan tetapi kasih itu abadi, dalam setiap keadaan selalu saja ada kasih. Makhluk yang dirinya penuh kasih hanya bisa mengungkapkan tindakannya dengan kasih.

 

Seminggu kemudian, hujan deras tiba, air hujan memenuhi selokan-selokan,  dan terangkutlah air selokan masuk ke dalam sungai dan terus mengalir ke samudera luas. Air selokan sudah berada di samudera luas, mendapatkan pencerahan dari Sang Surya, segenap kotoran yang melekat pada dirinya ditanggalkannya dan terjadilah transformasi berubah bentuk menjadi uap air yang jernih, yang melayang di angkasa.

Dari ketinggian angkasa ,dengan mata waskitanya, dia melihat temannya Air Kemasan masih bergelimang kemewahan untuk pada akhirnya masuk ke tubuh sang artis dan dikeluarkan di toilet. Disiram air masuk septic tank untuk merayap pelan-pelan ke dalam tanah. Pada suatu saat, dia akan sampai juga ke samudera luas dan menguap ke angkasa. Hanya masalah waktu yang amat sangat lama saja, karena terikat dengan ilusi dunia.

 

Air Selokan yang sudah bertransformasi menjadi uap air di angkasa merenung : Untuk apa pamer kesukaan, untuk apa menyembunyikan kesedihan. Semuanya harus dilampaui. Aku mempunyai rasa kasih, apa pun tugasku, apa pun amanah yang diberikan kepadaku akan kulaksanakan dengan penuh kasih.

Aku ingat: “Dialah yang menciptakan manusia. Dia yang mengajarinya dengan jelas. Matahari dan bulan yang beredar sesuai perhitungan, dan bintang-bintang dan pepohonan semuanya sedang sujud, tunduk, berserah diri ‘yasjudan’ dan langit, yang Ia tinggikan dengan seimbang”. (55:3-7). Air dalam kemasan masih menggunakan “mind”, ego, belum sujud dan berserah diri. Semoga “mind” –nya cepat dilampui. Terima kasih Guru.

 

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

 

Januari 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: