Kisah Dewi Sinta Perjalanan Spiritual Seorang Wanita


Peningkatan kesadaran manusia

 

Sesuai hukum evolusi, maka tingkat kesadaran manusia akan meningkat dari kesadaran hewani, menuju kesadaran manusiawi untuk naik kepada kesadaran Ilahi. Kesadaran hewani adalah kesadaran yang masih merupakan bawaan sifat hewani yang  butuh akan makan, minum, seks dan tidur atau kenyamanan. Tentu saja kualitas kebutuhan manusia jauh lebih tinggi dari pada kebutuhan hewan, karena ‘mind’ manusia sudah berkembang, walaupun tetap  ada benang merah persamaannya.

 

Hewan makan daging dan sayuran mentah, sedangkan manusia makan daging yang dimasak dan diberi bumbu serta menu sayuran yang bisa dimasak ataupun yang masih segar. Dalam berhubungan seks, hewan melakukannya ketika muncul gairah dan bisa dengan siapa saja termasuk dengan yang masih punya pertalian keluarga dengannya. Manusia memerlukan akte pernikahan dan mempunyai syarat-sayarat tertentu, tidak boleh saling serobot dan tidak melakukannya di depan umum. Apabila tidur pun hewan bisa di sebarang tempat, di bawah pohon atau di dalam goa, sedangkan manusia membuat rumah, walau kemewahannya bertingkat-tingkat pula.

 

Dalam tingkat kesadaran hewani, manusia ingin memenuhi segala kebutuhannya dengan segala cara. ‘Ngebet’ dengan suatu kebutuhan. Untuk menjadi manusia yang manusiawi, rasa kasih, rasa kemanusiaan harus dikembangkan. Rasa tenggang rasa, tidak mau menang sendiri, menghargai orang lain dan tidak begitu ‘ngebet’ keduniawian. Kebutuhannya dipenuhi dengan cara manusia yang elegan.

 

Manusia yang mencapai kesadaran Ilahi, paham bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi. Segala sesuatu tadinya tidak ada kemudian ada dan untuk akhirnya menjadi tidak ada lagi. Memahami sifat dunia, mereka telah melampaui dunia, tidak membutuhkan apa-apa lagi. Sisa hidupnya diperuntukkan untuk meningkatkan kesadaran manusia yang telah siap meningkatkan kesadarannya.

 

Ada beberapa tingkat kesadaran dewi Sinta dalam kisah Ramayana.

 

Pertama: Dewi Sinta setia mengikuti suami di hutan belantara.

 

Keteguhan seorang putri raja untuk mengikuti suami yang harus pergi ke hutan belantara perlu mendapatkan pujian. Sebagai seorang istri dia tidak mau kembali ke kerajaan ayahandanya, bahkan mendampingi Sri Rama menyelesaikan pengasingannya di hutan selama 14 tahun. Dewi Sinta juga tidak mempengaruhi Sri Rama untuk membangkang kehendak ayahandanya yang ‘kalah janji’ dengan Dewi Kekayi, ibu tiri suaminya yang meminta putera ibu tirinya yang akan menjadi Raja di Ayodya.

 

Diperlukan keteguhan hati bagi seorang isteri yang sadar akan menghadapi banyak kesulitan dalam kehidupan rumah tangga kedepan. Pada saat ini sudah jarang wanita yang mau hidup menderita, sedangkan pilihan untuk hidup lebih nyaman terbuka. Kesediaan hidup menderita bersama suami, merupakan modal dasar wanita pilihan yang luar biasa.

 

Kedua: Dewi Sinta terobsesi oleh kijang kencana.

 

Wajar saja seorang wanita setia membutuhkan kesenangan sebagai perintang waktu dalam kehidupan di hutan belantara. Ego Dewi Sinta masih ada, dia menggunakan ‘mind’-nya, pelan-pelan dirinya menjauhi diri sejatinya. Dewi Sinta tergelincir pada keinginan untuk mempunyai hewan kesenangan. Dewi Sinta tergelincir untuk memiliki kijang kencana duniawi yang cantik dan imut.

 

Tidak ada salahnya mempunyai keinginan sebagai manusia, tetapi tidak perlu terobsesi terlalu dalam. Potensi sifat kehewanan dalam diri lah yang menyebabkan seseorang ngotot menginginkan segala sesuatu. Seakan-akan apabila keinginannya kesampaian dia akan bahagia.

 

Belajar dari kehidupannya, seseorang perlu sadar bahwa apabila sesuatu yang diinginkannya tercapai akan datang pula keinginan yang lainnya. Demikian juga semestinya  seseorang sadar bahwa apabila sesuatu yang diinginkannya tidak tercapai, dengan berputarnya roda sang kala, dia pun dapat menerimanya sebagai sesuatu hal yang biasa-biasa saja. Manusia perlu ber-‘mulur-mungkret’, ‘kembang-susut’ dalam keinginannya, tidak perlu ngotot. Hanya kesadaran yang dapat menaklukkan nafsu yang bergelora.

 

Ketiga: Dewi Sinta cemas akan nasib suaminya

 

Kecemasan Dewi Sinta akan Sri Rama melalaikan bahaya yang mengancam dirinya sendiri. Laksamana telah diminta Sri Rama, kakaknya untuk menjaga Dewi Sinta, karena Sri Rama berlari mengejar kijang kencana. Suara jeritan dari kejauhan kijang kencana yang merupakan penjelmaan Raksasa Kala Maricha yang terkena panah Sri Rama terdengar Dewi Sinta dan menimbulkan kecemasan. Dalam kecemasannya, berbagai dugaan berseliweran dalam pikirannya, sehingga Dewi Sinta memaksa Laksmana mengejar Sri Rama. Dalam keadaan galau, Dewi Sinta melupakan intuisinya.

 

Dalam keadaan genting, banyak wanita yang sangat mencemaskan keadaan suaminya, karena dia merasa bersalah telah meminta suaminya memenuhi kebutuhan pribadinya yang cukup sulit diraih. Dalam keadaan khawatir keselamatan suaminya, napasnya memburu, selaras dengan pikirannya yang penuh kecemasan. Seharusnya seseorang menenangkan dirinya, mengatur napasnya, sehingga berada dalam keadaan tenang, dan pikirannya akan jernih. Suaminya adalah seorang dewasa dan perkasa yang dapat dihandalkan. Apabila, seseorang berada dalam ketenangan, pikirannya jernih, dan intuisinya akan lebih peka. Jangan mengambil keputusan ketika pikiran sedang galau, ketika napas sedang kacau, keputusan yang diambil bukan hasil pikiran yang jernih. Pikiran pun harus dilampaui setelah seseorang yakin akan intuisinya. Banyak berpikir membangkitkan kecemasan.

 

Keempat: Dewi Sinta terketuk rasa iba terhadap pengemis tua

 

Sebelum Laksmana pergi mengejar Sri Rama, dia membuat garis bermantra yang membuat binatang buas dan raksasa tidak dapat menerobos garis tersebut. Pada waktu binatang buas dan raksasa datang menakut-nakutinya, Dewi Sinta tetap teguh dan merasa aman berada dalam pagar pengaman, garis batas yang dibuat Laksmana. Dewi Sinta baru lalai ketika seorang pengemis tua meruntuhkan ibanya. Dewi Sinta, melupakan nasehat Laksamana untuk jangan keluar dari pagar pengaman. Tanpa sadar tangan Dewi Sinta terjulur keluar berniat memberi kepada sang pengemis. Dan, dalam hitungan detik tangan pengemis tersebut sudah menarik Dewi Sinta keluar dari pagar pengaman. Rahwana paham atas kelemahan hati seorang wanita yang penuh rasa iba terhadap seseorang yang menderita.

 

Pendidikan yang baik menghasilkan perilaku luhur yang memunculkan perasaan iba kepada orang byang sedang membutuhkan pertolongan. Belum tentu juga kasih yang murni, bisa juga hanya karena raja ujub, bangga sebagai seorang yang berbuat mulia. Seandainya seseorang berpikir jernih, dia akan paham bahwa pemberian uang receh kepada pengemis di jalan akan membuat mereka malas berusaha. Mereka mencari uang receh bukan untuk sesuap nasi tetapi untuk ditabung, atau untuk merokok atau perbuatan kurang baik lainnya. Banyak sekali anak kecil yang dijadikan alat peruntuh iba. Anak yang dimanfaatkan tersebut mendapatkan pendidikan kehidupan yang salah sepanjang hayatnya. Apakah kebaikan hatinya akan membentuk manusia yang berharga bagi masyarakat?

 

Kelima: Dewi Sinta tahan uji terhadap godaan nafsu angkara murka

 

Selama bertahun-tahun Dewi Sinta larut dalam kesedihan dan selalu siap bunuh diri dengan cundrik-nya apabila Rahwana akan memaksanya. Dan ketika dirinya sudah hampir putus asa datanglah Hanoman membangkitkan jiwanya, dengan membawa berita bahwa Sri Rama akan datang ke Alengka untuk membebaskannya. Dewi Sinta berhari-hari mengurung dalam kamar. Dan, akhirnya menyadari, bahwa keinginannya untuk memperoleh kijang kencana akan mengakibatkan pertempuran antara bangsa manusia dibantu bangsa kera melawan bangsa raksasa. Dewi Sinta juga menyadari tidak setiap raksasa jahat, Kumbakarna dan Wibisana, adik-adik Rahwana tidak setuju penculikan dirinya. Rahwana pun tidak pernah memaksakan kehendaknya, dia hanya mau memperistri dirinya apabila dia berkenan untuk itu, hanya dia menyandera dia sampai dia menyerah dan pasrah.

 

Tidak semua manusia melakukan tindakan seperti Rahwana ketika seorang perempuan lemah berada dalam genggamannya. Rasa bersalah atas kebodohannya selama ini yang cenderung mengikuti nafsu pikirannya. Kesadaran Dewi Sinta membuka selubung hijab, aku ini siapa? Untuk apa aku di dunia? Apakah ada rencana besar Hyang Widhi untuk melenyapkan keangkaramurkaan, atau untuk melenyapkan etnis raksasa, perpaduan antara manusia dan binatang? Dia telah mendapat peran yang harus dijalankannya dengan baik. Dewi Sinta sadar dirinya terlibat kepada Hukum Sebab-Akibat, dan dia akan menjalaninya dengan penuh kesadaran. Kemudian Dewi Sinta memahami adanya Hukum Evolusi, termasuk evolusi dalam kesadaran. Keputusannya sudah bulat semua akan dilakoninya dengan penuh kesadaran.

 

Kondisi kritis, keadaan yang hampir membuat putus asa, sering menjadi pemicu peningkatan kesadaran seseorang. Pemahaman tentang kehidupan pun tidak cukup. Semuanya harus dilaksanakan dalam keseharian. Pikiran seseorang harus  dibiasakan untuk merenungkan Gusti, harus berusaha menempuh jalan Gusti, hidup dalam Gusti, dengan Gusti. Kesadaran atma yang demikian hanya dapat diperoleh dengan jalan rangkap tiga, yaitu:

  1. membuang vasana ‘keinginan, naluri, dorongan, atau ketagihan’,
  2. melenyapkan manas (kemampuan untuk memahami objek; kumpulan pikiran, emosi, dan vasana).
  3. Menganalisis pengalaman untuk memahami kenyataan.

Tanpa ketiga hal ini, penghayatan atma tidak akan timbul. Vasana mendesak manas manusia menuju dunia yang berhubungan dengan indera dan mengikat manusia pada kegembiraan serta kesengsaraan. Karena itu, vasana harus dipadamkan.

 

Keenam: Dewi Sinta pasrah kepada Kekuasaan Yang Maha Kuasa

 

Ego Dewi Sinta telah sirna. Dalam keadaan no-mind, dia pasrah kepada Gusti. Ketika Rahwana beserta balatentaranya berhasil dihancurkan pasukan Sri Rama. Dan, ketika Sri Rama tidak mau menjajah negara Alengka dengan menyerahkan tampuk pimpinan kerajaan Alengka kepada Wibisana adik Rahwana, Dewi sinta semakin bersyukur kepada Gusti bahwa dia dikaruniai suami yang bijaksana. Kebahagiaan bersatu kembali dengan Sri Rama pun dijalani dengan penuh kesadaran. Semua ini hanya terlaksana atas karunia Hyang Widhi. Perasaan bersyukurnya kepada Hyang Widhi diungkapkan dengan rasa kasih kepada Sri Rama. Bahkan ketika Sri Rama mengikuti pendapat penduduk negaranya untuk tes uji kesucian bagi dirinya, Dewi Sinta menerima dengan penuh kesadaran. “Banyak hal yang telah kulakukan di dunia yang telah menyebabkan kesengsaraan banyak makhluk. Bila Hyang Widhi akan mengambil nyawanya dengan cara dibakar hidup-hidup dia pun menerima dengan tegar”. Seluruh negeri terkesima dengan selamatnya Dewi Sinta dari amukan api. Seluruh negeri menerima kembali Dewi Sinta sebagai permaisuri dari Sri Rama.

 

Seseorang yang menyadari hakikat kehidupan, bahwa hidup di dunia ini terikat dengan hukum-hukum alam maka dia akan dapat menerima kejadian apa pun yang menimpanya. Perjuangan meningkatkan kesadaran tak pernah berhenti. Karena hidup di alam dan bahan bakunya dari alam, maka seseorang memang tidak bisa melepaskan diri dari alam. Tetapi alam akan membantu seseorang yang serius mendarmabaktikan dirinya bagi alam.

 

Ketujuh: Dewi Sinta mengasingkan diri demi keutuhan kerajaan Ayodya

 

Perjalanan kehidupan seseorang mempunyai alur-alur baru yang sering diluar nalarnya. Setelah mengalami kebahagiaan bersama Sri Rama menjadi permaisuri di kerajaan Ayodya, dia masih saja mendengar banyaknya suara-suara penduduk yang tetap menyangsikan kesuciannya walau dia sudah selamat dibakar di atas api. Sri Rama adalah raja besar yang bijaksana, dan juga seorang suami yang baik. Tetapi sebagai seorang raja, Sri Rama sudah seharusnya lebih mementingkan kepentingan negara daripada kepentingan pribadi. Dewi Sinta adalah seorang istri yang luar biasa baiknya, tetapi dia lebih mementingkan negara dari pada kepentingan pribadinya. Demi negara, demi suami tercinta, pada malam hari dia menyelinap ke luar istana pergi jauh meninggalkan istana. Setelah itu dia seakan lenyap ditelan rimba. Hanya berbekal keyakinan kepada Hyang Widhi, dia merelakan segala-galanya. Dengan intuisinya dia mencari tempat tinggal yang jauh dari kebisingan kota.

 

Seseorang yang penuh sifat kasih yang berasal dari dalam dirinya, tidak tergantung terhadap keadaan di luarnya. Di dalam dirinya hanya ada kasih, di luarnya hanya berupa ungkapan kasih dan dia yakin akan dibimbing oleh kasih.

 

Kedelapan: Dewi Sinta bertemu dengan Resi Walmiki

           

            Dalam perjalanannya Dewi Sinta baru sadar dia telah mengandung benih putera Sri Rama. Dalam perjalanan itu pula dia bertemu dengan Resi Walmiki yang bijaksana. Bertemu seorang Guru sebagai karunia Hyang Widhi perlu disyukuri. Segalanya sekarang semakin jelas, Guru Walmiki membimbing Dewi Sinta yang memang sudah matang spiritualitasnya.

 

            Dewi Sinta melahirkan putera kembar, yang diberi nama Lawa dan Kusa. Lawa dan Kusa tumbuh menjadi anak yang luar biasa cerdas dan sakti mandraguna. Bibitnya berasal dari kombinasi Raja tampan Sri Rama yang bijaksana dan Dewi Sinta cantik yang kesadaran spiritualnya telah tinggi. Apalagi mereka dalam bimbingan Guru Walmiki yang arif.

 

Ketika Lawa dan Kusa meningkat remaja mereka menanyakan siapakah ayah mereka. Resi Walmiki membacakan Kitab Ramayana, yang merupakan kisah dari Rama dan Sinta. Dewi Sinta telah menceritakan semua kisah hidupnya kepada Gurunya, Resi Walmiki. Resi Walmiki telah mengabdikan dirinya untuk peningkatan kesadaran manusia yang telah ‘siap’. Kisah Dewi Sinta dengan Sri Rama di catat dan diabadikannya dalam Kitab Ramayana. Kitab yang masih dapat memicu peningkatan kesadaran seseorang puluhan ribu tahun sesudah kejadiannya. Pada masa-masa akhir Dwapara Yuga, ketika terjadi perang Bharata Yudha, Panglima Arjuna menggunakan umbul-umbul ‘Hanuman’, pahlawan Sri Rama di kereta perangnya.

 

            Ketika seseorang telah siap alam akan membantu meningkatkan kesadaran seseorang. Apakah karunia itu berupa Murshid, Guru, Kitab ataupun Kekuatan Alam. Di depan seorang Guru, seseorang harus pasrah, membuka semua rahasia hidupnya yang sebetulnya telah diketahui olehnya. Sang Guru paham jalan apa yang baik ditempuhnya.

 

Kesembilan: Dewi Sinta tertelan bumi karena kesuciannya

 

            Sudah menjadi kebiasaan di benua Jambudwipa, benua tempat Kerajaan Ayodya. Seseorang Maharaja mengadakan ritual melepaskan kuda putih yang diikuti pasukan tentara yang kuat. Kuda putih tersebut dibiarkan memilih jalan sendiri yang dikehendakinya. Tak ada seorang raja tetangganya yang mengambil kuda putih tersebut. Apabila seseorang raja berani melakukannya, berarti dia telah berani menentang sang maharaja dan terjadilah pertempuran sampai seorang raja kalah dan tunduk, ataupun kerajaannya dapat menundukkan kerajaan sang maharaja. Di benua Jambudwipa seorang maharaja ibarat seorang presiden yang diakui oleh banyak negara bagian sekelilingnya.

 

            Ketika kuda putih melewati desa tempat dewi Sinta tinggal, kuda tersebut ditangkap oleh Lawa dan Kusa. Pasukan tentara yang mengikutinya tahu anak-anak remaja tersebut bukan seorang raja, tetapi semua pasukannya dapat dikalahkan mereka. Sang kembar tidak mau menyerahkan kuda tangkapannya. Komandan pasukan yang kalah tempur melapor kepada Sri Rama yang menyuruhnya membawa pasukan yang lebih kuat. Akan tetapi pasukan itu pun takluk dibawah Lawa dan Kusa. Akhirnya seperti pesan Sri Rama, apabila kalah maka diundanglah kedua remaja tersebut ke istana.

 

            Ketika sang kembar bertemu Sri Rama di sidang paripurna di istana, keduanya menembangkan Kisah Ramayana yang digubah Resi Walmiki. Para petinggi kerajaan dan Sri Rama sadar kedua putera kembar yang wajahnya sama dengan Sri Rama ini adalah putra-putra Dewi Sinta yang berhak menjadi putera mahkota kerajaan Ayodya. Semua orang sadar atas kekeliruan pandangan mereka selama ini terhadap Dewi Sinta.

 

            Sri Rama dan seluruh petinggi kerajaan menemui Dewi Sinta. Semua orang ternganga melihat Dewi Sinta yang cantik bersama seorang tua berwibawa yang kedua-duanya memiliki wajah yang bercahaya seperti cahaya yang ada di wajah Sri Rama. Dewi Sinta berujar, “Suamiku inilah Guruku, Resi Walmiki yang mengabadikan kisah kasih kita berdua agar kisah kita abadi dan memberi hikmah kepada mereka yang mau mengambil hikmahnya. Urusanku di dunia telah selesai, kedua anak kita telah kukembalikan kepada status mereka yang sebenarnya. Aku mencintaimu, cinta yang suci, kasihku abadi sebagai bukti bahwa cintaku suci aku akan tertelan bumi”. Demi melihat Dewi Sinta yang tertelan Bumi, Sri Rama berkata kepada resi Walmiki dan seluruh petinggi kerajaan serta kedua puteranya, “Tugasku telah selesai dan Sri Rama pun moksa. 

 

            Benarkah Sri Rama dan dewi Sinta ‘lenyap’, mungkin hanya tambahan masyarakat kepada Kisah Ramayana dari Resi Walmiki. Hampir setiap Guru, setiap Avatar, dikisahkan dengan bumbu berbagai mukjijat oleh para pengikutnya. Hal tersebut tidak akan mengurangi substansi keilahiannya.

 

Dewi Sinta dalam diri kita

 

Penutup ini dijiwai oleh Buku Kidung Agung, karya Bapak Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama 2006.

 

Dunia masih belum selesai dengan evolusi fisiknya. Sementara itu, para pecinta sudah mengalami evolusi batin, maka dunia tidak dapat memahami keadaan para pecinta. Dunia akan selalu menolak para pecinta seperti itu, termasuk keluarga dan kerabat terdekatnya. Kalau mau menapaki jalur itu, kita harus bersiap-siap untuk itu. Jalan yang sedang kita tempuh adalah jalan yang tidak sering ditempuh. Berapa banyak manusia semacam Dewi Sinta dalam menempuh perjalanan hidup mereka? Berapa banyak orang tua yang memberi nama Dewi Sinta, Sinta, Shita, Sita kepada anak mereka dan berharap anak mereka akan mengikuti jejak Dewi Sinta? Banyak yang berharap; segelintir yang memenuhi harapan. Dan, hanya hitungan jari yang berhasil.

 

Kijang Kencana, Rahwana, dan lain-lainnyadalah pemicu-pemicu di luar diri kita, adalah dunia benda. Kedudukan, kekayaan, ketenaran dan juga kecemasan adalah urusan duniawi. Mereka senantiasa berupaya untuk menarik kita. Dewi Sinta itulah diri kita, kesadaran kita. Perjalanan kita untuk keluar dari gravitasi bumi, keluar dari lingkaran kelahiran dan kematian, memang penuh tantangan. Tetapi, jika kita menerima tantangan sebagai tantangan, kita pasti berhasil keluar. Terima Kasih Guru.

 

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

 

Januari 2009.

Iklan

3 Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: