Antara ‘Ngelmu’ Sri Mangkunagara IV dan ‘Spiritual Knowingness’


Pada Saptu pagi, anak-anak sudah pergi kuliah dan dirumah hanya ada sepasang suami istri ‘manula’, manusia usia lanjut yang sudah ‘bau tanah’, istilah para sahabat mereka. Di depan rak buku yang dipenuhi buku-buku dan beberapa CD dari Guru  Spiritual serta ‘obat gosok’ dan ‘jamu tolak angin’ sebagai perlengkapan orang tua, mereka bercengkerama. Yang namanya orang tua itu senang bicara masalah nostalgia.

 

Sang Isteri: Guru berkata, “Jangan biasakan selalu mendengar lagu-lagu nostalgia, nanti tulisan dan ucapanmu hanya diminati mereka yang sebaya denganmu, belajarlah mendengar lagu Pop!” Akan tetapi saya lihat Suamiku sering membaca buku-buku Sastra Kuna.

 

Sang Suami: Benar Isteriku, saya sudah mulai sering lihat video klip Peter Pan dan Changchuters. Tetapi saya juga masih ingat sewaktu kecil saya sering mendengar tembang yang dinyanyikan kakekku, coba dengarkan ya! …………………’Ngelmu iku kalakone kanti laku. Lekase lawan kas. Tegese kas nyantosani. Setya budya pangekese dur angkara’……………

 

Sang Isteri: Bukankah itu tembang ‘Pocung’ karya Sri Mangkunagara IV yang artinya: “Ilmu itu terjadinya dengan ‘laku’. Diawali dengan kemauan keras. Kemauan keras membuat sentosa. Budi setia mengikis nafsu angkara”. Almarhum ibu saya juga sering menembangkannya.

 

Sang Suami: Benar Isteriku, itu karya Sri Mangkunagara IV ketika masih ‘sugeng’,  beliau hidup dari tahun 1811-1880, akan tetapi pandangan beliau tentang spiritual masih aktual sampai dengan kini. Ingat tidak sewaktu kita ikut seminar ‘Total Success’ oleh Bapak Anand Krishna dan diakhiri dengan latihan nyanyi oleh Ma Archana?

Sang Isteri: Nyanyian nya jelas masih ingat, karena setiap hari kita menyanyikannya sebagai afirmasi. …………..‘Om Shakti Om, Shakti Om, Shakti Om. Icha Shakti, Gyaana Shakti, Kriya shakti Om….2 x. Power of Your Will, Power of Knowingness, Power of Action, that is the way to Success.…………. Sukses-Selalu.

Sang Suami: Coba perhatikan, awalnya dengan kemauan keras, ‘determination, Power of Your Will’. Selanjutnya perlunya ‘Ngelmu’, ‘Knowingness’. Semuanya tersebut harus melalui ‘laku’, ‘Power of Action’. Sukses mengikis Angkara Murka, bukankah makna tembang ‘Pocung’ itu cara meraih sukses  dalam spiritual, ?

Sang Isteri: Luar biasa suamiku. Aku ingat sekarang. perlu niat dan tekad yang bulat yaitu: tidak terikat ortodoksi, belenggu pola lama dan kesiapsediaan untuk melayani pemandu spiritual. Setelah itu mengembangkan ‘skil’ dan efisiensi serta  ‘endurance’, tahan kerja keras. Suamiku tekad yang bulat memang selaras dengan awal  kemauan keras dari Sri Mangkunagara IV.

Sang Suami: Seterusnya, pemahaman hukum evolusi, hukum sebab akibat dan hukum ketertarikan, ‘law of attraction’ agar selaras dengan alam, menerima kehendak Ilahi dan menyelaraskan diri dengan kehendak Ilahi. Bukankah ‘knowingness’ tersebut yang dimaksud ‘Ngelmu’ oleh Beliau?

Sang Isteri: Selanjutnya, semuanya harus dilakukan dengan keceriaan. Apa pun yang terjadi  harus dihadapi dengan keceriaan. Keceriaan harus menjadi karakter. Bukan ceria karena orang lain susah dan bukan ceria karena mendapatkan sesuatu dari luar.

Sang Suami: Hal tersebut juga selaras. Perhatikan jenis tembang yang dipilih Sri Mangkunagara IV yaitu ‘Pocung’. Tembang ‘Pocung’ mempunyai sifat humor, senda gurau, ceria. Betapa dalamnya pemahaman beliau.

Sang Isteri: Aku ingat SMS Wisdom: ‘Humor, senda gurau, kasih, itulah tanda kehidupan’. Keceriaan adalah tanda kehidupan. ‘Kedamaian berasal dari sebuah senyuman’. Sedangkan musuh utama keceriaan adalah: iri, angkuh dan dendam. Teorinya banyak yang paham, suamiku, tetapi prakteknya para senior pun lupa.

Sang Suami: Benar isteriku, ada yang untuk senyum saja tidak rela, pilih melengos. Spiritualitas harus memaknai seluruh tindakan kita. Coba perhatikan perilaku bangsa kita. Ambil contoh para mantan kepala negara kita: Pertama masih terdapat rasa iri,sehingga selalu mencari pembenaran dan mencari kesalahan pihak lainnya; Kedua masih terdapat rasa angkuh, mengapa tidak mencontoh  para mantan Kepala Negara Amerika yang hadir pada saat pelantikan Obama; Ketiga rasa dendam, karena selagi jadi bawahan ditekan, ketika mendapat kekuasaan ganti menekan…… Kalau contoh dari kepala demikian apa tidak dicontoh oleh kaki-kaki bangsa? ‘Kumaha kiruh ti girang, komo ka hilirna?’, bila dihulu keruh, apalagi di hilirnya.

Sang Isteri: Mari kita berterima kasih kepada Pemandu  yang telah membimbing kita semua. Terima kasih suamiku, Terima kasih Sri Mangkunegara IV, Terima kasih Guru.

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

Februari 2009.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. tolong minta sejarah pemkiran Ekonominya dong!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: