Tidak Bersedia Menjadi Wakil, Tidak Bersedia Menjadi Orang Kedua


Lama Pakdhe Jarkoni, tidak muncul di rumahnya. Rupanya pakdhe Jarkoni sedang sibuk mengurusi sawahnya di desa. Sawah itu memang jadi penopang penghasilan Pakdhe, sehingga bisa hidup tenang di kota. Pakdhe Jarkoni juga paham ada ‘misteri’ yang belum terungkapkan, bahwa pakdhe berpikir mendapat penghasilan dari sawah, padahal keyakinan pakdhe adalah Gustilah yang telah memberikan rejeki pada Pakdhe. Antara pikiran manusia harus berupaya dan keyakinan bahwa Gusti yang memberi rejeki bisa sejalan. Gusti adalah Katalisator. Manusia yang menciptakan nasib setiap saat. Apa yang ditanam, itu juga yang dihasilkan. Gusti tak ternodakan oleh kekacauan yang terjadi di mana-mana. Ia Katalisator.

Sore itu kembali Wisnu, sang mahasiswa membuka diskusi dengan pakdhenya di beranda rumah.

 

Wisnu: Pakdhe, manusia Indonesia itu aneh, dari dua ratus juta manusia hanya satu yang akan menjadi presiden, tetapi semua pemimpin ingin menjadi presiden, ingin menjadi nomer satu, tak mau menjadi wakil, menjadi nomer dua. Mereka yang menjadi nomer dua pun hanya persiapan untuk menjadi nomer satu pula. Bukan hanya menjadi Presiden, tetapi menjadi Gubernur, Bupati, Walikota, Kepala Instansi, semua orang ingin menjadi nomer satu. Bahkan orang pun ingin agamanya menjadi  agama yang nomer satu.

 

Pakdhe Jarkoni: Wanita juga tidak mau menjadi istri kedua, sudah jadi istri ketiga pun ingin bergeser menjadi isteri pertama. Perebutan nomer satu memerlukan upaya, ada upaya yang menghalalkan segala cara, dan ada yang dengan cara ‘elegant’. Orang yang gila kekuasaan akan selalu berlomba. Ia ingin menjadi nomer satu dan demi tercapainya keinginan itu, ia akan selalu melibatkan dirinya dalam perlombaan. Ia lebih mirip kuda-kuda yang digunakan di pacuan kuda. Perlombaan, persaingan itu sifat-sifat hewani. Manusia tidak usah terlibat dalam perlombaan. Setiap manusia unik. Yang selalu memburu kemenangan, akan selalu kecewa pula, karena tidak ada satu pun orang yang selalu menang. Pasang surut merupakan irama kehidupan.

 

Wisnu: Pakdhe pernah bercerita tentang Sun Tzu, baginya yang penting menang dan bagaimana pun caranya sah-sah saja. Bukankah sejarah pun bisa disesuaikan dengan pesanan yang menang? Tetapi Pakdhe pernah juga bicara tentang Bhagawad Gita, tentang pendapat leluhur ‘Sapa sing nandur ngundhuh’. Dalam mencapai tujuan ada prosesnya, bila prosesnya tidak baik, maka di kemudian hari akan menerima akibat tidak baik pula. Kemudian Pakdhe bicara tentang ilmu mulur mungkret dari Ki Ageng Suryamentaram, santai saja, berupaya agar ‘mulur’, mengembang, agar keinginan dapat dicapai.  Kalau sudah mentok ya ‘mungkret’, menyusut keinginannya, agar diri tidak sakit.

Pakdhe Jarkoni: Sifat ‘mind’ memang serakah, manusia malu dikatakan serakah, tetapi ‘mind’ memang serakah, walau dibungkus kulit kerendahan hati. “Apabila Anda menjadikan Sri Krishna sebagai sais Kereta Kehidupan Anda, Anda tidak akan pernah mengalami kegagalan. Saat ini, kita menempatkan Nafsu Birahi kita, Keserakahan kita, keangkuhan kita, dan lain sebagainya, pada posisi sais. Itu sebabnya kita mengalami kegagalan, kekalahan. Apabila Anda menempatkan akal sehat dan pikiran jernih pada posisi sais, hidup anda akan berubah menjadi suatu lagu yang indah”. Begitu ungkapan Bhagawad Gita. Untuk itu, pertama-tama sadarilah kelemahan diri. Sadarilah kekacauan pikiran diri, sadarlah bahwasanya diri sedang  sakit, setelah itu cari seorang dokter, seorang pembimbing yang kompeten, dan penyembuhan pun akan terjadi.

 

Wisnu: Benar Pakdhe, apabila indera kita berhubungan dengan obyek-obyek duniawi, kita mengalami rasa suka dan rasa duka, rasa panas dan rasa dingin. Namun rasa itu sendiri tidak langgeng, tidak permanen, sesaat ada, sesaat kemudian tidak ada. Kita tidak perlu gelisah, kita perlu menerima semuanya dengan penuh kesabaran.

Pakdhe Jarkoni: Apabila seseorang telah melepaskan segala macam keinginan dan puas dengan dirinya sendiri, dialah yang dapat disebut bijak.  Ia yang pikirannya tak tergoyahkan dalam keadaan duka, ia yang tidak mengejar suka, ia yang bebas dari rasa takut dan amarah ialah manusia yang cerah. Ia yang cerah sudah bebas dari rasa takut, karena ia sibuk bekerja. Ia telah sepenuhnya melibatkan diri dalam kehidupan hari ini. Ia sudah tidak punya waktu lagi untuk bernostalgia tentang masa lalu atau memikirkan masa mendatang. Ia tidak membandingkan lebih mulia pekerjaan manakah di mata Gusti antara petani mencangkul di sawah yang becek atau ketua DPRD Kota yang memimpin rapat pleno. Terima kasih Sri Krishna, Terima kasih Guru.

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

Februari 2009.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Ketika kesadaran meloncat-loncat antara yang ilusi ke yang ilahi, dan aku terjerembab didalamnya karena kebutaan, mutiara-mutiara pencerahan-MU menjadi cahaya terang di setiap langkahku. Terimakasih Guru, terimakasih Pak Tri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: