From Heart to Heart 300309

Anand Krishna, 290309

 

Years back, when i first heard Meera singing “O Krishna, Kanhaiya, Giridhar Gopal, i enslave myself to Thee -my mind revolted. My heart was not sure of its own feelings. And, i could not hear the cries of my own soul.

It took me quite some time to understand Meera…. I was 13 when i revolted against Meera, and for next 4 years, i starved my soul to an almost certain death….

Dhan Guru, thanks to my Master, in my 17th year, He took me by His arms and led me back to where Meera was still singing. And, i broke down in tears…. I had deprived my soul of all that was beautiful, for four years…. Those four years of my life are now gone, gone forever. I cannot reverse the clock…. alas, i lost so much during those four years. Baca lebih lanjut

Iklan

Refleksi Bencana di Situ Gintung Bencana di ‘NKRI’ dan Bencana di dalam Diri

Kejadian bencana di Situ Gintung

Akibat hujan deras selama 5 jam pada malam sebelumnya, Jum’at 26 Maret 2009 pukul 05.00, tanggul Situ Gintung, Cirendeu, Tangerang Selatan jebol. Wilayah seluas 10 hektar di Cirendeu menjadi porak poranda diterjang air bah yang datang seperti Tsunami. Sampai Hari Senin, 30 Maret 2009 tercatat korban tewas berjumlah 99 orang dan 102 warga masih belum ditemukan, dan ratusan warga masih tinggal di pengungsian. Ratusan rumah hancur. Ratusan jiwa mendapat trauma yang dalam.

Lokasi bencana yang berada di tepi ibukota,  laporan media televisi maupun media cetak yang intensif membangkitkan rasa dukacita kita semua. Kita perlu introspeksi, benarkah kata orang bahwa kita ‘lemah’ dalam hal ‘operasi dan pemeliharaan’ sarana dan prasarana bangunan?  Jebolnya tanggul Situ Gintung mengingatkan kita akan banyaknya situ dan tanggul sungai yang rawan bencana di Indonesia. Kegiatan ‘operasi dan pemeliharaan’ memang kurang bobot politisnya, kurang mendapat perhatian masyarakat, tidak seperti halnya kegiatan pembangunan yang menyedot perhatian publik. Baca lebih lanjut

Menjadi ‘Anak’ Yang Berbhakti

Sepasang anak manusia itu sudah berusia diatas limapuluhan tahun. Anak-anak mereka sudah menginjak dewasa, tetapi tingkah laku mereka masih seperti anak-anak, mereka ‘kuper’, kurang pergaulan dan tidak tahu ruwetnya hidup di dunia. Di lingkungan pekerjaan, di masyarakat mereka bergaul biasa-biasa saja, mereka tidak punya teman dekat, akan tetapi hidup mereka lancar-lancar saja. Sampai pada suatu ketika seorang Guru memberi makna kepada kehidupan mereka. Mereka ingat kata-kata Sang Guru, “Lebih baik ‘kuper’ daripada ‘salah gaul’!” Bukankah anak-anak kecil yang lugu dan polos yang dicintai Gusti Yesus itu ‘kuper’ juga? Setelah bertemu Guru, hidup mereka menjadi lebih sederhana, hanya meningkatkan kesadaran, membina anak keturunan, berusaha mengikuti petunjuk Guru serta ceria. Itu saja.

Sang Isteri: Aku ingat buku “Bersama Kahlil Gibran, Menyelami ABC Kehidupan”, karya Bapak Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999……. Kahlil Gibran menulis: ”Remember that Divinity is the true self of the Man. It cannot be sold for gold; neither can it be heaped up as are the riches of the world today. The rich man has cast off Divinity, and has clung to his gold. And the young today have forsaken their Divinity and pursue self indulgence and pleasure.”……. “Ingat bahwa Keilahian, Kemuliaan adalah Kebenaran Sejati Manusia. Dan Keilahian ini tidak bisa diperjualbelikan; tidak bisa ditimbun sebagaimana mereka menimbun harta-benda. Yang kaya telah melupakan Keilahian dirinya, Kemuliaan dirinya dan mengikat diri dengan kekayaannya. Begitu pula dengan yang muda. Ia melepaskannya demi kenikmatan dan kesenangan sesaat.”……… Bagaimana pendapatmu suamiku? Baca lebih lanjut

Antara Penerima Wahyu dan Ahli Kitab

Hari sudah menunjukkan pukul delapan malam, ketika sepasang suami istri berbicara mengenai putranya yang masih duduk di bangku SMA belum pulang ke rumah, karena kesibukan mengerjakan tugas-tugas sekolah bersama teman-temannya.

Sang Isteri: Saya merasakan semua guru sekolah berlomba memberikan ilmu yang terbaik, dan semuanya memberi tugas mata pelajaran agar para murid menguasai dengan sempurna. Problemnya adalah terlalu banyaknya mata pelajaran bagi murid, sehingga murid harus jatuh bangun untuk dapat mengikuti. Apakah pendidikan model demikian tidak membuat generasi muda menjadi lebih mudah terkena stress? Menurut pengalaman kita dalam menjalani kehidupan, hanya dengan mengasah otak saja, hanya dengan menimba ilmu saja, hanya dengan membaca berbagai buku saja, kita tidak menjadi pribadi yang utuh. Dengan mengasah otak, kadang kita justru mematikan intuisi di dalam diri. Kita menjadi sangat tergantung pada informasi yang kita peroleh dari luar. Dapat saya rasakan, bahwa makin banyak informasi yang ada di dalam otak, kita semakin tegang saat berpikir. Pendidikan tanpa mengasah rasa hanya memaksimalkan kinerja otak kiri.

Sang Suami: Isteriku, otak tetap harus diasah. Kegunaan ilmu juga tidak dapat dipungkiri. Keduanya perlu dan dibutuhkan. Asal kita tidak lupa bahwa bukan hanya itu yang menjadi kebutuhan kita, bila kita  ingin menjadi pribadi yang utuh. Pengolahan otak dan penimbaan ilmu harus diimbangi dengan penghalusan rasa. Jangan sampai kita mengabaikan peran intuisi yang timbul dari rasa yang halus. Kemampuan untuk mengenal fakta datang dari ilmu pengetahuan sedangkan kepekaan untuk melihat kebenaran berasal dari rasa. Keduanya dibutuhkan. Yang satu tidak dapat dikorbankan atau diabaikan demi yang lain. Walaupun demikian, bila saya harus memilih di antara keduanya, saya memang akan tetap memilih rasa, karena rasa yang berkembang pada akhirnya akan membuka semua pintu ilmu. Kita sendiri sebagai suami istri tidak akan dapat merasakan persatuan dan kesatuan bila landasannya hanyalah ilmu, rasa lah yang telah mempersatukan kita. Baca lebih lanjut

It’s a Mind Zone, Brothers and Sisters………………….

Beberapa orang terdiri dari gabungan anak-anak muda dan beberapa orang tua duduk dalam empat  deretan yang sejajar. Di deretan pertama seorang pemandu membisikkan sebuah kalimat berbahasa Inggris yang terdiri dari sembilan buah kata kepada orang pertama dalam deretan tersebut. Orang pertama mendengar kalimat tersebut dan harus membisikkan kalimat tersebut kepada yang orang yang berada disebelahnya dan demikian seterusnya  sampai kepada orang yang duduk di paling ujung. Pada deretan kedua juga dibisikkan dengan kalimat yang berbeda, demikian juga untuk deretan ke tiga dan ke empat …………………. Hasilnya membuat semua orang tertawa, kalimat yang diucapkan orang terakhir melenceng jauh dari kalimat yang dibisikkan pada waktu awal. ‘Every body happy’, ketawa riuh rendah, tepuk tangan menggema, ‘it’s a game’. Orang tua pun ketawa terpingkal-pingkal, apalagi yang masih muda ………………  Bagi mereka mungkin hanya sekedar ‘game’, tetapi tidak demikian bagi pasangan suami istri yang masih teringat permainan tersebut ketika kejadian telah seminggu berlalu.

Sang Isteri: Gembira juga bermain-main dengan teman-teman, akan tetapi selalu ada saja yang ngotot ingin menang, saya agak nggak enak, karena kurang menguasai  bahasa Inggris, maka kalimat yang disdampaikan di deretan kedua menjadi ngaco. Saya yakin permainan yang dilakukan di depan Guru tersebut bukan sekedar ‘just a game’, betul nggak suamiku? Baca lebih lanjut

Refleksi Hari Raya Nyepi , 26 Maret 2009

Waktu masih menunjukkan pukul  9 malam, ketika sepasang suami-istri  bercengkerama di ruang keluarga. Ruangan hanya diterangi lampu 5 watt yang diselimuti kristal garam dari Himalaya. Harum dupa cendana yang berasal dari altar di ruangan tersebut ikut menenangkan syaraf-syaraf pikiran mereka, yang baru saja menyelesaikan doa bersama. Untuk bercengkerama di halaman terbuka dengan panaroma bulan dan bintang sudah sulit dilaksanakan, karena begitu banyaknya nyamuk di malam hari di luar rumah.

Sang Isteri: Besok adalah Hari Raya Nyepi yang bertepatan dengan Tahun Baru Saka yang menginjak usia 1931. Kalendar kita menunjukkan tanggal 26 Maret 2009. Sedangkan Kalendar Jawa menunjukkan 29 Mulud 1942. Suamiku, mengapa ada penanggalan yang berbeda-beda?

Sang Suami: Bukankah bahasa manusia pun berbeda-beda, semuanya ada dasarnya, tetapi ada kesepakatan bahwa bahasa internasional adalah bahasa Inggris, dan bahasa nasional adalah bahasa Indonesia. Demikian juga kalender yang merupakan kesepakatan untuk menetapkan waktu. Dulu pada tahun 1625 Masehi, Sultan Agung Mataram mengeluarkan dekrit untuk mengubah penanggalan Saka. Sejak saat itu Kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender lunar, maka Tahun Baru Jawa tidak sama dengan Tahun Baru Saka. Karena tahun Saka menggunakan kalender sistem solar. Teman-teman Bali merayakan hari raya Nyepi berdasar Kalender Tahun saka. Baca lebih lanjut

Wisdom of ‘Terima Kasih’, a Genuine Indonesia’s Teachings

In the garden of Borobudur Temple, shelterring  under  a giant leavy tree, a teenager talked with his father, while he was waiting his mother bought something at nearby minishop. The teenager’s question is quite interesting, let’s hear their conversation.

The Teenager: Papa, it is said that Borobudur Temple was burried by Mt. Merapi explosion in 950 AD and found again by Sir Thomas Raffless in 1814 AD. It seems that the Borobudur Temple is like a lotus flower floating above water in a lake. Nowadays the lake has become a plain land. Why did our ancestor very obsess by a lotus flower?

The Father: A Lotus plant grows at a muddy dirty environment, but she makes a good devotion by showing her beautiful  flower. Even though her leaves are also always clean. When dirty dust come to the leaf surface, she receives it. But in the morning or after raining, dews or raindrops collect all dust and bring downward to the muddy water. Receives everything came, then processed and after that sends a good gift back. This is the teachings of Terima Kasih from our ancestor. Terima means receive and Kasih means love, compassion.

The Teenager: I was pay attention to deceased grandmother habit. When she received neighbour’s food or parcel as gift  to her, she always give back with another present. She said that a happines aroused from exchanging gift. Mama did the same, is a character of Terima Kasih inherited from our ancestor to us?  Papa said about ‘Tong-Len’ meditation, which is originally came from the era of Sriwijaya. Guru Sri Dharmakirti taught this ‘Tong-Len’ to Prince Atisha from India, and it is spread out to Tibet. Baca lebih lanjut