Cahaya Kasih Ibu Kepada Anak Bayinya


Malam sudah larut, waktu menunjukkan pukul 23.30, ketika seorang Suami bercengkerama dengan Isterinya. Anak-anak sudah pada tidur lelap, dan oleh-oleh dari Jakarta buat anak-anak diletakkan di atas meja makan.

Sang Suami: Isteriku, tadi di kereta Argo Sindoro, gerbongnya hanya berisi separuh penumpang, kebetulan tidak ada penumpang yang duduk di sebelah, sehingga aku bisa menikmati buku Tantra Yoga tulisan Bapak Anand Krishna dengan leluasa.

Sang Isteri: Mungkin ada yang menarik dalam perjalanan kali ini? Seperti berita dalam ‘Facebook’ mengenai teman-teman se Joglosemar?

Sang Suami: Sehabis membuka ‘Facebook’ di Atrium Senen, diriku memang sempat sangat tegang, kemudian aku sengaja melupakan dengan cara main game di HP. Sengaja dipilih  permainan yang sulit, sehingga otak berpikir keras. Dengan berpikir keras, apa pun permasalahan sementara terlupakan. Kemudian aku juga makan banyak, bukankah sejak kecil ketika kita menangis selalu diberi ibu makanan atau minuman agar diri kita tenang? Kemudian aku mengatur napas dan tertidur di kereta………………. Bangun dalam kondisi sudah tenang, aku ingat, ketika berangkat ke Jakarta naik kereta Argo Muria , di sebelahku juga tidak ada penumpang, tetapi sepasang suami istri muda di belakangku sibuk mengurusi anak bayinya yang merepotkan orang tuanya. Orang tua sudah ngantuk malah nangis minta jalan-jalan. Kalau tidak dituruti, tangisan semakin hebat, bisa satu gerbong terganggu. Aku menyadari, demikian pula halnya kita sewaktu kecil pasti juga telah merepotkan kedua orang tua kita.

Sang Isteri: Bukankah hubungan murid dan guru juga seperti hubungan bayi dengan ibunya, bukankah kita masih saja merepotkan Guru yang telah menyayangi para murid seperti seorang ibu yang  menyayangi anak bayinya?

Sang suami: Ini pengalamanku Isteriku, selama dua hari di Jakarta aku naik busway jurusan Blok M-Kota, kebetulan di hari pertama banyak penumpang, tetapi ada dua orang ibu yang menggendong anak bayinya naik di halte Senayan dan kemudian diberi tempat duduk oleh para pemuda. Di hari kedua masuk ibu-ibu yang sedang hamil di halte Al Azhar, dan kembali seseorang anak muda mengalah, memberikan tempat duduknya.

Sang Isteri: Bukankah bangsa ini masih mempunyai pemuda-pemuda simpatik yang memberikan tempat duduknya pada ibu-ibu yang menggendong bayi atau pun ibu-ibu yang sedang hamil?

Sang Suami: Benar Isteriku, saya hanya menduga bahwa kasih ibu terhadap sang bayi memancarkan aura kasih dan mempengaruhi semua orang termasuk anak-anak muda untuk menghormatinya. Bukankah kita juga dapat merasakan suasana penuh kasih ketika guru sekolah favorit kita mengajar satu kelas dengan penuh kasih-sayang? Bukankah kita juga dapat merasakan suasana penuh kasih ketika Guru berbicara di hadapan para murid? Aura kasih dapat dirasakan oleh semua orang.

Sang Isteri: Suamiku, terus apa kaitannya dengan buku Tantra Yoga?

Sang Suami: Rasa yang terlibat antara murid Naropa dan Guru Tilopa dalam buku Tantra Yoga, melebihi rasa emosional yang dapat mengalami pasang surut, dan rasa intelektual yang hanya bertujuan mencapai kepuasan intelektual. Hubungan antara murid dengan guru ibarat hubungan anak dengan ibunya. Tidak bisa dipisahkan. ‘Life force’, daya hidup ‘Chromosome X’ yang ada pada anak adalah pemberian ibunya. Di hadapan notaris mungkin saja mereka bisa saling sumpah tidak akan kenal lagi dan hidup sendiri-sendiri, akan tetapi ‘life force’ sang ibu tetap dibawa sang anak sampai akhir hayatnya. ‘Chromosome’ dari sang ibu menjadi motor penggerak, yang menggerakkan otak dan badan anaknya.

Sang Isteri: Maksud Suamiku, limpahan kasih Guru telah menggerakkan jiwa muridnya?? Sehingga tidak ada yang bisa memisahkan antara Guru dan murid??…….. Betul suamiku, walau kesadaran kita masih rendah, tetapi kasih Guru telah mengubah diri kita. Hidup ini telah menjadi bermakna. Bukankah kau selalu menelusuri renungan Guru di ‘Facebook’? Merenungkan maknanya, dan mengikuti catatan teman-teman yang dikomentari Guru. Bukankah kau berterima kasih pada Guru yang berkenan tampil di situs ‘Facebook’? Dan, hal itu kau manfaatkan sebagai ‘tool’ untuk menyelaraskan diri dengan pikiran Guru.

Sang Suami: Benar isteriku, Guru selalu menulis SMS Wisdom tiga kali seminggu, setiap bulan kita juga mendapatkan nasehat Guru baik dalam CD atau VCD? Buku-buku Guru telah terbit begitu banyak. Kasih Guru sedemikian besar sehingga kita diberi banyak ‘tool’ untuk menyelaraskan diri dengan Guru. Guru selalu mengajari agar kita dapat memaksimalkan potensi yang ada dalam diri dan agar kita selaras dengan alam semesta.

Sang Isteri: Begitu besar kasih Guru terhadap kita semua, kita saja yang masih angkuh, ‘mind’ kita saja yang masih keras, belum mempan dipukul Guru berkali-kali. Fokus pusat kita adalah Guru, dan teman-teman seperjalanan adalah teman-teman pendukung. Kita mendapat pelajaran yang sangat berharga dari pergaulan dengan mereka.

Sang Suami: Buku Tantra Yoga telah menenangkan diriku. Tubuh kita semakin tua, semakin mudah masuk angin, semakin mudah capek, tetapi hidup ini semakin bermakna. Mari kita sinkronisasi. Terima kasih Guru.

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

Maret 2009.

Iklan

2 Tanggapan

  1. apepom yg dilakukan oleh anak kepada ibu,ibu tetap menyayangi anak itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: